<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-22284483</id><updated>2012-01-16T12:22:34.612-08:00</updated><category term='novel blog 1'/><category term='novel blog'/><title type='text'>Hayalkoe</title><subtitle type='html'>&lt;a href="http://www.dollielove.com"alt="target=_blank"&gt;
&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v40/mitsiki/dollielove/welcome6/10.gif"border=0 alt="Glitter Graphics, Myspace Glitters, Myspace Graphics from Dollielove.com"&gt;&lt;/a&gt;</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://hayalkoe.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22284483/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hayalkoe.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Hayalkoe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10348172865908700967</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_w0DuuqOjKCg/SoUGPyjsoSI/AAAAAAAAAAU/QSplVZ3wbQ0/S220/DSC_0391.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>66</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22284483.post-7349910749402056454</id><published>2011-11-14T08:40:00.000-08:00</published><updated>2011-11-14T08:50:24.562-08:00</updated><title type='text'>Be you or never</title><content type='html'>Mengenal diri sendiri itu penting ga? Jawab sendiri. Dan lagi-lagi daya jawab kita tergantung dari pengenalan diri kita sendiri. Kenal ga? Tahu ga? Apa sih yang lo suka? Apa yang lo paling ga suka?&lt;div&gt;Menurut gue pribadi sangat penting. Tapi bukan tolak ukur mutlak.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Karena ukurannya tetap melalui Tuhan sebagai gambaran diri paling utuh dan panutan sempurna.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Mereka yang disebut New ages, karena tidak melibatkan Tuhan dalam proses mengenal diri mereka. Itu baru salah. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Mengenal diri sendiri memiliki titik terpenting saat kita mau berubah untuk menjadi pribadi yang jauh lebih baik, dan semuanya itu tentunya dimulai dari kata&lt;/div&gt;&lt;div&gt;-mau-&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;GBU&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://www.dollielove.com"alt="target=_blank"&gt;
&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v40/mitsiki/dollielove/welcome6/10.gif"border=0 alt="Glitter Graphics, Myspace Glitters, Myspace Graphics from Dollielove.com"&gt;&lt;/a&gt;
&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22284483-7349910749402056454?l=hayalkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hayalkoe.blogspot.com/feeds/7349910749402056454/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22284483&amp;postID=7349910749402056454' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22284483/posts/default/7349910749402056454'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22284483/posts/default/7349910749402056454'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hayalkoe.blogspot.com/2011/11/be-you-or-never.html' title='Be you or never'/><author><name>Hayalkoe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10348172865908700967</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_w0DuuqOjKCg/SoUGPyjsoSI/AAAAAAAAAAU/QSplVZ3wbQ0/S220/DSC_0391.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22284483.post-5668644208816506893</id><published>2011-09-24T00:43:00.001-07:00</published><updated>2011-09-24T00:43:54.922-07:00</updated><title type='text'>uluyu.com</title><content type='html'>Heyy, bagi kalian2 yang suka dengan gratisan ada website baru nih namanya ULUYU.com. Hari ini, 24 September 2011 mereka coba memperkenalkan perusahaan mereka dengan membuka booth di Social Media Festival yang diselenggarakan di F(x) Mall.&lt;br /&gt;ULUYU.com ini beda dengan dealkeren maupun dengan disdus.com karena mereka di sini menggunakan sistem LIKE IT! which is free voucher will be given away by theeem!! Dengan kita hanya jadi usernya aja! Yeaay, we need those stuffs these days man!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk lebih jelasnya kamu bisa buka langsung website mereka di www.uluyu.com.  Mereka juga punya facebook di ULUYU.com. Twitter mereka di Uluyudotcom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Overall, ULUYU.com ini sepertinya akan sukses yaa... Walaupun memang saat ini mereka baru buka hanya untuk kawasan di Jakarta. Sukseeesss yaa ULUYU.com!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://www.dollielove.com"alt="target=_blank"&gt;
&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v40/mitsiki/dollielove/welcome6/10.gif"border=0 alt="Glitter Graphics, Myspace Glitters, Myspace Graphics from Dollielove.com"&gt;&lt;/a&gt;
&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22284483-5668644208816506893?l=hayalkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hayalkoe.blogspot.com/feeds/5668644208816506893/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22284483&amp;postID=5668644208816506893' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22284483/posts/default/5668644208816506893'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22284483/posts/default/5668644208816506893'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hayalkoe.blogspot.com/2011/09/uluyucom.html' title='uluyu.com'/><author><name>Hayalkoe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10348172865908700967</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_w0DuuqOjKCg/SoUGPyjsoSI/AAAAAAAAAAU/QSplVZ3wbQ0/S220/DSC_0391.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22284483.post-4174607799140121285</id><published>2010-08-09T21:24:00.000-07:00</published><updated>2010-08-09T21:52:54.537-07:00</updated><title type='text'>Torrie and the Prince ep. -22-</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Bab 22&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Auggie terasa berat sekali. Belum pernah ia merasakan rasa sakit yang begitu hebat seperti ini seumur hidupnya. Ketika dibuka matanya, ternyata ia berada di kamarnya sendiri. Dilihatnya di sebelah kirinya ada Torrie yang terlelap dengan kepala tertelungkup di ranjangnya Auggie. Torrie telihat sangat lelah. Auggie berusaha untuk keluar dari ranjang itu walaupun kepalanya masih sangat pusing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu diangkatnya Torrie dan dipindahkannya di ranjangnya sendiri. Tapi Torrie terbangun saat akan dibaringkan,”Gie, elo kok angkat-angkat gue?Elo khan lagi sakit!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gue nggak kenapa-napa kok!” Auggie berbohong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Torrie segera berdiri dan memegang kening Auggie. “Bohong! Masih panas gini masih bilang nggak kenapa-napa. Ayo tiduran, kalo enggak gue panggil dokter nih!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, Bu Dokter! Tapi anda apa nggak istirahat juga, anda khan masih sakit.” Auggie menuruti Torrie, ia segera merebahkan tubuhnya di ranjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kemarin waktu elo pingsan gue juga hampir pingsan tapi untung ada orang nolongin. Kita sempet dirawat di rumah sakit, tapi nyokap Uggie takut Uggie masih trauma sama rumah sakit jadi elo nggak jadi rawat inap. Trus gue juga malemnya maksain untuk pulang karena gue juga udah ngerasa nggak kenapa-napa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Auggie agak tersinggung karena traumanya disinggung, tapi ia juga khawatir dengan keadaan Torrie. “Walaupun udah baikan, seharusnya elo istirahat di rumah. Bukannya keluyuran ke rumah cowok! Eh iya…Giliant gimana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Huh! Giliant ditanyain juga, masa gue saingan ama Giliant belum lagi si Kitana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ngomong apa barusan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Enggak kok! Giliant baik-baik aja, pokoknya elo tenang aja deh.” Torrie menjawab dengan ketus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tenang, Rie diantara Giliant dan Kitana elo tetep nomor 1, tapi elo khan belum jadi cewek gue. Jadi gimana mau nggak? Eh… tapi gimana sama Nick…Dia khan juga sayang sama elo.” Auggie jadi merasa menyesal karena merasa senang di atas penderitaan saudara sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Elo ini bener-bener saudara kembar nggak sih sama Nicky. Masa perasaan saudara kembar sendiri nggak tau? Gini deh, biar dia yang jelasin sendiri.” Torrie memberikan HP-nya yang sudah memanggil HP Nicky ke Auggie yang masih kebingungan. Hpnya dalam keadaan loud speaker.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Napa Rie?...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini gue…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh elo, Gie. Gue sekarang ada di Jogja. Sedang berusaha meraih soulmate”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Soulmate?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, soulmate! Sorry selama ini gue bo’onging elo Gie. Sebelumnya gue mau jelasin, pandangan gue tentang Torrie sebagai putri gue, sama seperti pandangan Torrie yang menganggap gue pangerannya. Kemarin kita udah clear-in semuanya. Pangeran-putri itu hanya imajinasi kami aja. Dan waktu gue bilang gue serius sama Torrie itu semua bo’ong karena gue pengen manes-manesin elo biar elo bisa survive sendiri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ok, gue maafin elo, tapi hubungannya soulmate dengan Jogja apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I’m in love with Lara…gue tau elo pernah deket sama dia, jadi gue sekalian minta ijin sama elo untuk deketin dia…Gie…elo dengerin gue nggak? Kali ini gue bener-bener jujur dan serius.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Torrie melihat keraguan di wajah Auggie, tapi setelah itu Auggie malah tertawa bahkan bisa dibilang ngakak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hahahaha….ngapain minta ijin sama gue. Kayak mo kawin aja. Ya udah gue ijinin sebagai seorang adik yang baik untuk kakakku Nicky tercinta. Selamat berjuang!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dasar!!! Gue kira elo bakal marah tau!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ngapain marah, justru gue mau berterima kasih, tanpa elo belum tentu gue bisa di tahap ini sekarang. Ya, udah deh salam buat Lara. Bye!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bye!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masalah Nick udah selesai jadi gue udah bisa lega. Kalo dipikir-pikir kisah kita bisa jadi film yang bagus dengan judul Torrie-Auggie.” Auggie membayangkan film yang mengisahkan kehidupan mereka dengan ttersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kebagusan, mendingan juga Torrie-Uggie!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nggak bisa pasangan-pasangan itu khan selalu keren namanya seperti Romeo-Juliet. Kalo salah satunya jelek yang lain haus jelek jadi Vic-Uggie! Ah, enggak itu juga masih kebagusan…” Auggie masih memikirkan judul yang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ngomongin pasangan serasi, Niken-Simon juga pasangan serasi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa bilang mereka khan udah pisah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kapan?!”Torrie kaget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masa nggak tau, kalo nggak salah waktu elo sakit dulu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gara-gara mikirin masalah sendiri gue nggak pernah mikirin orang lain.” Torrie beranjak pergi dari ruangan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mau ke mana? Ke tempat Niken? Gue gimana? Elo juga belom jawab, masa rela biarin gue mati penasaran nunggu jawaban elo!” Auggie sangat manja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mau ke mana urusan gue…tapi gue juga nggak mau elo mati penasaran di sini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi…” Auggie sangat penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi gue sangat senang karena untuk pertama kali ngeliat orang yang belum pernah sakit untuk pertama kalinya terbaring lemah di ranjangnya. The Big Guy Must in His Bed! Gue rasa itu judul yang tepat untuk film kita…” Torrie tersenyum polos pura-pura tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Auggie. Auggie ngambek dan memalingkan mukanya, tapi Torrie mendekat dan seperti ingin membisikkan sesuatu. “GUE MAU JADI CEWEK LO, UGGIE!!!” ini bukan bisikan tapi sebuah teriakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gimana? Puas?” tanpa menunggu jawaban Torrie langsung keluar dari kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Auggie masih terpaku, entah karena kaget dengan jawaban atau tuli karena teriakan Torrie tadi. Mungkin keduanya. Beberapa detik kemudian Torrie datang lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Uggie…Uggie…” Torrie tampak lebih lembut dari yang tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Auggie menengok seperti orang bodoh, “Hah?!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa gue milih Uggie kenapa bukan Nick?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Auggie menggelengkan kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena setiap gue lagi sama Nicky pasti gue inget Uggie. Setiap gue lagi sama Uggie pasti gue selalu inget…nggak…gue nggak pernah inget Nicky. Dan inilah yang membuat gue bener-bener yakin kalau gue cinta sama Uggie.” Torrie tersenyum lagi dan langsung keluar dengan menutup pintu terlebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu Auggie baru bisa tersenyum, senyum yang mengembang dan semakin mengembang. Auggie langsung melonjak dari ranjangnya dan melupakan segala pusingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua bantal dan guling dilemparnya, bahkan ia merasa sulit untuk mengungkapkan kebahagiannya. Karena Auggie yakin hidupnya akan semakin berwarna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan  mahaadil. Dari setiap pasangan insan manusia kekurangan-kelebihan digunakan untuk saling melengkapi satu sama lain. Coba lihat Torrie yang mungil dan lemah tapi di hatinya ternyata ada sebuah batu karang yang teguh, yang tidak pernah ingin diremehkan orang lain. Sedangkan Auggie yang mungkin hampir sempurna untuk ukuran cowok ternyata memiliki kepahitan dalam hatinya yang membuatnya menderita suatu penyakit secara psikis. Tapi Tuhan mempersatukan mereka karena mereka saling membutuhkan satu sama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Torrie dapat menemukan cinta sejati pangerannya yang nyata, begitupula dengan Auggie yang akhirnya bisa meraih cinta yang telah sekian lama dipendamnya. Tapi tidak hanya cinta yang Auggie dan Torrie peroleh, mereka juga dapat merasakan kehangatan, perasaan bebas, keperdulian dengan sesama, warna dalam kehidupan, dan yang terpenting adalah kebahagiaan. Ini semua berkat Tuhan, berkat hari-hari ajaib-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu juga ingin seperti Torrie yang menemukan pangerannya, nantikan saja selalu karena pangeran itu pasti akan datang walaupun mungkin bukan seorang prince charming…(karena belum tentu semua pangeran itu charming hehehe…) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4 Januari 2005&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://www.dollielove.com"alt="target=_blank"&gt;
&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v40/mitsiki/dollielove/welcome6/10.gif"border=0 alt="Glitter Graphics, Myspace Glitters, Myspace Graphics from Dollielove.com"&gt;&lt;/a&gt;
&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22284483-4174607799140121285?l=hayalkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hayalkoe.blogspot.com/feeds/4174607799140121285/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22284483&amp;postID=4174607799140121285' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22284483/posts/default/4174607799140121285'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22284483/posts/default/4174607799140121285'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hayalkoe.blogspot.com/2010/08/torrie-and-prince-ep-22.html' title='Torrie and the Prince ep. -22-'/><author><name>Hayalkoe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10348172865908700967</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_w0DuuqOjKCg/SoUGPyjsoSI/AAAAAAAAAAU/QSplVZ3wbQ0/S220/DSC_0391.JPG'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22284483.post-8645751298007035333</id><published>2010-03-12T00:14:00.000-08:00</published><updated>2010-03-12T00:22:04.203-08:00</updated><title type='text'>Torrie &amp; the Prince Ep. 21</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CAXIOO%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="City"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CAXIOO%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CAXIOO%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:1; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-size:10.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Bab 21&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Tiba-tiba ada yang menarik Torrie kemudian mendekap erat tubuhnya. Tubuh yang mendekapnya basah kuyup.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Gue di sini, Rie. Gue…bukannya gue nggak mau jawab tapi elo yang sekarang nggak pernah nanggepin gue. Tapi gue udah tau semuanya sekarang, gue udah ngerti keadaan lo…”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Torrie terpaku, tidak bergerak sama sekali dan sangat pasrah ketika dipeluk Auggie. Tubuhnya seketika lemas sewaktu yang memeluknya adalah Uggienya. Torrie sama sekali nggak peduli walaupun rasanya kurang enak didekap oleh tubuh yang basah, Torrie tetap merasakan kehangatan Auggie. Ia merasa ini adalah mimpi. Tapi bagaimana Auggie tahu Torrie ada di sini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Akhirnya gue bisa nemuin elo. Torrie, kenapa elo mesti kabur?” Auggie masih belum merenggangkan pelukannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Torrie merasa sesak nafas…karena bahagia. Auggie bisa menemukannya di tempat itu. Tapi ia bingung harus memulainya dari mana? Auggie memanggilnya Torrie. Semenjak Auggie menyebut nama itu, Torrie semakin merasa berharga. Apalagi Auggie memeluknya seperti ini. Hampir saja ia membalas pelukkan Auggie, tangan Torrie mulai naik ke pinggangnya dengan ragu, tapi…Torrie malah mendorongnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Jangan dekat-dekat!” Torrie menjauh. “Dari mana elo tau gue di sini?” Torrie menatap tajam Auggie yang basah kuyup oleh hujan. Bahkan air masih menetes dari rambutnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Tumben juga elo manggil gue Torrie. Mau nyari simpati? Asal elo tau aja, mau gue kabur, kek! Enggak, kek! Itu urusan gue! Atau…elo mau ngambil jaket sama dompet lo? Nih…dompet lo, mungkin isinya berkurang. Nanti gue ganti!” Torrie melempar dompet Auggie ke tepat di wajah Auggie.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Nih!...Jaket lo! Juga gue nggak butuh!” Torrie melepas jaket kulit Auggie dan melemparkannya ke lantai. Lalu Torrie duduk di bangku untuk pengunjung tadi dan menangis.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Auggie mengambil dompet dan jaketnya, lalu mendekati Torrie. Jarak mereka sekitar 2 meter.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Rie, gue nggak tau salah gue di mana? Atau karena phobia gue? Gue yakin penyakit ini nantinya pasti ilang.” Lirih Auggie.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Torrie tetap menangis, ia sangat menyesal berkata kasar seperti itu pada Auggie, tapi ia masih ragu dengan Auggie tapi tujuan utamanya adalah menjauh dari Auggie agar Auggie nggak menderita kalau melihatnya sakit.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Ok! Ok! Kalo elo nggak mau dengerin gue. Tapi elo harus dengerin sebuah cerita…”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Auggie duduk di sebelah Torrie, lalu mengangkat dagu Torrie dan menghapus air matanya. Sikap Torrie mulai melunak, walaupun akhirnya wajahnya berpaling lagi dari Auggie. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Ha…ha…hatsssyiii…” Torrie menutup hidupnya dengan tangan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Auggie memakaikan jaketnya ke punggung Torrie.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Dulu… sekitar sebelas tahun yang lalu. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; seorang anak laki-laki yang merasa paling menderita di dunia. Bahkan perasaan itu ada sampai ia telah besar. Papanya meninggal tepat setahun sebelum adiknya meninggal. Sepertinya orang-orang yang disayanginya mulai pergi meninggalkannya.” Pandangan Auggie meneawang jauh ke depan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Ketika adiknya masih hidup. Adiknya sering sakit-sakitan, ia sangat menderita melihat adiknya yang sering sekali dalam keadaan sekarat. Di rumah sakit, tempat adiknya dirawat, ia juga melihat orang-orang yang menderita seperti adiknya. Ia sangat kecewa dengan Tuhan, karena Tuhan sepertinya nggak nolong mereka. Kekecewaannya semakin bertambah ketika adiknya meninggal.” Mata Auggie menatap tajam seperti memendam sesuatu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Anak kecil itu agak terguncang jiwanya karena syok. Mamanya berniat untuk segera memindahkan anak itu keluar &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;, agar ia dapat melupakan segala kenangan pahit di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; ini. Tapi karena mamanya harus mengurus usaha yang ditinggal suaminya, anak itu dikirim ke omnya di Jogja. Tapi yang namanya kenangan ya tetap kenangan, nggak akan pernah terlupakan. Tapi tepat sebelum anak itu pergi ke Jogja, rumah kosong di depan rumahnya ditempati oleh sebuah keluarga. Mereka mempunyai seorang anak perempuan yang berwajah sangat pucat dan terlihat sangat lemah. Tapi anak laki-laki itu tertarik oleh matanya. Mata yang hingga kini maih diingat oleh anak itu.” Auggie tersenyum sendiri karena mulaimengingat kenangan manis masa lalunya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Torrie menatap wajah Auggie dari samping, seakan hampir tidak percaya dengan perkataannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Walaupun anak itu di Jogja tapi ia masih mengingat wajah anak perempuan itu. Tanpa dia sadari ia telah jatuh cinta. Setiap liburan atau kesempatan digunakannya untuk pulang dan melihat anak perempuan itu dari jauh. Hal ini berlangsung selama betahun-tahun. Tapi…ia begitu pengecut, karena nggak pernah berani untuk mendekatinya bahkan bertanya apapun tentang anak perempuan itu. Anak itu selalu penasaran dan selalu ingin melihat anak perempuan itu tepatnya matanya, karena mata itu seperti menunjukan kemurnian suatu keteguhan dan keberanian menjalani hidup yang sebenernya gue nggak punya…” Auggie kelepasan bicara, tapi sekalipun enggak pun, Torrie tetap tahu siapa yang dimaksud dengan kedua anak tadi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Jadi…jadi selama ini elo juga masih inget sama gue? Gie! Gimana caranya? Nggak mungkin!” Torrie memandang Auggie tetap dengan pandangan nggak percaya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Mungkin aja. Sama halnya dengan elo masih inget sama pangeran lo padahal kalian ketemu cuman beberapa menit.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Pasti Niken yang ngasi tau semuanya! “ Tuduh Torrie.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Elo tuh ngeselin, ya! Nikennnn…mulu yang disalahin! Dia cuman cerita tentang pangeran doank. Bagaimana mungkin Niken bisa tau elo pake baju apa waktu itu.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Emang warnanya apa?” tantang Torrie.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Pink, khan?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Ya…ya mana gue tau. Itu khan udah lama banget. Dua hari yang lalu gue pake baju warna apa aja gue nggak inget. Bukannya yang gue liat waktu itu Nicky.” &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Terserah kalo elo nggak mau percaya. Gue udah pasrah dan nyerah. Gue nggak tau lagi harus ngomong apa lagi, supaya elo ngerti! Tuhan, pake bahasa apa supaya dia ngerti! Tapi elo bener pangeran lo itu Nicky, gue ngeliat elo dari balik jendela. ” Auggie memalingkan muka karena kesal.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Yang harusnya ngambek itu khan gue! Bukan elo! Dan satu lagi, jangan bawa-bawa Tuhan! Untuk ukuran orang yang kecewa sama Tuhan, elo tuh nggak pantes nyebut nama-Nya.” Protes Torrie. “Gue kasih elo kesempatan. Tapi elo harus jawab pertanyaan gue dulu dengan jujur!”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Apa pertanyaannya?” Auggie kembali menatap Torrie penuh harap.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Kenapa elo bisa yakin, elo cinta sama gue? Padahal khan berdasarkan cerita lo, elo itu kayaknya cinta sama mata gue!”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Tadi cerita gue belum selesai…Harus gue akui, gue adalah pengecut sejati dalam soal-soal kecil seperti…ya elo tau sendiri lah, phobia gue. Setiap gue ke sini selain jenguk nyokap, gue juga sering ikut trek tapi tujuan utama adalah ngeliat elo, tapi &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;gue nggak berani deketin elo. Tapi ada yang nyuruh gue untuk ngejer cinta masa kecil gue yang membuat gue selalu nolak cewek yang dateng dalam hidup gue. Setelah gue pindah ke sini dan semenjak kejadian tabrakan kita itu gue…gue jadi semakin ingin mengenal lo lebih jauh lagi. Tapi gue nggak pernah punya pengalaman deketin cewek, makanya sikap gue jadi aneh sama elo.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Torrie mulai mengerti mengapa Auggie selalu aneh dan sikapnya selalu berubah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Kalau bukan cinta kenapa semakin gue kenal elo, semakin gue merasa selalu ingin di deket elo. Bahkan secara nggak langsung elo udah ngubah hidup gue.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Misalnya?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Gara-gara omongan lo gue mulai sadar bahwa Tuhan itu sayang sama semua anak-anakNya, termasuk gue. Dia pasti punya rencana besar untuk kita. Dan gue udah ngerasain rencana-Nya. Elo adalah rencana-Nya, karena elo yang buat gue percaya lagi sama Dia. Elo selalu bikin hati gue selalu tenang. Bahkan sekarang gue bisa berserah sama Tuhan, gue di sini karena Tuhan yang ngingetin gue, elo pernah cerita tentang tempat ini ke gue.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;“Waktu gue ketemu elo di gereja itu elo udah percaya sama Tuhan.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Auggie menggeleng, “Belum. Waktu itu gue cuman pengen mastiin kaki lo nggak kenapa-napa.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Tapi masih ada yang bikin gue bingung, kalo bener elo udah ngeliat gue, bahkan bertahun-tahun. Kenapa elo nggak tau kalo gue punya sakit asma?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Rie, khan udah gue bilang. Gue cuman bisa ngeliat elo dari jauh, muka lo emang sering keliatan pucat tapi gue pikir itu emang dari sananya. Gue sama sekali nggak berani nanya nyokap gue tentang elo, walaupun nyokap tau gue suka sama elo. Jangankan berani berinisiatif untuk ingin tau aja nggak ada, buat gue bisa ngeliat muka lo aja gue seneng banget.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Oooo…jadi itu alasannya gue nggak pernah ngeliat elo.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Auggie tertawa, rasanya sudah lama sekali ia tidak tertawa seperti ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Waktu elo nginep di kamar Kiku, saat itulah pertama kali gue benar-benar berani menginjakkan kaki gue di kamar adek gue itu. Sebelumnya gue trauma dan nggak berani ke &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;sana&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;. Sekalinya berani cuma bentar. Tapi sekarang rasa trauma gue mulai menghilang, bahkan gue tidur di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;sana&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Torrie ikut tertawa, tapi terhenti ketika Auggie menatapnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Kenapa ngeliat gue kayak gitu?” Torrie selalu salting kalau dilihat Auggie seperti itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Senang rasanya bisa ngeliat elo ketawa lagi. Rie, nggak ada yang bikin gue lebih tersiksa lagi selain ngeliat elo sedih dan nyuekin gue. Sekarang giliran gue yang nanya, katanya Lara, elo hampir alergi dengan semua jenis makanan, tapi kenapa elo nggak sakit waktu kita jalan-jalan kemarin?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Torrie tersenyum penuh rahasia, “Itu rahasia Tuhan, gue juga nggak tau.” &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Kok elo sekarang manggil gue Torrie?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Dulu gue begitu &lt;i style=""&gt;nervous&lt;/i&gt; kalo ketemu sama elo. Gue takut perasaan gue ketahuan, karena setiap gue pengen manggil nama Torrie rasanya semua badan gue gemeteran.” Auggie berusaha menggetarkan tubuhnya, lagi-lagi Torrie tertawa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Rie, ayo pulang. Bonyok lo pasti seneng kalo elo pulang.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Mereka pasti marah sama gue, gue pasti dikira kekanak-kanakan. Pasti gue dikira kabur.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Eh, iya. Gue sampe lupa. Elo kenapa harus kabur? Ke tempat sepi kayak gini pula.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Gue nggak kabur!” Torrie berjalan ke depan dan melihat pesawat-pesawat yang ada di hadapannya. “Gue itu lagi pengen menyendiri di sini. Dulu papi pernah ngajak gue ke sini, waktu gue nggak ngijinin dia keluar &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. Dia bilang Torrie harus lihat pesawat yang kembali, itu berarti Papi pasti kembali juga. Ucapan Papi itu bikin gue selalu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ke tempat ini untuk menanti pangeran gue, dan gue selalu bilang dalam hati dia pasti kembali. Waktu gue baca &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;surat&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; lo ini.” &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Torrie mengambil &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;surat&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; Auggie dari kantongnya. “Gue berada pada posisi antara senang dan sedih. Gue nggak pengen elo menderita. Gue tau waktu di rumah sakit elo pasti menderita ngeliat gue.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;i style=""&gt;Gara-gara &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;surat&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; itu gue bikin Torrie bingung. Gue harusnya nyerah aja sma Nicky. Dia pangeran Torrie yang sesungguhnya, bukan gue. Tapi udah terlanjur, gue nggak mungkin nyerah sekarang, kalaupun gagal gue khan masih jadi abangnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Rie, sekarang gue ngerasa phobia gue semakin lama semakin berkurang, bahkan gue bisa masuk ke rumah sakit. Itu khan kemajuan besar.” Auggie menyombong. “Udah-udah! Kita pulang yuk!”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Enggak ah! Gue masih pengen di sini. Sebentarr...aja. Please…” Torrie memasang wajah memelas. “Elo harusnya ngeliat pesawat-pesawat ini terbang dan mendarat. Sebenernya elo telat, harusnya datengnya lebih awal lagi. Tadi bagus banget pemandangannya.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Iya deh, tapi janji nggak lama. Elo juga masih sakit khan?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Uggie, gue tau kok kondisi gue sendiri.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Auggie! Gue khan udah manggil lo Torrie. Gantian donk!”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Abisnya…susah. Khan lebih enak Uggie.” Torrie bicara dengan nada manja.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Auggie ngeliat jam, “Baru beberapa menit yang lalu elo marah-marah, sekarang elo jadi manja gini.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Gue minta digendong, Gie…” Torrie naik dan berdiri di atas bangku.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Ada-ada aja lo! Naik!” Auggie menuyuruh torrie naik ke punggungnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Bukan gendong di situ, tapi di sini!” Torrie menunjuk ke pundaknya Auggie. “Ayo donk, Gie! Gue khan cuman pengen tambah tinggi, cuman sebentar.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;“Dari tadi juga sebentar-sebentar mulu! Ya, udah.” Auggie jongkok dan Torrie pun naik ke pundak Auggie. Auggie berdiri pelan-pelan dengan berhati-hati. Lalu berjalan ke depan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;i style=""&gt;Pemandangan semakin indah bila dilihat dari sini&lt;/i&gt;. Torrie mengagumi keindahan alam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Setelah setengah jam, akhirnya Torrie mau pulang juga.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Gendong lagi, tapi di punggung. Ayo donk, Gie…”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Untung elo kecil, kalo gede, bisa-bisa bengkok badan gue gendongin elo mulu.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Torrie naik ke punggung Auggie, tangannya merangkul leher Auggie. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Rie, Gue sekarang juga punya cita-cita.” &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Paling-paling jadi pembalap. Iya, khan?” &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Salah! Gue pengen jadi dokter pribadi lo. Jadi setiap elo dapet serangan, gue orang pertama yang ada di samping elo.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Torrie mempererat rangkulannya dan tersenyum senang. Hari ini hari terindahnya. Perasaannya bisa lepas begitu saja, rasanya sangat lega.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Rie, elo harus minta maaf sama Lara.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Iya, gue tau gue salah. Terakhir ketemu, gue nyuekin dia juga. Nanti kalo udah pulang, gue pasti minta maaf.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Tapi Lara udah balik ke Jogja. Gue di sini juga bukan karena kebetulan. Gue baru aja nganterin Lara.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Ja…jadi Lara udah pulang?! Kok dia nggak bilang sama gue? Gawat!”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Katanya papanya udah mesen tiket, dan dia nggak mungkin batalin apalagi hari ini dia juga sekolah. Sekolahnya khan siang. Kenapa gawat?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Tau deh yang dulu pernah satu sekolah sama dia…” Torrie mengalihkan pembicaraan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Jadi jealous niih?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Siapa yang jealous?...eh kalo gitu Lara mungkin ada di salah satu pesawat yang tadi take off donk!” &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Auggie mengangguk, “Pasti itu!”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Pantes! Tadi kayaknya gue ngeliat ada yang lambaiin tangan ke gue dari pesawat, tapi karena jauh gue nggak tau dia siapa?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Auggie berhenti melangkah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Gue bo’ong. Kena juga dibo’ongin. Hahaha…” Torrie mentertawakan Auggie. “Mana mungkin ada yang bisa ngeliat gue dari &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. Bodoh juga ya,lo, Gie!”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Auggie balas dendam dengan cara berlari, sampai-sampai Torrie ketakutan dan minta diturunkan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Tiba-tiba Torrie merasa tubuh Auggie yang masih basah menggigil.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Gie, elo kedinginan? Jangan-jangan elo sakit lagi.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Jangan ngaco! Gue kuat kalo disuruh gendong elo sampe rumah.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Elo tuh yang ngaco!”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;i style=""&gt;Sebelum keduluan ama Nicky ada baiknya gue nanya perasaannya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Rie, apa elo juga sayang sama gue?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Menurut gue, itu pertanyaan yang nggak perlu dijawab.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Rie, gue butuh kepastian karena gue pengen jadi orang yang spesial di hati lo.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Maksud lo gue jadi cewek lo?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Auggie mengangguk pelan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Jangan nanya hal kayak gitu untuk saat ini. Gue pengen nikmati yang ada saat ini. Itu udah cukup.” Torrie sengaja membuat Auggie penasaran, bukannya meragukan perasaan Augie hanya saja ia meragukan …Weits Nicky ada di hadapan mereka.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Sorry lama ya, nunggu gue.” Nicky menyesal karena telat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Torrie turun dari punggung Auggie, “Maksud lo apa? Lagian elo tau gue di sini dari siapa?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Lho, Auggie, elo nggak ngomong&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ke Torrie kalo elo ngasi tau gue Torrie di sini.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Jadi elo ngasi tau Nicky gue ada di sini.” Torrie bingung kenapa Auggie melakukannya tapi kebetulan ia juga butuh Nicky saat ini, ia akan memberitahukan suatu penting ke Nicky. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Auggie mengangguk “Gue pikir mungkin elo lebih butuh Nicky saat ini.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Gie bentar ya, gue mau ngomong sama Nicky bentar.” Torrie menarik tangan Nicky dan membawanya ke ujung anjungan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Hati Auggie setelah melihat kejadian di hadapannya, merasa sangat sakit. Kalau menuruti egonya seharusnya Nicky nggak ada di sini. Hanya saja ia ingin Torrie bahagia bersama kakaknya, yah walaupun itu rencana kedua bila Torrie menolaknya. Dan itu terjadi baru saja.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Kejadian selanjutnya semakin membuat Auggie tersayat-sayat bahkan hampir nggak mampu melihatnya lagi. Mereka berbicara sangat serius, lalu tangan kanan Torrie memegang pundak Nicky. Kelihatannya Torrie ingin meyakinkan Nicky dan akhirnya Nicky pun mengangguk, dan…dan mereka mengakirinya dengan berpelukan sangat mesra. Auggie tidak mampu menebak apa pembicaraan mereka tapi yang ia yakini pasti tidak ada hubungannya dengan dirinya dan apa yang mereka lakukan dihadapannya itu sungguh-sungguh menyakitinya. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Tak lama kemudian Nicky pergi dari tempat itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Torrie mendatangi tempat Auggie berdiri menunggunya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Nicky ke mana?” Auggie tidak mampu melihat wajah Torrie.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Dia ada urusan penting.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Ya udah, kita juga harus pulang sekarang.” Kata-kata ini terlontar dingin dari mulut Auggie.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Ketika mereka akan menyeberang ke tempat parkir, Torrie berhenti ditengah jalan. Hujan yang turun tidak begitu deras. Ia sangat ingin menikmati hujan yang turun saat itu. Hujan yang dulunya hanya ia pandangi dari balik jendela.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Gie, tunggu dulu! Gue mau nikmatin hujan dulu!” Torrie berusaha menghentikan Auggie yang jauh di depannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Auggie berusaha untuk tidak memperdulikan Torrie. Tapi seorang bapak yang berada di depannya menunjuk sesuatu ke arah Torrie. Tadinya Auggie tidak mengerti maksudnya, tapi setelah ia menoleh barulah ia mengerti. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; sebuah mobil yang melaju cukup kencang ke arah Torrie, tanpa Torrie sadari. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Setelah mobil itu mengklakson, Torrie juga baru tahu bahwa nyawanya sedang terancam. Tapi ia hanya bisa terpaku. Tanpa banyak pikir lagi, Auggie langsung berlari&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;lalu menarik Torrie dan menjatuhkan badan mereka berdua ke trotoar. Tepat saat itu mobil telah mengerem dan berhenti saat Auggie telah menarik tubuh Torrie.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Sekitar hampir setengah menit mereka tetap pada posisi mereka. Torrie masih syok sehingga masih berada didekapan Auggie begitu pula dengan Auggie. Tak lama kemudian Torrie terisak.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Jangan cengeng! Kalo mau mati, mati aja &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. Tapi inget satu hal, jangan coba-coba mati di depan gue. Lo itu bikin gue …Uh!!!” Auggie memukul trotoar untuk melepas emosinya. Lalu Auggie beranjak pergi meninggalkan Torrie.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Gie, elo yang bikin gue takut. Detik pertama gue ketemu elo, elo itu &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;oran&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;g paling sombong dan sok cool yang pernah gue kenal. Detik-detik setelah itu elo terus berubah. Kadang elo baek banget, tapi kadang elo begitu licik dengan gangguan-gangguan elo ke gue. Kadang elo galak dan pemarah, tapi elo juga care banget sama gue, elo bisa ngelindungi gue…Dari semua yang gue sebutin tadi, elo bebas mau melakukan apa aja ke gue, tapi gue mohon jangan pernah bersikap dingin kayak gini. Sikap lo 5 menit yang lalu beda ama sekarang. Elo bikin gue takut, Gie. Bener-bener takut.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Auggie membalikkan badan, menatap mata Torrie tajam-tajam. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Terus apa itu penting? Elo jangan pernah manja ama gue. Elo khan udah punya…” &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Punya? Punya siapa? Oh…pasti elo ngira…Gini, Gie biar gue jelasin.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Nggak perlu, kita pulang sekarang!”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Nggak mau! Gue nggak mau pulang sebelum elo dengerin gue.” Torrie menarik kaos Auggie.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Torrie harusnya elo ngerti…OK! OK! Elo mo ngomong apa?” Auggie berlagak mendengarkan dengan melipat tangannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Mengenai pangeran…”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;i style=""&gt;Tuh khan, gue bilang apa. Seharusnya gue nggak nurutin dia. Untuk apa dia ngomongin Nicky, mau bikin gue makin sakit ati.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Lo tau nggak arti pangeran di dalam hidup gue?... Dia itu nafas gue, harapan gue, yang bikin gue bisa survive untuk&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;terus berjuang ngelawan penyakit gue ini. Gue bener-bener ngedewain dia. Tapi… pandangan gue itu ternyata salah, yang bikin gue bisa survive itu ternyata adalah orang-orang di sekitar gue yang sangat-sangat sayang sama gue, tapi terkadang gue suka lupa akan keberadaan mereka. Mami, Papi, Opa, Lara, Niken, Bibik, dan Tuhan. Mereka adalah yang punya andil gede banget dalam hidup gue. Tapi sekarang gue udah nemuin pangeran gue yang sesungguhnya, dia juga bagian baru dari hidup gue, dia ngisi kehidupan gue dengan berbagai hal. Pangeran yang sekarang beda dengan pangeran yang dulu yang hanyalah sebuah hayalan dan imajinasi. Pangeran nyata ini memiliki wajah yang sama dengan pangeran imajinasi, tapi orangnya beda. Gue pengen banget jadi bagian dari hidupnya juga, ngisi semua kekosongan dalam hidupnya. Pangeran nyata itu adalah abang gue...”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Kalimat terakhir cukup singkat tapi sangat berharga untuk Auggie, karena itu berarti pangeran Torrie adalah dirinya. Luka dihatinya secara ajaib sembuh total, bahkan yang ada hanyalah luapan kebahagian. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Auggie memeluk Torrie, bahkan hampir saja Auggie menciumnya, tapi Torrie mencegah dengan tangannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Weits…jangan buru-buru. Di sini aja dulu, dan di sini juga gue suka banget.” Torrie menunjuk dahinya. Auggie tertawa meremehkan tapi sejenak sesudahnya ia langsung mengecup dahi Torrie.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“&lt;i style=""&gt;You’ll be my breath&lt;/i&gt;…Mmm…&lt;i style=""&gt;No, no, no&lt;/i&gt;.” Torrie ragu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“&lt;i style=""&gt;No&lt;/i&gt;?!” Auggie kaget.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“&lt;i style=""&gt;I think you are my breath now and forever&lt;/i&gt;.” Torrie tersenyum dengan sangat manis.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Inget koin ini?” Auggie mengeluarkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sebuah koin dari kantung celananya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Mereka berdua tertawa. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Dalam sekejap tawa mereka musnah karena dalam sekejap juga Auggie pingsan… &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://www.dollielove.com"alt="target=_blank"&gt;
&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v40/mitsiki/dollielove/welcome6/10.gif"border=0 alt="Glitter Graphics, Myspace Glitters, Myspace Graphics from Dollielove.com"&gt;&lt;/a&gt;
&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22284483-8645751298007035333?l=hayalkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hayalkoe.blogspot.com/feeds/8645751298007035333/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22284483&amp;postID=8645751298007035333' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22284483/posts/default/8645751298007035333'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22284483/posts/default/8645751298007035333'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hayalkoe.blogspot.com/2010/03/torrie-prince-21.html' title='Torrie &amp; the Prince Ep. 21'/><author><name>Hayalkoe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10348172865908700967</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_w0DuuqOjKCg/SoUGPyjsoSI/AAAAAAAAAAU/QSplVZ3wbQ0/S220/DSC_0391.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22284483.post-5691079331805360535</id><published>2010-02-08T00:09:00.000-08:00</published><updated>2010-02-08T00:12:38.452-08:00</updated><title type='text'>Torrie &amp; the Prince Ep. 20</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;text-indent:.5in; line-height:150%"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;&lt;span style="font-size:24.0pt;line-height:150%"&gt;Bab 20&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;text-indent:.5in; line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Di tengah malam, Auggie terbangun karena panggilan alam. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Sudah jam berapa ini, kok nggak ada yang bangunin gue? Apa mereka belum balik ya?&lt;/i&gt; Auggie melihat jam tangannya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Auggie menguap dan hendak beranjak ke kamar mandi, tapi ia melihat ada sesuatu yang nggak beres di kamar itu…&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Ranjang itu?!...Ranjang itu kosong!!!! Ranjang yang seharusnya ada Torrie!! Ke mana perginya Torrie? Kok dia nggak ada?&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Pertama kali hal yang dipikirkan Auggie adalah kamar mandi. Ia cepat-cepat mengecek kamar mandi, tapi ternyata nggak ada Torrie. Pikirannya mulai kacau, di mana Torrie berada. Auggie bingung, dan mencubit-cubit tangannya untuk memastikan ini bukan mimpi. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Auggie mengacak-acak rambutnya, dan berusaha untuk lebih tenang. Tapi apa yang dilihatnya justru semakin membuatnya semakin nggak tenag, infusnya&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Torrie tetap ada, itu berarti Torrie kabur. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Auggie lari keluar kamar menuju ke tempat jaga suster, ia bertanya apa melihat Torrie. &lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; suster juga panik karena tak seorangpun dari mereka yang melihat Torrie, mereka kehilangan pasien mereka. Pihak rumah sakit mengerahkan orang-orang mereka untuk mencari Torrie. Auggie kembali ke kamar, siapa tahu Torrie hanya keluar sebentar lalu kembali. Tapi ternyata sia-sia, Torrie tetap tidak ada. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Auggie baru ingat tadi ia meletakkan kertas yang ditulisnya di meja depan sofa tempat dia tidur. Dan sekarang kertas itu hilang. Jangan-jangan Torrie kabur karena membaca isi kertas itu. Tapi apa alasan Torrie untuk kabur, bila Torrie telah membaca &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;surat&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; itu, ia harusnya segera mempercayai Auggie lagi. Bukan sebaliknya, kabur seperti ini.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Auggie akhirnya ikut mencari Torrie di setiap sudut rumah sakit. Tapi pihak rumah sakit menyatakan, Torrie tidak ada di rumah sakit. Karena semua daerah rumah sakit sudah diperiksa, Torrie tidak ditemukan di mana pun.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Papi mami Torrie datang bersama Lara. Mereka datang dengan terkejut karena baru tahu kejadian ini. Pihak rumah sakit untuk sementara tidak mengijinkan Auggie untuk menghubungi siapapun untuk memberitahu hilangnya Torrie, sebelum Torrie benar-benar dinyatakan hilang. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“&lt;st1:place st="on"&gt;Om&lt;/st1:place&gt;…Tante…maafin Auggie, saya nggak bisa menjaga Torrie sampai-sampai Torrie kabur seperti ini. Tadi saya tertidur di sofa. Begitu bangun, Torrienya udah nggak ada.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Lara berusaha menenangkan mami Torrie yang menangis merasa bersalah meninggalkan Torrie tadi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Sudahlah kami nggak nyalahin kamu kok!” Papi Torrie menepuk-nepuk punggung Auggie. “Torrie memang nggak bisa ditebak kemauannya akhir-akhir ini, mungkin dia lagi dalam masa-masa pencarian jati dirinya. Jadi dia agak bingung dan jadinya terlalu sensitif perasaannya.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Tapi Om, tetap aja saya masih merasa bersalah.” Auggie menunduk karena merasa kesal pada dirinya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Gimana keadaan Torrie, Pi. Dia khan masih sakit, dia juga ke mana dia khan nggak bawa uang. Ini masih malam lagi…dia pasti kedinginan.” Mami Torrie terisak.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Papi mendekati mami dan duduk di sebelah mami. “Tenang, Mi. Kita berdoa aja supaya Torrie dalam keadaan baik-baik aja.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Auggie mendengar Maminya Torrie berkata seperti itu, membuatnya semakin takut. Karena ia membayangkan Torrie yang sulit bernafas, kedinginan dan berjalan kaki dengan terseok-seok karena nggak punya uang…&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Tunggu! Mengingat kata uang, ia jadi ingat tadi di kursi sebelah tempat tidur Torrie, Auggie meletakkan jaket kulitnya yang berisi dompetnya. Ia memeriksa ke kamar, dan benar dugaannya…jaket beserta dompetnya juga hilang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Kenapa, Luke? Kamu nyari apaan?” Lara menghampiri Auggie.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Tante, Torrie mungkin pergi ke tempat yang aman, karena dia membawa jaket berisi dompet saya.” Auggie meyakinkan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;text-indent:.5in; line-height:150%"&gt;* * *&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Auggie mencari bersama papi Torrie, mereka berpencar. Papi pergi ke rumah, hasilnya nihil. Auggie pergi ke rumah Niken, dan Niken sangat terkejut karena belum sempat jenguk, eh Torrie udah kabur. Biasanya juga Torrie nggak pernah kekanak-kanakan seperti ini pakai acara menghilang segala.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Niken menghubungi Simon, dan Simon juga bersedia membantu mereka mencari Torrie. Tapi masalahnya adalah, mereka harus mencari Torrie di mana…&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Maminya Torrie dan Lara ikut papi pulang, Lara harus menyiapkan barangnya karena ia harus pergi dengan penerbangan jam setengah 6 pagi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Auggie menyusuri setiap jalan &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; bersama Giliant. Mobil ini selalu siap meluncur bersamanya, bahkan di saat genting seperti ini.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Oh Tuhan, ke mana dia pergi…Torrie elo di mana? Kenapa elo mesti kabur? Elo khan udah baca semua perasaan gue, gue bilang jangan jauhin gue. Sekarang elo malah bener-bener jauhin gue. Sebenci itukah elo sama gue? Salah gue apa, Rie? &lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Auggie melambatkan Giliant lalu akhirnya menghentikannya. Ia mulai lagi membayangkan Torrie yang kedinginan. Di mana ia sekarang? Auggie mulai ingat akan jahatnya &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; di malam hari. Bagaimana kalau Torrie diganggu oleh seseorang atau sekelompok orang, kekhawatiran Auggie menjadi berlipat kaliganda. Semakin dibayangkan semakin sakit hatinya. Auggie memukul-mukul stirnya, ia benar-benar putus asa. Hanya Tuhan yang bisa menolongnya, heran kenapa sekarang ia bisa berserah pada Tuhan…&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Tuhan, kau tahu dulu aku begitu membenci-Mu, tapi karena Torrie aku mulai tahu Engkau punya rencana akan anak-anakMu. Tapi tolong jangan pisahkan aku dengannya. Aku tak tahu apa yang membuatnya menjauhi aku. Ah… yang kuinginkan hanya keselamatannya, aku tak peduli lagi dengan yang lain lagi. Dia khan anak-Mu juga, bahkan Torrie sangat sayang pada-Mu. Bantu aku menemukannya dan mencari jawaban akan semua pertanyaan dalam hatiku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Usahanya selama beberapa jam itu sia-sia, Torrie tidak ada di mana-mana. Auggie pulang dengan tangan kosong. Tapi ia menawarkan untuk mengantar Lara ke bandara.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;text-indent:.5in; line-height:150%"&gt;* * *&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;text-indent:.5in; line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Thanks ya, Luke. Udah nganterin aku ke bandara. Kamu pasti ngerti om sama tante lagi bingung gimana caranya nemuin Torrie, makanya kamu nganterin gue?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Ya, gue kasihan ama mereka. Mereka pasti sedih banget. Ini semua gara-gara gue.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Udah jangan nyalahin diri kamu sendiri. Aku yakin Torrie pasti dalam keadaan&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;baik. Cuman feeling sih, tapi biasanya feeling aku tepat.” Lara tersenyum untuk menenangkan Auggie.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Kenapa elo nggak batalin aja penerbangan lo? Kita cari Torrie sama-sama”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Luke, aku bukan orang kaya. Jangan seenaknya batalin tiket.” Lara memberikan tiketnya untuk diperiksa oleh petugas dan juga memasukkan tas travelnya ke dalam mesin pemeriksaan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Ya, udah. &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Thanks for everything&lt;/i&gt;. Elo emang adek gue.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Jangan mulai lagi deh!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Tapi bener kok, elo bukan pengganti adek gue, elo adek ke 2 gue.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Aku ngerti kok. Aku seneng banget bisa jadi adekmu! Salam ya buat Torrie nanti, bilang sama dia aku minta maaf, nggak ngasih tahu keberangkatanku hari ini.” Lara memasuki area keberangkatan. Dan melambaikan tangannya ke Auggie &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Sip!” Auggie melambaikan tangannya lalu mengacungkan ibu jarinya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Auggie berjalan gontai, ia masih memikirkan Torrie. Setiap detik yang ada otaknya hanya Torrie dan Torrie. Semenjak pulang dari mencari Torrie, Auggie nggak bisa tidur.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Awan mendung yang membawa hujan, entah dari mana datangnya&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;mengguyur bandara internasional itu. Auggie cepat-cepat lari ke mobilnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Hujan semalaman mengguyur &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;, Auggie semakin cemas memikirkan di mana Torrie akan berteduh.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Tuhan, bantu aku! Bantu aku! &lt;/i&gt;Auggie memukul-mukulkan kepalanya ke stir mobil.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Ting!! Tiba-tiba Auggie teringat…Torrie pernah bilang di bandara ada tempat favoritnya, tempat di mana ia bisa merasa seperti pesawat, terbang bebas. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Auggie langsung keluar dari mobil dan berlari menuju bandara lagi, tapi tiba-tiba berhenti lagi. Ia menatap sekelilingnya. Bandara sangat luas, bagaimana mungkin ia dapat menemukan tempat yang dimaksud Torrie. Apalagi sekarang hujan lebat begini.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;Auggie berlari&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;untuk segera berteduh di bandara, lalu menghampiri seorang satpam. “Pak, ada tempat yang bisa ngelihat pesawat lepas landas, nggak?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Oh, banyak, Mas! Hampir setiap sudut bandara bisa ngeliat pesawat lepas landas.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Maksud saya yang lebih spesifik lagi, Pak. Yang bener-bener bisa ngeliat dari deket.” Auggie menepiskan rambutnya yang basah ke belakang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Ada… ada… Di…” Satpam itu menunjukan tempat itu berada. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Terima kasih banyak, Pak!” Auggie segera lari sekencang-kencangnya, belum pernah ia lari secepat itu. Ia yakin, bahkan sangat yakin Torrie ada di sana. Kalau sampai nggak ada, dia terpaksa harus menyusuri seluruh pelosok bandara.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;text-indent:.5in; line-height:150%"&gt;* * *&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Torrie duduk memegang bangkunya, walaupun sudah memakai jaket Auggie, tetap saja dingin itu menusuk sampai ke tulangnya. Asmanya juga kambuh lagi, tapi anehnya nggak terlalu parah. Mungkin karena ia sempat tidur beberapa jam.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Torrie merentangkan tangannya, ia melihat betapa besarnya jaket Auggie. Apalagi dibandingkan dengan tubuhnya yang kecil.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Jaketnya aja segede gini, berarti badannya juga gede banget, soalnya jaketnya selalu pas di tubuh Uggie…&lt;/i&gt;Torrie membayangkan Auggie menggunakan jaket itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Torrie merasa dingin lagi, ia langsung melipat tangannya, ia merasa seperti dipeluk Auggie. Torrie memejamkan matanya dan membayangkan dipeluk Auggie.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Torrie beranjak dari bangku panjang &lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;untuk pegunjung terbuat dari besi yang ia duduki, menuju ke beranda bandara (sebutan Torrie untuk tempat itu, sebetulnya lebih mirip beranda raksasa karena sangat panjang dan luas). Torrie memejamkan matanya dan menghirup udara sedalam-dalamnya, menikmati udara pagi yang sejuk. Ketika matanya terbuka, Torrie melihat sebuah pesawat mendarat, sangat mulus. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Pagi ini sangat indah, ia menikmati setiap detik perubahan malam menjadi pagi. Namun, hujan turun. Lagi-lagi di saat yang nggak tepat. Coba saja ia tidak sakit, sudah pasti Torrie akan berdiri di bawah hujan dan menikmatinya. Sekarang ia hanya dapat memandangi tetesan air hujan itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Ia teringat lagi dengan Nicky…&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Torrie berteriak sekencang-kencangnya…&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;“Nicky!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Nicky, elo pangeran gue. Elo yang selama ini bikin gue survive selama ini dan selalu berharap untuk ketemu elo.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Nicky elo yang selalu dateng saat gue butuh seseorang.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Nicky elo yang paling ngertiin gue.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Nicky,denger nggak sih?!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Uggie!!!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“…”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Maafin gue, Gie! Gue nggak maksud untuk marah sama elo.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Gue juga nggak punya alasan untuk nyuekin elo…Mana mungkin gue marah…Sama orang yang udah ngasih gue warna dalam hidup gue…”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Orang yang jadi kakak yang selama ini gue impiin…” &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Gie…gue cuman nggak mau elo menderita karena gue…Gue tau elo pasti selalu sakit kalo ngeliat gue sakit…”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Gie… gue nggak sebanding sama elo. Jangan pernah sayang sama gue!!!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Jangan pernah!!!” Torrie menangis, air matanya mengalir begiu saja.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Auggie…”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Auggie!!... Ngomong donkkkk!!! Biasanya elo selalu nanggepin gue kalo gue ngomong. ”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Kalian ini gimana sih kok nggak jawab-jawab.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Torrie udah nggak tahan lagi, dia sangat kedinginan. Dia duduk kembali. Sudah semalaman dia ada di tempat ini, dia bingung. Torrie bukannya sengaja kabur. Kemarin Auggie benar-benar bikin Torrie semakin bingung. Dia harus bagaimana? Di hadapannya sudah ada 2 orang berwajah serupa dengan kepribadian yang berbeda jauh. Yang satu baik dan pengertian dan pangerannya. Yang lain kakaknya yang selama ini ia idam-idamkan yang selalu melindunginya. Mana mungkin Torrie menyukai keduanya, tapi itu yang sedang terjadi. Torrie yakin di dalam hatinya hanya ada 1 orang, tapi sudah semalaman Torrie mengaduk-aduk hatinya belum ketemu juga. Torrie mulai putus asa. Ia harus menentukan sikap.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://www.dollielove.com"alt="target=_blank"&gt;
&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v40/mitsiki/dollielove/welcome6/10.gif"border=0 alt="Glitter Graphics, Myspace Glitters, Myspace Graphics from Dollielove.com"&gt;&lt;/a&gt;
&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22284483-5691079331805360535?l=hayalkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hayalkoe.blogspot.com/feeds/5691079331805360535/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22284483&amp;postID=5691079331805360535' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22284483/posts/default/5691079331805360535'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22284483/posts/default/5691079331805360535'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hayalkoe.blogspot.com/2010/02/torrie-prince-ep-20.html' title='Torrie &amp; the Prince Ep. 20'/><author><name>Hayalkoe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10348172865908700967</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_w0DuuqOjKCg/SoUGPyjsoSI/AAAAAAAAAAU/QSplVZ3wbQ0/S220/DSC_0391.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22284483.post-6051939812995001813</id><published>2010-02-08T00:03:00.000-08:00</published><updated>2010-02-08T00:08:29.174-08:00</updated><title type='text'>Torrie &amp; the Prince Ep. 19</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;text-indent:.5in; line-height:150%"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;&lt;span style="font-size:24.0pt;line-height:150%"&gt;Bab 19&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;text-indent:.5in; line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Elo tuh gimana sih, Ra? Dulu elo bilang jangan pernah jatuh cinta sama dia, eh sekarang malah sok jodohin gue sama dia.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Dulu aku nggak tau kalo dia itu sayang sama kamu. Aku baru tau waktu aku nganterin kamu sekolah. Aku ketemu sama Luke dan dia bilang kalo kamu itu orang yang selama ini dia cari. Dia bingung sama sikap kamu yang berubah dingin, aku juga heran kenapa? Emangnya kamu aja yang menderita, Rie? Dia juga!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Siapa bilang gue menderita?...Lara elo cinta khan sama dia?” &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Walaupun hatinya agak sebal karena iri dengan Lara yang selalu disayangi orang-orang di sekitarnya, tapi ia juga sayang dengan Lara. Lara sudah menjadi saudaranya sendiri. Torrie juga ingin Lara bahagia, pikirnya lebih baik Auggie untuk Lara. Toh dia juga sangat mengerti Auggie. Lara adalah orang yang tepat untuk Auggie.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Lara terdiam.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Dan dia cinta khan sama elo?” Torrie mendesak Lara.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“OK! Aku jujur. Aku emang cinta sama Auggie. Tapi dia nggak cinta sama aku. Dia hanya menganggap aku adeknya. Nggak kayak kamu. Kalaupun selama ini dia selalu bilang nganggep kamu tuh adek, dia bohong!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Sejak kapan elo nyerah soal cowok. Biasanya elo selalu dapetin siapapun, apalagi dia udah sayang walaupun hanya sebagai adek, tapi itu khan awalnya. Nanti pasti dia bakal cinta sama elo. Dan…elo juga cinta sama dia.” Torrie bernada bercanda.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Rie, dia itu bukan benda! Aku nggak bisa maksain perasaan seseorang. Tadinya aku&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;juga sependapat sama omonganmu barusan, tapi waktu aku sakit tipes, aku baru sadar. Selamanya aku nggak bisa seperti ini, aku nggak akan bisa menggantikan posisi seseorang dalam hatinya. Makanya aku berniat pisah dari dia dan aku minta dia untuk nggak ketemu sama aku lagi. Tapi aku juga pesen sama dia untuk ngejer cintanya. Makanya sekarang dia ada di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Satu lagi bukti kalo dia cinta sama kamu. Hari ini dia dateng ke sini…Kamu tau sendiri khan tentang phobianya. Kamu harusnya tau gimana rasanya dia melawan semua penderitaannya demi kamu, Rie.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Gue nggak ngerti maksud lo apa?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Makanya kamu harus ketemu Luke. Dia yang harus menjelaskan segalanya.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Kenapa bukan elo?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Biar masalahnya cepet &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;clear,&lt;/i&gt; lebih baik orangnya langsung yang ketemu sama kamu.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;I don’t care.&lt;/i&gt; Gue tetep nggak mau ketemu sama dia., Titik. Kalo elo nggak mau Briana pasti mau!” Torrie memalingkan mukanya dari Lara, Torrie membayangkan Auggie bersama Briana yang seksi itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Lara tetap tidak akan menyerah. Rencananya nanti malam ia akan menyelundupkan Auggie ke rumah sakit dan menemui Torrie. Malam ini adalah saat yang tepat karena besok pagi dia harus segera ke Jogja karena sudah masuk sekolah. Ia tidak yakin akan ada yang bisa membantu Auggie untuk meyakinkan Torrie. Dari pembicaraannya tadi, Torrie terlihat sangat keras kepala. Lara yakin, Torrie sudah tahu Auggie mencintainya hanya saja Lara masih heran kenapa Torrie bersikeras untuk menghindari Auggie. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;text-indent:.5in; line-height:150%"&gt;* * *&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Torrie maafin mami ya?” Mami berkaca-kaca.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Emangnya mami salah apa sama Torrie?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Banyak. Mami nggak bisa ngasih kebebasan kamu seperti anak-anak lain. Mami selalu tegas sama kamu. Dan lagi…Mami…” &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Papi yang duduk di sofa tersenyum melihat mami yang mulai menangis.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Mami itu lucu ya? Torrie khan udah sering kayak gini, tapi kenapa Mami malah nangis-nangis. Kayak Torrie mau mati aja…” Torrie kaget sendiri dengan ucapannya barusan. Apa maminya berubah karena ucapannya benar?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Jangan-jangan hidup Torrie emang udah nggak lama lagi ya, Mi?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Papi tahu anaknya mulai panik, ia berusaha menenangkannya dan duduk di samping ranjang Torrie.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Hidup kamu masih lama, Rie. Maksud mami bukan gitu. Mami sih ceritanya nggak jelas, anaknya sampai mikir yang enggak-enggak.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Iya, Rie. Maksud mami bukan gitu. Mami hanya merasa bersalah.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Ya, ampun Mami… Kalo gitu mah, Torrie juga salah. Sebagai anak, Torrie yang hidupnya udah cukup masih nuntut banyak. Torrie selalu beranggapan Torrie orang paling menderita di dunia. Tapi sekarang enggak. Torrie merasa justru orang paliiiinnnng bahagia di dunia karena punya Mami dan Papi.” Torrie merangkul kedua orang tuanya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Mami belum cerita satu lagi kesalahan Mami. Mami tau sebenernya kamu suka sama Auggie udah lama. Makanya maksudnya Mami mau bantuin kamu supaya deket sama dia, eh malah jadi gini.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Mami…Mami…” Torrie tertawa sambil menggelengkan kepalanya. “ Mami tau dari mana? Pasti dari diary Torrie ya?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Iya, Mami nggak sengaja baca.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Hemm…sengaja atau sengaja…” Papi menggoda mami, mami jadi malu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Yang di diary itu ternyata bukan Auggie. Tapi… bener kok, mi, Torrie nggak pernah nyesel bisa deket sama Auggie. Justru Torrie seneng banget bisa kenal sama dia. Auggie juga nggak ada sangkut pautnya sama sakitnya Torrie, ini semua salah Torrie yang terlalu maksain diri. Auggie itu baik kok, Mi.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Kalo gitu kenapa, kok akhir-akhir ini setiap Auggie pengen ketemu kamu, nggak boleh. Gini-gini Mami juga tau anaknya dalam masalah…”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Itu karena…”&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Tiba-tiba Lara masuk dan membisikkan sesuatu ke Mami. Mami terkejut.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Untuk apa dia ke sini?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Ehm…Tante om, Lara mau bicara sebentar di luar.”&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Lara menatap kedua orang tua Torrie dengan mengharap.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Mereka bertiga keluar meninggalkan Torrie sendirian. Torrie penasaran, apa yang dibisikkan Lara, sampai-sampai buat Mami terkejut.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Di luar ternyata ada Auggie. Ia berusaha meyakinkan mami dan papinya Torrie untuk mengizinkan dirinya bertemu dengan anak mereka. Tentu saja dibantu Lara.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“&lt;st1:place st="on"&gt;Om&lt;/st1:place&gt;, Tante…percaya deh sama Lara. Lara tau kok Luke…eh…Auggie ini bener-bener cinta sama Torrie, dia nggak mungkin nyakitin Torrie.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Papi menatap mami seakan menyerahkan keputusan di tangan mami. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Baik, kami pegang omongan kalian. Jangan pernah sakiti hati Torrie…” Mami pasrah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Sekarang kami akan menjenguk Opanya Torrie, kami harap kamu mau menjaganya.” Papi menyerahkan tanggung jawab kepada Auggie.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Dengan senang hati.” Auggie berseri-seri.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Good luck!&lt;/i&gt;” Lara mengedipkan matanya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Auggie masuk ke kamar itu, ia melihat Torrie sedang membaca sebuah novel.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Rie…”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Torrie terkejut karena dia tahu suara itu adalah suara Uggienya. Torrie menatap sekilas ke arah Auggie kemudian membuang muka dan kembali menekuni novel yang sedang dibacanya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Terserah kalo elo nggak mau natap mata gue. Mungkin gue terlalu menjijikan untuk ditatap.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Bukan begitu, Gie. Bagaimana mungkin gue membenci wajah yang selalu bikin gue…Gue rasa ini yang terbaik untuk kita.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Torrie merasa sulit berpura-pura membaca novel, pikirannya tidak ada di novel itu. Jadi menurutnya lebih baik berpura-pura tidur, mungkin itu lebih mudah. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Torrie menutup wajahnya dengan bantal.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Seberapapun elo nolak gue, gue akan tetep di sini. Seberapa sering elo bilang elo nggak cinta atau suka sama gue, gue tetep di sini. Di sini hanya ada kita berdua, Rie. Dan gue pengen elo jujur sama gue…”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Torrie tetap tak bergeming, walaupun sebenarnya ia menangis di balik bantalnya. Dan memohon pada Tuhan, kapan ini akan segera berakhir.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Torrie heran, setelah kata-kata terakhir itu ia tidak mendengar lagi suara. Mungkinkah Auggie pergi? Tapi tidak ada suara pintu dibuka. Apa yang dia lakukan? Torrie benar-benar penasaran.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Torrie memiringkan sedikit kepalanya, sepelan mungkin agar tidak terlihat oleh Auggie. Kemudian ia membuka sedikit bantalnya, ia mencari-cari di mana gerangan Auggie.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Ternyata Auggie sedang duduk di sofa yang tadi diduduki papi dan menulis sesuatu di sebuah kertas. Untuk sementara Torrie terpaku oleh wajah Auggie. Sejenak ia berpikir, apa ia hanya mencintai wajah itu? Mungkin dulu iya, tapi tanpa ia tahu wajahnya pun, ia telah mencintainya bahkan setelah ia mengenal Auggie, perasaan Torrie semakin kuat. Padahal kalau dipikir-pikir sebelum ia tahu Auggie pangerannya, ia telah punya perasaan itu pada Auggie. Semakin dipikirkan semakin Torrie bingung, apa yang membuatnya jatuh hati pada cowok ini.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Apa yang ditulis Auggie? Torrie terus penasaran, Auggie sepertinya lancar sekali menulisnya. Dan Torrie tetapmencuri-curi kesempatan untuk melihat Auggie dari balik bantalnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Setelah hampir satu jam lamanya Torrie bersembunyi di balik bantalnya, ia pun keluar dari persembunyiannya, setelah yakin Auggie telah tertidur pulas di sofa.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Torrie menatap Auggie dengan sangat hati-hati, takut nanti kalau Auggie tiba-tiba terbangun. Torrie melihat wajah yang lelah, belum pernah Auggie terlihat seperti itu. Tapi tetap saja hal itu tidak dapat menghapus segala kacakepan cowok ini.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Pelan-pelan Torrie berusaha keluar dari selimutnya, tak sedikit pun suara yang ditimbulkannya. Torrie melangkah menuju meja yang di atasnya tergeletak selembar kertas sobekan dan sebuah bolpoin. Sayang tangan kirinya tidak sampai ke kertas itu karena terhalang oleh infus di tangan kanannya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Torrie cepat-cepat memegang tiang infus itu dan kembali ke meja itu, tapi menimbulkan sedikit suara. Torrie tidak mau mengambil resiko lebih besar lagi, jadi ia cepat-cepat mengambil kertas itu dan kembali ke ranjangnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Ia membaca kertas itu yang tadi ditulis Auggie…&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Hanya berawal dari mata mungil itu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Mata yang telah lelah melihat dunia &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Di usia belianya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Tetapi juga mata yang pantang menyerah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Dengan dunia yang membuatnya lelah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;Mata yang membuatku malu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Akan diriku yang menyerah dengan dunia&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Mata yang membuatku sadar &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Bahwa aku harus membuat dunia bersinar di matanya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Mata ini yang buatku s’lalu berdoa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Tuhan, kapankah aku dapat melihat mata ini lagi?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Akan selalu kunanti pertemuan itu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Saat mata bertemu dengan &lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;mata&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;T’lah sekian lama kunanti&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Mata itu akhirnya hadir kembali&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Mata yang sama dengan mata yang kulihat dulu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Tak ada yang berubah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Oh, Tuhan lupakah ia akan aku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Bodoh! Tentu saja ia lupa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Bahkan yang ia lihat dulu bukan aku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Aku hanyalah bayangan dibalik tubuh orang yang dinantinya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Sungguh sangat tak berarti…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Aku tak mampu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Membawa diriku jauh darinya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Aku ingin selalu melihat matanya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Sangat ingin…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Tiap malam kumemimpikannya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Tak kuasa hati kubendung&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Inikah cinta?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Yang buat sikapku semakin aneh?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Yang buat kelamku jadi warna?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Kulakukan apapun untuknya &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Hanya ‘tuk melihat senyum dan tawanya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Hanya ‘tuk melihat mata itu bersinar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Selalu…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Tapi…cinta tak menyambutku &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Seketika &lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;ia pergi menjauh&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Tak sukakah ia padaku?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Atau bencikah ia padaku?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Hatiku berkecamuk hebat…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left:45.0pt;line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Lihat sekarang…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left:45.0pt;line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Tubuh mungilnya terbaring lemah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left:45.0pt;line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Aku tak bisa melihat mata itu &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left:45.0pt;line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Karena mata itu tak ingin melihatku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left:45.0pt;line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Dan aku pun tak bisa berkutik &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Ia sakit &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Hatiku ikut sakit…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Ia menderita &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Aku pun lebih menderita melihatnya…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Tak peduli apapun&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Aku akan tetap menantinya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Aku akan tetap mencintainya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Walau harus kutahan rasa ini selamanya…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Let me be your breath, Torrie…&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Torrie menitikkan air matanya, ia betul-betul terharu dengan isi puisi, atau apapun itu, walaupun ia sedikit tidak mengerti dengan beberapa hal. Yang jelas isi kertas ini mewakilkan perasaan Auggie yang terpendam selama ini.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Ternyata di pojok bawah kertas itu juga ada sebuah paragraf kecil lagi…&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Warna itu mulai hilang menjauhi aku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Yang tinggal hanya hitam &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Kehidupanku yang dulu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Begitu menakutkan dan menyiksa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Jangan pernah jauhi aku…&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Torrie menatap wajah Auggie yang tertidur sangat lelap. Torrie semakin merasa bersalah, ia terlalu sombong untuk menerima Auggie. Ia terlalu egois nggak pernah&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;memikirkan perasaan Auggie.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://www.dollielove.com"alt="target=_blank"&gt;
&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v40/mitsiki/dollielove/welcome6/10.gif"border=0 alt="Glitter Graphics, Myspace Glitters, Myspace Graphics from Dollielove.com"&gt;&lt;/a&gt;
&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22284483-6051939812995001813?l=hayalkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hayalkoe.blogspot.com/feeds/6051939812995001813/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22284483&amp;postID=6051939812995001813' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22284483/posts/default/6051939812995001813'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22284483/posts/default/6051939812995001813'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hayalkoe.blogspot.com/2010/02/torrie-prince-ep-19.html' title='Torrie &amp; the Prince Ep. 19'/><author><name>Hayalkoe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10348172865908700967</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_w0DuuqOjKCg/SoUGPyjsoSI/AAAAAAAAAAU/QSplVZ3wbQ0/S220/DSC_0391.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22284483.post-6918076672642710486</id><published>2010-02-08T00:00:00.000-08:00</published><updated>2010-02-08T00:02:54.553-08:00</updated><title type='text'>Torrie &amp; the Prince Ep. 18</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;text-indent:.5in; line-height:150%"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;&lt;span style="font-size:24.0pt;line-height:150%"&gt;Bab 18&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;text-indent:.5in; line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Istirahat sekolah…&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Nik! Niken!” Auggie memanggil-manggil Niken dari tadi, tapi Niken seolah-olah tak mendengarkannya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Nggak ada cara lain, selain menarik Niken. Dan Auggie melakukan itu, ia memegang lengan Niken dan menahannya untuk tidak pergi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Kasar banget sih lo, Gie!” Niken menepis tangan Auggie.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Sorry, tapi dari tadi gue panggil elo nggak nengok-nengok.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Cepetan! Mau apa?” Niken bicara dengan kasar, dan berusaha untuk tidak melihat wajah Auggie.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Torrie di mana? Dari tadi gue cari, gue nggak liat dia.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Niken mengangkat bahunya, dan tetap nggak mau menatap mata Auggie.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Gue nggak tau apa yang terjadi, gue nggak ngerti! Bener-bener nggak ngerti!” Auggie terlihat sangat putus asa, ia mengacak-acak rambutnya sendiri. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Niken sangat takut melihat Auggie seperti ini, tapi ia berusaha menutupi perasaan takutnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Tolong, Nik! Jelasin ke gue! Kenapa kemarin Torrie jauhin gue, dan sekarang elo jauhin gue. Bahkan gue rasa, elo jijik ngeliat muka gue. Padahal khan yang seharusnya marah itu khan gue! Gue yang ditipu, gue yang dimanfaatin.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Bagus, kalo elo nyadar gue jijik sama elo! Dan harusnya gue yang nanya. Harusnya gue yang minta penjelasan, bukannya elo! Gue nggak ngerti kenapa elo masih ngerasa nggak salah?!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;“Maksud lo apa?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Oooo…jadi elo belum juga ngerti? Gini ya gue jelasin. Elo mau tau hari ini Torrie ada di mana?...Di rumah sakit! Tengah malem, Lara nemuin dia udah bener-bener dalam kondisi buruk.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Nggak mungkin… Kemarin dia…Ya Tuhan!” Auggie memegang keningnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Mungkin karena emosi, Niken berani menatap mata Auggie. “Sekarang giliran gue nanya! Elo apain Torrie? Selama ini gue sering ngeliat dia sakit tapi bukan sakit luar dalam seperti ini. Walaupun dia nggak cerita, tapi gue tau pasti ini ada hubungannya sama elo. Bahkan dia bilang mau lupain elo.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Niken menangis karena terlalu emosi, dia nggak terima sahabatnya menderita karena cowok yang ada di hadapannya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; apa ini? Nik, dia nyakitin elo?” Simon datang dan mendapati Niken tengah menangis. Mukanya langsung jadi merah…&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Bukan gue, tapi Torrie…Mon, dia nyakitin Torrie.” Niken menangis di pelukan Simon.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Jangan ganggu Niken ataupun Torrie!” Simon mendorong Auggie yang benar-benar pasrah. Auggie nggak meyangka kejadian kemarin bisa membuat Torrie ke rumah sakit. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Tiba-tiba saja ia sangat ingin menjenguk Torrie dan meluruskan segala persoalan mereka. Suatu keinginan, yang seumur hidup Auggie tak pernah sangka akan terpikir di otaknya…ke RUMAH SAKIT?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Tunggu! Gue akan jelasin semua yang gue tau, tapi gue bener-bener nggak ngerti kenapa Torrie marah sama gue…”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Auggie berusaha menjelaskan sejelas-jelasnya. Ia juga berusaha meyakinkan Simon dan Niken bahwa ia juga mencintai Torrie. Auggie benar-benar menjelaskan sampai akhirnya mereka mau mengerti posisi Auggie.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Untuk sementara, mereka menyimpulkan Torrie merasa tidak nyaman dengan phobia Auggie. Simon dan Niken berjanji akan membantu Auggie untuk membujuk Torrie agar ia percaya akan Auggie. Tapi Auggie menolaknya karena ia ingin mencoba sendiri membuat Torrie percaya pada dirinya tanpa bantuan orang lain. Ia harus berusaha sendiri, Auggie ingin membuktikan pada Torrie bahwa ia serius dengan perasaannya, ia akan berbuat apapun demi Torrie.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Ya, udah. Mudah-mudahan elo cabutnya nggak ketahuan. Nanti Simon kebagian tugas nipu satpam, supaya elo bisa keluar. Gue jaga-jaga.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Trims banget ya! Kalian baik banget mau bantuin gue.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Ini semua juga demi Torrie. Gue pengen dia menemukan dunianya yang benar, kebahagiaannya... Udah &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; elo cepetan pergi, entar belnya keburu bunyi. Misi kita bisa berantakan.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Auggie mengendap-endap di belakang pos satpam, sedangkan Simon berusaha mengalihkan perhatian satpam dengan mengajak satpam ke dalam sekolah (entah jurus apa yang dipakai Simon, supaya satpam itu percaya). Niken memberikan kode kepada Auggie saat satpam mulai pergi, Auggie segera menuju pintu gerbang. Untung saja gemboknya masih dibuka, jadi Auggie tanpa banyak bicara langsung keluar. Sebelum keluar ia melemparkan kunci mobilnya ke Niken.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Sekali lagi gue minta tolong, nanti ada orang suruhan gue yang bakal ngambil kuncinya, namanya Pak Yayad. &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Thank you for everything&lt;/i&gt;, Nik. Salam buat Simon.” &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Pak Yayad itu supir pribadi mamanya Auggie.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Niken mengacungkan jempolnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Gie, gue juga titip Torrie. Sorry kalo akhir-akhir ini pikiran gue selalu negatif tentang elo.” Bisikan Niken yang tidak sampai terdengar oleh Auggie.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;line-height:150%"&gt;* * *&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Niken telah memberikan alamat rumah sakit dan kamar tempat Torrie dirawat. Auggie berniat untuk langsung pergi tapi ia memutuskan untuk pulang saja.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Sesampai di rumah ia mengecek rumah Torrie kosong yang ada hanya Bik Sumi. Kata Bik Sumi, semuanya (Papi Maminya Torrie dan Lara) ada di rumah sakit, jaga Torrie.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Auggie masuk ke kamarnya, ia memandang lurus ke jendela kamarnya yang menghadap kamar Torrie. Auggie sangat ingin menjenguk Torrie, tapi sebagian hatinya juga belum siap. Setiap ia membayangkan rumah sakit atau membayangkan Torrie terbaring lemah, Auggie rasanya tidak sanggup melihat itu semua.&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Auggie sangat frustasi, sepertinya ia akan menjadi pecundang seumur hidupnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Tidak! Ini tidak boleh terjadi! Auggie tidak boleh kehilangan Torrie. Torrie adalah orang yang sangat berharga, Auggie sangat ingin menjadi nafas untuk Torrie. Jadi untuk itu ia harus mematikan rasa takutnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Kenapa gue jadi ragu gini?! Semua yang gue lakukan cuma buat Torrie. Masa perjuangan gue hanya sampai di sini? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Auggie seperti melihat sosok Torrie di balik jendela kamar itu. Torrie tersenyum padanya. Auggie tahu itu hanya bayangan tapi semakin membuatnya ingin bertemu dengan Torrie.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;text-indent:.5in; line-height:150%"&gt;* * *&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;Auggie memasuki lorong-lorong rumah sakit. Ia mencium bau yang telah lama ia tidak cium, bau khas itu. Sudah bertahun-tahun lamanya ia tidak pergi ke tempat seperti ini. Tapi tidak juga beberapa hari yang lalu ia pergi ke klinik, dan baunya juga mirip seperti ini. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Pergi ke klinik aja sudah membuat dia stress. Auggie nggak tenang ada di tempat itu, apalagi kalau masuk di UGD yang peralatannya seram-seram. Kebetulan saat itu juga ada korban tabrak lari yang dibawa ke &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;, Auggie nggak berani ngeliat itu orang, ia heran kenapa nggak dibawa ke rumah sakit aja sih. Kok malah dibawa ke klinik seperti ini, walaupun untuk ukuran klinik cukup besar, tapi tetap saja rumah sakit lebih baik.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;Bahkan sewaktu lengannya dijahit yang kedua (perbaikan dari yang pertama) pun, ia tak berani melihatnya. Selama dijahit Auggie menutup matanya dan menyenandungkan berbagai lagu yang ia tahu. Dokter yang menanganinya sampai menggeleng-geleng heran, karena pasiennya seperti anak kecil saja.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Auggie merasakan getaran hebat di tubuhnya. Semakin mendekati kamar yang dituju getarannya semakin hebat. Ia juga merasakan pusing.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Tibalah Auggie di depan kamar tempat Torrie di rawat. Tangannya ragu untuk memegang gagang pintu. Rasanya ia ingin lari meninggalkan rumah sakit itu, Auggie sudah tidak tahan hatinya bergejolak hebat sama seperti tangannya yang juga bergetar hebat. Terutama saat Auggie melihat Torrie dari kaca pada pintu itu. Torrie terbaring lemah dengan mata terpejam, berbagai selang dan alat ada di sekitar tubuhnya, Auggie tidak tahu apa nama alat-alat itu. Auggie yakin, alat itu pasti untuk membantu Torrie bernafas.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Auggie menggosok-gosokkan tangannya dan menutup matanya. Lalu menarik nafas sedalam-dalamnya dan menghembuskannya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Tuhan berikan aku kekuatan…”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Auggie tidak tahu apa yang telah ia lakukan yang jelas begitu ia membuka matanya ia sudah berada di kamar itu. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Gie?! Ka…kamu kok bisa tau Torrie di sini! Maaf aku nggak ngasih tau kamu…” Lara yang ternyata ada di situ, terkejut.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Nggak papa…gue tau dari Niken. Dia udah gue jelasin semuanya.” Auggie tidak habis-habisnya menatap Torrie, ia hampir tidak percaya itu Torrie yang biasanya ceria dan lincah, Torrie yang biasanya selalu marah bila Auggie menggangggunya. Sekarang Torrie yang ada di hadapannya adalah Torrie yang pucat dan kelihatan sangat sulit bernafas. Melihatnya seperti itu membuatnya juga ikut menadi sesak. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;“Hebat! Kamu bisa masuk ke sini, aku yakin kamu bisa mengatasinya.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Yah, setidaknya gue udah mencobanya. Demi dia…” Auggie masih menatap Torrienya yang mungil, Torrie tetap manis walaupun terlihat pucat. Betapa inginnya Auggie memegang tangan mungil itu. Auggie ragu untuk menyentuh tangan Torrie, sepertinya ia takut membangunkan atau menyakitinya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Pegang aja. Itu nggak akan nyakitin Torrie kok! Dia hanya tertidur, pengaruh obat.” Lara sepertinya dapat membaca pikiran Auggie. “Torrie bener-bener cewek yang beruntung. Dia berhasil buat kamu bisa ngatasi phobia kamu.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Auggie akhirnya punya keberanian untuk memegang tangan mungil itu. “Gue yang beruntung bisa ketemu dia…Apa dia akan…” &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Semalem aku tau pertemuan kalian. Waktu Torrie pulang aku ngerasa ada yang nggak beres. Waktu aku cek, ternyata ia udah sekarat. Terus om sama tante bawa dia ke sini. Tapi kamu nggak usah khawatir. Masa kritisnya udah lewat. Tapi alat-alat itu masih belum bisa dilepas, Torrie masih membutuhkannya.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Ya, udah. Aku titip Torrie, yah? Aku mau nyusul om ama tante ke kafetaria. Tolong jagain dia bentar.”&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Auggie mengangguk pelan. Lara pergi meninggalkan mereka berdua.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Auggie dapat merasakan tangan Torrie yang dingin seperti es, rasanya Auggie sangat ingin menghangatkan tangan itu. Auggie juga nggak ingin melepaskan genggamannya itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Dulu Auggie telah berjanji pada dirinya sendiri akan membuat Torrie selalu tersenyum dan tertawa. Tapi apa yang ia lakukan sekarang. Ia justru membuat Torrie membencinya dan membuat Torrie ada di sini dan terbaring lemah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Torrie…gue harap elo mau dengerin gue.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Gue emang nggak pantes buat elo. Torrie itu terlalu berharga buat seorang Uggie...”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Mungkin elo memang lebih cocok sama Nick. Dia baik kok… Gue punya satu rahasia tentang Nick, walaupun mungkin sudah banyak cewek yang deket sama dia tapi dia itu tipe yang setia. Dia bilang sama gue kalo dia serius sama elo. Gue rela kok asal elo bisa senyum lagi, asal elo bisa ketawa lagi. Tapi jujur…asal ada 1% seorang Uggie di hati Torrie, gue akan lebih bahagia lagi.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Auggie memberikan kecupan manis di kening Torrie, Auggie melakukannya sangat perlahan karena takut akan membangunkan Torrie.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Torrie…” Auggie tersenyum. “Nama itu juga terlalu indah, dulu gue selalu ingin manggil elo dengan nama itu, tapi…gue terlalu takut. Itulah gue, &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;the loser&lt;/i&gt;.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;text-indent:.5in; line-height:150%"&gt;* * *&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Setelah sekitar setengah jam, Lara datang. Ia mengatakan maminya Torrie pulang untuk mengambil pakaian dulu bersama papinya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Auggie sebenarnya sangat ingin tetap di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; menjaga Torrie, tapi Lara menyarankan agar Auggie dalam waktu dekat ini tidak datang karena maminya Torrie sudah mulai curiga, anaknya sakit karena Auggie. Lalu Auggie menceritakan kebingungannya mengenai sikap Torrie kepada Lara sebelum ia pulang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Tak berapa lama setelah Auggie pergi, Torrie sadar. Sebenarnya ia telah sadar dari tadi. Ia juga telah mendengar semua yang dikatakan Auggie. Kecupan Auggie tadi juga membuat tubuh dinginnya menjadi hangat, bahkan hampir saja ia takut pipinya memerah karena malu. Kecupan tadi benar-benar manis, lebih romantis dari seluruh kecupan yang pernah ada di dunia.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Malamnya Torrie sudah dibebaskan dari semua alat bantu nafasnya. Ia sudah dapat bernafas tanpa alat. Mami papinya juga sudah datang, tapi masih konsultasi dengan dokternya Torrie. Jadi Lara menggunakan kesempatan ini untuk mencoba meyakinkan Torrie.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Rie...tadi Auggie dateng.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Lain kali, kalo dia dateng. Jangan biarin dia masuk.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Kok kamu jahat banget sih, Rie. Aku udah tau semuanya. Tadi Auggie cerita.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Bagus kalo dia cerita.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Rie, aku jamin kok dia itu sayang banget sama kamu.”&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://www.dollielove.com"alt="target=_blank"&gt;
&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v40/mitsiki/dollielove/welcome6/10.gif"border=0 alt="Glitter Graphics, Myspace Glitters, Myspace Graphics from Dollielove.com"&gt;&lt;/a&gt;
&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22284483-6918076672642710486?l=hayalkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hayalkoe.blogspot.com/feeds/6918076672642710486/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22284483&amp;postID=6918076672642710486' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22284483/posts/default/6918076672642710486'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22284483/posts/default/6918076672642710486'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hayalkoe.blogspot.com/2010/02/torrie-prince-ep-18.html' title='Torrie &amp; the Prince Ep. 18'/><author><name>Hayalkoe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10348172865908700967</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_w0DuuqOjKCg/SoUGPyjsoSI/AAAAAAAAAAU/QSplVZ3wbQ0/S220/DSC_0391.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22284483.post-8167303725060061822</id><published>2010-02-07T22:22:00.000-08:00</published><updated>2010-02-07T22:24:25.318-08:00</updated><title type='text'>Torrie &amp; the Prince Ep. 17</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;text-indent:.5in; line-height:150%"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;&lt;span style="font-size:24.0pt;line-height:150%"&gt;Bab 17&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;text-indent:.5in; line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Bye, Torrie!” Lara melambaikan tangannya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Thanks ya, Ra. Udah dianterin sampai sekolah.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Khan sekalian jalan-jalan.” Lara tersenyum tapi Torrie melotot. “Tenang, aku langsung balik ke rumah kok. Chao dulu yah! Bye! Bye!” Lara melajukan mobil mami.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Baru berjalan sekitar 10 meter, Torrie baru teringat dengan bekalnya, yang tertinggal di jok mobil belakang. Torrie membalikkan badannya, hendak memanggil Lara untuk memutar ke sekolah lagi. Ia melihat Lara berhenti di depan sekolah tapi ia sedang mengobrol dengan serius dengan seorang cowok yang berdiri di&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;sebelah mobil mami. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Torrie menduga-duga, siapa cowok itu. Awalnya, Torrie sulit mengenali sosok cowok itu, karena tertutup oleh teman-temannya yang lewat. Setelah ia dapat melihat dengan jelas siapa cowok itu, ternyata dugaannya tepat. Itu Uggie… Mereka sepertinya sangat serius bicara.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Dada Torrie terasa semakin lama semakin sesak. Penyakitnya sungguh-sungguh nggak pernah kompromi. Selalu datang di saat yang tidak tepat. Seperti sekarang ini, untuk berjalan saja ia sangat kesulitan karena terengah-engah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Sesampainya di kelas, Torrie sudah tidak kuat. Tanpa mempedulikan orang-orang di sekitarnya, ia merogoh-rogoh isi tasnya, namun benda yang dicarinya tidak ditemukannya. Ia sangat tidak sabar, dengan cepat ia membongkar semua isi tasnya di lantai. Ternyata obatnya bergulir ke pintu kelas. Sewaktu Torrie ingin menangkapnya, ternyata benda itu sudah diambil oleh…Auggie.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Kembalikan!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Auggie memberikan obat itu kepada Torrie sambil memandang Torrie penuh prihatin, kelihatannya ia masih nggak percaya Torrie bisa menderita seperti itu selama ini.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Torrie langsung menekan tombol obatnya, dan langsung menghirupnya. Lagi-lagi Auggie memandangnya dengan pandangan aneh.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Gue mau ngomong.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Nggak bisa!” Torrie berusaha seketus mungkin.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Tapi cuman bentar kok.&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Ayolah, Rie.” Auggie memohon dengan amat sangat, hal yang belum pernah ia lakukan. Bahkan ia dapat memanggil nama belakang Torrie.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Gue mau ngerjain tugas nih. Entar aja kalo mau cerita. Mendingan elo pergi dulu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Tadinya Torrie hampir luluh dengan permohonan Auggie, namun karena pandangan Auggie yang aneh itu mengingatkan Torrie bahwa ia nggak akan bisa bersama dengan orang yang anti dengan orang semacam Torrie. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Seharian Torrie tidak bisa konsentrasi mengikuti pelajaran. Otaknya serasa tumpul saja. Bahkan Niken yang tadinya selalu berusaha memancingnya untuk bercerita tentang&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;kejadian yang belum ia ketahui, jadi ikut terdiam. Rasanya, belum memulai pelajaran saja otak Torrie sudah capai.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Seharian pula, Auggie menagih janji Torrie untuk bicara. Auggie berubah menjadi Auggie yang Torrie nggak kenal. Dia seperti selalu mohon pada Torrie, hal yang sama sekali pantang untuk orang seperti Auggie.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Torrie selalu menghindar, bahkan lebih ekstrimnya ia bersembunyi di WC cewek, satu-satunya tempat yang nggak bisa dimasuki seenaknya oleh Auggie. Walaupun Auggie dulu pernah masuk sini, tapi Auggie yang sekarang khan alim, Torrie yakin Auggie yang sekarang nggak berani memasuki daerah kekuasaan cewek itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Tuh khan, dari dulu Uggie itu emang aneh. Selalu berubah…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;text-indent:.5in; line-height:150%"&gt;* * *&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Torrie juga mematikan suara HPnya, supaya tidak mengganggunya. Auggie masih gigih berusaha untuk bicara dengannya. Berbagai SMS telah dikirim. Tapi…tak satupun yang mengungkapkan kenapa dia nggak mau jenguk Torrie kemarin, atau bicara tentang apa yang akan diomongin nanti kalau ketemu. Torrie jadi semakin malas saja, rasanya ia sangat terganggu dengan semua ini.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;SMS terakhir yang Torrie baca, “KSH GW KSMPTN TUK NGOMONG SM LW. PLIS, GW TUNGGU LW DI DPN RMH.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Maunya apa sih, ni anak? Petir udahh nyamber-nyamber dari tadi, pasti entar lagi ujan. Dia pasti juga kapok nungguin gue di bawah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Torrie betul-betul lelah, akhirnya ia tertidur. Dan hujan yang deras pun turun.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Torrie terbangun oleh getaran HP yang tepat berada di sebelah kepalanya. Ternyata Auggie berusah menghubunginya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;OK! OK! Apa salahnya bicara dengannya, toh mungkin dengan bicara, semua masalahnya jadi clear. Jujur aja gue penasaran juga dia mo ngomong apa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;THANKS GOD&lt;/i&gt;! Akhirnya elo mo ngomong sama gue.” &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Torrie diam membisu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Halo?! Halo?! Rie, elo di situ khan? Gue masih di depan rumah lo!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Ya ampun sejak tadi dia di situ, tunggu gue tidur tadi jam 6 sore, terus sekarang jam 9. Nggak mungkin! Pasti dia nggak selama itu ada di bawah. Apalagi sekarang khan ujan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Tapi rasa penasaran Torrie belum hilang, ia melihat Auggie yang sedang berdiri tegap sambil memegang HP ke telinganyadi jalanan depan rumahnya di bawah guyuran hujan, dari jendela kamarnya. Auggie pun sedang melihatnya, sepertinya itu yang diharapkannya. Melihat wajah Torrie.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Jangan bawa nama Tuhan, deh! Pake &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;thanks God&lt;/i&gt;, &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;thanks God&lt;/i&gt; segala!” Torrie mengomel, mereka masih saling bertatapan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Gue pengen ngomong sebentar.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Ya, udah di&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;sini aja.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Gue pengen ketemu langsung.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Aneh! Bukannya ini udah ketemu langsung?” Torrie menunjuk-tunjuk ke arah Auggie berdiri dan tempatnya berdiri juga.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Tapi gue pengen lebih deket lagi. Ini penting! Gue nggak bisa ngomong di sini.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Ya udah kalo gitu…” Torrie hamper memutuskan telepon dari Auggie tapi Auggie memotong.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Tunggu! Gue nggak akan maksa elo. Tapi gue akan nunggu di sini sampai elo turun dan mau ngomong sama gue.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Torrie langsung mematikan HPnya. Ia berusaha untuk tidak memusingkan apa yang dilakukan Auggie. Apalagi awan mendung mulai datang, begitu pula dengan kilat, dan tiba-tiba saja hujan turun dengan derasnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Torrie berani beraruh dalam waktu kurang dari 5 menit pasti dia akan menyerah. Ternyata tidak…&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;5 menit, masih bertahan…&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;10 menit, masih juga…&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;30 menit, masih dan masih…&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;60 menit, Auggie masih tegap berdiri tanpa banyak gerak… Dia benar-benar gigih.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Hati Torrie sudah tidak tahan lagi, bagaimanapun juga ia tak pernah lupa, Auggie itu adalah orang yang membuatnya merasakan kebebasan. Ia pun tak dapat mengingkari &lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;sebagian hatinya yang masih menyimpan Auggie. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Hal penting apa sih yang pengen elo omongin?” Torrie memegang erat payung transparannya, dan berusaha bersikap seolah tak peduli.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Kita ke taman.” Auggie menuntun Torrie pergi ke taman komplek tempat mereka merayakan ulang tahun Torrie. Dan sepertinya Auggie tak peduli seberapa banyak air hujan yang menetes di matanya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Torrie merasakan dingin yang begitu menusuk baik di dalam maupun di luar tubuhnya. Sebenarnya ia alergi juga dengan udara dingin.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Di taman…&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Torrie…”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Tumben bisa manggil nama gue dengan benar?” Torrie tersenyum sinis.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Torrie, kenapa elo nggak cerita soal…”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Asma gue? Iya, khan?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Auggie mengangguk. “Semua orang tau, bahkan Nicky juga tau. Gue kayak orang bego yang nggak tau apa-apa. Elo anggep gue apa, Rie?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“…” Torrie membisu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Gue sayang sama elo, Rie.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Ya, gue sedikit kaget. Tapi enggak juga tuh, elo khan emang udah bilang kalo gue itu adek lo jadi udah pasti sayanglah.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Tapi sayang lebih dari sekedar adek…”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Sepertinya kata-kata itu begitu mujarab untuk mengusir rasa dingin yang menyelimutinya. Tapi dingin itu menyelimutinya lagi, begitu ia teringat akan perkataan Lara, untuk tidak jatuh cinta dengan Auggie. Jangan-jangan dia hanya kasihan dengan Torrie. &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Oh, Tuhan, bagaimanapun aku telah berjanji untuk menjauhinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Gue nggak percaya! Elo…elo…” Torrie mulai merasakan sesaknya lagi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Ke..ke…kenapa? Kambuh lagi ya?” Auggie menjadi tergagap dan pucat, jelas ia sangat tidak bisa mengendalikan phobianya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Bagaimana…mungkin…gue percaya…elo punya perasaan…seperti itu ke gue…kalo elo sendiri…masih takut ngeliat gue kayak gini. Dan urusan gue mo jujur kek enggak kek. URUSAN GUE!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Tapi, perasaan gue ini nyata, Rie…”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Enggak! Gue tau…elo cuman kasihan sama…gue. Iya, khan?” Torrie menjauhi Auggie.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Sama sekali nggak bener.” Auggie menggeleng.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Elo nggak usah takut untuk mengakuinya. Gue bisa nerima kok.” Torrie berjalan menuju rumahnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Biar gue jelasin semuanya…” Auggie berusaha untuk mengimbanginya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Justru gue yang harus menjelaskan sesuatu ke elo. Sebelum elo salah paham.” Torrie berhenti dan menatap wajah Auggie, pegangan pada payungnya semakin erat. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Auggie menantinya mengucapkan sesuatu yang akan dijelaskan Torrie.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Gie, gue nggak punya perasaan sama elo! Bener, gue jujur!” Torrie menatap Auggie yang sangat basah kuyup.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Terlihat raut kekecewaan dari wajah Auggie.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Gue udah manfaatin elo! Elo tau? Semenjak gue ngajak lo taruhan, itulah awal gue manfaatin elo.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Auggie memandang Torrie dengan wajah yang bingung.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Semua orang…tau kalo gue sakit, kecuali elo. Jadi…cuman elo satu-satunya harapan gue untuk hidup normal. Cuman elo yang ngijinin gue berbuat ini itu, makan ini itu. Cuman elo yang ngasih gue kebebasan kayak gitu. Jadi gue udah manfaatin elo. Inget koin yang waktu itu…”Torrie tak mempedulikan nafasanya&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;yang tinggal satu-satunya, ia mengambil koin dari kantongnya yang kebetulan dibawanya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Inget koin ini, koin untuk taruhan kita? Koin ini hanya memiliki 1 jenis gambar jadi gue nipu elo.” Torrie memberikan koin itu ke Auggie agar ia dapat melihatnya lebih jelas lagi. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Butuh beberapa detik untuk Auggie mengerti, apa yang diucapkan Torrie. Tapi semuanya semakin&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;jelas setelah ia meliat sendiri koin itu. Koin itu di kedua sisi hanya ada 1 gambar, kuda beserta penunggangnya seperti kesatria.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Jadi gue cuma dimanfaatin?...Gu…Gue nggak peduli elo mo manfaatin gue, ataupun nipu gue. Gue ngak peduli! Yang gue peduli adalah gue pengen selalu ada di samping elo. Hanya itu!” Auggie memegang kedua tangan Torrie.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Tapi Torrie berusaha melepaskannya. “Gie, lupain aja! Lupain! Yang gue butuhin sekarang adalah nafas! Orang yang mau jadi nafas gue, yang selalu ada, tapi nggak cuman itu! Dia juga harus bisa nerima keadaan gue, bukannya takut seperti elo. Semenjak gue kenal elo gue jadi ketularan aneh, bahkan kadang gue nggak kenal ama diri gue sendiri. Bahkan gue harus berusaha keras untuk menjadi Torrie yang dulu. Gue benci elo! Elo yang udah bikin gue kayak gini!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Elo nggak pantes buat gue! Gue juga nggak pantes buat elo! Dan gue juga udah ketemu pangeran gue. Ngerti?!” Torrie membanting payungnya ke jalan&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Pergi jauh-jauh dari gue…!” Torrie pergi meninggalkan Auggie yang masih terpaku oleh perkataan Torrie tadi. Tak dapat dipungkirinya, phobianya terhadap orang sakit masih ada dan yang membuatnya semakin terpaku adalah Nicky telah menceritakan masa lalu itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Torrie berusaha lari dengan segenap sisa tenaganya, sisa nafasnya. Ia memasuki rumahnya dengan perlahan agar orang rumah tidak terbangun. Dengan segera memasuki kamarnya, mencari obatnya. Setelah menghirup obatnya, ia tetap merasa sesak dan sakit. Sepertinya obatnya tidak berfungsi dengan baik. Dengan cepat ia mengganti bajunya yang basah dan mengeringkan rambutnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Torrie membaringkan dirinya di tempat tidur, tapi semakin sesak dan ia tidak dapat tidur. Jadi ia menggunakan cara lamanya, ia membuat bantalnya tinggi dan menyenderkannya di tembok. Ia pun bersandar pada bantalnya, penderitaannya lumayan berkurang,walaupun sebenarnya masih belum dapat membuatnya tertidur.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Bagaimana kalau Uggie benar-benar jujur! Tapi…sekalipun dia jujur, gue nggak mungkin bisa jadi orang yang pantas ada di sampingnya. Dia…pasti akan menderita setiap ngeliat gue kena serangan. Dia khan paling anti ngeliat orang sakit seperti gue, yang selalu ngingetin dia sama orang yang dia sayangi, adiknya. Pasti sangat menyakitkan, pasti penderitaannya melebihi penderitaan gue sekarang…ini…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://www.dollielove.com"alt="target=_blank"&gt;
&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v40/mitsiki/dollielove/welcome6/10.gif"border=0 alt="Glitter Graphics, Myspace Glitters, Myspace Graphics from Dollielove.com"&gt;&lt;/a&gt;
&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22284483-8167303725060061822?l=hayalkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hayalkoe.blogspot.com/feeds/8167303725060061822/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22284483&amp;postID=8167303725060061822' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22284483/posts/default/8167303725060061822'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22284483/posts/default/8167303725060061822'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hayalkoe.blogspot.com/2010/02/torrie-prince-ep-17.html' title='Torrie &amp; the Prince Ep. 17'/><author><name>Hayalkoe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10348172865908700967</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_w0DuuqOjKCg/SoUGPyjsoSI/AAAAAAAAAAU/QSplVZ3wbQ0/S220/DSC_0391.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22284483.post-3561136156949084387</id><published>2010-02-07T21:45:00.000-08:00</published><updated>2010-02-07T21:46:59.059-08:00</updated><title type='text'>Torrie &amp; the Prince Ep. 16</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;line-height:150%"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;&lt;span style="font-size:24.0pt;line-height: 150%"&gt;Bab 16&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Semenjak kemarin, Torrie terbaring lemah dengan dada yang masih sesak. Tapi tetap saja yang ia pikirkan bukan kesehatannya, ia malah memikirkan apa yang dipikirkan Auggie.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Auggie pasti syok ngeliat gue kayak gini. Apa gue salah? Seharusnya gue bilang dari dulu kalo gue punya asma, dan gue bukan cewek sehat yang mungkin selama ini dia pikirkan. Tapi kalo gue jujur, mana mungkin Auggie mau nemenin gue lagi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Baru sehari tidak bertemu, Torrie sudah rindu wajah Auggie, senyum Auggie, dan mata yang Torrie rasa pernah melihatnya. Yang terutama adalah punggung Auggie… Kenapa sampai sekarang Auggie tidak mengunjunginya. Apa dia benar-benar tidak ingin bertemu dengan Torrie. Jangankan berkunjung, telpon atau sms-pun enggak. Dulu aja…, Auggie paling sering ngerjain dia, hanya sekedar miscall atau sms yang nggak jelas. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Terbersit di otak Torrie, ia ingin melupakan Auggie. Mungkin itu satu-satunya jalan. Ia akan kembali ke kehidupan monoton dan tanpa warnanya, walaupun harus menanggung sakit , kehilangan Auggie. Ia juga sudah berjanji pada Tuhan, tidak akan mengungkit-ungkit lagi keinginan hidup normalnya. Ia akan hidup berserah kepada Tuhan saja, mungkin kebahagiaannya akan datang nanti... di saat yang tepat. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Torrie tersenyum sendiri, itu berarti ia harus masih bersabar menunggu kebahagiaannya, dan itu berarti, umurnya masih panjang. Torrie harus bersyukur senantiasa pada Tuhan, walaupun dari dulu ia telah &lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;lelah menghadapi semuanya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;text-indent:.5in; line-height:150%"&gt;* * *&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Torrie sangat mantap dengan keputusannya. Ia tak akan lagi mengharap lagi. Dia telah menjadi Torrie yang tegar lagi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Rie, elo nggak papa?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Pertanyaan rutinitasnya muncul lagi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Nggak papa kok, Nik.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Tapi…elo tuh pucat banget, kata nyokap lo, elo nggak mau makan dari kemaren. Gue jadi ikut cemas, nih.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Elo nggak liat muka gue?” Torrie memberikan senyum termanisnya pada Niken. “Gue sekarang mau makan kok! Bawa ke sini makanannya, biar gue abisin semuanya, tapi…suapin. Ya, Nik? Ayo, suapin gue donk...”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Jangan kayak anak kecil deh? Elo kok jadi aneh, biasanya orang sakit nggak mau makan. Eh, ini malah minta makan.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Jadinya elo maunya gue makan atau enggak nih?” Torrie ngambek.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Ya, pengen elo makanlah! Emangnya kemaren ada kejadian apa sih? Kok asma lo sampe kambuh lagi?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Udahlah, gue mau lupain semuanya, terutama Auggie. Tolong, Nik jangan tanya macem-macem dulu. Entar gue pasti cerita tapi nggak sekarang. Sekarang gue pengen cepet sembuh, biar bisa sekolah lagi sama sahabat gue ini…” Torrie mencubit pipi Niken dengan gemas.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“OK! OK! Tapi lepasin dulu tangan lo, sakit!” Niken mengerang kesakitan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Lara masuk ke kamar Torrie membawa nampan yang berisi semangkok bubur.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Sorry ganggu, tapi ini waktunya makan. Torrie, kamu harus makan. Gue nggak mau tau! Pokoknya harus. Dari kemarin, kamu nggak mau makan.” Lara menyuruh Torrie dengan logat jogjanya yang khas.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Wah, dia telat, Nik.” Torrie membuat Lara penasaran.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Telat apaan?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Tau nih, si Torrie tiba-tiba aja pengen makan. Katanya pengen cepet sembuh.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Wah, bagus tuh. Kalo gitu, cepet dimakan. Nanti keburu dingin buburnya.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Tiba-tiba terdengar suara klakson, sepertinya vespanya Simon.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Ya, ampun… gue lupa di bawah ada Simon!” Niken menepuk dahinya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Lho, elo ke sini sama Simon? Kenapa nggak disuruh masuk aja tadi?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Gue tadinya mau bentar aja di sini. Biasa, gue mo jalan sama dia, besok khan dah mo masuk. Jadi ya dimanfaatin donk kalo ada kesempatan.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Dasar! Orang kalo udah jatuh cinta jadi gini nih, kayak dia, berduaan mulu.” Torrie menimpali, dan membuat Lara tertawa.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Tapi…bener ya, elo besok masuk. Tapi kalo nggak bisa, jangan maksa.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Sippp deh…”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Eh, iya, Ra… Lo gantiin gue suapin si bayi kecil ini, ya?!” Niken meninggalkan Lara yang bengong karena bingung.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Suapin…suapin siapa?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Dia itu cuma bercanda. Nggak usah dipikirin.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Selesai makan, sejenak Torrie memperhatikan Lara. Dia hampir lupa, Lara adalah pacar Uggie, yah…mungkin mantan…tapi apa bedanya? Toh yang jelas, dia adalah orang yang pernah dekat dengan Uggie dan pernah ada di hatinya juga.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Lara sangat jauh berbeda darinya, ia sangat cantik dan manis, pembawaannya pun selalu ceria tapi lembut, mungkin karena pengaruh daerahnya. Matanya sayu bagai putri keraton, setidaknya dalam pikiran Torrie putri keraton memiliki mata yang seperti yang dimiliki Lara. Untuk remaja perempuan seusianya, Lara juga cukup tinggi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Torrie membandingkan dirinya dengan Lara. Apalagi saat ini dia begitu pucat. Bahkan, ia sangat ingin menjauh dari cermin.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Rie, jangan ngeliatin aku kayak gitu. “&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Sorry, elo keliatan makin cantik aja.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Ah, kamu juga, Rie. Bahkan waktu di bandara aku hampir-hampir nggak percaya itu kamu!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Jangan nyindir gitu donk!” Torrie tersipu malu, ia merasa pipinya memanas.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Serius! Ehm…Rie, kok kamu bisa deket sama Luke?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;LUKE! Kenapa dia harus bertanya tentang Auggie di saat Torrie ingin melupakannya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Oh…maksud lo Auggie. Dia itu tetangga gue rumahnya di depan. Bahkan elo bisa ngeliat kamarnya dari sini.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“O, ya! Abis nganterin kamu ke kamar, aku sibuk nyariin obatmu , tiba-tiba dia ngilang jadi aku nggak tau kalo dia tinggal di depan rumahmu.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Hubungan lo gimana sama dia?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Dia…si Luke itu? Ya… nggak tau aku. Soalnya tiba-tiba dia pindah dan denger-denger di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. Eh, ternyata di depan rumah ini. Terakhir ketemu, aku sempet marah sama dia soalnya pas aku sakit tipes, dia sama sekali nggak jenguk aku. Makanya jangan heran dia nggak ngunjungin kamu hari ini.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Gue tau kok soal pobhianya.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Kalo kamu sendiri gimana?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Maksud lo?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Hubungan kamu pasti lebih dari sekedar temen. Kamu tau dia punya pobhia, bahkan kamu juga ngerahasiain sakit kamu dari dia. Jadi…?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Jadi hubungan kita hanya kakak-adek! Cuma itu.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Aku udah bisa nebak. Dia selalu nganggep cewek itu adeknya, terutama sama cewek yang nggak ngejer-ngejer dia. Gue tau semua tentang Luke, apa yang dia suka dan dia nggak suka.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Semuanya?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Lara mengangguk. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Bagus, sepertinya Lara adalah sosok sempurna di hadapan Uggie hingga ia mengetahui segalanya tentang Uggie, apalah artinya seorang Torrie. Bahkan gue ngerasa Uggie selalu menyembunyikan sesuatu dari gue. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Kamu suka? Atau mugkin jatuh cinta sama dia?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Jantung Torrie seolah berhenti begitu mendengar kata cinta. Torrie bahkan mungkin telah mencintainya sejak ia masih kecil, atau sejak pertama kali Torrie bertemu dengan pangerannya. Di saat ia pun masih belum mengerti apa itu kata cinta. Tapi sekali lagi, itu Nick bukan Uggie.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Enggaklah, nggak mungkin. Dia terlalu aneh buat gue.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Baguslah. Jangan sampai kamu jatuh cinta sama dia apalagi dengan penyakit asma kamu.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Raut muka Torrie berubah, kenapa Lara jadi sejahat ini. Melarang-larang orang jatuh cinta apalagi menyangkut-pautkan dengan asmanya. Jangan-jangan Lara masih mencintai Uggie. &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Tenang saja gue nggak bakal ngambil Uggie lo, gue cukup tau diri, &lt;/i&gt;rasanya Torrie ingin bicara seperti itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Kenapa?” hanya itu yang terlontar dari mulut Torrie.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Suatu hari nanti gue pasti cerita. Yang jelas gue pengen yang terbaik buat kamu, Rie. Kamu satu-satunya sepupu aku yang udah aku anggep saudara kandung sendiri, aku nggak mau kamu tersakiti.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Tersakiti??? Seburuk apakah rahasia yang dimiliki Auggie? Apakah dia seorang pembunuh? Atau tukang mainin cewek? Peduli apa, toh gue juga bermaksud melupakannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Permisi, boleh masuk?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Torrie tersentak karena tidak menyangka orang yang sedang dibicarakan datang. Walaupun ada yang sedikit aneh.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Torrie, lo udah baekan?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Ooo…pantes. Ini khan Nicky…Uggie nggak &lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;pernah manggil gue Torrie.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Lumayan, yang penting bisa napaslah. Eh, Ra…elo masih inget khan sama Nicky? Kembarannya Uggie yang hampir bikin elo pingsan gara-gara mirip banget sama Uggie.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Lara menatap Nicky penuh curiga, dia agak kurang suka dengannya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Kemarin Lara memang hampir dibuat pingsan sama Nicky, karena lagi panik-paniknya ngurusin Torrie, tiba-tiba Nicky dating dan di saat yang sama ada Auggie. Lara juga sama sekali nggak nyangka kalau Auggie benar-benar punya saudara kembar. Dulu Auggie pernah cerita sama dia, tapi dikiranya hanya bercanda.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Ya, udah Rie. Gue tinggalin elo berdua, nanti kalo perlu apa-apa panggil gue atau bibik aja.” &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Lara meninggalkan mereka berdua di kamar itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Sekarang udah apal ya sama aku?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Ya, iyalah. Sekarang gue dah jago bedain lo berdua.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Oh…ya. Auggie mungkin nggak bisa jenguk, dia sibuk tuh kayaknya.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Gue nggak butuh dia kok. Lo dateng aja udah cukup.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Rie, kamu masih inget nggak sama kisah pangeran dan putri kita?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Gara-gara masalah si Uggie itu, Torrie jadi lupa sama pangerannya, yang ternyata adalah Nicky.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“E…i…iya. Emangnya kenapa?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Nggak kenapa-napa sih tapi tiba-tiba aja kemarin aku kepikiran soal &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;soulmate&lt;/i&gt;.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Soulmate&lt;/i&gt;??” Torrie menjadi panik, jujur saja, ia masih bingung dengan perasaannya sendiri. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; sebagian hatinya yang menginginkan Nicky tapi sebagian lagi Auggie, apalagi setelah tau siapa pangerannya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Iya, &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;soulmate&lt;/i&gt;. Dan itu salah satu tujuan aku ke sini. Aku mau kasi tau kalo hari ini aku mau balik ke Aussie.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Apa? Balik? Kok cepet banget? Tapi apa hubungannya elo balik sama &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;soulmate&lt;/i&gt;?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Tiba-tiba aja aku ngerasa ketemu sama &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;soulmate&lt;/i&gt; aku. Aku pergi untuk kembali. Jadi maksudnya, aku memutuskan untuk tinggal di sini, di Indonesia dan meraih &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;soulmate&lt;/i&gt; itu. Selain itu aku juga pengen memperbaikin hubunganku sama nyokap. Aku ke &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; mau ngurus kepindahannya.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Dan…siapa orang yang lo kira &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;soulmate&lt;/i&gt; lo itu?” Torrie dengan nada penasaran.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Nicky mendekatkan bibirnya ke telinga Torrie,”Rahasia…” bisiknya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Jawaban itu semakin membuat Torrie penasaran, perasaannya semakin bergejolak oleh kebimbangan. Entah apa yang membuatnya seperti itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Tepat setelah Nicky pergi, hujan turun. Hujan yang selalu dinantikan Torrie. Ia selalu ingin berdiri di bawah siraman hujan, tapi di saat yang tepat tentunya. Bukan seperti sekarang ini, di saat ia merasakan kepedihan yang begitu dalam. Saat ia merasa dilupakan seseorang yang mulai berpengaruh dalam hidupnya, walaupun Nicky sudah memudahkan keputusannya dalam menentukan siapa yang ada di hatinya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Hujan yang sebenarnya indah, menjadi lambang yang buruk untuk orang yang sedang sedih seperti Torrie. Hujan seperti mengatakan aku turut sedih denganmu, ia menangis sama seperti hati Torrie yang menangis juga.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Tak terasa sesuatu yang hangat menetes di pipi Torrie.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Now, rain is coming. But not in the perfect time…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Begitu keluar dari rumah Torrie, Nicky sudah dihadang oleh Lara.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Aku mohon jangan mainin Torrie.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Maksud lo apa? Jangan-jangan elo kira gue &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;playboy&lt;/i&gt;, gara-gara ngedipin mata sama elo kemarin. Iya &lt;st1:state st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:state&gt;?” &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Saat pertama kali melihat Nicky, Lara memang tidak dapat mengedipkan matanya karena bingung melihat wajah yang sama dengan Luke&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Ng…nggak gitu. Tapi aku ngerasa ada yang kamu sembunyiin.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Memang ada, tapi kamu nggak perlu tau.” Nicky mengikuti logat bicara Lara.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Eh...jangan-jangan kamu cemburu ya ngeliat aku deket-deket ama Torrie?” bisik Nicky di telinga Lara.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Lara menjauhkan dirinya dari Nicky. “Ja…jangan bicara sembarangan kamu. Aku baru kenal kamu kemarin jadi mana mungkin aku…”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Kalau nggak cemburu ya jangan panikan gitu donk. Ok, gini aja. Keliatannya kamu sayang banget sama Torrie, jadi aku janji, aku bakal buat dia menemukan kebahagiaanya. Gimana?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Untuk apa janji sama aku?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Supaya kamu tau, kalau aku bukan cowok &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;playboy&lt;/i&gt;, dan supaya kamu tau aku ini cowok baik-baik.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;text-indent:.5in; line-height:150%"&gt;* * *&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Di saat yang sama, di depan sebuah took yang tutup ada sepasang anak manusia yang sedang berteduh dengan sebuah vespa.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Niken dan Simon berteduh karena hujan turun semakin deras. Rencananya setelah dari Torrie mereka pergi ke mall, tapi apa daya hujan sial ini datang jadi mungkin rencana mereka tertunda.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Tidak hanya udara yang dingin tapi suasananya juga. Semenjak mereka meninggalkan rumah Torrie, Niken yang biasanya suka bercerita tentang apapun menjadi terdiam seribu bahasa., Simon berusaha untuk tidak bertanya-tanya walaupun hatinya sangat penasaran.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Elo kedinginan, Nik?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Dingin sih, tapi elo kayaknya lebih kedinginan dari gue. Mon kalo elo mau ngerokok, ngerokok aja lagi. Gue nggak kenapa-napa kok.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Simon kaget dengan ucapan Niken,”Maksudnya apa, Nik?!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Jangan pura-pura nggak tau. Elo ngerokok kan tadi, sebelum gue dateng.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Gue nggak…”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Elo udah bo’ong, Mon! Mana mungkin gue bisa lupa bau rokok!” &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Ok, gue emang ngerokok, terus kenapa? Elo ngelarang gue ngerokok?! Ini baru sekali kok.” Simon dengan emosi yang agak tertahan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Mon…ini bukan masalah sekali atau berapa kali. Ini juga bukan masalah boleh atau nggak boleh. Sekali lagi gue ingetin ya, gue nggak pernah ngelarang elo untuk ngerokok.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Terus apa? Gue juga udah janji nggak akan ngerokok lagi, iya khan?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Justru itu, karena elo udah janji. Janji itu yang gue pegang sampai sekarang. Janji yang elo buat sendiri tanpa suruhan atau paksaan gue. Gue khan pernah bilang, gue benci sama rokok, tapi gue nggak pernah… sama sekali nggak pernah nyuruh elo untuk berhenti ngerokok.” Niken dengan terisak. “ Mungkin buat elo janji itu janji biasa tapi buat gue janji itu sangat berarti, Mon.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Sorry, Nik. Gue nggak mau&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;hanya gara-gara rokok hubungan kita jadi renggang.” Simon menggenggam tangan Torrie.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Tapi, Mon…Tiba-tiba aja gue punya pikiran kayaknya kita harus pisah.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Nik…” Simon semakin mempererat genggamannya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Niken melepaskan genggaman Simon. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Nggak putus gitu aja, kita masih bisa jadi temen kok. Dan jangan pikir&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;gue buat keputusan ini karena rokok aja. Sebenernya gue udah lama mikirin ini semua. Hubungan kita terlalu cepat, dan kedekatan kita juga terlalu cepat. Jadi gue pengen kita mulai lagi dari awal. Elo mau khan nunggu sampai gue bener-bener yakin kalo elo orang yang selama ini gue cari?” Niken tersenyum sambil mengharapkan jawaban dari mulut Simon.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Mmmm….gue ngerti kok. Elo bener, gue emang terlalu cepet tanpa babibu dalam beberapa hari langsung aja gue nembak elo. Gue janji…eh maksud gue…gue akan berusaha untuk nggak ngerokok&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;dan berusaha untuk nggak melakukan hal-hal negatif lainnya.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Untuk suatu awal, itu udah sangat baik. Jangan pernah menjanjikan sesuatu yang belum tentu elo bisa lakukan.” &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Niken dan Simon tersenyum. Senyuman di tengah hujan. Ini hal yang jarang terjadi, pasangan yang baru saja putus tapi masih bisa menikmati hujan yang turun dengan deras.&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;text-indent:.5in; line-height:150%"&gt;***&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Tiga hari setelah sakit, Torrie sekolah lagi, walaupun sebenarnya asmanya belum sembuh benar, terutama sakit di hatinya. Namun tekadnya sudah bulat dan sulit diubah...&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Mami sebenarnya melarang tapi papi membolehkan Torrie sekolah, akhirnya mami mengalah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Papi sih, terserah kamu. Kamu harus bisa tanggung jawab kalo emang ngerasa udah sembuh.” Papi menyudahi sarapannya&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Kemarin khan, baru serangan ringan, Pap!” Torrie meminum susunya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Iya, tapi serangan ringan itu tanda adanya serangan yang menyusul lagi!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Ihhh…Papi nyumpahin anaknya sendiri!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Papi membisikan sesuatu ke Torrie, “Papi tau, kamu punya masalah. Nggak cerita sekarang, nggak papa. Tapi kamu harus, tetep cerita sama papi nanti. OK?” papi mengedipkan mata kirinya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Torrie hanya tersenyum kecil. Rasanya sulit untuk tidak cerita ke papi, papi memang tau segalanya. Sesibuk apapun papi, ia selalu tahu di saat kesusahan Torrie.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“&lt;st1:place st="on"&gt;Om&lt;/st1:place&gt;, Torrie biar aku aja yang anter, pake mobilnya tante..”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Yakin kamu bisa. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; itu ruwet lho.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“&lt;st1:place st="on"&gt;Om&lt;/st1:place&gt;, Lara khan udah sering ikut nganterin Torrie ke sekolah. Jadi udah apal. Tante juga udah ngasih ijin kok. Kalo soal keselamatan, tenang aja, Lara udah jago kok nyetirnya”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Papi memandang mami, dengan pandangan curiga. Tumben-tumbennya mami mengijinkan seseorang menyetir mobilnya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Iya, mami ngijinin si Lara. Sekolah Torrie juga nggak begitu jauh, jadi mami percaya aja sama dia. Oh ya, Pi. Entar mami sama Lara mau jenguk Papa di rumah sakit.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Terserah mami aja.” Papi pasrah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Miii…Please…Torrie ikut yah? Torrie kangen banget sama Opa. Torrie khan belum pernah jenguk Opa.” Torrie memohon dengan sangat, walaupun agak sedikit berbohong.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Katanya mau sekolah, sekarang mau jenguk opa. Kamu itu khan baru sembuh, jangan banyak pergi-pergi dulu. Kamu ke sekolah aja, Rie!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Uhhhh…” Torrie cemberut.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Torrie menganggap mami pilih kasih. Permintaan Lara selalu dituruti, sedangkan permintaannya selalu ditolak. Alasannya karena Lara yang nggak punya seorang mamilah, nggak seperti Torrie, kasihanlah, dan sejuta alasan lain. Bahkan Torrie sempat berpikir, jangan-jangan Lara adalah anak kandung mami? Torrie cepat-cepat membuang jauh-jauh pikiran negatif itu dari otaknya…&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Rie, jangan lupa bawa bekalnya…” Pesan mami yang selalu diulang setiap harinya, karena Torrie memang suka lupa, atau kadang memang sengaja melupakannya…&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://www.dollielove.com"alt="target=_blank"&gt;
&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v40/mitsiki/dollielove/welcome6/10.gif"border=0 alt="Glitter Graphics, Myspace Glitters, Myspace Graphics from Dollielove.com"&gt;&lt;/a&gt;
&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22284483-3561136156949084387?l=hayalkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hayalkoe.blogspot.com/feeds/3561136156949084387/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22284483&amp;postID=3561136156949084387' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22284483/posts/default/3561136156949084387'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22284483/posts/default/3561136156949084387'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hayalkoe.blogspot.com/2010/02/torrie-prince-ep-16.html' title='Torrie &amp; the Prince Ep. 16'/><author><name>Hayalkoe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10348172865908700967</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_w0DuuqOjKCg/SoUGPyjsoSI/AAAAAAAAAAU/QSplVZ3wbQ0/S220/DSC_0391.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22284483.post-3357030451675406684</id><published>2010-02-07T21:41:00.000-08:00</published><updated>2010-02-07T21:44:01.790-08:00</updated><title type='text'>Torrie &amp; the Prince Ep. 15</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;text-indent:.5in; line-height:150%"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;&lt;span style="font-size:24.0pt;line-height:150%"&gt;Bab 15&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;text-indent:.5in; line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Gue…gue nggak mau ngerusak hari ulang tahun lo.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Hanya itu alasannya?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Auggie mengangguk pelan tanpa berani menatap mata Torrie.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Tapi, gue nggak bo’ong soal anak kecil itu. Sepulang dari nemenin dia, kecelakaan itu baru terjadi. Nggak parah kok!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Yakin, nggak parah? Coba gue pengen liat jahitannya.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Auggie membuka jaketnya, ia menggulung secara perlahan kaos lengan panjang hitamnya. Ternyata ada 12 jahitan, cukup panjang. Untuk Torrie ini sangat panjang. Kelihatannya jahitannya kurang rapi, sepertinya dibuat terburu-buru, bahkan ada setetes darah yang keluar dari salah satu jahitannya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Ini, gara-gara gue mukul-mukul lo tadi, ya?” Torrie merasa bersalah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Enggak,&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;kemarin emang gue minta jahitnya buru-buru, eh yang jahit malah grogi. Kayaknya sih orang baru.” Membuka kembali gulungan, dan memakai kembali jaketnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Udah, jangan banyak ngomong. Kita pulang sekarang juga!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Jangan kayak nenek-nenek deh cerewetnya. Nyokap gue aja nggak secerewet elo.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Trus motor lo gimana?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Kitana ada di garasi, dia lebih parah dari gue, rasanya gue pengen nagis ngeliat dia. Body bagian kirinya rusak total, untung mesinnya enggak. Gue jatuhnya keseret sih. Tuhan emang kasih gue selamet, begitu juga sama Kitana.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Torrie hampir nggak percaya, seorang Uggie bisa berterima kasih sama Tuhan, tapi Torrie nggak mau ngungkit lagi, jangan-jangan kalau dia nanya-nanya, si Uggie jadi malu nyebutin nama Tuhan di depannya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Orang kok lebih sayang motor dari pada badannya. Trus elo dijahit di mana? Elo khan benci rumah sakit.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Di klinik deket tempat gue kecelakaan, di situ aja gue nggak betah. Apalagi ngelihat peralatan UGDnya yang serem banget bikin gue merinding. Baunya lagi, uh mana tahan. Makanya dokternya gue bentak-bentak biar cepet selesai. Udah ah, jangan nanyain itu lagi, gue jadi merinding lagi dan jadi mual.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Anak kecil aja lebih hebat dari elo.” &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;text-indent:.5in; line-height:150%"&gt;* * *&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Haloow….Torrieku terchayank!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Elo, Ra?!” Torrie langsung bangkit dari tempat tidurnya. Ia baru bangun, ia sangat lelah karena repot mengurusi Auggie yang sangat merepotkan. Jahitannya perlu dibuka lagi untuk dibetulkan, tapi Augie bersikeras nggak mau ke dokter. Akhirnya dokternya sendiri yang dibawa ke rumahnya oleh mamanya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Yup, ini aku.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Kapan lo ke sini?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Khan, udah aku bilang. Besok. Jangan lupa ya, jemput aku bareng pangeran yang kamu ceritain itu.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Ah, elo. Dia itu udah kayak kakak gue sendiri.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Pokoknya aku nggak mau tau. Kamu harus pergi sama dia.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Gue usahain, tapi nggak janji soalnya dia baru kecelakaan.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Wah, sayang banget, tapi usahain ya?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Ya. Ampun nih anak. Lo pasti ketemu dia kok. Dia khan tinggal di depan rumah gue.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Ceeilah…pake doi segala…. Eh, Rie, jangan pake lo gue donk! Aku nggak biasa.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Elo harus biasa. Apalagi entar lagi, mau ke Jakarte.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;text-indent:.5in; line-height:150%"&gt;* * *&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Bukannya Torrie yang memaksa mengajak Auggie, justru Auggie yang bersikeras untuk menemani Torrie menjemput sepupunya itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Sepupu Torrie akan landing pukul 11. Tapi Auggie malah nyantai banget nyetirnya. Torrie udah dag-dig-dug, takut sepupunya bakal menunggu lama.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Cepetan donk, biasanya elo nyetirnya ngebut. Katanya mobil lo ini mobil buat ngetrek. Gimana sih? Ini khan udah jam 11 lewat 15.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Hanya 2 kata. NYANTAI AJA!.. Trust me, OK! Ini juga udah di bandara.” &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Benar, mereka sudah memasuki Bandara Soekarno-Hatta. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Torrie baru ingat tangan Auggie khan baru dijahit lagi, jadi mungkin masih sakit. Torrie betul-betul nggak mikirin Auggie…&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Gie, masih sakit tangannya?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Udah enggak. Auggie gitu lho!” Auggie dengan nada sok gaul, Torrie jadi males melihatnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Setelah mereka memarkirkan mobil sembarangan di depan terminal kedatangan, Torrie segera lari dan kakinya seperti tersandung sesuatu, ia jatuh dan sedikit terseret ke depan. Tanpa banyak omong lagi, Auggie langsung lari menolong Torrie. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Tuh, khan gue bilang apa? Jangan cepet-cepet dan juga harusnya elo lebih hati-hati lagi. Liat sekarang akibatnya.” Auggie segera membantu Torrie berdiri dan membersihkan tangannya dari kotoran.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Torrie rasanya ingin menangis. Ia sendiri nggak tahu menangis karena apa? Entah karena malu jatuh dilihat sekian banyak orang di bandara? Atau karena rasa sakit karena jatuh? Atau juga karena merasa terpojok oleh omelan Auggie? Atau….karena merasa terharu dengan kekhawatiran Auggie dan tersanjung karena tangannya dibersihkan Auggie?&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Mata mereka kembali berhadapan, sepertinya Auggie dapat membaca mata Torrie. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Masa gini aja nangis?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Diem! Cepetan! Entar sepupu gue nunggu lama lagi.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Mereka membaca layar TV tentang jadwal kedatangan, ternyata pesawat sepupunya Torrie didelayed. Auggie tertawa lepas, ia mengejek Torrie yang dari tadi panik.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Ya, udah. Tunggu dulu di sini… Gue mo markirin mobil dulu.” &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;text-indent:.5in; line-height:150%"&gt;* * *&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Lama amat parkirnya. Gue bete nih nunggunya!” Torrie manyun, sambil merenggangkan otot-ototnya yang kaku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Heh! &lt;st1:place st="on"&gt;Susah&lt;/st1:place&gt; tau nyari tempatnya. Bandara lagi rame banget. Gimana udah dateng belom?” Auggie ketus.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Belom. Duduk aja yuk!” Torrie menunjuk ke bangku untuk menunggu penumpang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Minta maaf dulu!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Untuk apa?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Ya elo tadi, manyun-manyun. Sok bete pula.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Iya, iya, Torrie minta maaf. Puas!” Torrie menunjukan senyum terpaksanya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Auggie tertawa melihat reaksi Torrie, kemudian mendorong wajah Torrie dengan telapak tangannya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Jelek!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Nggak sopan!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Tapi akhirnya mereka berdua tertawa juga.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Kira-kira sepupu gue masih lama nggak ya, datengnya?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Mana gue tau! Emang gue pilotnya, yang tau kapan nyampenya.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Khan gue cuma nanya! Kalo masih lama, gue pengen ngajak elo ke tempat rahasia gue. Deket sini kok, jalan kaki aja nyampe…”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Tempat rahasia? Semacam lubang atau ruang bawah gitu?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Iya sebuah luang kelinci tepatnya!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Emang badan lo muat. Tapi gue rasa sekalipun elo muat, gue pasti nggak muat!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Dasar bodoh! Gue khan cuman bercanda… Ayo ke &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;, gue udah lama nggak ke &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. Di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; itu tempatnya asyik banget. Elo bisa ngeliat semuanya terbang dari &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;…”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Pembicaraan mereka terpotong karena pesawat sepupu Torrie telah datang juga…&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Hai, Rie!!!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Hai tooo…”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Mereka saling berpelukan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Mana orangnya?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Belom apa-apa udah nanya orang. Nih dia!” Torrie nunjuk cowok di sebelahnya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Lara terkejut, sama halnya dengan Auggie.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Lara?!...”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Luke?!...”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Lho, kalian udah kenal? Berarti gue nggak usah ngenalin lagi donk. Eh, iya elo berdua khan dari Jogja, jadi kemungkinan kenal emang lebih besar. Kenapa gue nggak nanya dari dulu ya?” Torrie tertawa. “ Gie, elo di Jogja juga dipanggil Luke, ya?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“…” mereka berdua sama-sama terdiam, Torrie sama sekali nggak tahu situasi apa yang sedang dihadapinya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Kok kalian diem aja?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Mmm…Rie, Dia…itu mantan cewek gue yang gue ceritain itu.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Torrie agak nggak percaya dengan apa yang barusan dia dengar. Lara, sepupunya adalah cewek Auggie yang waktu itu ditakutkan Torrie akan menjadi saingannya. Sepupunya sendiri adalah saingannya, sepupu kesanyangannya, yang udah dianggep saudara sendiri. Torrie sangat-sangat syok…&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Ja…ja…jadi dia ini…” Torrie merasa dadanya sesak. Dia lupa 3 harinya telah habis. Kenapa harus sekarang, di saat ada Auggie…&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Rie, asma lo kambuh ya?” &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Aduh, gawat banget, Lara sudah membuka rahasia terbesarnya dari Auggie.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Apa? Asma?” Auggie kaget dan bingung..&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Iya, dia punya penyakit asma. Kamu nggak tau? Rie, kamu bawa obat nggak?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Torrie menggeleng pasrah sambil memegang dadanya dengan nafas terengah-engah. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Tumben kok nggak bawa, sih? Gie, tolong gendong Torrie donk ke mobil kamu. Kalian bawa mobil khan?!” Lara memapah Torrie yang sangat lemas tapi Auggie masih terdiam membisu, ia seakan tidak percaya kalau Torrie yang biasanya sehat dan ceria itu sakit…&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Please, Gie. Jangan bilang penyakit anti orang sakit kamu masih ada?!” Bahkan Lara dapat mengetahui penyakit phobianya Auggie, Torrie merasa semakin kecil dan kecil di hadapan Auggie. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Sekilas Torrie melihat wajah Auggie memucat. Bahkan sewaktu Lara menyuruh Auggie menggendong Torrie, dapat dirasakan Torrie, tubuh Auggie yang membeku. Tidak seperti biasanya yang hangat dan tempat Torrie merasa aman. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Hal yang paling ditakutkan Torrie, terjadi juga. Auggie pasti akan menjauh darinya, atau mungkin tidak akan mau mengenalnya lagi. Torrie tidak tahu lagi bagaimana reaksi Auggie setelah ini. Hari ini Torrie ibarat jatuh tertimpa tangga dan ketiban durian runtuh. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Pertama hari ini dia jatuh di depan orang banyak, kedua Lara sepupunya sendiri adalah pacarnya Auggie, ketiga penyakitnya kambuh, dan keempat… Auggie begitu syok melihatnya seperti ini. Kejadian keempat inilah yang bisa disebut durian runtuhnya. &lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Torrie duduk di belakang Auggie, menatap wajah Auggie melalui spion. Auggie terlihat sangat gugup, sama sekali ia tidak berani melihat Torrie. Semua mobil hampir ditabraknya. Sudah ratusan klakson berbunyi. Torrie rasanya sangat ingin melemparkan dirinya dari mobil. Ia tak tahan melihat Auggie yang begitu syok dan bingung. Torrie sudah tidak memikirkan rasa sesak di dadanya lagi, hanya satu dipikiran Torrie, Auggie… &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://www.dollielove.com"alt="target=_blank"&gt;
&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v40/mitsiki/dollielove/welcome6/10.gif"border=0 alt="Glitter Graphics, Myspace Glitters, Myspace Graphics from Dollielove.com"&gt;&lt;/a&gt;
&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22284483-3357030451675406684?l=hayalkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hayalkoe.blogspot.com/feeds/3357030451675406684/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22284483&amp;postID=3357030451675406684' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22284483/posts/default/3357030451675406684'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22284483/posts/default/3357030451675406684'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hayalkoe.blogspot.com/2010/02/torrie-prince-ep-15.html' title='Torrie &amp; the Prince Ep. 15'/><author><name>Hayalkoe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10348172865908700967</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_w0DuuqOjKCg/SoUGPyjsoSI/AAAAAAAAAAU/QSplVZ3wbQ0/S220/DSC_0391.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22284483.post-7131560769433660668</id><published>2010-02-07T20:53:00.000-08:00</published><updated>2010-02-07T21:27:22.204-08:00</updated><title type='text'>Torrie &amp; the Prince Ep. 14</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;text-indent:.5in; line-height:150%"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;&lt;span style="font-size:24.0pt;line-height:150%"&gt;Bab 14&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;text-indent:.5in; line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Bangun keboooo! Bangunnn!!” Auggie menyingkapkan bedcover Torrie.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Torrie yang merasa terganggu karena ada suara-suara berisik yang mengganggunya, kaget melihat Auggie ada di kamarnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Kok elo bisa masuk? Jangan-jangan elo masuk lewat jendela?” Torrie duduk dan merapikan rambutnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Khan elo yang bilang sendiri elo punya pintu. Ya, gue lewat pintu!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Tapi, kok bisa?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Auggie menjitak kepala Torrie. “Dasar bodoh! Ya bisalah, pintunya dibuka sama Bik Sumi, bahkan waktu gue dateng papi sama mami lo lagi sarapan di bawah. Ayo cepetan bangun!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Aduh! Sakit tau! Terus kenapa gue harus bangun sekarang, apalagi ini khan masih jam 10, kemarin kita khan di taman sampai pagi. Masih ngantuk nih! Gue mau tidur lagi.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Heh..heh…nggak boleh tidur lagi! Sekarang juga kita harus&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;pergi!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Pergi? Ke mana?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Nggak usah banyak nanya? Pokoknya sekarang juga kita harus pergi!” Auggie menarik pergelangan tangan kanan Torrie.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Pergi pake baju ini?” Torrie menunjukan baby dollnya dengan motif hamburger.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Iya!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“NGGAK MAU!!!...”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Auggie sudah habis kesabarannya, ia langsung mengangkat Torrie dari tempat tidurnya dan membawanya keluar. Auggie sama sekali tidak menghiraukan teriakan Torrie yang meronta-ronta. Tapi sekuat apapun Torrie meronta minta diturukan, semakin kuat pegangan Auggie, cowok ini benar-benar kuat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Papi! Mami! Bik! Tolongin Torrie, Torrie diculik!” Torrie minta tolong sama papi maminya juga Bik Sumi, ketika melintasi ruang makan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Kalau mau nyulik kok minta ijin sama kita?” Papi ternyum geli melihat Torrie yang ada di tangan Auggie.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Papi sama mami kok malah ngetawain Torrie sih? Turunin gue donk!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Nggak bisa, entar elo kabur lagi?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Udah, Rie. Kamu ikut aja, khan kamu sudah lama nggak jalan-jalan.” Mami ikut papi memihak Auggie. Torrie kesal karena tidak ada yang memihaknya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“&lt;st1:place st="on"&gt;Om&lt;/st1:place&gt;, tante, permisi ya. Auggie ijin bawa anak om tante sebentar.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Sana-sana, seneng-seneng ya!” Papi mengusir Torrie dan Auggie dengan tetap tersenyum geli.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Torrie heran, sebenarnya ada apa ini sebenarnya, kenapa semua orang jadi sama anehnya dengan Auggie. Dan sekarang ia akan dibawa kemana? Torrie sangat kesal. Begitu di depan rumahnya, Auggie menurunkannya di dekat sebuah mobil sedan hitam metalik dengan motif silver yang cukup unik, seperti sebuah aliran air. Mobil itu ceper dan benar-benar sporty, apalagi ditambah sayap.&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Torrie ingat mungkin ini mobil yang dimaksud oleh temannya Auggie.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Ayo naik” Auggie membukakan pintu dan menyuruh Torrie naik seperti menyuruh putrid masuk ke kereta. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“E…e..iya” Torrie tadi sempat tertegun dengan kemewahan mobil ini, mobil ini telihat sangat mengkilap, bahkan bisa untuk ngaca.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Kenapa? Keren ya?” Auggie tersenyum dengan bangga, ia sangat membanggakan mobilnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Torrie langsung manyun lagi mendengar si Uggie menyombong seperti itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Enggak tuh! Biasa aja.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Ya udah cepetan masuk, kita nggak ada waktu lagi.” Senyum Auggie langsung lenyap seketika mendengar jawban Torrie.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Auggie memacu mobilnnya sangat cepat sepertinya tempat yang dituju sangat penting. Tapi di mobil dia masih bisa membanggakan mobilnya, Torrie yang dari tadi kesal bercampur gugup karena takut akan menabrak mobil di depannya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Mobil ini cewek kedua gue, namanya Giliant. Mitsubishi Galant tahun 2001. Audionya keren banget, gue pasang merek Knickers. Kita bisa dengerin lagu yang hard sampe yang soft. Karena gue suka ngetrek, gue kasih turbo dan 2 tabung nos di belakang &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. Stirnya kayak di F1, bisa dicopot, itu berkat &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;quick realase steering&lt;/i&gt;. Mau coba di buka?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Hah?! Enggak deh, entar ada knapa-napa gue nggak mau!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Ini mobil, gue kasi neon di bawah, jadi kalo malem mobil gue terkesan melayang. Jok yang lo dudukin itu, nyaman khan, itu sesuai sama yang dipake kalau racing.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Torrie sangat-sangat suka sama mobil ini, walapun Auggie nggak cerita apapun tentang mobil ini. Padahal dia sama sekali nggak ngerti tentang otomotif, apalagi sebutan-sebutan yang Auggie pake…uh Torrie benar-benar nggak ngerti. Tapi dia nggak mau Auggie makin sombong sama si Giliant ini. Kok, Torrie jadi cemburu sama mobil? Masa saingannya motor sama mobil? Kitana and Giliant??&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Mobil mereka sudah memasuki tol Kebun Jeruk menuju Tangerang. Untuk apa ke &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Eh, mobil gue juga bisa dibuka secara otomatis kapnya. Lo mau nyoba nggak?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Nggak deh.” Torrie menjawab malas padahal ia sangat ingin berdiri di atas jok dan berteriak sekencang-kencangnya, mungkin asyik banget ya? Tapi Torrie khan lagi sebel sama Auggie, jadi jaga gengsi dikit donk!&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Mereka keluar dari tol itu, sekarang mereka masuk ke kawasan karawaci, ternyata mereka pergi ke Supermall Karawaci. Waktu sampai, Torrie nggak mau turun karena malu dengan hamberger di baby dollnya, apalagi mukanya keliatan banget baru bangun. Torrie juga nggak pake alas kaki apapun. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Tapi Auggie tetap menariknya keluar, bahkan setengah menyeretnya. Sesampai di depan mall, Torrie memaksa untuk tetap di luar mall.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Ayo!” Auggie menarik lengan Torrie, tapi Torrie dengan sekuat tenaga melepasnya, akhirnya terlepas juga.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Mau lo apa sih? Mau bikin malu gue? Udah gitu sok galak pula. Gue bener-bener nggak habis pikir deh. Sekarang itu gue kayak gelandangan.” Lalu Torrie memukul-mukul lengan kiri Auggie, tapi Auggie mengaduh kesakitan sambil memegang lengan kirinya, yang terbungkus oleh jaket kulitnya itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Kenapa lo? Gue khan mukulnya nggak kenceng, nggak lucu tau!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Tanpa banyak ngomong lagi Auggie jongkok, dan menyuruh Torrie untuk merangkul lehernya. Auggie akan menggendong Torrie.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Kalo elo malu, gue juga harusnya malu karena gendong gelandangan. Gimana? Impas khan?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Lumayan, impas.” Torrie agak terhibur dengan kata-kata Auggie. Auggie menggendong Torrie sampai di depan sebuah kafe, di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; baru Auggie menurunkan Torrie. Sedari tadi mereka jadi pusat perhatian orang-orang. Tapi Torrie sudah nggak peduli sama pikiran mereka. Untuk keempat kalinya, seingat Torrie, ia sudah digendong Uggie. Ia sudah terbiasa olehnya. Bahkan sangat ketagihan. Punggung Auggie sangat hangat, cukup menghangatkannya dari udara sekitarnya yang dingin, karena AC.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Mau ngapain di sini?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Gue mau elo ketemu sama seseorang.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Siapa?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Auggie tersenyum penuh arti, lalu menggenggam tangan Torrie, dan dengan lembut menuntun Torrie masuk ke kafe itu, lalu mereka menuju ke sebuah meja yang sudah ditempati seseorang, tepatnya seorang penyanyi, dan lebih tepatnya penyanyi kesayangannya Torrie…&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“GLENN!! Bener ini Glenn?” Torrie seperti nggak percaya aan apa yang dia lihat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Gue nggak mimpi khan?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;“Yo! Ini gue, ini bener-bener gue.” Glenn berdiri dan memberi tangannya untuk disalami. “Elo pasti Torrie.” Glenn tersenyum dengan sangat manis, senyuman orang Ambon manise. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Kita nggak buat lo nunggu lama, khan?” Tanya Auggie pada Glenn.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Enggak kok, kalian tepat waktu, gue baru aja duduk di sini.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Ehem…Gue pergi dulu ya, Vic. Ada urusan kecil, entar kalo udah selesai keluar aja, lo pasti ketemu gue.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Torrie hanya mengangguk tanpa menoleh Auggie, ia begitu terpesona dengan Glenn, sehingga melupakan Auggie. Auggie pergi dengan pamit dahulu dengan Glenn.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Glenn menahan tawa melihat penampilan Torrie. Torrie yang melihat reaksi Glenn baru mulai menyadarinya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Mmm…Sorry ya, gue pake baju kayak gini tadi gue gat au mo ketemu sama elo, gue dipaksa ke sini. Gue harap elo ga malu.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Ga papa kok. Sorry juga kalo gue ketawa, abis elo tuh lucuh banget. Eh…cowok lo hebat banget. Dia dari pagi berjuang supaya gue bisa ketemu sama elo.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Tunggu! Tunggu! Pertama dia bukan cowok gue, kedua maksud Kak Glenn berjuang itu apa?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Panggil gue Glenn aja. Masa yang tadi itu bukan cowok lo? Dia itu mati-matian ngubek-ngubek menejer gue, supaya gue bisa ketemu elo di sini. Untung aja, gue ada waktu luang buat elo. So, here I am. Hari ini gue ada janji sama produser rekaman &lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;Tapi… kalo bukan cowok lo berarti dia itu ngebet sama elo, Rie.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Ah…Kak...eh Glenn bisa aja. Dia itu nganggep gue adeknya. Hubungan kita itu doank.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Ngapain Uggie mati-matian nyari Glenn biar ketemu gue? Ada-ada aja, tapi ini kejutan ke sekian kalinya dari Uggie, yang bikin gue seneng setengah mati. Uggie itu bener-bener nggak bisa ditebak jalan pikirannya. O, iya, si Uggie khan nggak suka sama aliran musik kayak&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Glenn, kok dia…&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Glenn dan Torrie ngorol sekitar 2 jam, mereka sudah akrab sekali. Torrie sangat senang, impiannya terkabulkan, bisa ketemu Glenn yang baiikkk banget. Di depan kafe, sudah ada Auggie yang menunggu di sebuah bangku yang seperti bangku taman.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Bye, Glenn!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Bye, entar kita masih berhubungan lagi. OK?” Glenn pergi sambil mengacungkan kedua jempolnya, lalu mengedipkan matanya ke arah Auggie.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Ngapain dia ngedipin matanya ke gue?” Auggie jadi ilfeel.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Tau…” Torrie mengangkat bahunya. “Elo udah lama nunggu?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Engga kok, baru aja.” &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Hattsssyiii…..!!” Torrie bersin.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Elo kedinginan?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Enggak, gue kepanasan.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Hah?!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Ya, iyalah gue kedinginan. Bego juga ya, lo!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Torrie sangat panik, jangan-jangan 3 harinya telah habis, dan Torrie yang dulu kembali lagi. Tapi ternyata tidak&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Uggie membawanya ke sebuah department store, mereka membeli jaket dan sepasang sandal. Auggie ternyata menawarkan Torrie nonton bioskop, tentu saja Torrie menyambutnya dengan senang hati. Kemudian mereka pergi food court, Torrie tetap memaksa untuk makan es krim waktu dilarang Auggie.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Gie, tadi Glenn bilang dia ada pertunjukan di sini, gue pengen liat. Kayaknya itu deh yang lagi rame-rame itu.” Torrie menunjuk ke tengah-tengah food court raksasa itu. Di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; memang ada banyak orang yang ngumpul di pinggir sebuah panggung. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Torrie dan Auggie pergi ke &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. Tiba-tiba terdengar oleh Torrie suara Glenn, Torrie mencari-cari tempat agar dapat lebih jelas melihat Glenn. Tapi orang-orang di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; cukup tinggi untuk Torrie, jadi pandanganyna terhalang. Auggie yang menyadarinya segera bertindak dengan memberi jalan agar Torrie dapat tempat di depan. Buat Torrie perbuatan Auggie itu sangat keren, walaupun sempat membuat orang-orang di sekitarnya menggerutu. Auggie adalah bodyguard yang handal, ia menggunakan tampang terseramnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Glenn yang menyadari kehadiran teman terbarunya segera memanggil Torrie dan Auggie naik ke atas panggung. Torrie benar-benar merasa seperti di alam mimpi, bagaimana mungkin ia bisa sedekat ini dengan Glenn. Ini semua berkat Auggie.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Setelah pertunjukan, mereka sempet ngobrol sebentar dengan Glenn, baru sesudahnya mereka pulang sekitar pukul 7 malam.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Vic, tadi kayaknya pas ke sini tadi ada kafe pinggir jalan gitu. Lo inget nggak di mana?” Auggie membawa Giliant mengikuti jalan yang memutar mengelilingi mall.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Ya mana gue meratiin? Tadi khan gue masih marah. Trus kenapa kalo ketemu?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Kita makan di sanalah. Gue laper. Dan lagi, kayaknya tempatnya asyik banget. Kafenya indoor tapi ada juga tempat makannya yang outdoor, terus berderet gitu. Kalo nggak salah nama tempatnya Teras Café. Waktu gue liat tadi, gue jadi serasa di luar negri, apalagi kalo malem gini. Khan asyik bisa ngeliat lampu-lampu.” &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Sama sih, gue juga laper. Tapi jangan lama-lama ya! Nanti gue dicariin Mami.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Soal Mami itu urusan gue. Tenang aja deh. Eh itu tempatnya.” Auggie langsung masuk ke area parkir khusus untuk tempat itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Mas, mau pesen apa? Adeknya juga mau pesen apa?” &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Baru saja mereka duduk di kursi, sudah disamperin sama waiternya. Torrie langsung kesal waktu dipanggil Adek, si Uggie malah dipanggil Mas. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Saya mau menu spesial di kafe ini. 2 porsi ya?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Yup!” Waiter itu menuliskan pesanan Auggie. “Minumnya?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Waiter itu kelihatannya sangat cerewet, belum sempat Auggie memutuskan mau mesen minuman apa, dia udah nyerocos lagi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Wah, adeknya SD kelas berapa, Mas? Kelas 6 ya? Soalnya saya juga punya adek yang badannya se… ”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;WHATTT???!! SD???!! NGGAK SALAH???!! Seimut itukah gue?! &lt;/i&gt;Torrie melotot ke Auggie.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Maaf ya, Mbak. Saya minta minumnya susu kalo bisa susu murni.” &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Waiter itu agak kaget dengan pesanan Auggie, tapi ia tetap mencatatnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; tambahan lagi, Mas?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;, saya minta pesenan saya nggak pake…LAMA!!” bentak Auggie.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“I…i…ya, Mas.” Waiter itu langsung gugup begitu dibentak Auggie.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Satu lagi, cewek saya ini bukan anak SMA!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Ma…ma…maaf. Tadi saya kira…”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Ya, udah &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. Sedetik lagi kamu masih di sini, saya laporin menejer kamu karena kamu udah kurang ajar.” &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Waiter itu langsung masuk ke dalam, ia setengah lari karena ketakutan&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Hahaha…Gila! Elo galak banget. Tapi jangan pernah manggil gue cewek lo lagi.” Torrie tertawa geli melihat kejadian tadi, bahkan sama sekali dia nggak bisa nutup mulutnya karena kaget dengan ucapan Auggie.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Sorry, tapi perjanjian kita khan masih berjalan.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Bukannya udah selesai? Dan elo bilang juga gue khan cuman nemenin elo bukannya jadi cewek lo!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Iya, tapi itu khan selama ada cewek yang deketin gue. Cewek tadi khan &lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;SKSD banget. Gue paling sebel kalo udah ada cewek kayak gitu.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Emangnya, semua cewek selalu gitu, ya? Selalu SKSD dan… nganggep gue adek elo.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Hahaha…ya nggak semuanya. Tapi…kebanyakan gue rasa. Tapi elo nggak khan buktinya.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Ehm…gue ke WC dulu ya, nih titip HP gue.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Jangan pake lama, ya?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Iya!” Auggie kesal kata-katanya diulang, tapi Torrie tetap tertawa.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Tak berapa lama setelah Auggie masuk ke dalam, HPnya berdering. Ternyata dari mamanya, Tante Beth. Torrie mengangkatnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Hallo…”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Ini siapa?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Torrie, Tante…”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Oh, kamu, Rie. Tolong kasih ke Auggie donk.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Auggienya lagi ke WC, Tan.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Sekarang kalian ada di mana?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Di…di mall, tante.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Tolong bilang sama Auggie, ya Rie. Lukanya dia itu masih baru dijahit, jangan jalan-jalan dulu. Suruh dia pulang.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Memangnya, apanya yang dijahit?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Lho, kamu nggak tau. Lengan kirinya, yang dijahit. Kemarin dia kecelakaan waktu naik motor, jam 10 malem. Nicky yang cerita. Oh, iya, bilangin juga Tante sudah nyampe di rumah. Makasih ya, Rie.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“E…ya Tante, sama-sama.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Uggie kemarin malem kecelakaan, berarti beberapa jam sebelum mereka merayakan ulang tahun Torrie. Hati Torrie menjadi kalut. &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Apa yang sudah Uggie lakukan, kenapa dia nekat melakukan ini itu untuknya. &lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Ayo, pulang.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Uggie, elo kemarin nggak ke Dufan ya?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Gue ke &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; kok.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Trus Kitana mana?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Tumben banget nanya-nanya cewek gue, dia ada di singgasananya.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Dasar bo’ong! Trus kenapa lengan kiri lo sakit?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Kok elo nanya-nanya mulu sih? Cerewet banget…”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Tadi nyokap lo telpon, dia udah cerita semuanya.&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Kenapa elo nggak cerita semuanya ke gue?”&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-ansi-language:EN-US;mso-fareast-language:EN-US; mso-bidi-language:AR-SA"&gt;Torrie dan Auggie hanya saling berpandangan. Mereka saling bertanya satu sama lain, apa yang sedang dipikirkan oleh orang yang ada dihadapannya.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://www.dollielove.com"alt="target=_blank"&gt;
&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v40/mitsiki/dollielove/welcome6/10.gif"border=0 alt="Glitter Graphics, Myspace Glitters, Myspace Graphics from Dollielove.com"&gt;&lt;/a&gt;
&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22284483-7131560769433660668?l=hayalkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hayalkoe.blogspot.com/feeds/7131560769433660668/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22284483&amp;postID=7131560769433660668' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22284483/posts/default/7131560769433660668'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22284483/posts/default/7131560769433660668'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hayalkoe.blogspot.com/2010/02/torrie-prince-ep-14.html' title='Torrie &amp; the Prince Ep. 14'/><author><name>Hayalkoe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10348172865908700967</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_w0DuuqOjKCg/SoUGPyjsoSI/AAAAAAAAAAU/QSplVZ3wbQ0/S220/DSC_0391.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22284483.post-7368321124751198588</id><published>2010-02-07T20:29:00.000-08:00</published><updated>2010-02-07T20:53:03.363-08:00</updated><title type='text'>Torrie &amp; the Prince Ep. 13</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;text-indent:.5in; line-height:150%"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;&lt;span style="font-size:24.0pt;line-height:150%"&gt;Bab 13&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;text-indent:.5in; line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Di tengan malam, HP Torrie berbunyi…&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Mami dan papi ternyata memberi selamat ulang tahun kepada dirinya. Torrie benar-benar lupa, ia terlalu banyak memikirkan hal-hal lain hingga lupa ulang tahunnya sendiri. Sungguh konyol!&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Huallow! Oaahh…” Torrie menguap.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Happy Birthday, honey!” Mami papi berbarengan, sepertinya mengaktifkan loud speaker HPnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Emangnya,sekarang tanggal berapa?” Torrie terkejut.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“10 Oktober, masa lupa?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Ah, paling-paling dianya yang pura-pura lupa!” Papi menyahut. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Papiii…Torrie bener-bener lupa! Thanks ya, mam! Pap!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Make a wish donk! Ini khan ulang tahun kamu yang ke-16.” Mami bersemangat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Torrie…Torrie pengen kebebasan, I want a freedom!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“…”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Ya ampun! Torrie khan bercanda. Torrie janji nggak minta yang aneh-aneh lagi. Torrie pengen di usia Torrie yang sekarang ini, Torrie lebih dewasa lagi.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Mami dan papi yang tadinya sempet syok sama keinginan Torrie yang pertama, akhirnya terharu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;text-indent:.5in; line-height:150%"&gt;* * *&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;text-indent:.5in; line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Beberapa orang terdekat Torrie memberi selamat adanya di pagi hari maupun siangnya. Baik dari saudara lluar &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; maupun &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. Di keluarga, Torrie cukup disayang. Terutama Lara, sepupu tercintanya, yang sudah dianggapnya saudara kandung. Umur mereka sepantaran. Hanya saja, Lara tinggal di Jogja. Lara sering sekali datang ke rumah Torrie terutama kalau liburan. Lara juga cukup dekat dengan Niken. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; kabar gembira dari Lara, dia akan datang ke &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;, besok siang. Ternyata Lara juga liburan, dia akan tinggal di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; selama 5 hari. Betapa senangnya Torrie, ini merupakan kado yang sangat berarti untuk Torrie. Rasanya sudah nggak sabar ingin bercerita tentang pangerannya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Dari pihak teman, ada Niken dan Simon. Teman-teman yang lain mana tahu kalau hari ini Torrie ulang tahun. Lagipula apa peduli mereka sekalipun mereka tahu. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Tapi ada seseorang yang sangat ia nanti-nantikan untuk memberikan ucapan selamat. Si Uggie itu! Torrie sangat heran, seharian ia mencarinya tapi nggak ada. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Tiba-tiba Bik Sumi memanggilnya, katanya Auggie datang. Torrie langsung bersemangat dan segera turun ke bawah untuk menemui Auggie.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Haii…” orang yang disebutkan Bik Sumi tadi menyapa Torrie dengan penuh semangat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Haii..” balas Torrie. Selanjutnya suasana menjadi kaku. Torrie menunggu ucapan selamat darinya, tapi kata-kata itu tidak keluar juga.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Mmm…elo nggak sekolah khan? Mau gue temenin jalan-jalan?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Ya elah kemaren khan udah jalan, masa sekarang jalan lagi.” &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;Dasar bodoh, kali aja dia lagi nyari kesempatan supaya bisa kasih selamet.&lt;/i&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Ya udah, elo maunya apa?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Gila, ni anak tumben-tumbennya jadi bener-bener baek. Eh iya dia kan bunglon. Tapi tetep aja aneh… &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Gue pengen… gue pengen jenguk opa. Ayo Gie anterin gue. Opa pasti seneng ngeliat gue.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Yang diajak ngomong malah&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;   &lt;/span&gt;ketawa. Torrie jadi kesel.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Emangnya jemput opa itu lucu! Awas lo, jangan pernah ke sini lagi!” usir Torrie.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Sorry, sorry! Ini aku Nicky. Aku ketawa karena kamu bisa ketipu ama aku.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Hah! Jadi Nicky!” jantung Torrie makin nggak karuan. Antara mau marah ama &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;nervous&lt;/i&gt;. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Ya udah aku anterin. Alamat opa kamu di mana? Atau nggak nanti kamu kasih tau aja ke aku…”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Opa di rumah sakit…” lirih Torrie.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;Mereka menggunakan mobil terano mamanya Nicky. Sepanjang perjalanan Nicky banyak bercerita. Tentang sekolahnya, keluarganya, atau lingkungan teman-temannya. Pokoknya orangnya terbuka banget, Torrrie merasa nyaman. Nggak kayak Auggie yang lebih tertutup nggak bisa ditebak apa maunya. Kayaknya orang seperti Auggie harus dibuatin alat, supaya orang tahu kapan dia akan meledak, kapan dia &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;happy&lt;/i&gt;, atau kapan dia akan nekat. Seperti sekarang pergi ke mana juga nggak ada yang tahu. Bahkan kata Nicky pagi-pagi udah pergi. Padahal Torrie ingin sekali menghabiskan waktunya untuk berusaha menutupi luka dalam yang ada pada Auggie. Tapi sudahlah, toh sekarang ada Nicky, jadi Torrie nggak usah pusing-pusing lagi mikirin bunglon. Hari ini adalah hari istimewanya, jadi Torrie harus rileks apalagi mau ketemu opa.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Eh, Rie. Kamu pasti udah tau soal Kiku.” Tanya Auggie dan Torrie mengangguk. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Menurut aku Auggie terlalu naïf. Dia nggak bisa menghadapi kenyataan dan terlalu menganggap serius masalah ini. Bukannya aku nggak sayang Kiku tapi aku udah anggep Kiku itu bahagia di surga. Auggie seperti menyimpan sesuatu…yah bisa dibilang dendam terutama ke Tuhan. Aku denger kamu yang paling deket ama dia di sini. Aku minta tolong, sadarin dialah. Udah terlalu lama dia kayak gini.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Lagi diusahain tapi orang kayak dia mah keras kepala. Baru dikasih nasehat aja udah marah atau nggak diem aja. Orang bebal tuh!” Torrie dengan berapi-api.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Sabar Rie! Gue ngerti. Tapi elo hebat bisa ngadepin dia. Pasti elo sayang ama dia dan dia juga sayang ama elo. Jujur aja selama ini gue jarang-jarang denger ada cewek yang bisa deket ama dia.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Apa?! Belum apa-apa Nicky udah ngomong sayang-sayangan. Mau jawab apa gue? Gimana juga kalo dia pangeran gue?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Nggak mungkin! Gue juga baru kenal ama dia. Tapi terus terang aja gue mau bantuin dia keluar dari masalah itu karena tanggung jawab seorang adik lagipula…nggak jadi. Jangan ngomongin dia lagi deh bawaan gue jadi emosi, ini kan hari ulang tahun gue.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Iya-iya! Eh tadi kamu bilang apa, hari ini ulang tahun kamu! Kenapa nggak ngomong dari tadi. &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Happy birthday&lt;/i&gt; ya! Yang ke berapa?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Thanks, yang ke-16.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;“Tapi thanks karena elo mau bantuin gue buat nyadarin dia.” &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Torrie mengacungkan ibujarinya tanpa ada ekspresi apapun.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Mmm…Rie. Mungkin elo udah lupa, tapi kita sebenernya pernah ketemu.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Kapan?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Waduh waktunya sih lupa abisnya udah lama banget. Pokoknya waktu kita masih kecil banget. Yang gue inget sebelum gue pindah sama Auggie ke Jogja. Oh iya aku belum cerita ya, kalo sebelum sekolah di Australia aku di Jogja.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Torrie langsung menatap tajam ke arah Auggie.&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Kebetulan saat mereka sampai di sana, kamar opa tidak ada yang menjaga. Mungkin orang tua Torrie keluar sebentar. Keadaan opa cukup memprihatinkan walaupun strokenya tidak sampai membuatnya tidak bisa bicara.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Opa sangat senang dengan kedatangan Torrie dan berjanji tidak akan bilang siapa-siapa. Opa juga kelihatannya menyukai Nicky, mereka cepat sekali akrab. Keadaan yang sesungguhnya tidak seceria ini. Dalam hati Torrie benar-benar bingung. Setelah ucapan Nicky yang mengungkapkan bahwa dialah ternyata pangeran Torrie selama ini, bahkan dia juga bilang Torrie merupakan putrinya. Bayangkan dari sekian cewek yang dikenalnya, posisi Torrie tidak tergantikan. Rasanya ingin sekali Torrie juga mengakui bahwa ia mengingat Nicky tapi ia takut terlalu ge-er. Tapi Torrie sedikit bercerita bahwa ia juga punya seorang pangeran tapi hanya sebatas hayalan saja.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Setelah menjemput opa ternyata Nicky harus menjemput mamanya di bandara.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Ada hal aneh yang dirasakan Torrie. Setelah Tante Beth datang, suasana jadi kaku. Mereka bagaikan orang yang baru bertemu dan hanya berbicara sepatah dua patah kata. Bahkan Tante Beth lebih banyak bicara dengan Torrie ketimbang Nicky. Yang lebih parah Tante Beth lebih banyak menanyakan Auggie daripada Nicky sendiri. Setahu Torrie hubungan Auggie dengan mamanya sangat baik sekali tapi kenapa hubungannya dengan Nicky sangat renggang, apa karena Nicky tinggal lebih jauh dari mereka?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Sesampainya mereka di rumah, setelah membawa masuk tas mamanya, Nicky mengantarkan Torrie sampai di depan rumahnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Bye see you!” &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Bye…” Torrie tersenyum dengan sedikit kaku. Ia berpikir akan segera menutup pintunya setelah Nicky pergi. Tapi ada sesuatu yang menahan pintunya ketika hampir tertutup.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;“Sorry! Kamu pasti ngerasa aneh dengan keadaan tadi. Hubungan mama sama aku memang renggang. Mama sangat menyanyangi Auggie, tapi entah kenapa dia nggak bisa sayang sama aku. Mungkin karena aku juga yang merasa minder dan selalu menghindar dari keluarga aku. Sudahlah, aku sendiri nggak tahu kenapa bisa jadi gini. Sulit untuk dijelaskan.” Kata-kata Nicky ini terungkap dengan penuh kesedihan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Justru harusnya gue yang minta maaf, pasti ada kelakuan gue yang bikin elo ngomongin ini semua?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Nggak Rie, tapi aku tau kamu pasti ngerasa ada yang janggal. Jadi…jadi aku jelasin ini semua…” Nicky dengan nada panik.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Elo nggak usah jelasin lagi, gue ngerti kok keadaan lo. Gue yakin, elo pasti sayang sama Tante Beth dan Auggie. &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;You are a good person!&lt;/i&gt;”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Itu memang benar, sepanjang perjalanan tadi Nicky selalu membanggakan mamanya bahkan ia juga menyuruh Torrie untuk menyadarkan Auggie. Padahal kalau orang lain mungkin dendam dengan mamanya dan iri dengan saudaranya. &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;Tuhan memang adil orang seperti Nicky diberi hati yang kuat, sedangkan Auggie yang disayangi semua orang itu malah rapuh, mungkin itu yang membuat dia nggak bisa ditebak. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;text-indent:.5in; line-height:150%"&gt;***&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“SEBELLL!!! Masa dia lupa ulang tahun gue ? Semua orang inget sama ulang tahun gue, cuman dia yang enggak! Dasar UGGIE bego!!!” Torrie mengomel di telepon.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Duh, Rie! Gue ini bukan Auggie. Jangan lampiasin amarah lo ke gue donk!” Niken jadi ikut-ikutan sewot. “Lagian , mungkin dia nggak tau ini hari spesial lo.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Katanya, dia mau jadi kakak gue, masa nggak tau tangga lahir adeknya. Masa tiba-tiba aja hari ini dia ngilang gitu aja. Di rumah nggak ada , HP juga nggak diaktifin. Bahkan sampai sekarang juga belum pulang!” Torrie yang sejak tadi bolak-balik, mengintip jendela seberang kamarnya yang gelap.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Oooaahh…” Niken menguap. “Rie, setahu gue, elo paling nggak suka dianggep adek sama dia, tapi sekarang malah uring-uringan dan nyebut-nyebut kata adek… Gini aja deh! Lo inget-inget, kapan elo pernah kasi tau tanggal ulang tahun elo?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Kayaknya nggak pernah gue kasih tahu.” Torrie menjawab dengan ragu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Kalau gitu, jangan heran donk kalau dia nggak inget. Gimana inget, tau aja enggak. Udah deh, sekarang elo tidur aja, terus mimpiin Pangeran Uggie dateng ngasih bunga. Keren khan ide gue? Tapi pangeran elo khan si Nicky jadi elo nggak usah pusingin lagi Auggie. Dagh……tut-tut-tut-tut-tut-tut”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Ih, Niken…Jahat banget, kok ditutup! Lagipula gue janji sama diri gue sendiri, gue nggak akan ngarepin apapun dari Uggie, selain hanya sebagai adek! Niken juga bener pangeran gue khan Nicky.” Torrie menggerutu sambil berbaring di ranjangnya dan melihat jam dinding pigletnya yang menunjukan pukul 11.59 (detik-detik terakhir hari ulang tahunnya).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Tak lama kemudian tiba-tiba ada ketukan dari jendela kamarnya yang tepat berada di sebelahkiri ranjangnya. Ketukan itu pelan tapi pasti. Dengan takut-takut, Torrie beranjak dari ranjangnya dan mengintip siapa di luar jendela itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“UGGIE!!! Ngapain lo naik ke sini?” Torrie membukakan jendelanya dan terkejut melihat Auggie yang mengenakan jaket hitam yang membuatnya tambah gagah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Auggie menyanyikan lagu Happy Birthday sekali lalu…&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Lima&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;..empat..tiga..dua..satu! Yup, akhirna gue jadi orang terakhir yang ngasi elo selamet.” Uggie tertawa senang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Weee….” Torrie menjulurkan lidahnya dan menarik mata kanannya. “Siapa yang butuh selamet lo?” Torrie melangkah lunglai ke ranjangnya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Jadi, nggak butuh nih? Nggak mau hadiah?” Auggie sambil memasukan kaki kanannya lewat jendela.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Ee…Ee…Gue punya pintu! Ngapain elo lewat jendela gitu?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Eh, iya. Sorry, neng! I lupa.” Auggie menarik kembali kaki kanannya.&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Setelah itu, Auggie mengajak Torrie ke taman komplek di belakang rumah Auggie. Mereka pergi diam-diam, takut membangunkan mami papi yang baru pulang dari rumah sakit, mereka terlihat lelah sekali menjaga opa.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Mereka menyalakan kembang api yang sangat indah. Tentunya secara diam-diam pula pesta kecil-kecilan itu berjalan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Vic, ultah lo kok nggak dirayain? Padahal khan yang ke-16, cukup dewasalah.” Auggie sambil menyalakan kembang api terakhirnya. “Buat apa? Entar yang ada, nggak ada yang dateng.” Torrie melipat tangannya dan menunduk.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Siapa bilang?” Auggie mangangkat dagu Torrie dengan telunjuknya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Kalaupun iya, entar gue tarik tu pada, anak-anak supaya datng! Lagi&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;pula khan ad ague ama Niken. Apa Kurang?” Auggie menunjuk ke dadanya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Huh, MUNA! Lo aja tau hari ini ulang tahun gue, pasti dari Niken. Buktinya seharian ini, lo sama sekali nggak bisa dihubungi dan tiba-tiba aja tengah malam dateng dan…” Torrie mencibir tapi terpotong oleh Auggie.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Bener. Gue emang ngak bisa dihubungi seharian, tapi ini semua demi elo! Upps…Ah, enggak gue cuman bercanda…Tunggu dulu! Gue mau ngambil kado buat elo.” Uggie buru-buru ke dalam rumahnya dan muncul lagi membawa sebuah kado.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Eh, maksud lo tadi apaan sih?” Torrie masih bertanya-tanya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Udah buka aja dulu!” Uggie tersenyum, senyuman khasnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Torrie membuka bungkusan kado itu dan terkejut.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Gie! Ini khan Gogi, boneka yang kemarin dibawa anak kecil itu, khan?” mata Torrie berkaca-kaca karena menemukan kembali boneka yang udah Auggie tukarkan dari hasil main. Ia melihat tulisan ‘Gogi’ di telapak kaki kanan boneka kelinci itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Boneka itu tidak begitu istimewa, sekilas sama seperti boneka pada umumnya tapi itu adalah pembrian pertama dari Auggie.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Woii…itu khan cuma boneka biasa, nggak usah sampai nangis gitu donk!” Uggie mengelus-elus rambut Torrie seperti anak kecil sambil tersenyum geli, tapi Torrie menghindarinya dengan menyingkirkan tangan Auggie dari rambutnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Ah…Uggie! Jangan anggep gue kayak anak kecil donk. Tadi katanya gue dewasa?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Emang kenapa? Buat gue, elo itu kecil!” Auggie ketawa melihat Torrie yang tingginya 30 cm di bawahnya, padahal cuman beda 1 tahun.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Terserah deh, mau ngomong apa? Gue cuman nggak mau dianggep lemah. Biasanya anak-anak khan lemah.” Torrie cemberut.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Ih…Ngambek, khan? Males nih, kalau elo ngambek.” Auggie menyikut Torrie.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“OK! Gue maafin elo, asal elo jujur… Elo dapet boneka ini dari mana? Jangan-jangan seharian elo nariin Gogi?!” Torrie menantang Auggie.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Tepatnya sih nggak gitu. Kemarin, pas nyari elo, gue ketemu mamanya tuh anak. Dia ngasi nomor teleponnya. Pas gue telepon, eh itu anak minta dianterin ke Dufan.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Jadi seharian elo ke &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Yup! Dia janji kalau gue nganterin dia, dia bakal balikin Gogi. Gitu! PUASS??!!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“One question more…Kok elo betah pake jaket kulit lo itu sih? Terus mana Kitana, tumben seharian gue nggak liat dia.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“E…e…ini karena gue kedinginan. Ya, gue kedinginan….Kalau Kitana ada di garasi.” Auggie langsung menggosokan tangannya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Walaupun Auggie terlihat agak janggal tapi Torrie benar-benar menikmati malam ini. Malam ini malam terindahnya karena besok-besok, ia belum tentu bisa sedekat ini lagi, apalagi kalau Auggie tahu keadaan Torrie sebenarnya. Tinggal sehari lagi. Torrie menikmati waktu-waktu berharganya bersama Auggie, walaupun&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;tahunya Auggie hanya menganggapnya seorang adik. Tapi suatu yang special pada hari ini adalah Auggie mau mengorbankan dirinya menemani anak kecil, hanya untuk Torrie. Hanya untuk Gogi yang akan diberikannya ke Torrie.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;“Oh, iya. Gue ada kado lagi!” Auggie mengeluarkan sesuatu dari semak. Ternyata helm yang sama persis dengan punya Auggie, hanya saja berwarna putih dan kacanya transparan. “Nih biar elo nggak minjem helm gue lagi! Warnanya putih biar matching dan kontras sama punya gue.” &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;Auggie dan Torrie tertawa. Kemudian mereka menikmati terang bulan dan bintan-bintang di sekitarnya. Langit sangaaat cerah. Bulan pun seolah tersenyum padanya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Trima kasih Tuhan atas hari-hari ajaib ini… Tapi gimana sama Nicky, kok gue jadi kayak mendua gini… &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://www.dollielove.com"alt="target=_blank"&gt;
&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v40/mitsiki/dollielove/welcome6/10.gif"border=0 alt="Glitter Graphics, Myspace Glitters, Myspace Graphics from Dollielove.com"&gt;&lt;/a&gt;
&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22284483-7368321124751198588?l=hayalkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hayalkoe.blogspot.com/feeds/7368321124751198588/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22284483&amp;postID=7368321124751198588' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22284483/posts/default/7368321124751198588'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22284483/posts/default/7368321124751198588'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hayalkoe.blogspot.com/2010/02/torrie-prince-ep-13.html' title='Torrie &amp; the Prince Ep. 13'/><author><name>Hayalkoe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10348172865908700967</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_w0DuuqOjKCg/SoUGPyjsoSI/AAAAAAAAAAU/QSplVZ3wbQ0/S220/DSC_0391.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22284483.post-6428289110954940246</id><published>2010-01-04T05:36:00.000-08:00</published><updated>2010-01-04T06:14:56.238-08:00</updated><title type='text'>Torrie &amp; the Prince - 12</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;Bab 12&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P&lt;/span&gt;agi ini sangat indah, walaupun matahari belum terlalu menampakan senyumannnya yang khas. Aneh, nggak biasanya Torrie bangun sepagi ini, tapi kalau mau tidur rasanya tanggung. Yang lebih aneh lagi, ia belum pernah merasa sesehat ini…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah…jangan-jangan doa Torrie kemarin udah Tuhan jawab. Apapun jawaban Tuhan, Torrie bener-bener terima kasih banget sama Tuhan. Seenggaknya pagi ini Torrie merasa sangat-sangat sehat…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Torrie melihat kamarnya, dulu waktu lagi parah-parahnya, di sana selalu tersedia tabung oksigen, infus, dan berbagai selang yang nantinya akan dimasukan ke mulutnya, untuk membantunya bernafas. Pokoknya di kamar Torrie ini, dulunya mirip ICU. Alat-alat itu baru hilang sekitar sebulan yang lalu atas permintaaan Torrie. Torrie nggak mau kamarnya terlihat seram dengan alat-alat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Torrie turun ke bawah, ternyata sama sekali belum ada yang bangun termasuk Bik Sumi. Torrie baru ingat, mami papinya khan sedang nungguin opa di rumah sakit. Ini berarti, ia bebas melakukan apapun. Torrie melonjak kegirangan bahkan ia membuat gerakan pinggul ke kanan dan ke kiri. Kalau benar Tuhan mengabulkan permintaannya, ia nggak boleh menyia-nyiakan hari pertamanya, dan masih ada 2 hari mendatang yang menunggunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang masih jam 5 subuh, ia sangat ingin jogging di udara segar pagi ini, hal yang belum pernah ia lakukan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, Torrie sangat bersemangat. Ia telah lari mengelilingi komplek. Wow luar biasa, jangankan lari komplek. Lari ke sebelah rumah aja, bisa-bisa langsung serangan. Bik Sumi jantungnya sampai mau copot nungguin Torrie di rumah, ia takut Torrie tiba-tiba kena asma. Hari ini benar-benar keajaiban Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena mami masih di rumah sakit, urusan antar-mengantar Torrie dipercayakan pada Auggie. Torrie masih heran, kok mami bisa-bisanya mempercayakan Torrie padanya. Apa mami buta, masa mami nggak bisa lihat jenis motornya Auggie, yang bukan jenis motor yang lari nggak kurang dari 60km/jam. Khan aneh, gimana-gimana Torrie khan juga suka alergi sama udara Jakarta yang penuh dengan asap. Untung aja akhir-akhir ini Torrie agak sehat, bahkan hari ini, ia sangat sehat, jadi Auggie nggak tahu kalau dia punya sakit asma yang akut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nik, gue nggak pernah ngerasa sesehat ini sebelumnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh, Rie. Gue udah bosen dengerin elo ngomong itu mulu. Tau-taunya entar asmanya kumat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nik, gue bener-bener sehat. Mau bukti?” Torrie langsung mengambil ancang-ancang lari, lalu lari mengelilingi lapangan basket dengan kecepatan yang sangat bagus. Niken sampai-sampai nggak percaya yang barusan lari itu Torrie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gimana, Nik?” Torrie sampai di hadapan Niken dengan wajah yang ceria tanpa lelah sedikitpun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Entahlah, Rie. Yang jelas, elo bikin gue takut.” Niken berjalan menuju tangga ke lantai 2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayolah, Nik. Kita ke mall, seneng-seneng, have fun aja. Masa elo nggak mau ngabulin permintan sahabat lo sendiri?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masalahnya permintaan lo itu aneh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;H&lt;/span&gt;ei, Nik, Vic!” Auggie lari mendahului mereka menuju tangga yang sama, tapi masih sempat menoyor kepala Torrie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hahaha…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan ketawa, Nik. Nggak lucu tau! Inilah satu-satunya sifatnya dia yang gue nggak suka.”&lt;br /&gt;“Eh, Rie. Elo pergi sama dia aja. Khan kakak sendiri, pasti dikabulin apalagi dia nggak tau penyakit lo.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Torrie menopang dagunya, dan memandang Niken sambil mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan bilang kalo lo setuju sama usul gue?...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Torrie tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aduh, Rie. Please, jangan! Tadi gue cuma ngomong asal kok, jangan dipikirin donk.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sama! Gue juga cuma bercanda kok. Tenang lagi aja, Nik”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenernya, Torrie berbohong supaya Niken nggak cemas. Ide Niken bener-bener brilian.&lt;br /&gt;Tujuan Torrie khan emang supaya nyadarin si Uggie, jadi dia memutuskan akan menghabiskan 3 hari ini bersama Auggie. So, koin keberuntungan akan bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Istirahat ke 2, Torrie mencari si Uggie itu. Ternyata ia sedang bermain basket sama dua temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gie, bisa ngomong bentar nggak?” Torrie berteriak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bentar ya, gue mau ke sana dulu!” Auggie pamit dulu sama temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Napa lagi?” Auggie mendatangi Torrie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mau main nggak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Main apaan? Lo ngajak kayak anak kecil aja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan sebut-sebut kata kecil! Pokoknya asik deh mainnya, apalagi untuk orang macam elo.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, udah cepetan main apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita ngundi pake koin, siapa yang menang boleh minta apa aja. Asal sesuai kemampuan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Boleh minta apa aja?” Auggie mengernyitkan dahinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yup, asal sesuai kemampuan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mmmm…Ok deh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gue punya koin, di depannya ada gambar kuda sedangkan dibelakangnya ada gambar kepala orang, gue gambar kuda, elo kepala. Deal?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Deal!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Torrie melempar koinnya, dan menangkapnya dan meletakkan di telapak tangan kirinya dan ditutup oleh tangan kanannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kepala! Kepala! Kepala!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata begitu dibuka, adalah kuda, berarti Torrie menang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Curang nih! Ya udah mau lo apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mana mungkin curang, lo khan liat sendiri gimana gue lempar itu koin. Gampang aja, abis nyampe di rumah nanti, elo siap-siap anterin gue ke MTA (mall Taman Anggrek). Pokoknya lo harus bikin gue seneng di sana!” Torrie membalikkan tubuhnya sambil tersenyum penuh kemenangan, karena berhasil menipu orang sepintar Auggie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Torrie dan Auggie telah sampai di mall, mereka ke sana menggunakan teranonya mamanya Auggie. Seperti biasanya Auggie memakai kaos hitam sedangkan Torrie kaos putih. Torrie membuat kesimpulan, pasti di lemari pakaiannya hitam semua, bahkan kamarnyapun mungkin hitam juga…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa sih elo selalu pake baju putih?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nggak salah nih? Yang harusnya nanya itu khan gue. Gue pake putih supaya matching sama elo, biar kontras. Hitam dan putih. Emangnya lo doank yang punya koleksi hitam, gue juga punya koleksi baju putih buanyak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gue pake hitam karena…” belum selesai Torrie sudah memotong&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena elo merasa dunia elo itu kelam dan nggak berwarna, apalagi setelah adek dan bokap lo meninggal. Iya, khan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sok tau!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi bener khan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Auggie sepertinya agak kesal, ia berjalan dengan cepat di depan Torrie. Apalagi kaki Auggie lebih panjang dari Torrie, jadinya Torrie tertinggal jauh di belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Heh! Jalan bisa dipercepat nggak sih?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalo ngomong mikir donk! Langkah kaki lo khan lebih lebar dari gue.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya udah nyari cara kek, biar jalannya seimbang sama gue.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya Torrie memegang ujung kaosnya Auggie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Elo itu ngapain?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katanya pake cara apa aja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Auggie hanya bisa menggeleng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gie, Nicky itu…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa?!!!” Sepertinya Auggie kesal setiap mendengar nama Nicky.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nggak jadi deh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;T&lt;/span&gt;empat pertama yang dicari adalah ice skating. Ternyata Auggie sangat buruk dalam meluncur di es, sedangkan Torrie dalam beberapa menit sudah bisa menyesuaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Payah! Katanya jago semua olah raga, masa ngeluncur di es aja nggak bisa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Auggie bersikap no comment. Ia masih berusaha berdiri tegap di atas es.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;S&lt;/span&gt;etelah puas bermain es, mereka pergi ke arena permainan, hampir semua permainan mereka coba. Mulai dari dance revolution, sampai permainan macam dingdong pun mereka coba. Mulai dari balap motor, sampai helikopter juga. Di sini Auggie merajainya, itu sudah jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir Torrie melihat mesin pengambil boneka, di sana ada boneka kelinci yang lucu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gie, ambilin donk, boneka kelincinya.” Torrie menunjuk ke arah mesin pengambil boneka itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kayak anak kecil aja lo!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hari ini khan, perjanjiannya elo harus bikin gue seneng! Tunjukin donk kemampuan lo! Katanya jago? Please, ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya! Iya!” Auggie dengan tampang kesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Auggie secara hati-hati mengarahkan alat pengambil tepat di atas boneka yang gampang diambil. Yup! Akhirnya Auggie dapat mengambil boneka itu. Wajahnya langsung berubah ceria dan melompat-lompat, Torrie sampai jadi malu. Weits, ternyata tangkapan alatnya meleset sedikit, karena boneka jatuh lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aduh, sorry deh! Bonekanya jatuh, kita coba lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ngng…nggak usah! Nggak usah!”Torrie menarik Uggie menjauhi mainan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho kenapa? Bukannya elo tadi maksa gue?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya! Tapi elo yang lebih mirip anak kecil tau, lompat-lompat nggak jelas, padahal boneka belum di tangan. Bikin malu aja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tunggu bentar di sini!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;T&lt;/span&gt;idak seberapa lama Auggie datang dengan boneka kelinci yang lebih lucu dan lebih besar tentunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini gue tuker dari semua kupon yang kita dapet tadi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iiii…Lucu banget. Gue kasih nama Gogi.” Torrie mengeluarkan spidol dari tasnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jelek amat, namanya,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“BIARIN!” Torrie menuliskan nama Gogi di tempat mereknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba ada anak kecil laki-laki sekitar 4tahun, menangis menginginkan Gogi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cep! Cep!...” mamanya tu anak menenangkan. “Dek, boleh tante pinjem nggak bonekanya?” tante itu memintanya dengan sangat memelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Torrie merasa keberatan, tapi Auggie mengisyaratkan untuk meminjamkannya. Akhirnya Torrie memberikan, tapi setelah satu jam lamanya, bonekanya nggak mau dikembaliin. Dengan sangat kesal Torrie akhirnya meninggalkan anak itu dan Gogi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;M&lt;/span&gt;akan malam di  sebuah fastfood di mall…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa sih elo lebih milih makan di sini dari pada kafe? Katanya vegetarian?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gue belum pernah makan di tempat kayak gini, lagian yang nyuruh gue vegetarian itu khan nyokap. Nyokap bilang, makanan kayak gini itu junk food, sampah.” Torrie udah ngiler ngeliat gambar-gamabar menu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kasian juga ya lo. Ini itu nggak boleh. Cepetan pesen apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mau pesen apa, dek?” Pelayannya mengira Torrie masih kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mmmm…ayam gorengnya yang paha 2, French fries 1 yang big mac ya, trus es krim Sunday coklatnya 1, stroberinya 1, ama…coca colanya satu. Eh, elo mau apaan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Auggie kaget karena ia kira itu semua sudah termasuk dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gu…gue paket 2 aja yang ada cheese burgernya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mbak, tambah paket 2, sama cheese burgernya 1.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho, maksud gue paket 2 itu yang ada cheese burgernya, bukannya nambah cheese burger lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ge-er! Cheese burgernya, itu buat gue!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Auggie benar-benar pusing sama kemauan cewek satu ini. Manalagi pelayannya genit banget main mata sama Auggie, Auggie jadi bete.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;A&lt;/span&gt;walnya Torrie merasa ragu untuk memakan semuanya. Dia sih yakin bisa ngabisin, tapi nggak yakin apa nggak dapet serangan mendadak gara-gara makan ini semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Elo mo makan atau melototin makanan? Jangan bilang elo jadi enegh ngeliat semuanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa yang enegh, gue yakin gue bisa. Cuma…” Tanpa menyelesaikan kata-katanya Torrie langsung komat-kamit berdoa. Auggie hanya bisa menunggunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Udah selesai doanya? Makan gini doang udah kayak disuruh makan racun aja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Torrie tidak menghiraukan Auggie, ia langsung makan dengan sangat lahap, seperti orang yang nggak makan pernah makan seminggu, mungkin sebulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ehmm…yummy, enak banget!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Auggie tersenyum geli akan cewek di depannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Napa lo senyum-senyum? Khan nggak sopan ngeliatin cewek lagi makan. Jangan-jangan elo pengen ya? Burger lo juga udah abis.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Enak aja, gue udah kenyang. Emang bener ya elo itu nggak pernah makan makanan fastfood?”&lt;br /&gt;Torrie hanya mengangguk, sambil menghabiskan tetesan terakhir dari eskrim coklatnya. Lalu Torrie tersenyum puas karena sudah menghabiskan semuanya dengan licin, nggak ada sisa kecuali tulang-belulang. Torrie mengakhirinya dengan menjilat seluruh jarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Auggie mengambil tissue yang ada di meja, lalu membersihkan mulut Torrie yang belepotan antara saus tomat dan es krim. Torrie sempat salting karenanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;G&lt;/span&gt;ara-gara elo nih, Gogi jadi punyanya itu anak!” Torrie tiba-tiba teringat akan Gogi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, ampun. Apa istimewanya sih itu boneka? Entar gue beliin yang mirip deh!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Enggak mau! Gue mau Gogi” Torrie ngambek&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terserah!” Auggie pergi menuju WC pria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil melamun, Torrie melihat Gogi dan anak itu. Torrie keluar kafe dan pelan-pelan mengikutinya berharap ia bisa mengambilnya secara diam-diam. Tapi ia takut juga nanti kalau ketahuan gimana? Jadi diurungkan niatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekembalinya, di kafe itu, meja tempat Torrie dan Uggie makan telah…KOSONG! Torrie nanya sama salah satu pelayan di sana, katanya Auggie sudah bayar semuanya dan pergi dengan tergesa-gesa. Torrie yakin Auggie pasti mencarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Torrie mencari si Uggie ke mana-mana, matanya bener-bener nggak lepas dari semua cowok yang berkaos hitam dengan rambut pendek agak berombak. Kemudian Torrie melihat sosok cowok yang dikiranya Auggie ternyata bukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama-lama, Torrie semakin takut, manalagi dia lupa tempat parkir itu di mana. Ia juga sudah berusaha ke pojok-pojok toko, tapi nggak ada. Hampir seluruh mall udah Torrie kelilingi, tapi Auggie belum ketemu-ketemu juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Torrie sudah hampir menangis, seketika itu juga ia melihat sesosok cowok yang sedang kebingungan mencari seseorang. Nggak salah lagi itu Auggie!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Torrie sudah setengah berlari bahkan sudah mau memanggil Auggie, tapi tiba-tiba ia merasa ingin melihat wajah Auggie yang panik. Sungguh kesempatan yang sangat langka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Torrie mengikuti Auggie secara sembunyi-sembunyi. Ia merasa sangat dikhawatirkan. Auggie juga terlihat sama takutnya dengannya tadi. Torrie jadi semakin nggak tega ngeliat Auggie kayak gini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Torrie berusaha supaya Auggie bisa melihatnya. Begitu Auggie melihatnya, seperti ada rasa lega di wajahnya. Auggie langsung berlari dan memeluk Torrie yang masih terpaku diam di tempatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Auggie menarik pergelangan Torrie dengan kasar. “Ayo, pulang. Elo itu udah kelewatan, gimana kalo ilang beneran?” auggie sangat kasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Torrie nggak berani komentar, bahkan sampai di mobil pun demikian. Torrie hanya menatap jendela sambil menahan tangis, tapi dia nggak bisa menahannya lagi, ia merasa bersalah membiarkan Auggie bingung mencarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sorry…” ucapan itu terlontar begitu saja dari mulut Auggie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Torrie menoleh ke arahnya. “Seharusnya gue yang minta maaf. Gue udah nyusahin elo hari ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Vic, harusnya gue nggak kasar kayak tadi, gue cuma khawatir banget. Jantung gue mau copot begitu keluar dari WC elo udah nggak ada, bahkan dimana-mana gue cari elo nggak ada.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa elo harus begitu khawatir sama gue?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karna elo tanggung jawab gue sekarang, karena elo itu….elo itu adek gue.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adek lagi! Adek lagi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;T&lt;/span&gt;orrie menyalakan radio mobil, ada lagunya Glenn.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aaaa…lagunya Glenn!” Torrie berteriak histeris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, ampun. Lo kok sukanya sama lagu mellow kayak gini sih? Mendingan lagu yang ngebeat atau yang bisa bikin goyang badan donk, kayak Maroon 5, RHCP, atau… sejenis hip-hop gitu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ih, sorry aja. Gue cinta dalam negri. Lagipula Glenn juga bisa nyanyi yang ngebeat kok. Eh jangan-jangan elo suka goyang ya, di diskotik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sorry tu mori aja… gue nggak suka sama yang namanya dugem. Bahkan gue nggak suka ngerokok, atau minum, apalagi ngedrugs.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ML?” Tanya Torrie lugu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciiiiittttttt…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Auggie langsung mengerem mobilnya... dahi Torrie sempet terantuk kaca mobil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Emang gue salah ya nanya gitu?” Torrie mengusapkan dahinya yang sedikit benjol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, enggak. Gue kaget aja elo bisa nanya gitu. Walaupun gue suka ngetrek, hal-hal yang bikin gue rusak nggak gue biarin mendekat, walaupun godaan banyak yang dateng.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Auggie ternyata hebat juga, dia bisa menahan dirinya untuk nggak nyoba sesuatu yang dianggap biasa di temen-temennya. Pangeran gue ini, bener-bener wah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;S&lt;/span&gt;esampai di rumah mami telpon, untuk memastikan Torrie baik-baik saja. Untung Bik Sumi mau diajak kerja sama, dia nggak bilang Torrie pergi seharian. Tengah malam, papi sempet pulang ngambil baju buat ke kantor&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://www.dollielove.com"alt="target=_blank"&gt;
&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v40/mitsiki/dollielove/welcome6/10.gif"border=0 alt="Glitter Graphics, Myspace Glitters, Myspace Graphics from Dollielove.com"&gt;&lt;/a&gt;
&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22284483-6428289110954940246?l=hayalkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hayalkoe.blogspot.com/feeds/6428289110954940246/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22284483&amp;postID=6428289110954940246' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22284483/posts/default/6428289110954940246'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22284483/posts/default/6428289110954940246'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hayalkoe.blogspot.com/2010/01/torrie-prince-12.html' title='Torrie &amp; the Prince - 12'/><author><name>Hayalkoe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10348172865908700967</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_w0DuuqOjKCg/SoUGPyjsoSI/AAAAAAAAAAU/QSplVZ3wbQ0/S220/DSC_0391.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22284483.post-3247007247394839571</id><published>2009-12-09T06:01:00.000-08:00</published><updated>2009-12-09T06:09:55.021-08:00</updated><title type='text'>Torrie &amp; the Prince -11-</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;Bab 11&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;T&lt;/strong&gt;orrie terbangun karena mendengar suara gedoran dari pintu kamarnya. Perlahan-lahan matanya terbuka, ia kaget karena merasa kamar yang bercat putih ini bukan kamarnya. Ia baru ingat ini bukan kamarnya, ini kamar Kiku adiknya Auggie. Ia mulai meriview apa saja yang terjadi kemarin, pelan-pelan ia mulai ingat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Woii! Bangun dasar kebo, ini udah mo telat. Cepet bangun!” suara Auggie terdengar dari luar kamar disertai gedoran pintunya yang nggak sabaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya! Ini gue udah bangun. Emang seka…”baru membuka pintu, Torrie nggak jadi ngomong karena melihat Auggie hanya menggunakan handuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho! Elo sendiri belum pake baju, tapi udah nyuruh orang cepetan.” Torrie protes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gue itu cowok, cepet pake bajunya. Elo itu cewek, udah mandi lama dandan juga lama.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Enak aja, gue bukan cewek yang doyan dandan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pokoknya gue nggak mau tau. Sekarang jam 6 seperempat, jam setengah 7, lo harus udah siap berangkat.”Auggie menutup pintu dengan kasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ih, nyebelin banget sih! Jangan-jangan dia masih marah sama gue. Mungkin kemarin dia pikir gue sok tau…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HP Torrie bunyi, ternyata mami…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Napa, mam? Opa gimana? Dia sakit apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Opa stroke, tapi keadaannya udah baikan, nggak terlalu kritis. Jadi mami pulang hari ini. Papi tetep di sini, jagain opa sama Om Chris. Kamu kemarin kenapa nggak ngangkat telponnya mami?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ng…ngng…Torrie udah tidur, mam?” Torrie terpaksa berbohong. “Torrie boleh jenguk opa nggak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan dulu deh. Nggak ada yang bisa nganterin kamu ke rumah sakit. Masa mami? Mami khan capek banget, papi juga jagain opa semaleman.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya Torrie tetap memaksa ingin menjenguk, dan seperti biasanya mami nggak kasih ijin, Torrie baru inget, ia harus sudah siap sekolah dalam 15 menit. Jadi ia buru-buru menyudahi pembicaraan dan mandi ala koboi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;B&lt;/strong&gt;egitu ia keluar kamar, Torrie menabrak seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aduh,Gie. Gue udah siap nih, eh elonya masa belon pake seragam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cowok itu malah tersenyum, “Lupa ya, gue bukan Auggie. Tapi Nicky.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Torrie memukul kepalanya, ia lupa kalau si bunglon itu punya kembaran. Torrie jadi gugup, karena ia merasa ada kemungkinan pangerannya adalah dia. Bahkan sangat yakin karena nggak mungkin pangerannya itu orang seperti Auggie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sorry, gue nggak bisa ngebedain kalian…” Tiba-tiba pembicaraan terputus karena bunyi klakson motor Auggie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, iya bentar lagi gue turun!” teriak Torrie. “Ehm…sorry ya. Gue…gue turun dulu.”&lt;br /&gt;Lagi-lagi Nicky tersenyum. Senyum yang sangat manis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;strong&gt;E&lt;/strong&gt;hm…Rie.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara Simon yang berat mengagetkan Torrie yang sibuk ngerjain pr matematika di kelasnya, karena mami lupa bawain buku matematika kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh, elo Mon. Nyariin Niken, ya? Niken nggak ada tuh, tau deh ke mana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gue nggak lagi nyari Niken, gue lagi pengen ketemu elo. Ganggu nggak?” Simon duduk di sebelah Torrie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Torrie berhenti menulis, Torrie bingung, ada angin apa Simon mencarinya? Torrie jadi curiga jangan-jangan Simon suka lagi sama Torrie. Torrie berusaha menghilangkan pikiran negative itu jauh-jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nggak sih. Gue juga mau selesai kok. Ngomong aja. Emangnya ada apa? Tentang Niken?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, tentang Niken.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amin, untung bukan tentang gue…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Niken kenapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gue tau elo mungkin nggak suka hubungan gue sama Niken, dan gue tau juga elo itu sayang banget sama Niken, makanya elo hanya berusaha melindungi Niken dari orang-orang macam gue. Tapi percaya gue, Rie. Gue emang bukan anak baik-baik, gue suka ngerokok, minum, nongkrong nggak jelas, selalu bikin keributan, tapi gue janji bakal setia sama Niken…” Simon terdengar seperti memohon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Torrie yang sejak tadi menahan tawanya, akhirnya tak kuat dan terdengar tawanya lepas sampai-sampai anak satu kelas memandangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sorry! Sorry! Gue kelepasan, gue nggak nyangka aja elo bakal ngomongin ini. Mungkin Niken belum jelasin ke elo. Gue itu sama sekali nggak nentang hubungan elo, gue cuma pengen kalian yakin sama hubungan kalian. Soalnya bukan apa-apa kalian itu jadian dalam hitungan hari, gue cuma nggak yakin aja. Tapi sekarang gue yakin kok, apalagi setelah denger pengakuan lo tadi.”&lt;br /&gt;Simon terlihat malu, wajahnya memerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau begitu, harusnya gue yang minta maaf sama elo, gue kira elo benci sama gue. Gue janji nggak lagi jadi brutal, gue akan berusaha jadi anak baik-baik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nggak papa kok, Mon. Salah paham itu biasa. Gue jadi seneng elo mau berusaha untuk lebih baik lagi…Ehm..” Tiba-tiba dada Torrie menjadi sesak, ia memegang dadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Napa, Rie?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Biasa, serangan asma gue. Mungkin gue ketawa terlalu keras tadi, sampai sampai kehabisan nafas.” Torrie masih sempat bercanda, padahal rasanya sangat sakit dadanya sangat sesak. Cepat-cepat Torrie mengambil obat semprotnya, lalu ia menghirupnya dengan mulut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aneh, ia teringat lagi akan pengalamannya semalam. Semalaman ia naik motor diterpa angin dingin tapi nggak dapet serangan, padahal ada angin atau udara dingin sedikit aja, pasti penyakit Torrie kambuh. Atau karena ada Auggie, ia jadi punya spirit, dan penyakitnya itu nggak kambuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Elo, udah nggak papa? Gue anter ke UKS ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Torrie nggak menyangka, preman satu ini ternyata baik banget, Niken emang nggak salah pilih orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Udahlah, Mon. Ini udah biasa banget. Elo juga pasti pernah liat gue kalo lagi kena serangan khan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, udah. Kalo gitu gue cari Niken, supaya jagain elo.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Torrie mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;strong&gt;R&lt;/strong&gt;ie, bisa bicara sebentar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Torrie kaget karena ada yang menggantikan posisi Simon tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh…elo, La! Mau ngomong apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sheila hanya menunduk seperti menyesali sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gue minta maaf soal kemarin, gue udah mempermalukan elo di depan anak-anak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Torrie cukup kaet dengan pernyataan Sheila tadi. “Lupain aja lagi, La. Gue maafin kok. Tapi elo juga maafin gue khan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Elo nggak salah apa-apa. Gue dari dulu emang suka ngeselin elo. Kemarin sebenernya gue pengen baikan juga tapi gue masih nggak percaya aja kalo elo tulus minta maaf. Tapi ternyata gue malah…” Sheila menatap Torrie dengan mata berkaca-kaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tenang, gue nggak dendam kok.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Justru karena itu, gue nyesel banget kenapa gue harus iri sama elo. Padahal elo itu baik banget. Sebenernya gue iri sama elo karena elo selalu dikasih keringanan sama Bu Heti tentang nggak masuk sekolah yang lebih dari 20%, sedangkan gue cuma 5 kali aja udah dikasih surat macem-macem, padahal Bu Heti itu tante gue.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tante?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan bilang siapa-siapa ya? Takutnya pada ngomongin. Terus gue juga dulu ngiranya elo tuh sok sakit biar diperatiin orang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tenang aja gue bisa jaga rahasia soal tante lo. Pokoknya diantara kita udah nggak ada masalah lagi khan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sheila mengangguk sambil tersenyum lalu mereka berpelukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh, iya Rie, bilangin Auggie. Jangan suka ge-er!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksudnya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia pasti ngira semua anak cewek di sini suka sama dia. Padahal cuma beberapa, ya jujur aja termasuk gue. Tapi yang lain itu orang-orang suruhan gue. Soalnya gue lucu kalo ngeliat dia salting waktu dideketin cewek. Bilangin juga, kita-kita udah tau kok kalo dia udah ada yang punya.” Sheila tersenyum nakal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, emang tuh anak kege-eran. Tapi dia kok nggak pernah bilang kalo dia udah punya…” Torrie melihat senyum nakal Sheila itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sialan! Elo ngeledekin gue ama si Uggie itu ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya Torrie bisa baikan sama Sheila. Torrie nggak pernah lupa cerita kejadian kemarin dan hari ini ke Niken.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selamet deh. Elo udah baikan sama Sheila. Tapi, beneran si Simon tadi datengin elo ngomong kayak gitu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, gitu deh. Tau nih, hari ini banyak kejadian yang nggak gue sangka-sangka malah terjadi. Eh, Nik. Emangnya entar lusa kita liburan 3 hari ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh, iya. Bener tuh. Asyik, gue bisa jalan ama Simon deh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dasar! Gue ditinggal sendirian.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Khan ada Uggie terchayang…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Torrie pura-pura ngambek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh, tapi Nik. Masa Uggie punya kembaran, dan mereka tuh mirip banget! Nggak ada bedanya deh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masa??? Tapi bagus juga, berarti elo punya 2 pangeran!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nggak bisa gitu donk! Pangeran gue itu cuma 1 di dunia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“De ile…romantis amat, neng.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nik!! Gue nggak bercanda, gue bener-bener bingung sekarang. Pangeran gue itu nafas gue juga. Dia yang selama ini bikin gue bisa survive sampai sekarang. Jadi penting buat gue, siapa di antara mereka pangeran gue.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sorry, Rie…kalo itu gue nggak bisa bantu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;P&lt;/strong&gt;ulang sekolah…Torrie sedang duduk bangku semen, tempat biasa ia menunggu maminya. Auggie mendatangi Torrie dengan Kitananya, tapi Torrie pura-pura nggak lihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei, Vic. Lo pulang bareng gue, tadi nyokap lo nelpon minta gue anterin elo pulang.” Auggie melepas helmnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, udah. Walaupun sebenernya gue nggak mau pulang sama orang yang terpaksa nganterin gue.” Torrie masih nggak mau melihat wajah Uggie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksud lo terpaksa itu apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, elo itu marah khan sama gue? Jadi elo khan terpaksa nganterin gue.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sok tau kau!” Auggie menoyor dahi Torrie. “Mana mungkin gue marah same lo, adekku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adekku, kata yang sebenernya Torrie paling benci. Apalagi kemarin dia bilang jangan sok jadi adek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Abisnya, dari kemaren elo sewot mulu sama gue, jadi gue kirain elo marah sama gue.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Elo itu kayak nggak kenal gue aja, Vic!” Auggie ngetawain Torrie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Uggie…elo itu khan aneh! Sikap lo selalu berubah terus, kadang baik, kadang sewot, kadang…ya pokoknya kadang-kadang yang lainnya deh. Dan itu artinya, gue nggak kenal elo secara pribadi. Manalagi nggak pernah cerita soal saudara kembar lo itu lagi. ”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uggie langsung terdiam…kemudian menstrater motornya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Torrie langsung menghadangnya dan tangannya menunjuk ke Uggie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei…jadi nganter nggak? Maen pergi aja… Gue salah ngomong lagi ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Auggie menggeleng, “Ayo cepetan naik! Nih helmnya!” Auggie memberikan sebuah helm pada Torrie. Torrie naik ke motor dengan perasaan yang masih tak enak dengan Auggie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;strong&gt;B&lt;/strong&gt;ik…Bik Sumi! Mami udah pulang belum?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru sehari ninggalin rumah, rasanya kangen banget. Apalagi sama masakannya Bik Sumi, pembantunya yang berumur sekitar 40 tahunan. Torrie memang vegetarian, bukan untuk diet, tapi karena ia alergi sama daging. Bik Sumi itu jagonya masak, ia sudah mengasuh Torrie sejak kecil, jadi ia tahu benar apa boleh dan nggak boleh dimakan Torrie. Karena Torrie vegetarian, ia selalu memasakan sayur-mayur untuk Torrie, tapi di lidah selalu enak dan tidak membosankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Belum tuh, Non.maaf ya Non, soal kemarin. Bik Sumi nggak ngomong dulu ke non, kalau Bik Sumi cuti. Jadinya, non, malah tinggal di rumah Ibu Beth.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nggak papa, kok Bik! Aduh, perut Torrie keroncongan nih, Bik. Masak apa hari ini?” pertanyaan rutinitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada aja!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apaan sih?! Bik Sumi sok bikin Torrie penasaran deh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;S&lt;/strong&gt;etelah selesai makan Torrie membaringkan tubuhnya di ranjangnya. Ia memeluk boneka kelincinya. Lusa, liburan 3 hari, tiba-tiba ia berkeinginan untuk hidup normal, hanya beberapa hari saja setelah itu ia berjanji nggak akan minta untuk hidup normal lagi. Torrie ingin hidup normal sebelum Auggie tahu ia punya asma, karena kalau Uggie tahu, mungkin ia akan mengindari Torrie, bahkan mungkin akan membencinya. Ia berusaha memintanya dari Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, Tuhan…Hanya Engkau yang tahu segala penderitaan hambamu. Torrie tau, Torrie memang salah. Torrie selalu ingin hidup normal, dari dulu. Tapi Torrie berhasil menepiskan itu semua, Torrie berusaha menjalankan kehidupan Torrie yang kelabu ini dengan tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari lalu, Torrie kesal dengan Sheila, mungkin karena Torrie mulai lemah dan jauh akan Engkau. Torrie terlalu percaya pada diri Torrie sendiri, bahwa Torrie bisa tanpa bantuan-Mu. Tapi lihat Torrie sekarang. Banyak masalah yang udah Torrie buat. Torrie juga jadi gampang marah dan emosi. Tapi sekarang Torrie janji, nggak lagi jauh dari-Mu. Karena Torrie tahu betapa indahnya hidup di dalam Engkau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan tahu Uggie khan? Dia udah ngasi warna ke dalam hidup Torrie, dia udah buat hidup Torrie menjadi penuh gairah. Apa itu salah, Tuhan? Torrie hanya membalasnya, dengan memberinya warna ke dalam hidupnya. Karena ia juga hidup dalam dunia yang kelabu, tapi ia tidak tahu bagaimana bahagianya hidup bersama-Mu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Torrie takut ia membenci Torrie, karena Torrie punya penyakit, sedangkan ia benci dengan-orang-orang seperti Torrie. Torrie hanya minta diberi kesempatan 3 hari untuk hidup normal, Torrie akan berusaha memberi warna-Mu Tuhan ke dalam hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Torrie mohon Tuhan, setelah itu Torrie janji nggak akan minta hidup normal lagi…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan, kenapa sekarang mucul sosok lain lagi, Nicky. Siapa dia tuhan? Apakah ia pangeran Torrie? Atau bukan? Torrie mohon supaya Tuhan mau mengungkap misteri ini…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya, satu lagi. Torrie minta Tuhan jaga opa, dan berikan padanya selalu kekuatan. Torrie sangat ingin curhat-curhat lagi sama opa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;H&lt;/strong&gt;P Torrie berbunyi….Ternyata Auggie. Seketika Torrie jadi deg-degan, ia penasaran, Auggie mau ngomong apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Heh! Cepetan buka gorden, lo! Sekarang!” perintah Auggie&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Torrie cepat-cepat membuka gorden, yang tadinya sengaja ia tutup. Ternyata Auggie ada di kamar Kiku, adiknya. Sejenak sepertinya ia mulai berfantasi lagi tentang pangeran di seberang jendela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang kita bisa ngobrol lewat jendela.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Emangnya kenapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gue sekarang pindah di kamar Kiku!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bodo!” Torrie menjulurkan lidah lalu menutup gorden. Kemudian Torrie tertawa bahagia karena mimpinya seperti terkabulkan, sekarang ia benar-benar bisa berbicara dengan pangerannya lewat jendela. Tapi sekali lagi, apakah benar dia itu pangeran Torrie?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semalaman seperti biasa Auggie mengganggu Torrie dengan SMSnya yang nggak jelas dan misscallnya. Orang kaya yang sok buang duit&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://www.dollielove.com"alt="target=_blank"&gt;
&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v40/mitsiki/dollielove/welcome6/10.gif"border=0 alt="Glitter Graphics, Myspace Glitters, Myspace Graphics from Dollielove.com"&gt;&lt;/a&gt;
&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22284483-3247007247394839571?l=hayalkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hayalkoe.blogspot.com/feeds/3247007247394839571/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22284483&amp;postID=3247007247394839571' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22284483/posts/default/3247007247394839571'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22284483/posts/default/3247007247394839571'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hayalkoe.blogspot.com/2009/12/torrie-prince-11.html' title='Torrie &amp; the Prince -11-'/><author><name>Hayalkoe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10348172865908700967</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_w0DuuqOjKCg/SoUGPyjsoSI/AAAAAAAAAAU/QSplVZ3wbQ0/S220/DSC_0391.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22284483.post-2839165534871249364</id><published>2009-11-30T07:00:00.000-08:00</published><updated>2009-11-30T07:12:55.199-08:00</updated><title type='text'>Torrie &amp; the Prince -10-</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Bab 10&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;S&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;ampai di rumah Auggie, Torrie langsung masuk ke kamar. Tubuhnya sangat lelah sekali, tapi juga sangat lapar. Mau turun minta makan nggak enak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tok, tok, tok. Pintu diketuk dari luar. Pucuk di cinta ulam tiba, itu pasti Auggie yang mau nawarin makanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir saja Torrie meraih gagang pintu, eh pintu sudah dibuka dan membentur kepala Torrie.&lt;br /&gt;“Adaow! Elo cukup sopan dengan mengetuk, tapi nggak sopan dengan langsung buka pintu, tau!” Torrie memijat dahinya yang terbentur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sorry, abis bukanya lama banget.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi gimana kalo gue lagi ganti baju?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ganti, sih ganti aja. Lagian siapa suruh nggak dikunci. “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Torrie sudah mau mengucapkan serentetan kata lagi tapi mulutnya ditutup oleh Auggie.&lt;br /&gt;“Ssstt…dah malem gue nggak mau ribut. Kalo mau makan langsung aja turun ke bawah, tadi udah gue suruh makannya disiapin. Ntar gue nyusul, mau ganti baju.”Auggie langsung kabur ke kamarnya yang tepat di depan kamar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Huh, dasar!” Torrie mengomel tapi tetap turun ke bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;K&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;etika sampai di ruang makan, Torrie kaget karena ada Auggie di sana. Torrie mengucek-ngucek matanya, “Kok elo di sini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai!”, yang diajak ngomong malah menyapa dengan bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apaan sih lo, pake nyapa gue segala. Tadi katanya mau ganti baju…eh kok cepet banget. Tadi khan elo ada di kamar lo, Gie. Jangan-jangan elo punya lift khusus yang bisa cepet bawa lo ke bawah, atau… jangan-jangan…, jangan-jangan elo punya ilmu memindahkan tubuh???” Torrie mulai menjauh karena takut, dan komat-kamit mengucapkan doa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Don’t be afraid. I’m not a ghost or something else…” cowok itu mulai mendekati Torrie untuk menenangkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duh, ngapain pake bahasa inggris segala nih anak, bikin gue tambah takut…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ooo…I see, Kamu pasti ngira aku Auggie! Aku bukan Auggie tapi Nicky.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, siapa lagi Nicky? Jangan-jangan Auggie punya penyakit lain selain phobianya. Pasti dia punya penyakit punya kepribadian ganda! Iihhh pake aku kamu lagi jijik…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Torrie mendekatinya dan menampar-nampar pipi cowok itu, “Gie, ayo sadar! Ayo elo pasti bisa! Ini gue Torrie…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apaan nih ribut-ribut?” Auggie segera turun setelah mendengar keributan di bawah.&lt;br /&gt;“Lho, Nick. Kapan elo nyampenya? K…Kok nggak kasih kabar?” wajah Auggie sama kagetnya dengan wajah Torrie yang bingung karena pangerannya ternyata ada dua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gue tadinya pengen kasih surprise. Yah, gue juga lagi libur. Gue barusan nyampe, terus rumah tadi nggak dikunci jadi gue masuk aja. Ehm, tapi kayaknya sekarang gue yang ngerasa surprise, ternyata elo udah berani bawa cewek waktu rumah kosong.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan sembarangan ngomong, dia itu juga terpaksa tinggal di sini karena rumahnya bener-bener kosong. Rumahnya juga di depan sini. Iya khan, Rie?...Rie? Elo nggak kenapa-napa khan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Torrie masih memandang kedua cowok yang ada dihadapannya, tubuhnya lemas seketika, jadi siapa pangerannya? Cowok yang baru aja jadi abangnya? Atau cowok yang baru dilihatnya ini sekarang? Mereka sangat-sangat mirip bagai pinang dibelah dua. Dari ujung rambut sampai ujung kaki sama semua, bahkan suara pun sama. Torrie mencari-cari perbedaan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi kamu Torrie!” Nicky seperti teringat teman lama, dia memberikan tangannya untuk bersalaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“E..e..i…iya. Gie, kenapa elo nggak pernah cerita kalau elo itu kembar?” Torrie mencubit perut Auggie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;A&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;khirnya mereka bertiga membuat acara nonton tv bareng. Tapi berhubung yang mereka tonton itu bola dan berhubung juga Torrie sudah sangat ngantuk, jadi ia tertidur pulas diantara cowok-cowok kembar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nick, bantuin gue buka pintu kamarnya.” Auggie meminta bantuan Nicky karena kedua tangannya sudah terpakai untuk mengangkat Torrie yang benar-benar pulas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sangat hati-hati Auggie membaringkan Torrie di ranjang. Nicky memperhatikan setiap gerak-gerik adik kembarnya dan juga si mungil Torrie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Heh! Ngapain bengong? Biarin Torrie istirahat. Sekarang elo bantu gue mandiin Kitana.”&lt;br /&gt;“Hah, mandiin siapa? Tengah malem gini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;S&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;ebenarnya yang dilakukan Nicky bukan membantu tapi hanya menemani, karena ia hanya duduk dan memperhatikan Auggie memandikan ceweknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gie, elo curang. Udah nyuri start.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gue nggak ngerti?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lo pasti inget, waktu kecil khan kita berantem mulu ngerebutin Torrie, padahal khan gue yang pertama kali ngeliat dia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gue lupa.” Auggie tetap melakukan kerjaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Boong banget. Terus kenapa kok kayaknya kalian berdua deket banget?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena dia udah gue anggep adek gue sendiri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Auggie. Auggie. Elo nggak pernah berubah ya? Selalu anggep setiap cewek itu Kiku. Jangan gitu donk. Kalo lo nggak berubah, kapan mo dapet cewek? Walaupun gue selalu anggep elo saingan karena mama lebih sayang sama elo, gue tetep care sama lo, Gie!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Thank’s kalo elo care. Tapi gue nggak pernah ngerasa saingan sama elo. Elo sendiri yang bikin suasana jadi nggak enak, dan elo sendiri yang menghindar dari mama. Jadi jangan pernah salahin mama kalo dia lebih sayang sama gue.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nicky langsung emosi sewaktu mendengar kata-kata Auggie barusan. Ia langsung mendatangi Auggie dan hampir manamparnya, tapi diurungkan niatnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa? Kok nggak jadi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Elo bener, Gie. Emang gue yang salah. Gue selalu menempatkan diri gue di belakang kalian. Gue selalu ngerasa minder, kalo deket sama elo. Walaupun kembar, tapi selalu elo yang jadi pusat perhatian. Elo selalu lebih dari gue…Makanya gue lebih milih ke Australia biar lepas dari baying-bayang lo.” Nicky sama sekali tidak berani menatap Auggie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sorry…” Auggie menepuk bahu Nicky. “Elo juga tau, gue sama sekali nggak pernah mengharapkan semua itu. Gue sama sekali nggak maksud untuk nyinggung masalah ini. Sebaiknya kita lupain dulu. Eh, gue minta elo jangan sakitin Torrie.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nah, ya ketahuan. Elo sama dia pasti ada apa-apanya. Ngaku deh!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gue bilang nggak ada ya nggak ada. Gue janji untuk jadi pelindungnya dia, ya jadi kakaknya.”&lt;br /&gt;“Ooo…jadi kakak adek?! Tapi itu berarti kesempatan gue untuk deketin dia makin gede donk?”&lt;br /&gt;“Serius! Dia itu jangan elo samain kayak cewek-cewek lo itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Calm down, my bro! Dia pasti akan aku jaga juga. Karena dia adalah orang yang dari dulu gue cari selama ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mana mungkin!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“That’s true, I’m serieus. Selama ini gue sengaja ganti-ganti pacar karena gue pengen liat apa ada cewek lagi selain Torrie yang bikin gue…ya lo ngertilah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ok, gue pegang omongan lo. Pokoknya kalo sampe gue denger elo nyakitin dia….ya elo juga harus tanggung resikonya…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“…” tiba-tiba Auggie berheni mencuci mobilnya, dan sepertinya memikirkan sesuatu.&lt;br /&gt;“Kenapa diem?” Nicky bingung dengan perubahan mimik Auggie yang jadi ragu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gue nggak percaya ama elo!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa? Apa gue kurang serius?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gimana gue percaya, ngomong ama cewek aja pake aku kamu, giliran ngomong ama cowok kayak gue elo gue. Nggak deh! Gue nggak percayain Torrie buat elo, elo itu tipe cowok tebar pesona.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ye… gue kirain kenapa. Gue bilangin ya, walau bagaimanapun yang namanya cewek itu suci dan harus dihormati. Dan gue tipe cowok pemuja mereka jadi gue harus menghormati mereka.”&lt;br /&gt;Tiba-tiba sebuah kanebo menampar wajah Nicky. “Huh Gombal!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhasil perang air dan sabun dimulai. Bukannya Kitana yang dimandikan justru mereka berdualah yang harus mandi. Mereka dua saudara kembar yang aneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Stop, Nick!!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Satu hal yang harus elo tau. Jauh di lubuk hati mama, dia pasti sayang sama elo, Nick. Kasih dia waktu. Seenggaknya, elo tinggal di sini sama kami. Yakin deh dia pasti seneng.”Auggie berbicara dengan serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Thanks, tapi kita liat aja nanti.” Nicky berusaha mengalihkan perhatiannya dengan mengelap Kitana.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://www.dollielove.com"alt="target=_blank"&gt;
&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v40/mitsiki/dollielove/welcome6/10.gif"border=0 alt="Glitter Graphics, Myspace Glitters, Myspace Graphics from Dollielove.com"&gt;&lt;/a&gt;
&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22284483-2839165534871249364?l=hayalkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hayalkoe.blogspot.com/feeds/2839165534871249364/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22284483&amp;postID=2839165534871249364' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22284483/posts/default/2839165534871249364'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22284483/posts/default/2839165534871249364'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hayalkoe.blogspot.com/2009/11/torrie-prince-10.html' title='Torrie &amp; the Prince -10-'/><author><name>Hayalkoe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10348172865908700967</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_w0DuuqOjKCg/SoUGPyjsoSI/AAAAAAAAAAU/QSplVZ3wbQ0/S220/DSC_0391.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22284483.post-1118673991928044293</id><published>2009-11-25T19:53:00.000-08:00</published><updated>2009-11-25T20:27:52.475-08:00</updated><title type='text'>Torrie &amp; the Prince -9-</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;Bab 9&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;T&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;orrie menatap kamarnya di seberang. Beginikah rasanya menjadi pangeran yang selalu melihat putrinya yang ada di kerajaan seberang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;Torrie melamun, ternyata ia tidak menyangka, kamarnya terlihat indah sekali bila dilihat dari sini. Tapi pasti pangeran aslinya nggak pernah ngeliat dia dari sini. Apalagi kalau pangeran itu Uggie…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Torrie merasa aneh, kenapa hubungan mereka langsung sedekat ini. Walaupun hanya sebagai adik, entah kenapa sebagian hati Torrie sakit, sebagian lagi merasa senang, karena itu merupakan kesempatan untuk bisa dekat dengan Uggie, bahkan Uggie berjanji akan menjaganya. Tapi…Adik…Torrie hanya pengganti adiknya yang telah tiada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei, jangan sedih donk. Elo lagi mikirin opa lo?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, ampun. Torrie hampir  lupa sama opa kesayangannya. Torrie menjadi benar-benar panik begitu Auggie menyebut opa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Opa itu papanya papi. Opa memang gampang sakit akhir-akhir ini. Penyakitnya komplikasi. Dulu ia pernah  terkena stroke. Torrie benar-benar sedih, apalagi biasanya opa itu paling ngerti Torrie. Beliau selalu memberikan nasehat-nasehat yang selalu tepat dan bijaksana. Bagaimana kalau opa meninggal? Torrie mulai takut membayangkan apa yang akan terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaki Torrie menjadi lemas, ia jatuh terduduk dan menangis. Auggie mendekatkan tubuhnya di sebelah Torrie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tenang aja, Vic. Opa lo pasti nggak papa.” Auggie berusaha menenangkan Torrie.&lt;br /&gt;“Gimana gue nggak tenang? Gue aja nggak tau keadaan opa sekarang! Nggak mungkin dia nggak papa, Gie. Nyokap bokap gue sampai pergi nginep di rumah sakit, itu pasti tandanya penyakit opa bener-bener serius. “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Auggie menjauh setelah mendengar sebuah kata yang ia sangat anti untuk mendengar maupun bicarakan. Torrie kaget melihat perubahan sikap Auggie, dengan segera ia menghapus air matanya. Auggie menyadari perubahan sikapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sorry sebelumnya, tapi gue mohon…please. Jangan nyebut-nyebut kata rumah sakit di depan gue.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa? Apa salahnya dengan tempat itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gue bener- bener anti sama rumah sakit.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Elo anti atau takut?” Torrie memancing Auggie untuk lebih terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tempat itu adalah tempat kesengsaraan, tempat orang-orang sakit yang tak berdaya. Gue bersumpah, selamanya nggak akan mnginjakkan kaki gue di rumah sakit, tempat yang udah merenggut nyawa adek gue dan juga bokap gue.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Torrie sangat terkejut, Auggie bercerita sepertinya ia dendam dengan rumah sakit. Torrie pernah mendengar dari maminya, papanya Auggie meninggal karena kanker.&lt;br /&gt;“Tapi khan yang mengambil nyawa itu khan Tuhan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Justru karena itu, gue dulu nggak percaya sama Tuhan bahkan gue sempet benci sama Tuhan. Gue juga benci sama diri gue sendiri, karena gue tumbuh menjadi orang yang sehat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gue heran, harusnya elo seneng donk jadi orang sehat? Dan yang bikin gue heran juga, kenapa elo ke gereja, kalo elo nggak percaya sama Tuhan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gue benci jadi orang sehat karena gue harus melihat orang-orang di sekitar gue menderita sakit, sedangkan gue yang sehat nggak bisa berbuat apa-apa untuk nolongin mereka. Gue merasa menjadi orang yang nggak berguna, dan lagi hati gue merasa seperti teriris sembilu kalo ngeliat orang menderita sakit, karena gue nggak pernah menderita seperti mereka. Kalo soal Tuhan, jangan dibahas lagi deh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi elo nggak pernah sakit?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Auggie menggeleng. “Jangankan sakit atau luka, flu aja jarang banget bisa hinggap di badan gue. Yang sering adalah rasa sakit di hati gue, kalau ingat adek ama bokap gue.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Torrie sangat kasihan pada Uggie, ternyata orang sehat itu juga menderita. Torrie akan berusaha menutupi penyakit asmanya dari Uggie, apalagi kalau penyakitnya kambuh di depan Uggie, jangan sampai terjadi. Torrie takut, nanti Auggie akan menghindar darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bener? Elo nggak sudi pernah ke rumah sakit?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bahkan cewek gue di Jogja aja sakit tipes di rumah sakit aja, nggak pernah gue jenguk.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cewek? Auggie punya cewek? Hancur hati Torrie…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Elo sayang sama cewek lo itu? Masih jadian?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“YA jelaslah gue sayang, cuma prinsip gue aja yang udah dari sononya. Dia nggak mau ketemu gue gara-gara gue nggak mau jenguk dia. Kalo ditanya masih jadian atau enggak, gue nggak tau.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;S&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;orenya, Auggie buru-buru membangunkan Torrie yang masih tidur siang. Ia mengajak Torrie ke mall untuk nyari baju yang pas untuk pergi ke sebuah pesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayolah! Ikut aja, daripada gue tinggalin elo sendirian di sini. Pembantu gue entar lagi pulang lho, dia kerja sampe sore doank.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya! Iya! Gue ikut! Tapi mau ke pesta ulang tahun siapa sih?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada deh. Ayo buruan kita pergi ke mall. Nggak mungkin khan pake baju biasa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata pakaian yang disarankan Auggie adalah HITAM, biar serasi sama dia nanti malam. Tapi Torrie justru memilih jaket warna putih, tank top putih dan celana ninja putih polos, Auggie kelihatan sangat tidak suka, tapi ia tak banyak komentar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Torrie kira tadinya pestanya adalah pesta formal, ternyata acaranya di tempat terbuka, di sebuah lapangan parkir. Tanpa meja, tanpa kursi, tanpa apapun selain pizza, minuman bersoda dan sekitar 30an puluhan mobil-mobil keren. Torrie bener-bener senang karena berada di suatu tempat yang sama sekali nggak ia sangka, mami kalau tahu ia ada di sini mungkin akan pingsan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei, choy…Udah lama di Jakarta kok nggak main-main ke sini.” Seorang cowok berambut spike menghampiri Auggie dan Torrie yang baru memarkirkan Kitana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Biasa, sekolah baru gue harus nyesuain diri dulu. Jadi nggak sempet ke sini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Woii…Jagoan kita akhirnya dateng juga. Gimana Luke, kabar lo?” Cowok lain berkepala botak ikut nimbrung dan memberikan tos pada Auggie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LUKE?? Kenapa Uggie dipanggil Luke?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh…kecengan baru nih?” Si Botak memperhatikan Torrie yang bertubuh kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“He-eh” Auggie mengangguk. Torrie melotot ke arah Auggie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, Briana bisa-bisa cemburu tuh!” si Spike menghisap rokoknya, Torrie berusaha menjauhi asapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya padahal, dia khan buat acara ini biar elo ikut.” Si Botak nambahin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Luke, mobil lo masih belom selesai?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Entar lagi, mungkin 2 hari lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, gue jadi nggak sabar pengen liat…Eh, kayaknya kita dipanggil deh, Yuk, Pri. Lo kasi selamet aja ke Briana dulu.” Si Botak ngajak Spike pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gie, elo kok bisa kenal deket sama mereka, padahal elo khan orang Jogja.” Torrie yang dari tadi membisu mulai mengeluarkan segala pertanyaan yang dari tadi ia pendam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masa orang Jogja nggak boleh kenal orang Jakarte…Gue khan pernah bilang, gue sering ke Jakarta, ya itu karena gue ikut klub di sini, seperti perkumpulan anak-anak yang suka ngetrek. Makanya bahasa gue sama khan sama elo!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kebut-kebutan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, sebenernya tepatnya nggak kayak gitu. Ngetrek itu buat gue bukan hanya sekedar kebut-kebutan tapi…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sama aja! Nyokap lo tau?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nggak ada sesuatu apapun yang nyokap nggak tau.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terus nama Luke itu nama keren atau samaran, atau nama asli lo?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tiga-tiganya bener! Perkenalkan nama gue Luke Auggie.” Auggie sok seolah-olah baru mengenal Torrie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, tapi gue lebih suka Uggie tuh!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terserah Vic aja deh, mau manggil gue apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hahaha…sialan lo!...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba sebagian jaket putih Torrie memerah oleh softdrink yang tumpah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Upps…sorry nggak sengaja! Sorry ya?” Seorang cewek cantik, bak seorang model. Karena tubuhnya juga tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ngng.. nggak papa kok! Nyantai aja lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ada yang nggak suka sama hal yang baru saja terjadi, ia mengambil minuman serupa dan menumpahkannya tepat di atas kepala tuh cewek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Upps…Sorry gw juga nggak sengaja! Sorry banget ya Briana…” Auggie pura-pura menyesal, ia tahu Briana sengaja menumpahkan minumannya ke Torrie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Happy Birthday, Na! Gue rasa waktunya kita untuk pulang, Rie!” Auggie menggenggam tangan Torrie yang masih bingung akan apa yang barusan terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;A&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;uggie melepas emosinya dengan ngebut, bener-bener ngebut. Torrie sampai takut setengaah matiii… dia memegang erat perut Auggie. Aneh, dia tidak takut lagi.&lt;br /&gt;Punggung Auggie bener-bener hebat! Bahkan rasa dingin yang dari tadi merasuk ke tulang, sudah tidak terasa lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berhenti di suatu tempat yang sama sekali Torrie nggak kenal. Seperti suatu fly over yang belum jadi, dari sini mereka bisa melihat cahaya lampu ibukota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jelasin, apa yang terjadi sih? Lo bikin gue bingung.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“OK, sebelumnya gue minta maaf. Seharusnya gue nggak ngajak elo ke sana….Cewek tadi Briana, dia ngejer gue, tapi gue nggak suka dia. Tadi, dia mungkin jealous sama elo, dia sengaja numpahin minumannya ke elo. Gue jelas-jelas ngeliat itu. Makanya gue jadi emosi. Dan elo tau sendiri apa yang terjadi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata tadi Auggie membelanya, Torrie merasa berbunga-bunga dan tersenyum.&lt;br /&gt;“Ngapain, lo? Senyum-senyum.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lucu aja, yang harusnya marah itu khan gue, bukannya elo. Tapi ini malah elo yang emosi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Elo khan adek gue. Gue juga janji jadi pelindung elo, makanya gue nggak tega kalo elo sampe diperlakukan semena-mena sama orang lain.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Torrie sedih lagi mendengar kata adek… tapi setidaknya sekarang ada orang yang mau melindunginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tenang aja, gue udah terbiasa kok!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hah, terbiasa?! Artinya elo sering digituin sama orang lain donk, jangan bilang si Sheila lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Torrie mulai serem kalo Auggie lagi sensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ehm…kita pulang yuk, tadi nyokap gue misscall, cuma gue nggak berani ngangkat. Takut ketahuan pergi malem-malem gini.” Torrie mencari alasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Auggie berjalan malas ke kitana dan mendudukinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gie, emangnya elo seneng ya memacu adrenalin lo dengan ngebut?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gue seneng banget, seperti punya kepuasan tersendiri. Tapi tadi itu buat pelampiasan emosi gue aja kok. Tenang aja, sekarang gue nggak ngebut.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi itu khan hanya kesenangan sementara, gue rasa elo itu butuh sesuatu yang lebih. Seperti kasih Tuhan, elo bakal damai dan bahagia kalau udah nemuin itu. Elo, bener-bener nggak percaya sama Tuhan lagi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ngapain sih nanya-nanya gituan? Gue bukannya nggak percaya, tapi kecewa. Apalagi Dia itu udah ngambil semua kebahagiaan gue! Omongan lo kok ngaco gitu sih! Udah buruan naik!” Auggie menstarter Kitana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bertahun-tahun gue minta suatu kebebasan, tapi yang ada hanya kesesakan. cuma Tuhan yang bisa buat gue tetep bisa berdiri sampe sekarang. Percaya deh sama gue. Kalo elo percaya sama Tuhan elo pasti bahagia, kalaupun belom, Tuhan pasti ngasi itu nanti. Bahkan gue pun juga lagi menanti kebahagiaan gue.” Torrie menaiki Kitana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Elo ya elo! Gue ya gue! Elo sama gue itu beda! Denger ya, BEDA!! Jangan mentang-mentang gue angep adek, elo mo sok ngatur-ngatur hidup gue.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Elo itu yang nganggep gue adek. Dan elo  tuh, orang teraneh yang pernah gue temui.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Auggie tidak menanggapi omongan Torrie terakhir, ia langsung melajukan Kitana menuju rumahnya. Torrie merasa sedikit bersalah sudah mengatakan sesuatu yang mungkin menyinggung Auggie. Malam yang dingin menjadi semakin dingin…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kruyuk…kruyuk” hal memalukan terjadi, perut Torrie bunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Auggie mendengarnya, “Elo laper, ya? Tadi khan belum makan. Mau makan di mana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Makan di rumah aja! Lagi pula gue vegetarian.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dasar cewek sok vegetarian, bilang aja diet.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gue nggak diet, tapi…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Torrie hampir aja keceplosan, tapi ia hanya melotot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, udah, untung di rumah ada sayur.” Auggie langsung memperbaiki situasi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://www.dollielove.com"alt="target=_blank"&gt;
&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v40/mitsiki/dollielove/welcome6/10.gif"border=0 alt="Glitter Graphics, Myspace Glitters, Myspace Graphics from Dollielove.com"&gt;&lt;/a&gt;
&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22284483-1118673991928044293?l=hayalkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hayalkoe.blogspot.com/feeds/1118673991928044293/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22284483&amp;postID=1118673991928044293' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22284483/posts/default/1118673991928044293'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22284483/posts/default/1118673991928044293'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hayalkoe.blogspot.com/2009/11/torrie-prince-9.html' title='Torrie &amp; the Prince -9-'/><author><name>Hayalkoe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10348172865908700967</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_w0DuuqOjKCg/SoUGPyjsoSI/AAAAAAAAAAU/QSplVZ3wbQ0/S220/DSC_0391.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22284483.post-4133049010050366192</id><published>2009-11-23T20:05:00.000-08:00</published><updated>2009-11-23T20:08:37.482-08:00</updated><title type='text'>Torrie &amp; the Prince -7-</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Bab 7&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;S&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;eharian Torrie berusaha menghubungi Niken, tapi Niken selalu menghindar, yang tidurlah, pergilah. Pokoknya selalu ada alasan untuk menolak telepon dari Torrie.  Bahkan waktu Torrie kirim SMS, pending mulu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Yang ada malah SMS iseng itu terus yang masuk, manalagi misscall-misscall. Bikin berisik aja. Torrie paling nggak suka ada orang iseng gitu, apalagi biasanya dia miscall tengah malem atau enggak subuh-subuh. Torrie merasa nggak tentram aja seharian ini. Torrie menamakannya BRIZIX dalam phone booknya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Papi tahu Torrie pasti lagi bete lagi, papi masih heran, masalah kecil saja udah bikin Torrie uring-uringan. Tapi papi nggak mau nanya langsung, biasanya kalau papi nanyain Torrie kenapa, pasti Torrie menjawab nggak papa. Papi tahu banget sifatnya Torrie yang menganggap segala masalah bisa dia selesaikan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Rie, mau ikut papi nggak?”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Mau ke mana, Pi? Malem-malem gini?”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Mau ikut dulu nggak? Kalo nggak mau juga papi nggak maksa.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Ah, Papi sok misterius deh, Torrie males ah.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Gitu aja ngambek! Papi mau ke Midnigh, dah…” Papi beranjak keluar dari kamarnya Torrie.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Pi, nonton?!” Torrie jadi semangat,udah lama banget dia nggak nonton di bioskop. “Kalo nonton, Torrie pengen ikut. Ya? Ya? Pleasee!” Torrie memelas.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Tunggu apa lagi, kita pergi sekarang. Mami udah papi ajak, tapi seperti biasa dia nolak.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Torrie sangat bersyukur mami nggak ikut, bisa-bisa suasana yang enak jadi nggak enak lagi gara-gara mami. Bukan karena Torrie benci sama mami, hanya saja ia masih kesal akan kejadian yang dulu.&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;P&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;agi-pagi, si BRIZIX udah SMS, Torrie jadi terbiasa bangun gara-gara dia ini.&lt;br /&gt;“MORNING!!!HARI INI GUE ANTERIN LOH! JANGAN TELAT^_^”&lt;br /&gt;Nggak penting banget sih, tapi penasaran juga. Siapa ya?&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat sarapan pagi…&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Rie, papi udah berangkat pagi-pagi buta, ada meeting pagi. Mami juga lagi nggak bisa nganterin kamu, mami pusing banget kayaknya masuk angin.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Mami masih sakit? Jadi Torrie naik taksi donk, atau bus?” Torrie seneng banget bisa naik kendaraan umum.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Mami sakit kok kamu malah seneng. Tadi mami minta tolong anaknya Tante Beth nganterin kamu.” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Uhuk…uhuk…” Torrie tersedak mendengarnya. “anaknya Tante Beth, yang tinggal di depan rumah kita itu? Bukannya dia tinggal di Jogja?”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Iya Tante Beth yang itu. Anaknya pindah sekolah di Jakarta.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Torrie seneng banget sebentar lagi ia akan pergi dengan…Pangerannya. Wow mimpi apa semalem? Yang jelas film yang Torrie nonton semalem itu romantis banget, mungkin sebentar lagi ia akan melakukan adegan-adegan romantis yang ada di sana. Tapi fantasi Torrie tiba-tiba buyar, ia heran kok maminya tumben mempercayakan anaknya dianterin sama orang yang baru dikenal? Jangan-jangan si BRIZIX itu dia lagi?&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Mi, kok mami tumben nyuruh orang yang mami baru kenal untuk nganterin Torrie?”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Sayang, dia itu bukan asing, dia itu anaknya Tante Beth. Dari ceritanya Tante Beth, dia itu anak yang baik kok, jadi mami percaya aja. Lagipula dia itu khan masuk di sekolah kamu!”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Hah di sekolah gue?! Anak baru donk! Torrie mulai mengingat-ingat siapa anak baru di sekolahnya. Ia sangat penasaran&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tin! Tin! Suara klakson motor…&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Nah, itu dia Rie. Cepetan kamu siap-siap gih!”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Torrie jadi sulit bernafas karena gugup, Torrie deg-degan banget. Torrie menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. Puihhh…lumayan membuat nervousnya agak hilang, sedikit. Torrie berusaha membuat dirinya seperfect mungkin.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Begitu keluar Torrie bener-bener terpesona, sampai-sampai tak berkutik. Itu cowok pake jaket hitam kulit, helm hitam yang menutupi kepalanya, dan motornya…wuih keren banget! Dan pastinya juga hitam. Bener-bener kayak pembalap GP. Cara duduk di motornya aja udah keren banget…Pokoknya semua cewek yang ngeliat dia pasti kelepek-kelepek. Torrie jadi sulit bernafas lagi.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Aduh, makasih banget ya. Kamu udah nolongin tante. Tolong jaga Torrie baik-baik ya, Auggie!”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;O…ouw! WHAT?!? Auggie?!? Si Uggie sialan itu? Jangan sampe… Jangan sampe… Tapi yang punya nama seaneh itu khan jarang…  Torrie sampai mundur karena takut menerima kenyataan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt; Senyum Torrie berubah waktu mendengar nama Auggie disebut. Dia berharap itu bukan Auggie yang Torrie kenal. Torrie menggigit bibirnya dengan harap-harap cemas. Keadaan menjadi sangat lambat baginya, semua bergerak secara lambat seperti adegan slow motion, pangerannya membuka helmnya dan… bener itu si Uggie! Torrie syok, kakinya langsung lemes.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Nggak papa kok Tante. Kita satu sekolah ini. Ya, nggak Vic?”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Vic?” Mami heran dan menoleh ke Torrie yang kesel lagi dipanggil Vic.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Lho? Namanya khan Victoria khan tante? Jadi saya panggil dia Vic.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Jadi kalian udah kenal toh?” Mami juga kaget karena mereka sudah saling kenal.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Iya! Dia kakak kelas Torrie. Mi, Torrie berangkat dulu ya!” Torrie cipika-cipiki dulu sama maminya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Nih, tangkep! SMS gue udah diterima khan?” Auggie melemparkan helm ke Torrie. Hampir aja Torie nggak bisa nangkep.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Jadi elo toh, yang selama ini berisik banget miscall-misscall, SMS nggak jelas. Ah udah! Ayo cepetan berangkat! Entar gue telat lagi.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Torrie, jangan ngomong kasar sama kakak kelas kamu donk!” Mami kurang suka gaya ngomong Torrie ke Auggie. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Auggie yang merasa dibela tersenyum penuh kemenangan. “Nggak papa kok, Tante. Udah biasa tuh di sekolah.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Bye, Honey!” Mami melambaikan tangan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dasar bodoh! Auggie pangeran gue? Jogja? Anak baru di sekolah. Harusnya gue tau itu dari tadi. Bodoh! Bodoh! Bodoh! Torrie kesal, sangking kesalnya ia memukul-mukul kepalanya, tapi yang kepukul helmnya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Napa lo?” Auggie melihat Torrie memukul-mukul helmnya dari kaca spion.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“HAH???”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Lo itu kenapa? Mukul-mukul helm.” Auggie membuka kaca helmya supaya bisa didengar jelas oleh Torrie.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Eh… kepala gue agak pusing, mungkin karena nggak biasa make helm.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Dasar manja! Jangan-jangan elo nggak pernah naik motor lagi?”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Udah deh, bisa bawa motor nggak sih? Pelan banget!” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“OK!” Auggie menutup kaca helmnya. “Pegang yang kenceng. Now, it’s time for…”&lt;br /&gt;Auggie langsung tancap gas, Torrie panik. Tubuhnya seakan-akan mau terbang. Dia mau meluk Auggie tapi tengsin banget, tapi apa boleh buat Torrie memegang jaketnya. Motor itu melesat jauh meninggalkan kendaraan lain. Kalau macet, si Uggie bisa-bisanya aja nyari celah-celah sempit buat lewat. Jantung Torrie udah dag-dig-dug takut nyerempet. Karena sudah beberapa kali motor itu  nyaris menyerempet kendaraan lain. &lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;B&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;egitu memasuki area sekolah, Torrie dan Auggie sudah seperti Pangeran dan Putri yang lagi naik motor. Semua mata tertuju pada mereka. Bahkan sewaktu mereka membuka helm masing-masing, semua orang kaget. Beberapa cewek jealous sama Torrie. Torrie sebenernya sangat menikmati situasi ini, dia cukup bangga bisa di samping Auggie, tapi sekarang mungkin semakin banyak cewek yang sebel sama dia karena mereka semua sudah  mengambil kesimpulan gossip yang beredar selama ini benar.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Gimana? Cepet khan? Bahkan bel masih lama tuh, masih 10 menit lagi.” Auggie melihat jam tangannya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Iya, sampe bikin gue mau mampus. Nih helm lo! Gue nggak sudi lagi naik motor sama elo!” Torrie membalikkan badannya meninggalkan Auggie. “Dasar Uggie bodoh!”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Heh! Ngomong apa kau barusan?” Auggie denger umpatan Torrie.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“DASAR UGGIE BODOH!!!” Torrie mengulangi kata-katanya dan berani menatap mata Auggie.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Sopan donk, sama kakak kelas.” Meniru gaya mami. “Nama gue juga bukan Uggie!”&lt;br /&gt;“Elo duluan yang manggil gue, Vic! Nama lo itu susah diinget, ya gue ambil gampangnya aja.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Ya, sama juga donk. Daripada gue panggil Victor  alias vikiran kotor!”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Masa gue manggil elo AA, atau UU atau juga Giegie. Kayak monyet aja. Kenapa juga nggak manggil gue Torrie?”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Auggie ketawa, namanya diplesetin seperti suara monyet, lalu mukanya menjadi serius, rahangnya yang kuat bergerak, wajahnya semakin jantan saja. “Karena gue nggak mau kayak orang lain yang manggil elo Torrie. Gue pengen jadi orang yang berbeda dari yang lain.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tanpa mereka sadari orang-orang sudah pada ngumpul, ngeliatin mereka adu mulut. Begitu diliatin sama Auggie, semuanya pada bubar. “Liat-liat apa mereka? Dasar! Pengen tau aja urusan orang.”&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;I&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;stirahat pertama…&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Nik…Niken…Tunggu!” Torrie mengejar Niken yang masuk ke kelas.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Lo mau apa lagi sih?” Niken berhenti di depan kelas.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Gue minta maaf soal kemaren, gue sama sekali nggak bermaksud…”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Oh, lo jadi udah nyadar? Udah instropeksi diri?”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Gue cuma pengen elo seneng. Bukannya gue mau nentang hubungan elo sama Simon. Gue cuma pengen mastiin kalo Simon bisa buat elo seneng, itu aja.” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Bener?...Elo pengen gue seneng?” Niken seakan nggak percaya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Untuk apa gue bo’ong sama sobat gue.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Torrie dan Niken saling berpelukan. Mereka baikan, Torrie-Niken nggak pernah lama kalau berantem.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Rie, kejadian tadi pagi cukup seru juga. Gosipnya elo dah jadian ama Auggie. Trus tadi berantem soal nama panggilan. Kayaknya elo utang cerita sama gue banyak!” Niken mengajak Torrie melihat pemandangan di balkon kelas.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Iiih…Pada Biggos banget sih! Nik…tapi yang bikin gue syok hari ini, Uggie itu pangeran gue.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Apa?”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Iya, dia itu pangeran gue yang gue tunggu bertahun-tahun lamanya, yang tinggal di depan rumah gue. Tapi berita buruknya ternyata dia itu juga si MR. BRIZIX yang sering gangguin gue di HP.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Jadi dia yang sering gangguin elo?! Terus dia juga yang selama ini jadi pangeran lo?! Tapi pangeran lo itu ternyata beneran? Gue kirain itu cuma fantasi lo aja!”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“??!??”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://www.dollielove.com"alt="target=_blank"&gt;
&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v40/mitsiki/dollielove/welcome6/10.gif"border=0 alt="Glitter Graphics, Myspace Glitters, Myspace Graphics from Dollielove.com"&gt;&lt;/a&gt;
&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22284483-4133049010050366192?l=hayalkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hayalkoe.blogspot.com/feeds/4133049010050366192/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22284483&amp;postID=4133049010050366192' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22284483/posts/default/4133049010050366192'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22284483/posts/default/4133049010050366192'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hayalkoe.blogspot.com/2009/11/torrie-prince-7_23.html' title='Torrie &amp; the Prince -7-'/><author><name>Hayalkoe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10348172865908700967</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_w0DuuqOjKCg/SoUGPyjsoSI/AAAAAAAAAAU/QSplVZ3wbQ0/S220/DSC_0391.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22284483.post-7001496737738986880</id><published>2009-11-23T18:28:00.000-08:00</published><updated>2009-11-23T20:02:42.420-08:00</updated><title type='text'>Torrie &amp; the Prince -8-</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Bab 8&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;T&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;orrie masih pusing dengan masalah Auggie, dia masih nggak percaya ternyata pangerannya ada didekatnya dan si Uggie itu. Torrie tersadarkan diri dari lamunannya, ia melihat ada seorang cewek yang berlutut di depan tiang bendera. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Nik, itu si Sheila?” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Ya, iyalah!” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Lho! Bukannya harusnya dia dihukum dari kemaren-kemaren?” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Kemaren gue sempet nguping waktu ngambil buku tugas di kantor guru, Sheila minta keringanan. Dia ngerasa hukumannya terlalu berat. Dasar manja, lo aja nggak proteskan? Masih untung dia, pagi-pagi gini dihukum, nggak terlalu panas, terus…Rie? Eh, mo ke mana Rie?” Niken yang keasikan cerita, bingung karena yang diajak ngomong menghilang dari sisinya dan ternyata Torrie berjalan menuju tangga. Niken menyusul. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Mau ke sana!” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Ya, ampun, Rie. Jangan nyari masalah lagi deh. Elo itu nggak kapok ya?” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Torrie tetap tidak menghiraukan Niken, ia terus berjalan menuju lapangan upacara. Torrie berhenti sekitar 1 meter dari Sheila. Sheila memandang remeh Torrie. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Mau apa lo?! Mau nyari masalah? Ayo! Atau jangan-jangan mau ngetawain gue. Gue udah kebal, dari tadi semua anak ngeliatin gue. Dan gue sama sekali nggak nyangka kalo elo berani-beraninya laporin gue, padahal khan bukan gue yang nyuruh elo untuk ngaku!” Sheila memalingkan wajahnya dari Torrie. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Sorry, La. Gue ke sini nggak mau nyari ribut. Gue mau minta maaf. Suueer bukan gue yang bikin lo dihukum. Lagian gue juga capek kalo harus ribut terus, gue nggak pernah ada dendam kok sama elo. Gue nggak mau ada dendam di antara kita. Please?” Torrie memberikan tangannya ke Sheila untuk dijabat, tapi tidak dihiraukan Sheila. Perbuatan Torrie ini menarik perhatian orang, hampir seminggu ini, ia selalu membuat semua orang tertarik melihat apa yang akan dia lakukan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Lama sekali tangannya tidak dijabat, Torrie mulai pegal. Semua yang menonton pun ikut deg-degan, apa yang akan terjadi nanti. Ternyata tangan Torrie disambar, tapi bukan oleh tangan Sheila melainkan tangannya Auggie. Ia menarik tangan Torrie sambil berteriak ke Sheila. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Bukan dia tapi gue yang ngelaporin elo dan bikin elo dihukum! Awas kalo elo berani macem-macem ama Torrie. Abis lo!” setelah itu Auggie membawa Torrie menjauh dari lapangan. Ia membawanya ke kamar mandi cewek yang kebetulan kosong. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Elo itu bego? Tolol? Atau goblok sih? Yang salah itu dia tapi kok elo yang minta maaf?!” Auggie benar-benar kesal, mukanya memerah. Karena terlalu kesalnya ia mendekatkan wajahnya beberapa senti dari wajah Torrie. “Jawab!!” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Torrie malah menangis, bukan karena takut. Tapi karena Uggie benar, ia memang bodoh, ia tahu Sheila pasti nggak akan mau baikan sama dia, eh dia malah minta maaf pula. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Niken masuk ke kamar mandi dan berusaha menenangkan Auggie. “Gie, sorry, tapi Torrie biar gue yang urus, elo keluar aja dulu. Biarin dia tenang dulu.” Auggie keluar dari kamar mandi dengan menggebrak pintu kamar mandi terlebih dahulu. Anak-anak yang udah nggak sabar melihat kejadian apalagi yang akan terjadi, menjadi takut akan kemarahan Auggie dan membubarkan diri masing-masing. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Torrie membenamkan diri dalam pelukan Niken, yang mengusap-usap kepala Torrie penuh dengan kasih sayang. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Rie, elo udah tenang?” Torrie mengangguk pelan. “Ok, sekarang elo ceritain gue, apa yang terjadi sebenernya? Apa yang bikin elo nekat kayak gitu?” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Gue bego, Nik! Gue tolol! Gue harusnya tau dia nggak akan mau baikan sama gue, tapi gue cuma pengen damai, Nik. Cuma itu.” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Tapi dia itu sebel sama elo udah lama banget. Bahkan gue nggak habis pikir, kenapa dia bisa sebel banget sama elo?” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Nik, gimana pun gue ikut andil dalam kasus kemarin. Coba gue nggak nyolot, kita pasti nggak tampar-tamparan kayak kemarin. Gue akhir-akhir ini selalu berbuat hal-hal yang bodoh !” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Niken memeluk Torrie kembali, “Ya udah, nggak usah dipikirin lagi, yang penting sekarang elo tenangin diri lo. Eh, iya. Gue rasa si Auggie itu suka sama elo, lo liat sendiri khan? Mukanya yang merah karena nggak suka elo memelas sama Sheila.” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Entah bagaimana Torrie merasakan secercah kebahagian muncul dari kalimat terakhir Niken. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;L&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;orong kelas Auggie berseberangan dengan lorong kelas Torrie, kedua lorong ini disatukan dengan lorong utama menuju tangga. Biasanya Torrie melewati kelasnya si Uggie kalau mau ke perpustakaan, tapi semenjak kejadian kemarin, Torrie jadi nggak enak kalau ketemu Auggie. Tapi mau nggak mau ia harus melewati kelas itu, karena ia harus mengurus kartu perpustakaannya yang hilang. Jadi Torrie memutuskan untuk keluar dari kelasnya menuju perpustakaan, sendiri, karena Niken lagi asyik mojok sama Simon. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Wajah yang sangat ia tidak ingin temui tiba-tiba muncul dari kelas 2 IPA 2. Torrie pura-pura nggak melihat, begitu pula dengan Uggie pemarah itu. Pada saat mereka berpapasan, tiba-tiba ada bunyi HP. Mereka saling melihat curiga. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“HP lo, ya?” Mereka serentak. Tapi suara HP masih terdengar keras. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Masing-masing memeriksa HP yang ada di kantong. Ternyata kedua HP bunyi pada saat bersamaan dengan suara yang sama pula, mereka berdua ternyata juga lupa mematikan HP. Auggie mencari tempat yang nyaman untuk bicara, begitupula dengan Torrie. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa, Mam?” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“APA??... Ngngng…tapi sekarang nggak papa khan, Mam?” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“APA??... Torrie tinggal di rumah Tante Beth, emangnya Bik Sumi ke mana?” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Cuti?... Apa?! Kunci rumah mami bawa?” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Trus, baju Torrie gimana?” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Udah ada di sana semua?” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, miiii…tut-tut-tut” Mami memutuskan HPnya, di depannya Uggie sudah melipat tangannya menunggu Torrie selesai bicara. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Tadi, nyokap lo?” Uggie berusaha selembut mungkin, ia agak menyesal telah membentak Torrie. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Torrie mengangguk malas. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Tadi itu nyokap gue juga, dia udah nyeritain semuanya ke gue. Gue turut sedih ya buat opa lo! Mudah-mudahan dia cepet sembuh.” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Thanks…” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Ehm… Sorry ya, gue kemarin ngebentak elo, gue…” Uggie jadi salting. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Nggak papa kok, gue ngerti. Lagipula gue emang bego kok!” Torrie tersenyum pada Uggie. Uggie berubah lagi menjadi pangeran Auggie dengan senyumnya yang manis itu. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;W&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;alaupun hubungan Torrie dan Auggie mulai membaik, Torrie tetap saja merasa risih harus tinggal serumah sama anak cowok, kakak kelas pula, apalagi nyokapnya lagi pergi ke luar kota. Struktur rumahnya memang nggak beda dengan rumahnya sendiri, tapi tetap saja ia merasa asing. Rumah itu memang kecil untuk ukuran orang sekaya Auggie, tapi nuansanya tetap elegan karena ukiran-ukiran bergaya eropanya. Torrie melihat foto-foto Auggie saat kecil, nggak salah lagi dia adalah pangerannya. Torrie mulai teringat lagi dengan masa lalunya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Rie, gue tunjukin kamar lo.” Auggie membawa tas travel pakaian Torrie sambil menaiki anak tangga yang mirip dengan tangga di rumahnya. Sepertinya ia mulai mengenal situasi rumah itu. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Auggie berdiri di depan sebuah pintu cukup lama, setelah menarik nafas panjang dan menghembuskannya, barulah ia masuk. Sepertinya Auggie ragu untuk masuk ke kamar itu. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Nah, lo entar tidur di sini.” Auggie membukakan kamar, yang bagi Torrie seperti membuka kamarnya sendiri. Karena nggak salah lagi, kamar itu adalah kamar yang berseberangan dengan kamarnya. Untuk kesekian detik lamanya ia kembali ke masa lalu di mana ia selalu menghayalkan pangerannya membuka jendela itu dan berbincang-bincang dengannya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kamar itu gelap, bahkan tirainya belum dibuka. Auggie memencet sebuah saklar, seketika lampu menyala. Tapi tidak hanya lampu saja yang menyala. Ternyata di salah satu dinding kamarnya tepat dihadapan ranjang, ada sebuah kaca transparan. Ketika saklar ditekan, air mengucur dari atas ke bawah, seperti air hujan yang turun di balik kaca itu( mirip water curtain). &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Sorry, kamarnya udah lama nggak ditinggalin, tapi udah diberesin kok.Jadi gue jamin elo pasti nyaman tinggal di sini…Woii…lo denger nggak sih gue ngomong apa?” Auggie kesal karena yang diajak ngomong malah ngak meratiin. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Eh…itu…” Torrie menunjuk ke arah kaca itu, dia masih terpukau melihatnya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Oh, itu. Kamar ini dirancang khusus buat adek gue. Adek gue suka banget sama hujan, tiap hari selalu ngerengek minta main hujan. Tapi nggak mungkin khan. Pertama, mau nyari hujan di mana? Kedua dia itu sering sakit-sakitan jadi nggak dibolehin main hujan. Jadi dibuatlah itu, supaya adek gue nggak sedih lagi. Biar tiap hari dia bisa lihat hujan, ya hujan mainan.” Auggie ikut menatap kaca itu. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Wah, adek lo sama donk sama gue, gue juga suka banget sama hujan. Eh, emangnya elo punya adek, setau gue…” Torrie mulai ingat, setahunya Auggie nggak punya adik.&lt;br /&gt;“Kamar ini banyak menyimpan kenangan, ini kamar adek gue yang udah meninggal waktu gue masih kecil” Auggie menunjukan foto adeknya disalah satu meja. Wajahnya cantik dan juga manis mirip Auggie. Pantas saja Torrie nggak pernah lihat wajahnya, pasti dia meninggal waktu sebelum Torrie pindah ke sini. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Sorry, kalo gue jadi ngungkit kesedihan lo. Jadi ini kamar adek lo, pantes gue nggak pernah ngeliat lo waktu lo liburan ke sini.” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Maksud lo apa?” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Upps, hampir aja Torrie keceplosan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Mak…maksud gue, pantes gue nggak pernah liat elo, soalnya seinget gue lampu kamar ini selalu mati…Ehm, kayaknya elo sayang banget sama adek lo.” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Gue sayang banget sama dia, bahkan sampai sekarang gue nggak bisa lupain dia.” Auggie duduk di ranjang dan pandangannya menerawang jauh membayangkan adiknya yang telah tiada. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Torrie merasa bersalah karena telah mengungkit-ungkit tentang adiknya. “Sorry, gue nggak bermaksud ngingetin elo sama dia.” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Tapi elo udah ngingetin gue sama Kiku.” Tiba-tiba Auggie menatap Torrie, Torrie jadi salting. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Maksud lo, Kiku itu adek lo? Tapi masa gara-gara gue juga suka hujan, gue dibilang kayak adek lo?” Torrie berusaha untuk memecahkan suasana dengan bercanda tapi nggak berhasil karena buat Auggie sama sekali nggak lucu. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Kalo dia hidup, mungkin sebesar elo. Udahlah nggak usah ngomongin dia. Ehm, Vic….Apa elo mau jadi…” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Torrie jadi penasaran apa yang ingin Auggie bicarakan, jangan-jangan dia mau nembak Torrie lagi. Torrie merasa belum siap. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Jadi…jadi adek gue!” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pyong! Ternyata Torrie kege-eran, kege-eran yang cukup membuat hatinya sakit. Tapi apa salahnya gue menganggap dia kakak, mungkin perasaan yang gue alami ini hanya perasaan suka sesaat. Sedangkan hubungan kakak-beradikkan abadi. Bahkan dulu Torrie sangat mendambakan akan adanya seorang kakak dalam hidupnya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Selama di sini elo itu kayak adek gue, entah kenapa elo ngingetin gue sama adek gue. Tapi jujur, perasaan gue murni sayang sama elo, makanya sebenernya gue kemarin nggak terima elo dipermalukan di depan orang banyak seperti itu. Gue pengen jadi pelindung elo, seperti kakak yang melindungi adeknya.” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Kaya artis aja pake pelindung.” Torrie berusaha bercanda, untuk menghibur hatinya yang sakit ketika mendengar sebutan adek. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Mau nggak?” Auggie memberikan kelingkingnya untuk dikaitkan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Kebetulan… gue juga dari dulu pengen punya kakak.” Torrie mengaitkan kelingkingnya di kelingking Auggie. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Jadi iya donk? Tapi entar cowok lo marah lagi sama gue, karena deket-deket sama elo.” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Idih, mana punya cowok gue, nyokap begitu protektif dalam pergaulan gue.” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Ya, kalah donk sama kakak sendiri. Gue udah punya kecengan.” Auggie menyebut dirinya kakak. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Siapa?” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Lo pasti pernah ketemu!” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Siapa?” Torrie jadi penasaran. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Namannya Kitana… tuh ada di bawah.” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Torrie melongok ke bawah jendela yang ada hanya motor hitam. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Mana? Nggak ada cewek kok.” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Auggie menunjuk ke motornya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Suzuki Katana nama panjangnya, panggilannya Kitana.” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Sial! Gue pikir cewek beneran!” Torrie memukul Auggie dengan bantal, tapi Auggie sempet mengelak. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Emangnya kalo bener cewek, kenapa?” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Ya nggak kenapa-napa.” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Eh, coba taro telapak tangan lo di atas telapak tangan gue…” Auggie sok memperhatikan tangan kecil Torrie. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa, bagus ya? Atau elo jangan-jangan mau ngeramal lagi?” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Sembarangan! Gue Cuma mau ngukur ukurannya sama telapak gue, kayaknya kecil banget nih tangan lo!” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tangan Torrie memang terlihat sangat kecil bila dibandingkan dengan tangan Auggie.&lt;br /&gt;“Kalo telapak tangan gue segede ini, berarti telapak tangan gue bisa buat…” Auggie memandang Torrie dengan tatapan mencurigakan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Buat apaan?” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Buat nutup muka lo!” Auggie langsung menutup seluruh muka Torrie dengan telapak tangan kanannya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Aaargh!!! Curang! Serangan tiba-tiba!” Torrie berusaha melepaskan tangan Auggie dari wajahnya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://www.dollielove.com"alt="target=_blank"&gt;
&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v40/mitsiki/dollielove/welcome6/10.gif"border=0 alt="Glitter Graphics, Myspace Glitters, Myspace Graphics from Dollielove.com"&gt;&lt;/a&gt;
&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22284483-7001496737738986880?l=hayalkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hayalkoe.blogspot.com/feeds/7001496737738986880/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22284483&amp;postID=7001496737738986880' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22284483/posts/default/7001496737738986880'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22284483/posts/default/7001496737738986880'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hayalkoe.blogspot.com/2009/11/torrie-prince-7.html' title='Torrie &amp; the Prince -8-'/><author><name>Hayalkoe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10348172865908700967</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_w0DuuqOjKCg/SoUGPyjsoSI/AAAAAAAAAAU/QSplVZ3wbQ0/S220/DSC_0391.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22284483.post-3128007992493167584</id><published>2009-11-15T18:10:00.000-08:00</published><updated>2009-11-15T18:22:25.100-08:00</updated><title type='text'>Torrie &amp; the Prince -6-</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;Bab 6&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;T&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;orrie baru keluar dari sedan tua mamanya dan bergegas masuk ke sekolah, tapi…&lt;br /&gt;“Vic….!”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;Suara itu berasal dari, siapa lagi kalau bukan…si Uggie. Dia lagi kerubunin cewek-cewek. Uggie meninggalkan cewek-cewek itu lari menuju Torrie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei…ke mana aja? Aku dari tadi nungguin lho!” Auggie merangkul Torrie dan menjauhi tempat itu. Cewek-cewek yang ditinggal Auggie sangat kesal dan cemburu sama Torrie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;What!! Aku!! Nggak salah nih?dan apa-apaan ni?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Singkirin tangan lo! Kita khan nggak pacaran!” Torrie melirik ke tangan Auggie yang merangkul Torrie, ia  kesal diperlakukan seenaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sorry, sorry!” melepaskan tangannya dan mengedipkan mata kanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap Auggie benar-benar mengesalkan Torrie, apalagi dia nggak mau dimusuhin sama anak-anak yang naksir sama Auggie. Torrie heran apa yang mereka suka dari Auggie yang menyebalkan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;J&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;angan maksain diri, Rie. Hari ini lari!” Niken mulai cemas dengan tingkah Torrie yang semakin aneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagus itu! Gue mau buktiin bahwa gue juga bisa lari, lo nggak liat tadi gimana semangatnya gue pemanasan. Udah don’t worry lah, Nik. Kalo ada apa-apa tinggal semprot khan gampang. Nih obatnya lo bawa!” Torrie menyerahkan obat semprotnya ke Niken.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gimana kamu siap, Rie?” tanya Pak Leo, guru olahraga. Hari ini ada ambil nilai lari 500 m. Walaupun banyak yang respek sama dia tapi tetap saja masih ada yang meragukan apakah dia bisa menyelesaikan lari 500 m ini? Apalagi cewek-cewek  yang suka sama Auggie, sebab gosip sudah tersebar Torrie deket sama Auggie bahkan ada yang bilang udah jadian. Sekarang mereka jadi sebel lagi sama Torrie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Torrie melangkah denngan tegap ke garis start, mengambil posisi. Di sebelah kanannya ada Sheila yang sedang menonton, ia memandang sinis Torrie. Sheila mengira Torrielah yang melaporkannya ke Bu Heti, nanti siang dia akan menggantikan Torrie berlutut di depan tiang bendera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lihat si Anak Emas mau berjuang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sheila, terserah lo mau ngomong apa? Gue nggak peduli.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siap… Satuuu… Duaaa… Tii…ga!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Torrie bersama dengan keempat temannya langsung lari dengan sekuat tenaga. Torrie benar-benar semangat, walaupun dalam hatinya ia juga khawatir apa dia sanggup melewati garis finish. Ia sunggguh bersyukur karena di garis finish ada Niken sebagai penyemangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nafasnya mulai ngos-ngosan kemudian dadanya mulai sakit dan sesak, larinya mulai melambat. Oh Tuhan, jangan sekarang. Biarkan aku melewati garis finish. Tolonglah aku Tuhan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba datang tenaga kecil, tapi benar-benar sangat membantu Torrie. Bahkan ia bisa melewati teman-temannya yang ada di depannya, tapi begitu melewati garis finish Torrie sudah tidak kuat, dan ia pun terjatuh. Niken langsung menghampirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nik… gu...guee bisa ngelewatin…garis finish khan?” Torrie masih merasakan dadanya sesak sehingga sulit untuk bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, Rie. Lo bisa. Bahkan lebih cepet dari yang lain!” Niken berusaha menenangkan Torrie dan berhasil karena Torrie tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang lo pake nih, obat lo! Lo janji khan sama gue, lo nggak boleh sakit” Niken mengeluarkan obat semprotnya, sebenarnya Niken mau nangis, ia paling nggak bisa ngeliat Torrie kalau mulai sakit. Torrie langsung menghisap obatnya, dan dadanya mulai berkurang sesaknya. Anak-anak muai mengerumuni Torrie&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rie ! Lo nggak papa khan?”Auggie keluar dari kerumunan orang-orang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kok lo ada di sini?” Torrie heran kenapa si Uggie bisa ada di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Auggie tidak menjawab malah menggendong Torrie, hal ini membuat semua anak cewek pada iri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa-apaan sih lo?” bisik Torrie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percuma saja Torrie bertanya-tanya, si Uggie ini tidak menjawab, ia justru menyuruh Torrie untuk naik ke punggungnya, ia membawa Torrie ke UKS. Seperti biasa Niken mengikuti dari belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini udah di UKS, sekarang bisa nggak turunin gue? Gue tau lo pura-pura khan? Acting lo itu berlebihan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nik, tolong bilangin… Pak siapa ya tadi?” Auggie mengacuhkan torrie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pak Leo"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya itu. Bilangin ni anak nggak bisa olahraga lagi.” Auggie memberi perintah dan Niken hanya bisa melaksanakan padahal Torrie memberi tanda agar Niken tidak keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang tinggal kita berdua.” Auggie memandang Torrie dengan licik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gue sudah cerita semua ke Niken, lo nggak usah takut.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“OK! Gue percaya sama Niken... Lo bener, ini cuma bagian dari acting, tapi gue bawa lo ke sini bukan karena nggak ada alesan. Liat lutut lo!” Auggie ngambil obat merah,  tensoplas, dan perban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lutut Torrie berdarah, ternyata jatuhnya tadi membuat luka. Auggie membersihkan lukanya sangat hati-hati sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh…” Torrie meringis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sakit, ya?” Auggie berbicara sangat lembut. Dasar bunglon, tapi Torrie tiba-tiba merasakan sesuatu perasaan yang aneh. Torrie memperhatikan Auggie yang mengobatinya, sepertinya sangat canggung, ia terlalu memperlakukan Torrie secara hati-hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;S&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;elesai jam olahraga, Niken menjemput Torrie di UKS, dan Auggie sudah nggak ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rie, lutut lo kenapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gara-gara jatoh tadi. Gue tadinya nggak ngerasa, si Auggie yang liat. Ini aja dipasangin sama Auggie.” Torrie nunjukin perban yang berantakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cieeee…Torrie! Ada yang meratiin. Walaupun jelek khan yang penting niatnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia gendong gue ke sini, cuma buat acting biar gue ama dia keliatannya deket. Trus, gue nanya ya, Nik. Masa perban sembarangan kayak gini lo bilang niat?!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, iya donk! Kalo nggak niat pasti dia udah ninggalin elo dari tadi…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tau ah!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ehm…Rie…Gue…gue…” Niken gugup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gue gue apaan sih? Ngomong itu yang cepet dan jelas. Suneh banget sih lo!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tadi gue ditembak sama Simon. Dan gue terima!” Niken ngomong dengan cepat sekali, sampai-sampai Torrie bertanya lagi karena masih belum dapat mencernanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, ampun, Nik! Lo khan deket sama dia baru berapa hari. Dan sekarang elo langsung terima dia. Gue hampir nggak percaya, lo biasanya khan nggak gampang…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ooo… jadi elo nganggep gue cewek gampangan ya? Gara-gara gue jadian sama Simon. Rie, mungkin gue baru kenal Simon dari hati ke hati baru beberapa hari, tapi yang namanya perasaan itu nggak ada yang bisa duga. Akhir-akhir ini elo jadi semakin egois, selalu mikirin diri lo. Yang pengen bebaslah, pengen inilah, itulah. Gue cape ngadepin elo ,Rie.” Niken berlari keluar dari UKS, tanpa lupa menutup pintu dengan kencang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nik, kok elo nggak denger penjelasan dari gue dulu, sih! Gue mungkin  agak egois, Nik. Tapi gue juga pengen elo bahagia… &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;S&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;ekolah bener-bener bikin pusing, stress, cape Torrie. Dari si Uggie, Niken, sampai mami pun demikian. Mami nanya-nanya kenapa Torrie sampai bisa ada luka di lutut, Torrie nggak bisa jujur. Kalau sampai dia jujur, bisa-bisa Pak Leo kena semprot mami karena udah ngijinin Torrie lari. Jadi Torrie terpaksa bohong dengan mengatakan nggak sengaja kesandung batu dan jatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mami juga cerewet soal jeleknya itu perban, Torrie berbohong lagi dengan mengatakan Torrie sendiri yang merban. Mami juga nanya kenapa Niken nggak ikut pulang bareng, Torrie juga nggak mungkin jujur ngomong kalau mereka lagi berantem. Jadi Torrie bilang aja kalau Niken udah ada yang nganterin, toh itu bener khan. Si Simon yang nganterin Niken, dia khan cowoknya Niken sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu selesai makan malam, Torrie langsung merebahkan tubuhnya di ranjang sebentar, kemudian menyalakan radionya. Terdengar alunan musik dari lagu terbarunya Glenn Fredley. Torrie emang bener-bener ngefans banget sama Glenn. Bahkan ia berangan-angan pengen nonton Glenn secara langsung. Tapi nggak mungkin, karena mami pasti nggak ngijinin Torrie nonton konser kayak gitu. Tapi senggaknya Torrie merasa terhibur sedikit mendengar suara Glenn.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Torrie duduk di sofa di kamarnya, kemudian memandangi perban di lututnya. Heran, padahal sudah tahu jelek masih saja dipakai, bahkan Torrie jadi malas mandi. Karena kalau dia mandi pasti perbannya harus dilepas.Torrie menjadi heran sendiri, kenapa dia jadi aneh gini, jangan-jangan dia mulai suka lagi sama Uggie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iiiihhh…amit-amit deh. Jangan dibayangin deh, entar jadi suka beneran… Tapi kalo dipikir-pikir, dia baik juga walaupun terkadang suka aneh, dan sifatnya itu lho…yang kayak bunglon. Tapi dia itu emang keren, gimanapun dia kok selalu ada ya waktu gue butuh bantuan, jangan-jangan dia itu orang yang Tuhan utus buat bebasin gue dari kehidupan yang monoton ini. Karena semenjak dia ada di kehidupan gue jadi bener-bener nggak biasa… Kok gue jadi mikirin dia sih?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Torrie melayangkan pandangannya ke arah jendelanya, yang menghadap ke rumah pangerannya. Jendela Torrie cukup besar, karena jendela itu merupakan salah satu sisi tembok kamarnya, kadang ia suka berkhayal berbincang-bincang dengan pangerannya itu, bahkan sampai sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Torrie kaget, karena lampu kamar yang berhadapan kamar Torrie yang selalu gelap, menyala terang dan ada bayangan seorang di sana. Apa itu pangerannya? Kalau benar, sejak kapan dia ada di sana? Torrie sudah lama sekali tidak melihat jendela kamar itu, terakhir mungkin waktu sebelum dia sakit kemarin, yang sampai membuatnya nggak sekolah hampir seminggu lamanya. Perasaan Torrie kaget bercampur senang. Dia terus memandangi kamar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada SMS masuk, nomornya Torrie nggak pernah kenal. Begitu membuka pesannya hanya “HAI”. Dasar orang isenk!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ada SMS lagi. “NAMA”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Torrie malas untuk membalasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SMS ketiga. “GUE”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SMS keempat. “TAU NGGAK?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah, biasanya yang suka bertau nggak itu khan Niken, jadi Torrie pikir ini pasti Niken yang baru beli nomor baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SMS Torrie. “NIQEN, ga usa isenk deh…MLZ tau!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SMS kelima. “Gw emang isenk, tp gw bkn NIKEN! : p”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalo bukan Niken, siapa donk? Kalo Niken pasti langsung ngaku…Bodo amatlah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;H&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;ari ini Torrie pergi ke gereja, hanya Tuhan saja yang bisa membuat hatinya tentram setelah beberapa hari yang melelahkan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi asyik-asyiknya Torrie memuji Tuhan, kursi yang kosong di sebelahnya diduduki cowok yang memakai baju hitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hah…dia lagi. Ya Tuhan kenapa sampai di tempat seperti ini pun dia ada. Apa dia ngikutin gue. Malangnya nasib gue…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Heh...ngapain lo di sini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Elo tuh, aneh banget. Orang ke gereja ya mo nyari Tuhan. Ya mau beribadah. Sstt… gue lagi nggak mau ribut nih!” Auggie sepertinya serius beribadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa yang mo ngajak ribut?! Dasar ge-er.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lutut lo, udah nggak kenapa-napa khan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masih sakit sih, tapi udah kering lukanya…Emang kenapa nanya-nanya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, kalo kenapa-napa, males aja gendong elo lagi…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Torrie hanya diam, dia nggak mau membuat keributan di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan memang benar, Auggie juga tidak komentar lagi, ia mengikuti ibadah dengan serius. Justru Torrie yang agak nggak konsen karena mikirin apa rencana Auggie selanjutnya. Hidupnya akhir-akhir ini suka nggak tenang gara-gara Auggie! Tapi bukannya itu kehidupan yang ia nanti-nantikan, kehidupan yang penuh warna dan kejutan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://www.dollielove.com"alt="target=_blank"&gt;
&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v40/mitsiki/dollielove/welcome6/10.gif"border=0 alt="Glitter Graphics, Myspace Glitters, Myspace Graphics from Dollielove.com"&gt;&lt;/a&gt;
&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22284483-3128007992493167584?l=hayalkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hayalkoe.blogspot.com/feeds/3128007992493167584/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22284483&amp;postID=3128007992493167584' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22284483/posts/default/3128007992493167584'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22284483/posts/default/3128007992493167584'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hayalkoe.blogspot.com/2009/11/torrie-prince-6.html' title='Torrie &amp; the Prince -6-'/><author><name>Hayalkoe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10348172865908700967</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_w0DuuqOjKCg/SoUGPyjsoSI/AAAAAAAAAAU/QSplVZ3wbQ0/S220/DSC_0391.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22284483.post-5765505562989190592</id><published>2009-11-09T19:53:00.000-08:00</published><updated>2009-11-09T20:23:08.734-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='novel blog 1'/><title type='text'>Torrie &amp; the Prince -5-</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Bab 5&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;“&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;H&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;ai…” salah satu anak kelas 1-4 yang nggak pernah dia kenal menyapa.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Hai…” Torrie membalas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Sekarang Torrie harus benar-benar terbiasa menyapa dan tersenyum pada setiap orang yang menyapanya, ternyata jadi orang yang terkenal itu susah juga. Dulu jarang banget ada yang nyapa dia, cuma Niken doang. Emang sih bukan berarti Torrie nggak punya temen, hanya saja sekarang makin nambah aja temennya. Seneng sih punya banyak temen, tapi kadang Torrie pengen seperti dulu. Aneh, bukannya hal ini yang selama ini Torrie inginkan, seperti anak pada umumnya punya temen yang banyak dianggap sama seperti mereka, nggak kayak dulu menjalani kehidupan yang monoton dan kesepian, bahkan kadang ada yang sebel karena menganggap Torrie terlalu dimanjain sama sekolah, ini itu dilanggar dibolehin. Mereka terlalu membesar-besarkan padahal Torrie cuma sering nggak masuk sekolah. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;T&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;orrie berjalan menuju perpustakaan karena disuruh Pak Leo ambil Koran hari ini, Torrie melewati lorong kelas 2 IPA 2. Dari ruang kelas itu tiba-tiba ada cowok yang keluar dari sana, ternyata Auggie. Torrie melihatnya, tapi Auggie seperti pura-pura nggak lihat. Lalu bahu mereka saling bertabrakan, cukup keras sampai Torrie memegang bahunya dan membalikkan badannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Woiii!! Mau lo apa sih?...” Torrie setengah teriak, tapi si Auggie tetep aja melenggang tanpa merasa bersalah dan seperti nggak denger apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dasar Budek!” Torrie kesal, ia mengira Auggie orang baik karena udah nolongin dia kemarin, ternyata…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;K&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;enapa sih lo? Tampangnya bete banget!” Niken ngeliatin muka Torrie yang manyun dan ngedumel mulu dari tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tau nih! Gue lagi males banget. Yuk ke mana gitu kek!” Torrie narik tangan Niken. Niken udah nggak bisa ngomong kalo Torrie lagi kesel. Dia ngikutin Torrie keluar dari ruang kelas mereka,1-5.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;D&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;uh, kenapa dia lagi sih!” Torrie menggerutu karena di kantin ada cowok yang bikin dia kesel seharian. “Rie, lo tadi ngomong apa?” Niken agak nggak konek, tadi Torrie ngomong apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“E…Ehm…Kok kita bisa di sini ya, Nik. Gimana kalo kita ke kelas aja, khan istirahatnya mo abis.” Torrie ngajak Niken balik. Tapi Niken narik tangannya Torrie, “Lo, tuh aneh banget ya? Bukannya elo yang bawa gue ke sini tapi sekarang elo malah kayak orang linglung gitu. Sebenernya elo itu kenapa sih?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum sempat Torrie menjawab sudah ada yang teriak manggil namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“VICTORIA ANNETA!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Torrie langsung menoleh dan mencari asal suara, ternyata cowok itu lagi. Sial! Berani-beraninya dia manggil nama lengkap Torrie. Nggak ada seorang pun yang pernah manggil nama lengkapnya seperti sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nik, kita balik aja deh!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho, yang manggil nama lo itu khan Auggie. Tuh kan dia ngajak kita gabung di mejanya. Ke sana, yuk! Istirahat masih lama.” Niken udah jalan dengan pedenya jalan menuju Auggie sambil narik lengannya Torrie. Torrie merasa seperti kambing yang ditarik untuk kurban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai Vic,…Nama lo Victoria Anneta, khan?” Auggie bertanya dengan polos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Torrie hanya mengangguk dengan malas, ni cowok bener-bener kayak bunglon bisa berubah-ubah kulitnya. Dan satu lagi yang bikin kesel, nama panjangnya disebut lagi dan dia memanggilnya Vic, huh kayak anggota F4.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, Kak. Bener namanya Victoria Anneta! Kalo gue Niken, yang nunjukin ruang UKS waktu itu.” Niken ngajak Auggie salaman dan ternyata dengan ramahnya ini cowok bilang kalo dia masih inget dan mempersilahkan Niken dan Torrie duduk. Ternyata Niken mulai sekongkol ama Auggie mengenai namanya itu, padahal Niken tahu Torrie bakal kesel kalo nama panjangnya disebut. Bertambah dongkollah Torrie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tolong, ya! Nama gue emang Victoria Anneta tapi elo cukup manggil gue Torrie.” Niken dan Auggie agak kaget Torrie ngomong gitu, karena sejak tadi dia diem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“OK! Kalian juga nggak usah manggil gue Kak, khan kita cuman beda setaun doang. Lo pada mau mau makan apa? Gue traktir deh!” Auggie mulai memecahkan suasana dengan tawarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Makasih deh Kak, eh Auggie. Gue udah makan tadi istirahat pertama, kalo Torrie nggak boleh makan sembarangan di kantin soalnya dia itu sak…Adaow!” Niken mengaduh kesakitan karena kakinya diinjak Torrie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa, Nik?” Auggie bingung kok Niken tiba-tiba mengaduh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kakinya tadi agak keseleo, mungkin tiba-tiba sakit. Iya khan, Nik?” mata Torrie melotot ke arah Niken.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi gue khan nggak…” Torrie melotot ke arah Niken. “Iya, kaki gue sakit. Tapi sekarang udah nggak papa kok!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bener nggak papa?” Auggie dengan muka sok khawatir, menurut Torrie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bener! Gue lanjutin deh, si Torrie itu waktu kecil sering sakit-sakitan makanya nyokapnya terlalu overprotektif jagain dia. Makanya juga dia nggak boleh makan sembarangan.” Niken terus bercerita walaupun Torrie yang di sampingnya melototin dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya sayang banget dong! Gue nggak bisa nraktir lo pada.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gie, lo dari Jogja khan?” Niken&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yup!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi kok, lo nggak ada logat jowone?” Niken yang emang orang Jawa, langsung praktekin logatnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hahaha… Ternyata lo bisa logat jawa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, Niken itu, mamanya dari Semarang dan papanya dari Solo. Bahasa sehari-harinya ya bahasa jawa.” Torrie mulai ikut percakapan, ia berusaha melupakan kekesalannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ooo…Gitu. Gue sih aslinya tinggal di Jakarta, nyokap tinggal di sini, tapi sejak kelas 3 SD gue sekolah di Jogja, tinggal ama om gue di sana. Tiap liburan pasti gue ke sini, bahkan tiap hari gue slalu ngobrol ama nyokap gue lewat telpon atau HP. Jadi gue masih fasih Bahasa Indonesia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gila ni anak pasti tajir, bisa nelpon nyokapnya tiap hari! Tapi setajir-tajirnya orang, mana ada yang segitu seringnya nelpon nyokapnya. Jangan-jangan mothercomplex lagi…Pikir Torrie dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;S&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;orry ganggu! Bisa pinjem Niken bentar nggak?” Simon datang dengan sekejap, tanpa ada seorang pun yang menyadarinya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Boleh, dengan senang hati, bahkan kalo lama juga nggak papa!” Torrie sangat ingin membalas Niken yang tadi telah nyebut nama panjangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, udah deh, gue tinggal berdua ya. Gie, jaga sohib gue ini. Entar lagi gue balik ke sini”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Beres!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sial, gue baru inget itu berarti gue di sini berduaan ama si Uggie. Bete banget…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Heh! Jangan bengong, gue tau lo nggak suka deket-deket sama gue khan, Vic?”&lt;br /&gt;Mulai deh sifat lainnya keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nama gue bukan Vic, tapi Torrie!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya elah…, sama aja, apalah artinya sebuah nama itu kata Shakespeare."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Torrie mulai kesel tapi diem aja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ehm…gue minta bantuan donk, Vic?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apaan?!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gampang kok! Lo liat sekitar lo deh, terutama cewek-ceweknya.” Torrie ngeliat mata-mata iri cewek-cewek yang mengarah ke dirinya. “Harusnya elo bangga duduk sama gue di sini, mereka semua iri sama elo karena duduk sama Auggie.” Auggie membanggakan dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ge-er banget sih lo!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terserah sih kalo nggak percaya. Tapi lo khan masih ada utang budi sama gue, bahkan sekarang gue udah buat Sheila dihukum sama kayak lo.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Torrie memandang Auggie dengan mengerutkan keningnya. Ngapain dia bawa-bawa budi segala, dan Sheila??? Tapi saat mata mereka saling bertatapan seperti ada magnet yang membuat mereka tetep bertatapan untuk beberapa detik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mau gue sebutin apa aja utang lo? Pertama gue udah nolongin lo pingsan, terus…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Udah-udah, cepet mau lo apa? Lagian kalo bukan gara-gara lo nabrak gue, nggak bakalan kejadian kemaren terjadi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Heh, kalo mo direview, lo juga salah, nggak ngeliat orang segede gue, kalo gue masih mending nggak liat elo.” Auggie ngeliat badan Torrie yang semampai.&lt;br /&gt;“Mana ada orang minta bantuan, ngejek-ngejek. Jangan pernah nganggep gue remeh ya mentang-mentang badan gue kecil!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sorry! Gini… Gue sebenernya muak sama mereka, mereka deketin gue mulu, di mana-mana gue diikutin. Padahal gue khan butuh privasi!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi, lo pengen gue pura-pura jadi cewek lo, iya khan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan motong dong, gue cuma pengen lo deket aja sama gue, nggak perlu jadian. Dengan begitu, tuh cewek-cewek mungkin nggak ngikutin gue lagi. Gimana, Vic?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“TERSERAH!!!” Torrie terpaksa nerima, gimana-gimana si Uggie itu ada benernya juga, lagipula Torrie nggak perlu jadi ceweknya pula, gampanglah pikir Torrie. “untuk terakhir kalinya, panggil gue Torrie!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;D&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;ia nyuruh lo untuk deket-deket sama dia?” Niken kaget waktu diceritakan oleh Torrie. “Tapi kalo dipikir-pikir masuk akal juga, dia itu cakep, malah paling cakep di sekolah ini, bahkan susah untuk dibandingin sama cowok cakep manapun yang ada.” Soal ini Torrie harus mengakuinya, cewek manapun yang ditatap matanya sama Uggie pasti jantungnya mau loncat, Torrie juga nggak bisa nyari cowok yang bisa nandingi kecakepan cowok ini, kecuali pangerannya, of course. Walaupun dia agak lupa sama mukanya, bahkan sebenarnya udah nggak inget lagi..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi, lo suka sama dia, ya udah gantiin gue aja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Enak aja, gue emang jago nilai cowok, tapi lo tau sendiri khan, cowok secakep apapun yang datengin gue, selalu gue tolak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ooo…ditolak ya? Terus si Simon itu gimana? Ditolak juga?”Muka Niken jadi merah, Torrie semakin yakin hubungan mereka pasti lebih dari sekedar teman. Sepertinya ada percikan-percikan cinta di mata Niken.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://www.dollielove.com"alt="target=_blank"&gt;
&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v40/mitsiki/dollielove/welcome6/10.gif"border=0 alt="Glitter Graphics, Myspace Glitters, Myspace Graphics from Dollielove.com"&gt;&lt;/a&gt;
&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22284483-5765505562989190592?l=hayalkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hayalkoe.blogspot.com/feeds/5765505562989190592/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22284483&amp;postID=5765505562989190592' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22284483/posts/default/5765505562989190592'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22284483/posts/default/5765505562989190592'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hayalkoe.blogspot.com/2009/11/torrie-prince-5.html' title='Torrie &amp; the Prince -5-'/><author><name>Hayalkoe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10348172865908700967</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_w0DuuqOjKCg/SoUGPyjsoSI/AAAAAAAAAAU/QSplVZ3wbQ0/S220/DSC_0391.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22284483.post-2030506534957136404</id><published>2009-11-06T22:27:00.000-08:00</published><updated>2009-11-09T20:29:48.685-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='novel blog 1'/><title type='text'>Torrie &amp; The Prince -4-</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Bab 4&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;T&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;orrie mulai berkeringat dingin. Dia lupa akan perbuatannya kemarin sangat memalukan. Dia takut teman-temannya pasti akan mencemoohnya lagi, bahkan kejadian kemarin bisa dijadikan bahan ejekan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo, Rie… turun donk dari mobil. Papi udah telat! Manalagi mobil di belakang pada tan-tin-tan-tin! Apapun masalah kamu, harus dijalani dengan tenang, satu lagi tarik nafas dalam-dalam lalu hembuskan pelahan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Torrie megikuti saran papinya sebelum keluar dari mobil. Papinya sepertinya selalu bisa membaca pikiran Torrie. “Thanks ya, Pap!” Torrie melambaikan tagannya ke mobil papinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu Torrie melangkah ke pintu masuk sekolah, ia merasa seluruh penjuru sekolah seperti menatapnya. Mungkin ini hanya khayalannya saja, tapi…nggak…ini nyata! Sunggguh sangat nggak nyaman setiap gerak langkahnya diawasi oleh setiap mata. Seolah-olah mereka ini benda mati yang mempunyai mata yang bisa bergerak saja, dan Torrie hanya satu-satunya manusia di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untung penyelamat dateng, Niken, yang langsung memecah kesunyian. “Hueiyou! Pagi, Tuan Putri.” Niken mengucapkan salam mereka. Orang-orang di sekitar mereka mulai melepaskan pandangan mereka dari Torrie dan melanjutkan aktifitas mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hueiyou juga! Nik sini bentar, gue ngerasa ada yang janggal ama anak-anak ini.” Torrie berbisik dan mengajak Niken ke daerah yang ngggak terlalu banyak anak-anaknya. Tiba-tiba ada cewek yang nggak terlalu Torrie kenal tersenyum padanya, karena merasa nggak ada orang lain di sana kecuali dirinya dan Niken (Niken membelakangi cewek itu), so Torrie pun tersenyum kecil karena masih bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh, lo kok jadi senyum sendiri gitu sih?” Niken melihat di belakangnya sudah tidak ada orang, cewek itu sudah lewat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tadi ada yang senyum ama gue, padahal…” belum selesai Torrie ngomong, ada cowok yang tersenyum dengannya, dan Niken pun melihatnya. “Nik lo liat sendiri khan, tadi orang-orang pada ngeliatin gue, sekarang senyumin gue, entar apalagi? Bisa nggak lo jelasin apa yang terjadi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ehm…sebenernya gue nggak tau pasti, denger-denger anak-anak udah pada tau permasalahan yang sebenernya. Kayaknya mereka juga jadi ngerti kenapa lo mau ngelakuin perbuatan kayak kemaren. Intinya, mereka mulai respek ama lo, mereka semua nggak akan nyebut-nyebut lagi anak emas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tunggu, lo tadi bilang respek? Gue nggak percaya? Nggak mungkin banget” Torrie seakan nggak percaya akan apa yang baru saja Niken katakan, tapi Niken mengangguk tanda ia tak berbohong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Haii, Rie! Kemaren lo hebat banget deh! Gue salut, si Sheila itu emang harus digituin. Gue nggak nyangka….” Tiba-tiba ada Tiar yang langsung mendatangi Torrie, setelah itu banyak cewek dan cowok yang mulai mendekati Torrie seperti itu. Mulai dari yang kasih salut, ampe yang nanya pelajaran pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata bener, mereka mulai respek ama gue, tapi gue masih nggak ngerti, apa yang bikin mereka berubah? Dan sampai kapan ini akan terus berlangsung?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;T&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;orrie mulai bosan didekati teman-temannya, lalu ia mencari Niken. Pasti Niken ada di perpustakaan. Ternyata bener! Niken bakal lupa segalanya kalo udah megang novel. Ada kebiasaan aneh Niken kalo lagi baca novel, bibirnya pasti ngikutin dialog yang ada di novel, terus mukanya juga sok ikut disesuaikan, seakan-akan dia adalah pemeran dalam tuh novel. Orang yang baru ngeliat Niken begitu, pasti mikir Niken gila atau lagi latihan teater. Oh iya, dia juga ngambil ekskul teater.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelan-pelan, Torrie mendekati Niken yang sedang duduk mojok baca novel dan…&lt;br /&gt;“DOOR!!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sialan, lo! Bikin jantung gue mo copot aja. Eh, lo pasti udah bosen ya ama anak-anak itu? Makanya lo nyariin gue, khan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dasar geer! Jangan ngomongin mereka lagi, tapi jujur aja gue lebih suka kehidupan gue yang dulu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tuh khan! Niken bilang juga apa.” Niken tadinya mau menggoda Torrie lagi, tapi waktu ngeliat muka males Torrie, Niken mengganti topik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh, lo udah say thanks blom ama Auggie?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gue? Say thanks ama si Uggie?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Woiii…namanya A-U-G-G-I-E, Auggie!’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya...si itulah, nama kok ribet amat. Gue nggak akan say thanks kalo dia blom say sorry first to me. Yang gue bingung, selama gue ketemu dia, dia itu nggak pernah buka mulut. Bisu kali ya? Atau nggak, kata lo dia dari Jogja, mungkin nggak sih dia nggak ngerti bahasa kita?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hahaha…Rie…lo jahat banget sih! Dari Jogja, bukan berarti dia nggak ngerti Bahasa Indonesia, bahkan setau gue mereka juga pake bahasa gaul juga. Auggie kan dari sekolah yang bermutu, makanya masuk IPA. Begitu masuk sini, cewek-cewek langsung ngegebetin dia, tapi dia menghindar terus. Pasiflah! Makanya anak-anak pada kaget juga waktu dia ikut elo berlutut. Sepupu lo, Lara khan juga dari Jogja tapi dia ngerti kok kita ngomong apa.”&lt;br /&gt;“Iya juga ya.” Torrie mikir-mikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Torrie! Lo dipanggil Bu Heti tuh di ruangnya.” Simon yang baru dipanggil Bu Heti karena skornya cukup tinggi, memanggil Torrie yang sedang ngobrol dengan Niken.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hah! Gue dipanggil lagi? Emangnya ada apa?” Tanya Torrie yang heran, tapi Simon hanya angkat bahu dan pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Duh, Nik. Jangan-jangan gue disuruh berlutut lagi. Kemaren kan nggak nyampe 2 jam gue berlutut. Kapok deh gue!” Torrie memukul-mukul jidatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Makanya, jangan punya pikiran gila lagi. Tau nggak, lo?” Niken mulai ‘bertau nggak lo’. “Perbuatan lo itu bisa bikin si Sheila tambah benci ama elo. Dikiranya elo carmuk, apalagi semua orang respek ama lo sekarang. Gih, buruan pergi, entar kalo kelamaan, Bu Heti tambah naik darah!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Torrie langsung keluar dari perpustakaan menuju ruang kepsek dengan langkah gontai. Sesaat setelah Torrie keluar, ada cowok yang masuk ke perpustakaan dan menghampiri Niken yang melanjutkan membacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai, Nik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh, elo, Mon!” Niken kaget melihat Simon datang lagi. “Torrienya udah pergi tuh!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gue nggak nyari dia. Gue…ada perlu sama elo, Nik!” Simon mulai salting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh…ya udah ngomong aja. Ada apa?” Niken yang mulanya kaget berusaha menenangkan diri, karena tumben Simon yang bandel ngajak ngomong dia. Daftar pelanggaran yang udah dibuat Simon itu banyak banget, dia itu nggak naik dua kali. Tapi kalo mau lebih diteliti, preman yang badannya udah kebentuk karena fitnes, itu nggak bego kok. Niken sekelas ama dia dan Niken tahu Simon adalah anak pintar. Hanya saja mungkin karena alasan tertentu dia jadi pemberontak seperti itu. Mukanya juga lumayan, apalagi kalo salting kayak sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ng…ngng…Nik, mau nggak entar gue anterin pulang?” Simon makin salting dan nggak berani natap matanya Niken.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Boleh juga.” Niken heran sama dirinya sendiri, biasanya walaupun ada ratusan ajakan untuk dianterin, dia selalu tolak. Kok sekarang, dia malah terima dan tersenyum lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simon yang kaget langsung mengangkat mukanya dan tersenyum berseri-seri. “Thanks, lo mau terima ajakan gue. Ehm…jangan lupa ya entar pulang sekolah” Simon masih tersenyum-senyum dan berjalan mundur, dan dia nggak tahu ada tumpukan buku di belakangnya dan “BRAK!!!”. Buru-buru Simon meletakkan kembali buku-buku itu, lalu melambaikan tangannya ke Niken, masih berjalan mundur, dan masih juga menabrak-nabrak orang. Niken yang melihatnya berusaha unutuk menahan tawanya. Tapi akhirnya dia tersenyum simpul, karena nggak nyangka Simon bisa salting juga. Jangan-jangan dia suka sama gue lagi? Tapi nggak papa, lucu juga. Kok gue terima ajakannya ya? Tau ah! Biar perasaan ngalir aja…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Niken masih tersenyum tak henti-hentinya, dan baru kali ini ada yang bisa menghentikannya dari hobinya, baca novel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;P&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;ermisi, Bu.” Torrie langsung memasuki pintu yang terbuka itu. Torrie sempat tertegun karena ada si Uggie yang duduk di hadapan Bu Heti, dan TERSENYUM, smile to me. Mau apa dia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo duduk, Rie!” Bu Heti sangat ramah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kemarin, Auggie sudah cerita semuanya, dan dia ngaku salah, makanya Ibu suruh nemenin kamu kemarin. Tadinya Auggie minta supaya kamu nggak dihukum, tapi karena kamu nggak jujur sama Ibu, jadi hukuman tetap berjalan. Dan kamu juga terlalu memaksakan diri dan pingsan. Untung ada Auggie yang cepet nolongin. Sekarang kamu coba jelaskan kenapa mesti bohong?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Good! Kenapa dia berubah 180 derajat? Pake senyum segala. Dan Bu Heti terlalu menganggungkan dia bagai dewa penyelamat gue. Manalagi gue kejebak sama pertanyaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baik. Ibu nggak akan maksa kamu untuk bicara. Tapi kamu nggak dipaksa siapapun khan untuk bohong?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nggak, Bu. Nggak ada yang maksa saya” Torrie menjawab dengan cepat, sesebel-sebelnya dia sama Sheila, nggak bakalan Torrie fitnah Sheila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“O ya, Ibu hampir lupa. Gie…kamu belum minta maaf khan sama Torrie kemarin?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Auggie berdiri dan menawarkan tangannya untuk dijabat Torrie. Torrie hanya menoleh, dan salahnya dia melihat mata tuh cowok yang cukup bikin Torrie terpesona, sepertinya dia tulus. Torrie pun berdiri dan menjabat tangan Auggie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sorry, ya…Gara-gara gue nggak minta maaf, jadinya gini deh.” Auggie tersenyum sangat manis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sama, gue juga, waktu itu marah-marahin elo. Ehm…Thanks juga waktu gue pingsan kemaren, lo dah nolongin.” Torrie masih menatap Auggie penuh curiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Never mind.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu kembali dari ruangan kepsek, Torrie dan Niken sama-sama jadi diem. Mereka melayang dengan pikiran masing-masing. Pulang sekolah baru Torrie cerita kejadian di ruang Bu Heti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu artinya, Auggie nggak seburuk yang lo kira, Rie”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi bisa aja, khan. Dia itu cuma pura-pura baik di depan Bu Heti doang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Duh, Rie. Lo jangan suka prasangka buruk sama orang, nggak baik tuh!” mata Niken jelalatan nyari seseorang dan akhirnya orang yang ia cari-cari sudah melambaikan tangan dari tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ehm…Rie. Gue pulang nggak bareng ama lo ya, hari ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Emangnya kenapa? Tumben?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gue…dianterin sama…” Niken menunjuk ke arah Simon yang udah nggak sabar dengan motornya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hah?!? Serius lo? Nggak salah?” Torrie menahan tawanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Entar deh gue ceritain di telpon! Bye..Torrie” Niken berjalan menuju Simon yang juga berjalan untuk nyamperin mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Torrie sempat bingung, kok Niken bisa deket sama Simon. Torrie ngebayangin kalo mereka jadian. Lucu juga! Torrie hanya bisa menggeleng untuk sobatnya ini. Sebenernya Torrie kurang setuju kalo Niken deket sama Simon, soalnya Simon itu anaknya urakan, kalo udah marah sereeemmm. Entar jangan-jangan Niken diapa-apain sama Simon. Tapi bisa juga si Simon ini berubah karena Niken. Torrie cuman pengen Niken seneng, hanya Niken yang care sama Torrie selama ini.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://www.dollielove.com"alt="target=_blank"&gt;
&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v40/mitsiki/dollielove/welcome6/10.gif"border=0 alt="Glitter Graphics, Myspace Glitters, Myspace Graphics from Dollielove.com"&gt;&lt;/a&gt;
&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22284483-2030506534957136404?l=hayalkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hayalkoe.blogspot.com/feeds/2030506534957136404/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22284483&amp;postID=2030506534957136404' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22284483/posts/default/2030506534957136404'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22284483/posts/default/2030506534957136404'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hayalkoe.blogspot.com/2009/11/torrie-prince-4.html' title='Torrie &amp; The Prince -4-'/><author><name>Hayalkoe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10348172865908700967</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_w0DuuqOjKCg/SoUGPyjsoSI/AAAAAAAAAAU/QSplVZ3wbQ0/S220/DSC_0391.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22284483.post-2554246071650342710</id><published>2009-11-04T19:09:00.000-08:00</published><updated>2009-11-04T19:57:18.416-08:00</updated><title type='text'>Torrie &amp; the Prince -3-</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;Bab 3&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;O&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;tak Torrie sudah berpikiran buruk tentang cowok ini. Torrie takut dia hanya mencari masalah dengan Torrie, padahal sekarang Torrie udah nggak punya power lagi untuk berantem lagi, apalagi sekarang Torrie mulai pusing dan berkeringat dingin. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Mau apa lo ke sini?? Mau ngejek ya?” tanya Torrie yang mulai pucat.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Bukannya menjawab tu cowok malah ikut berlutut di sebelah kanan Torrie. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Heh! Ngapain lo?!? Nggak usah sok solider deh, pake ikut-ikutan berlutut segala.”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Cowok itu hanya menatap Torrie dengan wajah dingin, Torrie paling nggak suka dengan orang yang bertipe seperti ini, diam saja kalau ditanya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Lo itu bisu ya? Apa tuli?... OK, what ever! Mendingan elo jauh-jauh dari gue.” Torrie sudah cukup kesal dengan kebisuan cowok itu. Torrie sempat berpikiran, jangan-jangan dia bener-bener bisu dan dia nyesel terus ikut berlutut. Tapi Torrie juga cukup pusing bahkan sangat pusing sekarang, matanya sudah berkunang-kunang. Mukanya sangat pucat. Dunia seakan berputar-putar di hadapannya dan tubuhnya terasa sangat ringan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Bel pun berbunyi tanda pelajaran akan dimulai. Niken nggak tega ninggalin Torrie yang pucat, tapi apa boleh buat, ia harus masuk ke kelas. Tepat saat Niken membalikan badan menuju ke kelas, saat itu ia mendengar teriakan orang-orang “DIA PINGSAN!!!”. Begitu Niken menoleh, ternyata Torrie sudah tergeletak di pangkuan Auggie. Semua orang ikut terkejut, bahkan yang ada di dalam semuanya keluar untuk melihat apa yang terjadi. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Auggie langsung menggendong Torrie, Niken yang sudah ada di samping Auggie bingung harus berbuat apa karena panik. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Di mana UKS-nya?” Auggie bertanya pada Niken. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Ikut saya, Kak.” Niken langsung menunjukan letak UKS. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Begitu masuk UKS pintu langsung ditutup karena buanyak anak yang mau lihat Torrie, di ruang UKS hanya ada dua guru, Niken, dan Auggie. Torrie langsung dibaui minyak kayu putih agar sadar. Niken melihat Auggie bakal keluar dari ruangan itu, ia harus berterima kasih atas nama Torrie. “Makasih ya, Kak.” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Seperti biasa Auggie hanya mengangguk kecil, bedanya sekarang dia agak salting dan pucat. Niken baru sadar, muka Auggie berubah pucat semenjak Torrie ada di pangkuannya, jangan-jangan ketularan pucatnya Torrie. Ah, ada-ada aja. Masa di saat kayak gini gue masih sempet berpikiran konyol… &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Nggak seberapa lama, Torrie pun akhirnya bangun. Tadinya Niken dipaksa salah seorang guru untuk kembali ke kelas tapi dianya aja yang tetep ngotot untuk tetap tinggal. Kedua guru itu meninggalkan dua sahabat itu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Jangan natap gue kayak gitu donk! Gue nyadar kok kalau gue itu salah dan emang bego.” Torrie menyesal. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Jujur aja Rie… gue ngerasa akhir-akhir ini, elo itu udah berubah. Lo tuh, jadi aneh banget. Sering marah-marah nggak jelas, terus selalu ngomong pengen hidup normal dan masih banyak lagi. Gue… Ah, udahlah nggak usah dimongin lagi. Yang penting sekarang lo dah nggak papa kan?” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Ya ampun, Nik. Lo jangan jadi nyokap kedua gue donk. Gue nggak papa lagi. Eh iya, ngomong-ngomong soal nyokap… Please ya jangan kasih tau nyokap soal ini..” Torrie memohon dengan amat sangat. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Iya…iya. Tau nggak?” kebiasaan buruk Niken bertanya tanpa ada keterangannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Tau!” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Emangnya lo tau apa? Sok tau banget.” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Lagian loenya juga nanya nggak jelas gitu. Emangnya ada apa lagi?” Torrie menatap Niken penuh curiga karena Niken tersenyum penuh misteri. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Tadi ada adegan romantis…begitu lo pingsan orang pertama yang nolong lo itu si Auggie…” Niken langsung nyerocos tentang bagaimana Torrie pingsan sampai di bawa ke UKS, pokoknya ceritanya komplit banget, sampai-sampai mukanya Auggie yang pucat pun diceritain juga. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Jadi yang namanya Auggie itu yang mana, Nik?” Torrie bertanya dengan polos.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Aduh, lemot banget nih anak! Auggie itu kakak kelas kita yang nabrak lo itu, yang ikut berlutut…” belum selesai Niken ngomong Torrie memotongnya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Ooo…jadi cowok yang bisu itu, yang songong itu. Yang bikin badan gue sakit semua, yang datengin gue pas gue dihukum itu…” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Cukup, Rie. Bener, ya dia itu. Masih untung ada dia, lo harusnya bilang makasih ama dia, karena udah nolong lo. Lo istirahat aja deh, gue udah ketingggalan pelajaran nih, gara-gara lo. Bye!” Niken melangkah keluar dari UKS. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Bener juga kata Niken. Entar aja deh gue bilangnya. Kepala gue kok masih pusing ya… Kapok deh gue berlutut di tengah lapangan, di siang bolong pula. Kaki pada kesemutan dan lutut gue sakit bahkan pada lecet-lecet. Ternyata hidup normal itu susah juga… &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;D&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;ah Nikeennn…” Torrie membuka kaca mobilnya yang mulai melaju. Seperti biasanya, maminya nggak pernah absen untuk menjemputnya. Biasanya Niken ikut, tapi dia lagi ada keperluan jadi nggak bisa ikut. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Rie… Kamu bener-bener nggak papa? Kamu kelihatan pucat!” Tanya maminya sambil menyetir. Torrie sudah bosan setiap ditanya seperti itu. Nggak di sekolah, di rumah, atau di mana pun pertanyaan itu selalu keluar. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Mam, Torrie nggak papa. Cuman… pusing dikit” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Tuh kan, mami bilang apa, jangan sekolah dulu. Gini kan jadinya…”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Mamiii… Torrie bisa jaga diri. Torrie tau banget keadaan tubuh Torrie. Mami sekarang nggak usah khawatir lagi. Mam… besok aku sekolah naik bus aja ya?” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Mobil direm mendadak, sampai-sampai kepala Torrie hampir mengenai dashboard. Maminya itu kaget mendengar permintaan anak satu-satunya itu untung aja mereka ada di pinggiran dan untungnya lagi jalanan lagi sepi. “Nggak boleh. Lagipula untuk apa Rie?” Mami menoleh kearah Torrie.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Naik taksi deh. Boleh ya…” pinta Torrie manja.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Tetep enggak. Kamu harus berangkat bareng papi titik. Aneh-aneh aja kamu itu.”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Mami jahat! Masa mami nggak pengen ngeliat anaknya mandiri?” Torrie merasa sangat kecewa. Suasana di mobil menjadi benar-benar hening hingga sampai di rumah pun demikian. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Udah donk, Rie… Masa masih ngambek. Kayak anak kecil aja!” Mami berusaha untuk bercanda dengan Torrie, tapi Torrie hanya menatap maminya seperti ingin berkata ‘Please donk, Mi!’. Kalau lagi sayang dan pengen ngerayu maminya, Torrie akan memanggilnya ‘Mam’, tapi kalau lagi ngambek dan agak kesel, Torrie memanggilnya ‘Mi’, dan kalau kesel banget, Torrie akan memanggilnya secara lengkap ‘Mamiii’ &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Jadi kamu serius?” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Mami setuju Torrie naik bus besok?!?” mukaTorrie yang manyun berubah ceria lagi, mengira akan diberi kesempatan unutuk menjadi orang normal. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Siapa yang setuju? Bagaimana pun juga naik bus itu banyak bahayanya, bahkan naik taksi sekalipun. Eh… Mami lagi ngomong kok kamu malah pergi, mau ke mana?” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Torrie mau naik ke atas. Tidur!! Torrie cape! Cape ama sekolah, cape ama rumah. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Nggak ada yang ngerti Torrie… Mau ini nggak boleh…Mau itu nggak boleh…” Torrie mengomel sambil manaiki anak tangga satu-persatu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Maminya merasa serba salah, selama ini ia melarang Torrie ini itu demi kebaikan &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Torrie. Ia tahu, sejak lama Torrie sangat ingin hidup normal seperti anak lainnya, tapi bila ia mengabulkan permintaan Torrie, jika terjadi sesuatu padanya, maminya tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri. Maafkan Mami, Rie… &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Di kamar, Torrie langsung menelungkup di ranjang dan seperti biasa, ia menangis. Hidup ini terasa nggak adil. Tuhan yang selama ini menjadi sahabatnya, sepertinya membisu melihatnya seperti ini. Ya Tuhan kenapa Torrie nggak bisa hidup kayak orang biasa… &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;T&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;ok, tok, tok, pintu kamar Torrie diketuk untuk yang kesekian kalinya… Papi sudah menunggu lama di depan pintu. Begitu sampai dari ruang, mami langsung cerita semuanya ke papi. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Di rumah ini mereka memang tinggal bertiga. Kalau mami dan Torrie berselisih pendapat, biasanya papi yang jadi penengah. Selain itu papi juga selalu menjadi teman curhat mami dan Torrie. Papi itu orang yang paling bijaksana dan pengertian.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Jadi papi sudah sangat tahu kebiasaan Torrie kalau lagi ngambek. “Rie, bangun! Dah malem nih… Masa mau tidur terus sampe pagi. Atau kamu lagi ngambek ya? Kamu kan bisa cerita ke Papi.” Papi masih berusaha membuat Torrie terbangun dari tidurnya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Ternyata Torrie sedang di alam bawah sadar, dia bermimpi. Di mimpinya itu ia melihat dirinya pingsan dan cowok yang sok cool atau mungkin cold itu, dengan sigap menahan tubuhnya, cowok itu melihatnya penuh dengan kekhawatiran. Entah kenapa Torrie bisa merasakan jantungnya berdetak 100x lebih cepat dari yang biasanya, nafasnya juga sesak tapi bukan gejala dari penyakitnya yang biasa kambuh. Perasaan itu sangat berbeda dan belum pernah ia rasakan, Torrie merasa aman dan bebas. Perasaan inilah yang ia selalu ia nantikan. Dan tiba-tiba Torrie mendengar suara tok,tok,tok… Torrie akhirnya terbangun dan membukakan pintu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Ah, Papiii… ganggu Torrie tidur aja.” Torrie menggaruk rambutnya dan mengucek matanya yang juga masih bengkak karena menangis tadi. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Eh, neng…ini udah jam berapa?” Papi yang sudah capek berdiri, menyandarkan tubuhnya di tembok. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Torrie berusaha melihat jam dindingnya sambil mengucek-ngucek mata kanannya dan memicingkan mata kirinya, “Hah!! Udah jam 9!!” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Tuh kan! Untung aja papi bangunin, kalau ngggak, kamu pasti baru bangun besok malam tau! Sekarang kamu harus cerita, kamu sama mami kenapa lagi?” Papi langsung masuk dan duduk di ranjang. Torrie menutup pintunya dan duduk di kursinya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Papi pasti udah diceritain ama mami, kan?” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Mami memang udah cerita. Papi bukannya mau ngebelain mami, hanya saja dia itu melakukan ini semua demi kamu, Rie. Dia itu sayang banget sama kamu.” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Tapi, Pi…Torrie cuman pengen ngerasain hidup seperti orang biasa…” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Papi ngerti banget, Rie. Sudah jutaan kali, kalimat itu kamu lontarkan. Mami pun ngerti, mungkin dia memang agak protektif ke kamu.” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Mami tetep aja nggak pernah ngerti Torrie!” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Jangan gitu donk, Rie. Kalau papi jadi mami, papi pasti juga ngelarang kamu naik taksi atau bus atau yang lainnya. Kamu baru sembuh, khan? Ya udah, sekarang kamu mandi pake air panas, terus makan bareng mami papi.” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Mami ama papi belum makan?” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Nah, ini dia bentuk kasih mamimu. Begitu papi nyampe di depan pager, mamimu langsung nyamperin papi. Papi pikir kok tumben papi disambut, kirain mami lagi pengen ama papi.” Papi memainkan matanya dengan nakal. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Torrie tertawa dan bertanya, “Pengen apa, Pap?” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Ah, kamu kayak nggak tahu aja?” Papi mencolek perut Torrie, daerah sensitif Torrie. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“Eh, tahunya mami malah cerita tentang kamu. Papi dipaksa ngomong ama kamu, katanya cuman papi yang bisa kamu ajak ngobrol. Dan sebenernya mami kamu yang nyuruh kamu mandi air panas dan makan. Buruan ya, mami nungguin dari tadi.” Papi keluar dari kamar Torrie dan Torrie kembali menutupnya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Torrie langsung masuk ke kamar mandinya, yang berada di kamarnya. Torrie langsung menyalakan shower yang warm. Kata orang berdiri di bawah shower seperti membuat masalah agak berkurang. Mungkin itu ada benarnya, karena sekarang Torrie merasa lebih rileks dan segar. Ia juga sangat senang , karena berdiri di bawah shower sama seperti berdiri di bawah hujan. Hal yang selalu ia ingin lakukan. But, of course! Mami nggak pernah ngijinin Torrie untuk main air hujan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Tadi Torrie nggak banyak ngomong, dia merasa nggak ada gunanya bicara panjang lebar untuk menjelaskan keinginannya. Torrie sangat yakin mami papi pasti sayang dengannya…tapi tetep aja mereka pasti nggak akan pernah ngijinin Torrie untuk melakukan hal-hal yang ia ingin lakukan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Tiba-tiba terlintas wajah cowok itu lagi. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;O, iya, tuh cowok kok bisa-bisanya ada di mimpi gue ya. Padahal kan baru ketemu hari ini. Tapi kok gue kayaknya pernah ketemu ama dia ya…mukanya sih asing tapi matanya itu bener-bener ngingetin gue ama seseorang, tapi siapa? Eh…ngapain juga mikirin orang kayak dia. Kalau nggak salah namanya…U…Uggie…ya ya ya pokoknya sejenis itu, nama yang aneh. Iiiiihh…kok gue masih mikirin dia sih?!? Mendingan gue mikirin pangeran gue, lagi ngapain ya dia di Jogja.Yang dimaksud pangeran itu adalah tetangga depan rumahnya yang pindah sekolah ke Jogja. Torrie percaya itu adalah LAFS (Love at First Sigh), karena Torrie hanya melihat pangeran itu sekali waktu ia pindah ke rumahnya itu, bertepatan pangerannya pindah ke Jogja. Waktu itu Torrie berumur 5 tahun. Padahal mamanya pengeran masih tinggal di sana, tapi Torrie nggak pernah punya keberanian untuk bertanya segala sesuatu tentang pangerannya. Lagipula, Tante Beth, mamanya pangeran itu janda sekaligus wanita berkarier.&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://www.dollielove.com"alt="target=_blank"&gt;
&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v40/mitsiki/dollielove/welcome6/10.gif"border=0 alt="Glitter Graphics, Myspace Glitters, Myspace Graphics from Dollielove.com"&gt;&lt;/a&gt;
&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22284483-2554246071650342710?l=hayalkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hayalkoe.blogspot.com/feeds/2554246071650342710/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22284483&amp;postID=2554246071650342710' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22284483/posts/default/2554246071650342710'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22284483/posts/default/2554246071650342710'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hayalkoe.blogspot.com/2009/11/torrie-prince-3.html' title='Torrie &amp; the Prince -3-'/><author><name>Hayalkoe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10348172865908700967</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_w0DuuqOjKCg/SoUGPyjsoSI/AAAAAAAAAAU/QSplVZ3wbQ0/S220/DSC_0391.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22284483.post-1710668678491509036</id><published>2009-11-03T18:01:00.000-08:00</published><updated>2009-11-03T18:08:09.058-08:00</updated><title type='text'>Torrie &amp; the Prince -2-</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;Bab 2&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;K&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;a…Kamu yakin akan hukuman ini?” Ibu Heti bertanya dengan tergagap karena ia masih tidak percaya atas apa yang diucapkan Torrie. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Lho, justru saya yang heran, bukannya peraturan harus ditegakkan untuk semua orang. Saya ini murid biasa sama seperti yang lain. Saya rasa, saya tidak perlu diberi keringanan.”&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Tapi…”&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;“Saya tau yang Ibu khawatirkan. Tenang saja Bu, saya sekarang dalam keadaan fit.”&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;“Ba…Baiklah kalau begitu nanti kamu harus berlutut di depan tiang bendera mulai dari jam 11 sampai jam 1. Sheila bagaimanapun  juga kamu juga bersalah, nanti kami akan memikirkan hukumanmu besok. Dan kamu, Torrie, sebelum jam 11 teng, kamu harus ada di sini. Sekarang kalian kembali ke kelas kalian.” Ibu Heti masih merasa bersalah telah menjatuhi hukuman itu kepada Torrie.&lt;br /&gt;“Permisi, Bu” Torrie dan Sheila berbarengan.&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;T&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;ernyata banyak anak yang penasaran dengan keadaan di dalam, mereka berusaha untuk menguping. Begitu pintu dibuka oleh Sheila, anak-anak yang menguping pada jatuh dan alhasil mereka menjatuhkan tubuh Sheila.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;“Aaaaaargh…. Kalian ini bener-bener nggak punya aturan apa? Seenaknya nguping dan sekarang badan gue yang bagus ditibani pula. Dasar Sial!!! Kalian itu bener-bener bego!” Sheila berusaha berdiri dan memeriksa tubuhnya. (Melihat caranya bicara, orang-orang yang mau menolongnya malah tidak jadi menolong, alias ilfil)&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;“Cukup Sheila! Kamu harus bicara yang sopan. Dan kalian anak-anak pergi ke kelas masing-masing, kalau sampai Ibu masih melihat ada anak yang di depan ruang Ibu, nanti harus menemani Ibu di ruang. AYO CEPAT!” Ibu Heti gusar akan kelakuan murid-muridnya, terutama pada Sheila yang sungguh-sungguh manis perkataannya.&lt;br /&gt;Semua orang di sekitar ruang kepsek, bahkan sampai di pintu gerbang kaget mendengar teriakan Ibu Heti dan mereka terdiam beberapa detik. Begitu detik terakhir, anak-anak yang menguping tadi baru menyadari resiko yang harus ditanggung kalau mereka tetap di sana. Tak ada seorang pun yang mau menemani Ibu Heti di ruangnya. Oleh karena itu mereka langsung ngibrit lari menuju kelas masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Dalam hati, Torrie tertawa karena melihat reaksi Sheila yang langsung pucat waktu dibentak Bu Heti. Salah sendiri nggak liat-liat tempat kalau mau mengumpat, apalagi di sana ada Bu Heti yang sangat mengutamakan kesopanan.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;“Rie…Torrie…Lo nggak papa kan? Kok bengong? Eh iya tadi diapaian aja di dalem?” Niken bertanya karena penasaran.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;“Hah…nggak kok, gue nggak kenapa-napa?”&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Sheila yang tidak begitu jauh dari mereka ikut bicara, “Eh Niken asal elo tau ya, temen lo itu sok jadi pahlawan. Dia sok menanggung semuanya. Liat aja, entar jam 11 dia harus berlutut di depan tiang bendera.” Sheila tersenyum mengejek.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;“A…a…apa Rie?? Gue nggak ngerti maksudnya Sheila, bisa lo jelasin ke gue sekarang?” Niken masih bingung.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;“Gue mau cerita tapi jangan di sini ya?...Pleaseee” Torrie memohon dengan sangat.&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;S&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;etelah mendapat tempat yang aman, akhirnya Torrrie menceritakan segala apa yang terjadi di ruang kepsek. Terutama idenya yang gila dan bodoh itu.  &lt;br /&gt;“GILA LO, RIE!!!...Apa itu nggak terlalu berat??” Niken setengah teriak tapi udah keburu ditutup mulutnya oleh Torrie.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;“Ssssttt… Jangan keras-keras donk! Gue nggak mau sampe ada yang denger dan ngelaporin ini ke Bu Heti.” Torrie celingukan ke kanan dan kiri, takut ada yang mendengar. “Emang berat hukumannya, tapi kalo nggak gitu, bisa-bisa satu sekolah pada sering berantem lagi gara-gara ngomongin gue. Entar pada bilang gue di anak emasin lagi.”&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;“Bisa-bisanya ya, elo bercanda di saat kayak gini? Dan gue nggak ngerti maksud lo itu apa?!”&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;“Gue tau perbuatan gue itu bodoh dan bego banget.”&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;“Yup… elo itu emang bego banget…”&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;“Jangan disela donk! Tapi ini satu-satunya jalan supaya gue nggak diremehin sama orang lagi terutama Sheila.”&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;“Ya ampun Rie… Sejak kapan elo peduli ama pendapat orang, hah? Torrie yang gue kenal itu nggak perah mikirin hal-hal yang kayak gitu, dia itu tegar… Inget tegar!! Dia nggak pernah peduli orang mau ngatain dia apa kek, dia nggak peduli!”&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;“Tapi Nik… Gue udah bosen dipanggil anak emas, anak manja, dan…dan anak lemah. Gue mau buktiin ke mereka bahwa gue juga bisa seperti mereka. Kalau mereka bisa menjalani hukuman mereka begitu juga dengan gue. Dan ketegaran gue juga ada  batasnya, Nik!” Torrie menunduk sedih.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;“Terserah deh, gue dah nyerah! Gue nggak ngerti jalan pikiran elo Rie. Lakukan aja apa yang menurut elo itu bener. Tapi asal elo tau aja ya Rie… Satu hal mau gue pesen…Be yourself! Trimalah diri lo apa adanya... Huh! percuma ngomong ama orang keras kepala kayak elo! Sekarang gue harus mikir, apa yang harus gue bilang ke nyokap lo kalau sampe elo kenapa-napa…” Niken pergi meninggalkan Torrie sendiri.&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;N&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;ik, lo nggak ngerti perasaan gue… Gue pengen hidup normal kayak orang biasa. Tanpa pengawasan. Gue pengen makan dengan bebas, hidup bebas dan bergerak dengan bebas, tanpa harus takut dengan kambuhnya penyakit gue ini. Tapi elo ada benernya juga, karena gue juga nggak tau apa yang telah gue lakukan…” Torrie berbicara sendiri dan tanpa sadar ia meneteskan air matanya.&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;S&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;ekarang tepat jam 11, matahari betul-betul menyengat dari atas. Dan berlututlah Torrie di depan tiang bendera, banyak teman-temannya yang menontonnya. Ada yang merasa senang karena selama ini mereka tidak suka perlakuan istimewa sekolah kepadanya (termasuk orang yang  seperti Sheila). Ada pula yang merasa kasihan dengannya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Niken mengawasi sahabatnya itu dari jauh. Bagaimanapun juga ia khawatir kalau terjadi sesuatu dengan Torrie. Selain sebal dengan Torrie yang keras kepala, Torrie memang keras kepala tapi ini adalah saat di mana kepalanya yang paling keras, ia juga sebal sekaliii dengan Sheila karena dia yang pertama kali mengejek Torrie dan memancing amarah Torrie. Tapi… Bukannya emosi Torrie mulai naik karena ditabrak oleh Auggie, kakak kelas mereka itu. Berarti sebenarnya siapa yang salah? Semakin dipikirkan membuat Niken semakin pusing. Oh iya si Auggie itu ke mana ya? Kok sejak Torrie dan Sheila dibawa ke ruang kepsek, dia nggak nongol? Ah ngapain juga dipikirin.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Sudah sekitar 15 menit Torrie berlutut, rasanya sudah seabad. Selain panas di luar ia juga merasa panas di dalam. Bayangkan saja, Torrie berlutut ditengah lapangan sendiri dan orang-orang banyak menonton karena kebetulan istirahat. Tak hanya itu saja, mereka memandang Torrie, ada yang memandang rendah tapi ada juga yang memandang kasihan. Selain itu mereka juga saling berbisik, entah apa yang mereka bicarakan, tapi yang pasti subyeknya adalah Torrie. Torrie sempat menyesal  menjalaninya, tapi ia berusaha menghibur dirinya sendiri. Istirahatnya kan sebentar lagi selesai, mereka nggak bakalan ngeliatin gue lagi. Eh iya jam 1 nanti, mereka smua pulang itu berarti bersamaan dengan berakhirnya hukuman gue…Ya Tuhan, smoga ini cepat berakhir…&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Baru saja Torrie menghibur diri, dia melihat sesosok cowok di depannya. Sepertinya dia mengenalnya, ternyata dia adalah cowok yang menabrak Torrie.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://www.dollielove.com"alt="target=_blank"&gt;
&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v40/mitsiki/dollielove/welcome6/10.gif"border=0 alt="Glitter Graphics, Myspace Glitters, Myspace Graphics from Dollielove.com"&gt;&lt;/a&gt;
&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22284483-1710668678491509036?l=hayalkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hayalkoe.blogspot.com/feeds/1710668678491509036/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22284483&amp;postID=1710668678491509036' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22284483/posts/default/1710668678491509036'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22284483/posts/default/1710668678491509036'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hayalkoe.blogspot.com/2009/11/torrie-prince-2.html' title='Torrie &amp; the Prince -2-'/><author><name>Hayalkoe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10348172865908700967</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_w0DuuqOjKCg/SoUGPyjsoSI/AAAAAAAAAAU/QSplVZ3wbQ0/S220/DSC_0391.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22284483.post-4424520225438569744</id><published>2009-11-03T01:27:00.000-08:00</published><updated>2009-11-03T01:47:38.083-08:00</updated><title type='text'>Flash News... about Torrie &amp; the Prince</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Gw akhirnya sudah me-launch novel blog kedua dari novel pertama gw\&lt;br /&gt;Berjudul&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Torrie &amp;amp; The Prince&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang bisa diakses di blog gw&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hayalkoe.blogspot.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang udah gw bilang td, ini novel pertama gw yang selesai pada bulan Januari 2004. Ini cinta pertama gw pada dunia tulis menulis yang dulunya gw sebelin (Sampai sekarang gw lebih suka dipanggil Imajiner ketimbang penulis)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyaris saja novel ini diterbitkan penerbit Terrant Books, namun gagal hanya karena alasan teknis&lt;br /&gt;Novel ini mirip dengan novel "LUKISAN HUJAN" karya Sitta Karina&lt;br /&gt;Yah mirip ga mirip itu tergantung pembaca&lt;br /&gt;Yang jelas inspirasi ini sama sekali bukan dari novel tersebut&lt;br /&gt;karena gw sendiri baru membaca Lukisan Hujan pada bulan Februari 2004&lt;br /&gt;Singkatnya gw ga mau ada batasan lagi untuk akses para pecinta novel gw seperti "Choco Love" untuk menikmati karya gw hanya karena masalah teknis penerbit&lt;br /&gt;Jadilah gw me-launch novel blog kedua namun yang resmi perdana ini di blog gw&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tolong komentar kalian setiap selesai membaca per-Babnya. Karena rencananya gw akan meluncurkan tiap bar tiap gw online dr laptop. Bwt gw komentar kalian adalah hawa segar buat gw baik itu masukan, kritikan , atau pujian. Harus dari hati ya, karena gw bikin karya gw ini dengan sepenuh hati gw. hehehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jd langsung masuk aja ya ke:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hayalkoe.blogspot.com&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;a href="http://www.dollielove.com"alt="target=_blank"&gt;
&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v40/mitsiki/dollielove/welcome6/10.gif"border=0 alt="Glitter Graphics, Myspace Glitters, Myspace Graphics from Dollielove.com"&gt;&lt;/a&gt;
&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22284483-4424520225438569744?l=hayalkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hayalkoe.blogspot.com/feeds/4424520225438569744/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22284483&amp;postID=4424520225438569744' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22284483/posts/default/4424520225438569744'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22284483/posts/default/4424520225438569744'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hayalkoe.blogspot.com/2009/11/flash-news-about-torrie-prince.html' title='Flash News... about Torrie &amp; the Prince'/><author><name>Hayalkoe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10348172865908700967</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_w0DuuqOjKCg/SoUGPyjsoSI/AAAAAAAAAAU/QSplVZ3wbQ0/S220/DSC_0391.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22284483.post-5465693334214439191</id><published>2009-11-03T01:05:00.000-08:00</published><updated>2009-11-07T04:24:31.770-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='novel blog'/><title type='text'>Torrie &amp; the Prince -1-</title><content type='html'>TORRIE&lt;br /&gt;&amp;amp;&lt;br /&gt;THE PRINCE&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan Nafasku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nafasku…&lt;br /&gt;Nafasku hidupku&lt;br /&gt;Nafasku pengharapanku&lt;br /&gt;Nafasku yang membuatku berjalan melewati dunia&lt;br /&gt;Nafasku lebih berharga dari semilyar nafas di dunia&lt;br /&gt;Di mana nafasku?&lt;br /&gt;Nafasku sulit kucari, tidak seperti nafas lainnya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku…&lt;br /&gt;Aku adalah aku!&lt;br /&gt;Tapi…aku ini siapa?&lt;br /&gt;Aku hanyalah sebuah titik kecil di tengah alam semesta yang luas&lt;br /&gt;Akulah si makhluk lemah&lt;br /&gt;Akulah si pucat yang sedang mencari nafasnya&lt;br /&gt;Aku yang berjuang melangkah di dunia yang kelabu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lelah menunggu nafasku&lt;br /&gt;Aku lelah mencari nafasku&lt;br /&gt;Kapankah ini akan berakhir?&lt;br /&gt;Atau aku ikut saja menghilang lenyap sepertinya?&lt;br /&gt;Tapi dunia tak berujung...&lt;br /&gt;Sampai kapanpun, walau aku menyerah sekalipun&lt;br /&gt;Aku akan tetap selalu di sini, di dunia ini&lt;br /&gt;Mencari nafasku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhanku Sahabatku&lt;br /&gt;Allahku Bapaku&lt;br /&gt;Jadilah nafasku&lt;br /&gt;Jadilah penopangku untuk hidup&lt;br /&gt;Berikan warna-Mu pada dunia kelabuku&lt;br /&gt;Dan jadikan aku biji mata-Mu yang berharga&lt;br /&gt;‘Kan kuserahkan seluruh jiwa ragaku pada-Mu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku si makhluk lemah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Torrie&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Bab 1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;R&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;ie...Tungguin gue donk! Gila ya baru juga sembuh langsung lari-lari aja!” Niken berhenti sambil memegang kedua lututnya, berusaha mengatur napasnya yang masih ngos-ngosan.“Woiii…ini kan udah mau bel. Gue nggak mau telat!” Torrie ikut berhenti. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hahaha…” tiba-tiba tawa Niken meledak, sangking gelinya ia sampai memegang perutnya. Torrie langsung mendekati Niken yang masih tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Kenapa lo?” tanya Torrie keheranan. “Lagian sih elonya nggak masuk lama banget makanya nggak tau kalau masuk sekolah sekarang diundur jadi jam setengah delapan.” Niken masih menahan tawanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Sialan lo! Kenapa nggak bilang dari kemaren-kemaren!” Torrie sambil berkacak pinggang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Duh cewek satu ini. Salah sendiri, kenapa nggak nanya-nanya?” Niken mengejek dengan menjulurkan lidah dan lari menuju ke kelas. “Huh dasar! Tunggu pembalasanku!” Torrie ikut berlari mengejar Niken sambil mengepalkan tinjunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Torrie merasa sulit bernafas dan memegang dadanya. “Tunggu Nik, dada gue sesek…”. Niken langsung membalikan badan dan berlari menuju Torrie, “Tuh kan Rie. Gue bilang apa? Lo jadi kena serangan kan sekarang.!”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Kena tipu lo sekarang! Hahaha… Masa nggak bisa bedain orang sehat ama sakit!” Torrie berjalan tenang mendahului Niken yang masih panik. Bahkan untuk sekian detik Niken terdiam, ia mengira Torrie benar-benar kambuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“NGGAK LUCU TAU!!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;H&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;ari pertama sekolah setelah seminggu lamanya ia tidak sekolah, untuk Torrie adalah sangat berat karena ia harus mengejar ketinggalan-ketinggalannya. Untung ada Niken sobat setianya yang cukup banyak membantunya selama ini. Niken sudah tahu tentang keadaan Torrie, yang cukup menderita sejak ia masih kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Torrie, si mungil yang tingginya 150 cm (ngggak kurang, nggak lebih), badannya kurus dan lemah, gampang sakit gara-gara penyakit itu. Tapi di balik itu ada sesosok jiwa yang kuat dan nggak gampang nyerah. Hal ini hanya sebagian kecil orang saja yang tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Niken sudah mengenal Torrie sejak SD, mereka selalu di sekolah yang sama, dan kebetulan sekarangpun mereka sekelas. Mereka selalu bareng berdua, makanya sempet digosipin lesbian. Niken itu care banget sama Torrie, dia itu yang paling cerewet kalo Torrie kenapa-napa. Niken juga sebenernya cantik dan banyak yang mengejarnya hanya saja dianya agak cuek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;T&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;orrie lo yakin udah nggak papa?” tanya Niken cemas karena Torrie mau pergi ke kantin. “Tenang aja, gue yang tanggung jawab kalau ada apa-apa! Lagian siapa yang mau jajan? Gue bawa bekal kok. Lagian gue cuma mau traktir lo aja kok. Mau nggak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Mau! Mau banget! Eh Torrie…Tau nggak?” Niken berusaha mengimbangi langkah Torrie yang terlau cepat atau… Niken yang terlalu lamban???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Enggak tau.” Torrie menjawab dengan malas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Jangan gitu donk. Iya deh Sorry kalo gue terlalu cerewet. Tapi tadi gue mau bilang ada kakak kelas 2 yang baru pindah dari Jogja. Cakeeeeep banget terus dia itu cool….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Ya udah tunggu apalagi embat aja tu co…” tiba-tiba ada suara dentuman jatuh ke lantai. Tak lain dan tak bukan adalah Torrie yang bertabrakan (lebih tepatnya tertiban) dengan seorang cowok yang belum dia kenal. Untuk sekian detik lamanya Torrie berfantasi. Rambutnya berombak alias ikal sedikit menyiratkan keliarannya, sangat cocok dengan matanya yang sepertinya punya magnet untuk mata-mata cewek, dan rahangnya juga terlihat sangat kuat apalagi diikuti bibirnya yang tipis terkatup rapat. Mmm…Not to bad. Lumayan juga tampangnya. Dia itu kayak…kayak siapa ya? Gue kok kayaknya pernah liat Tapi nggak ada artis atau seorangpun yang gue kenal mirip dia. But…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Eh mata lo ke mana hah! Lari nggak liat-liat! Badan lo itu gede tau!......” dan serentetan kata-kata lainnya dilontarkan dari mulut Torrie yang sedang bersusah payah mendorong cowok itu dari badannya. Akhir-akhir ini Torrie terlalu sensitif entah karena hormon atau hal lain. Yang jelas ia telah melupakan fantasinya yang berlangsung selama beberapa detik itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Udah donk Rie…Tahan emosi lo! Dia itu…” Niken berusaha meredakan emosi Torrie. “Gue ga peduli dia itu siapa kek. Dan yang bikin gue tambah kesel dia itu bisu ya? Masa dari tadi nggak ada sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Manalagi badan gue sakit semua abis ditiban.” Torrie dengan berapi-api. Cowok itu memang diam saja dari tadi bahkan wajahnya pun tidak sedikit pun berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Hellow! Ada apaan nih? Eh Kak Auggie diapain sama anak ingusan ini?” tiba-tiba Sheila, si tukang sirik, nimbrung aja di tengah situasi panas itu. Bikin yang HOT jadi tambah HOT aja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Elo kali yang masih ingusan! Ngatain orang seenaknya…” Torrie nggak mau kalah. Semua yang mendengarnya terkejut karena dari dulu Torrie tidak pernah menggubris Sheila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Eh, lo kali yang seenaknya marahin Kak Auggie. Padahal dia kakak kelas lo dan masih baru di sini. Dasar anak manja yang lemah! Anak emas!” situasi semakin memanas dan semakin banyak anak-anak yang menonton (Ingat hanya menonton! Tidak ada seorang pun yang berinisiatif untuk melerai. Termasuk Niken).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Perlu diketahui saja Sheila itu orang yang paling iri dengan Torrie. Ia merasa sekolah memperlakukan Torrie secara istimewa dan ia tidak terima itu. Dalam hati Torrie mengakui perlakuan istimewa itu, misalnya saja soal seringnya ia tidak masuk sekolah, sering tidak dipermasalahkan oleh para guru. Tapi bukan ia yang meminta, keadaannyalah yang membuat dia diperlakukan agak istimewa. Tapi Torrie selalu ingin membuktikan bahwa dirinya bukan anak emas, oleh karena itu ia selalu menjadi juara di kelasnya. Sheila justru menganggap ini adalah sebuah kecurangan juga. Sungguh-sungguh picik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Siapa yang lo sebut Anak Emas?” Torrie pura-pura tidak mendengar, dia mulai emosi. Torrie bagaikan gunung yang mau meletus, segala kekesalan dan kemuakannya dikumpulkan dan ingin segera ia tumpahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Heh! Berani juga nih anak. Nggak usah sok nggak denger deh! Mau lo apa?” Sheila mendekati Torrie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Harusnya gue yang nanya! Elo itu yang tiba-tiba dateng dan sok belain dia. Tapi peduli amat, toh gue juga nggak peduli. Memangnya lo itu siapanya... Pede banget bela-belain…” Tiba-tiba PLAK! Sheila menampar Torrie. Dengan pipi yang panas dan hati yang membara, Torrie pun membalasnya. Dan reaksi Torrie inilah yang membuat semua orang di sekitarnya kaget karena tidak menyangka Torrie dapat melakukannya karena mereka tahunya Torrie itu pendiam. Terutama Niken yang berada di sebelahnya, mulutnya sampai ternganga lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;S&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;aat itulah para guru baru datang dan membawa mereka ke ruang kepsek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Bagus! Laporin aja gue. Karang cerita-cerita yang bisa buat mereka percaya kalo lo itu nggak salah.” Sheila berbisik pada Torrie pada saat mereka sedang duduk menunggu Ibu Heti, kepala sekolah mereka. Orang yang ditunggu-tunggu telah datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sebelum memulai ceramahnya beliau berdehem dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Jujur saja saya malu mempunyai murid seperti kalian, apalagi kalian perempuan. Masa nggak bisa menjaga sikap sedikit. Terutama kamu Torrie… Saya sungguh-sungguh tidak menyangka kamu dan Sheila bisa-bisanya bikin keributan. Saya sungguh kecewa!” Ibu Heti memandang kami bergantian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Tapi Bu…” belum selesai Torrie melanjutkan, ia telah melihat senyum sinis Sheila. Kalau ia mengatakan hal yang sebenarnya, pasti Sheila akan senang karena hal yang baru dikatakannya telah Torrie lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Ya Rie… Kamu mau ngomong apa barusan?” Ibu Heti bingung karena tiba-tiba Torrie berhenti bicara. Ditanya seperti itu membuat Torrie semakin terdiam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Coba jelaskan apa yang menyebabkan kalian bertengkar tadi? Ayo
