Sunday, November 15, 2009

Torrie & the Prince -6-

Bab 6

Torrie baru keluar dari sedan tua mamanya dan bergegas masuk ke sekolah, tapi…
“Vic….!”


Suara itu berasal dari, siapa lagi kalau bukan…si Uggie. Dia lagi kerubunin cewek-cewek. Uggie meninggalkan cewek-cewek itu lari menuju Torrie.

“Hei…ke mana aja? Aku dari tadi nungguin lho!” Auggie merangkul Torrie dan menjauhi tempat itu. Cewek-cewek yang ditinggal Auggie sangat kesal dan cemburu sama Torrie.

What!! Aku!! Nggak salah nih?dan apa-apaan ni?

“Singkirin tangan lo! Kita khan nggak pacaran!” Torrie melirik ke tangan Auggie yang merangkul Torrie, ia kesal diperlakukan seenaknya.

“Sorry, sorry!” melepaskan tangannya dan mengedipkan mata kanannya.

Sikap Auggie benar-benar mengesalkan Torrie, apalagi dia nggak mau dimusuhin sama anak-anak yang naksir sama Auggie. Torrie heran apa yang mereka suka dari Auggie yang menyebalkan ini.


* * *


Jangan maksain diri, Rie. Hari ini lari!” Niken mulai cemas dengan tingkah Torrie yang semakin aneh.

“Bagus itu! Gue mau buktiin bahwa gue juga bisa lari, lo nggak liat tadi gimana semangatnya gue pemanasan. Udah don’t worry lah, Nik. Kalo ada apa-apa tinggal semprot khan gampang. Nih obatnya lo bawa!” Torrie menyerahkan obat semprotnya ke Niken.

“Gimana kamu siap, Rie?” tanya Pak Leo, guru olahraga. Hari ini ada ambil nilai lari 500 m. Walaupun banyak yang respek sama dia tapi tetap saja masih ada yang meragukan apakah dia bisa menyelesaikan lari 500 m ini? Apalagi cewek-cewek yang suka sama Auggie, sebab gosip sudah tersebar Torrie deket sama Auggie bahkan ada yang bilang udah jadian. Sekarang mereka jadi sebel lagi sama Torrie.

Torrie melangkah denngan tegap ke garis start, mengambil posisi. Di sebelah kanannya ada Sheila yang sedang menonton, ia memandang sinis Torrie. Sheila mengira Torrielah yang melaporkannya ke Bu Heti, nanti siang dia akan menggantikan Torrie berlutut di depan tiang bendera.

“Lihat si Anak Emas mau berjuang.”

“Sheila, terserah lo mau ngomong apa? Gue nggak peduli.”

“Siap… Satuuu… Duaaa… Tii…ga!”

Torrie bersama dengan keempat temannya langsung lari dengan sekuat tenaga. Torrie benar-benar semangat, walaupun dalam hatinya ia juga khawatir apa dia sanggup melewati garis finish. Ia sunggguh bersyukur karena di garis finish ada Niken sebagai penyemangat.

Nafasnya mulai ngos-ngosan kemudian dadanya mulai sakit dan sesak, larinya mulai melambat. Oh Tuhan, jangan sekarang. Biarkan aku melewati garis finish. Tolonglah aku Tuhan…

Tiba-tiba datang tenaga kecil, tapi benar-benar sangat membantu Torrie. Bahkan ia bisa melewati teman-temannya yang ada di depannya, tapi begitu melewati garis finish Torrie sudah tidak kuat, dan ia pun terjatuh. Niken langsung menghampirinya.

“Nik… gu...guee bisa ngelewatin…garis finish khan?” Torrie masih merasakan dadanya sesak sehingga sulit untuk bicara.

“Iya, Rie. Lo bisa. Bahkan lebih cepet dari yang lain!” Niken berusaha menenangkan Torrie dan berhasil karena Torrie tersenyum.

“Sekarang lo pake nih, obat lo! Lo janji khan sama gue, lo nggak boleh sakit” Niken mengeluarkan obat semprotnya, sebenarnya Niken mau nangis, ia paling nggak bisa ngeliat Torrie kalau mulai sakit. Torrie langsung menghisap obatnya, dan dadanya mulai berkurang sesaknya. Anak-anak muai mengerumuni Torrie

“Rie ! Lo nggak papa khan?”Auggie keluar dari kerumunan orang-orang itu.

“Kok lo ada di sini?” Torrie heran kenapa si Uggie bisa ada di sana.

Auggie tidak menjawab malah menggendong Torrie, hal ini membuat semua anak cewek pada iri.

“Apa-apaan sih lo?” bisik Torrie.

Percuma saja Torrie bertanya-tanya, si Uggie ini tidak menjawab, ia justru menyuruh Torrie untuk naik ke punggungnya, ia membawa Torrie ke UKS. Seperti biasa Niken mengikuti dari belakang.


“Ini udah di UKS, sekarang bisa nggak turunin gue? Gue tau lo pura-pura khan? Acting lo itu berlebihan.”

“Nik, tolong bilangin… Pak siapa ya tadi?” Auggie mengacuhkan torrie.

“Pak Leo"

“Ya itu. Bilangin ni anak nggak bisa olahraga lagi.” Auggie memberi perintah dan Niken hanya bisa melaksanakan padahal Torrie memberi tanda agar Niken tidak keluar.

“Sekarang tinggal kita berdua.” Auggie memandang Torrie dengan licik.

“Gue sudah cerita semua ke Niken, lo nggak usah takut.”

“OK! Gue percaya sama Niken... Lo bener, ini cuma bagian dari acting, tapi gue bawa lo ke sini bukan karena nggak ada alesan. Liat lutut lo!” Auggie ngambil obat merah, tensoplas, dan perban.

Lutut Torrie berdarah, ternyata jatuhnya tadi membuat luka. Auggie membersihkan lukanya sangat hati-hati sekali.

“Eh…” Torrie meringis.

“Sakit, ya?” Auggie berbicara sangat lembut. Dasar bunglon, tapi Torrie tiba-tiba merasakan sesuatu perasaan yang aneh. Torrie memperhatikan Auggie yang mengobatinya, sepertinya sangat canggung, ia terlalu memperlakukan Torrie secara hati-hati.


* * *


Selesai jam olahraga, Niken menjemput Torrie di UKS, dan Auggie sudah nggak ada.

“Rie, lutut lo kenapa?”

“Gara-gara jatoh tadi. Gue tadinya nggak ngerasa, si Auggie yang liat. Ini aja dipasangin sama Auggie.” Torrie nunjukin perban yang berantakan.

“Cieeee…Torrie! Ada yang meratiin. Walaupun jelek khan yang penting niatnya.”

“Dia gendong gue ke sini, cuma buat acting biar gue ama dia keliatannya deket. Trus, gue nanya ya, Nik. Masa perban sembarangan kayak gini lo bilang niat?!”

“Ya, iya donk! Kalo nggak niat pasti dia udah ninggalin elo dari tadi…”

“Tau ah!”

“Ehm…Rie…Gue…gue…” Niken gugup.

“Gue gue apaan sih? Ngomong itu yang cepet dan jelas. Suneh banget sih lo!”

“Tadi gue ditembak sama Simon. Dan gue terima!” Niken ngomong dengan cepat sekali, sampai-sampai Torrie bertanya lagi karena masih belum dapat mencernanya.


“Ya, ampun, Nik! Lo khan deket sama dia baru berapa hari. Dan sekarang elo langsung terima dia. Gue hampir nggak percaya, lo biasanya khan nggak gampang…”

“Ooo… jadi elo nganggep gue cewek gampangan ya? Gara-gara gue jadian sama Simon. Rie, mungkin gue baru kenal Simon dari hati ke hati baru beberapa hari, tapi yang namanya perasaan itu nggak ada yang bisa duga. Akhir-akhir ini elo jadi semakin egois, selalu mikirin diri lo. Yang pengen bebaslah, pengen inilah, itulah. Gue cape ngadepin elo ,Rie.” Niken berlari keluar dari UKS, tanpa lupa menutup pintu dengan kencang.

Nik, kok elo nggak denger penjelasan dari gue dulu, sih! Gue mungkin agak egois, Nik. Tapi gue juga pengen elo bahagia…


* * *


Sekolah bener-bener bikin pusing, stress, cape Torrie. Dari si Uggie, Niken, sampai mami pun demikian. Mami nanya-nanya kenapa Torrie sampai bisa ada luka di lutut, Torrie nggak bisa jujur. Kalau sampai dia jujur, bisa-bisa Pak Leo kena semprot mami karena udah ngijinin Torrie lari. Jadi Torrie terpaksa bohong dengan mengatakan nggak sengaja kesandung batu dan jatuh.

Mami juga cerewet soal jeleknya itu perban, Torrie berbohong lagi dengan mengatakan Torrie sendiri yang merban. Mami juga nanya kenapa Niken nggak ikut pulang bareng, Torrie juga nggak mungkin jujur ngomong kalau mereka lagi berantem. Jadi Torrie bilang aja kalau Niken udah ada yang nganterin, toh itu bener khan. Si Simon yang nganterin Niken, dia khan cowoknya Niken sekarang.

Begitu selesai makan malam, Torrie langsung merebahkan tubuhnya di ranjang sebentar, kemudian menyalakan radionya. Terdengar alunan musik dari lagu terbarunya Glenn Fredley. Torrie emang bener-bener ngefans banget sama Glenn. Bahkan ia berangan-angan pengen nonton Glenn secara langsung. Tapi nggak mungkin, karena mami pasti nggak ngijinin Torrie nonton konser kayak gitu. Tapi senggaknya Torrie merasa terhibur sedikit mendengar suara Glenn.

Torrie duduk di sofa di kamarnya, kemudian memandangi perban di lututnya. Heran, padahal sudah tahu jelek masih saja dipakai, bahkan Torrie jadi malas mandi. Karena kalau dia mandi pasti perbannya harus dilepas.Torrie menjadi heran sendiri, kenapa dia jadi aneh gini, jangan-jangan dia mulai suka lagi sama Uggie.

Iiiihhh…amit-amit deh. Jangan dibayangin deh, entar jadi suka beneran… Tapi kalo dipikir-pikir, dia baik juga walaupun terkadang suka aneh, dan sifatnya itu lho…yang kayak bunglon. Tapi dia itu emang keren, gimanapun dia kok selalu ada ya waktu gue butuh bantuan, jangan-jangan dia itu orang yang Tuhan utus buat bebasin gue dari kehidupan yang monoton ini. Karena semenjak dia ada di kehidupan gue jadi bener-bener nggak biasa… Kok gue jadi mikirin dia sih?!

Torrie melayangkan pandangannya ke arah jendelanya, yang menghadap ke rumah pangerannya. Jendela Torrie cukup besar, karena jendela itu merupakan salah satu sisi tembok kamarnya, kadang ia suka berkhayal berbincang-bincang dengan pangerannya itu, bahkan sampai sekarang.

Tiba-tiba Torrie kaget, karena lampu kamar yang berhadapan kamar Torrie yang selalu gelap, menyala terang dan ada bayangan seorang di sana. Apa itu pangerannya? Kalau benar, sejak kapan dia ada di sana? Torrie sudah lama sekali tidak melihat jendela kamar itu, terakhir mungkin waktu sebelum dia sakit kemarin, yang sampai membuatnya nggak sekolah hampir seminggu lamanya. Perasaan Torrie kaget bercampur senang. Dia terus memandangi kamar itu.

Ada SMS masuk, nomornya Torrie nggak pernah kenal. Begitu membuka pesannya hanya “HAI”. Dasar orang isenk!

Kemudian ada SMS lagi. “NAMA”

Torrie malas untuk membalasnya.

SMS ketiga. “GUE”

SMS keempat. “TAU NGGAK?”

Wah, biasanya yang suka bertau nggak itu khan Niken, jadi Torrie pikir ini pasti Niken yang baru beli nomor baru.

SMS Torrie. “NIQEN, ga usa isenk deh…MLZ tau!”

SMS kelima. “Gw emang isenk, tp gw bkn NIKEN! : p”

Kalo bukan Niken, siapa donk? Kalo Niken pasti langsung ngaku…Bodo amatlah…


* * *


Hari ini Torrie pergi ke gereja, hanya Tuhan saja yang bisa membuat hatinya tentram setelah beberapa hari yang melelahkan ini.

Lagi asyik-asyiknya Torrie memuji Tuhan, kursi yang kosong di sebelahnya diduduki cowok yang memakai baju hitam.

Hah…dia lagi. Ya Tuhan kenapa sampai di tempat seperti ini pun dia ada. Apa dia ngikutin gue. Malangnya nasib gue…

“Heh...ngapain lo di sini?”

“Elo tuh, aneh banget. Orang ke gereja ya mo nyari Tuhan. Ya mau beribadah. Sstt… gue lagi nggak mau ribut nih!” Auggie sepertinya serius beribadah.

“Siapa yang mo ngajak ribut?! Dasar ge-er.”

“Lutut lo, udah nggak kenapa-napa khan?”

“Masih sakit sih, tapi udah kering lukanya…Emang kenapa nanya-nanya?”

“Ya, kalo kenapa-napa, males aja gendong elo lagi…”

Torrie hanya diam, dia nggak mau membuat keributan di sini.

Dan memang benar, Auggie juga tidak komentar lagi, ia mengikuti ibadah dengan serius. Justru Torrie yang agak nggak konsen karena mikirin apa rencana Auggie selanjutnya. Hidupnya akhir-akhir ini suka nggak tenang gara-gara Auggie! Tapi bukannya itu kehidupan yang ia nanti-nantikan, kehidupan yang penuh warna dan kejutan.

Monday, November 09, 2009

Torrie & the Prince -5-

Bab 5

Hai…” salah satu anak kelas 1-4 yang nggak pernah dia kenal menyapa.


“Hai…” Torrie membalas.

Sekarang Torrie harus benar-benar terbiasa menyapa dan tersenyum pada setiap orang yang menyapanya, ternyata jadi orang yang terkenal itu susah juga. Dulu jarang banget ada yang nyapa dia, cuma Niken doang. Emang sih bukan berarti Torrie nggak punya temen, hanya saja sekarang makin nambah aja temennya. Seneng sih punya banyak temen, tapi kadang Torrie pengen seperti dulu. Aneh, bukannya hal ini yang selama ini Torrie inginkan, seperti anak pada umumnya punya temen yang banyak dianggap sama seperti mereka, nggak kayak dulu menjalani kehidupan yang monoton dan kesepian, bahkan kadang ada yang sebel karena menganggap Torrie terlalu dimanjain sama sekolah, ini itu dilanggar dibolehin. Mereka terlalu membesar-besarkan padahal Torrie cuma sering nggak masuk sekolah.


Torrie berjalan menuju perpustakaan karena disuruh Pak Leo ambil Koran hari ini, Torrie melewati lorong kelas 2 IPA 2. Dari ruang kelas itu tiba-tiba ada cowok yang keluar dari sana, ternyata Auggie. Torrie melihatnya, tapi Auggie seperti pura-pura nggak lihat. Lalu bahu mereka saling bertabrakan, cukup keras sampai Torrie memegang bahunya dan membalikkan badannya.

“Woiii!! Mau lo apa sih?...” Torrie setengah teriak, tapi si Auggie tetep aja melenggang tanpa merasa bersalah dan seperti nggak denger apa-apa.

“Dasar Budek!” Torrie kesal, ia mengira Auggie orang baik karena udah nolongin dia kemarin, ternyata…


* * *


Kenapa sih lo? Tampangnya bete banget!” Niken ngeliatin muka Torrie yang manyun dan ngedumel mulu dari tadi.

“Tau nih! Gue lagi males banget. Yuk ke mana gitu kek!” Torrie narik tangan Niken. Niken udah nggak bisa ngomong kalo Torrie lagi kesel. Dia ngikutin Torrie keluar dari ruang kelas mereka,1-5.


Duh, kenapa dia lagi sih!” Torrie menggerutu karena di kantin ada cowok yang bikin dia kesel seharian. “Rie, lo tadi ngomong apa?” Niken agak nggak konek, tadi Torrie ngomong apa.

“E…Ehm…Kok kita bisa di sini ya, Nik. Gimana kalo kita ke kelas aja, khan istirahatnya mo abis.” Torrie ngajak Niken balik. Tapi Niken narik tangannya Torrie, “Lo, tuh aneh banget ya? Bukannya elo yang bawa gue ke sini tapi sekarang elo malah kayak orang linglung gitu. Sebenernya elo itu kenapa sih?”

Belum sempat Torrie menjawab sudah ada yang teriak manggil namanya.

“VICTORIA ANNETA!”

Torrie langsung menoleh dan mencari asal suara, ternyata cowok itu lagi. Sial! Berani-beraninya dia manggil nama lengkap Torrie. Nggak ada seorang pun yang pernah manggil nama lengkapnya seperti sekarang ini.

“Nik, kita balik aja deh!”

“Lho, yang manggil nama lo itu khan Auggie. Tuh kan dia ngajak kita gabung di mejanya. Ke sana, yuk! Istirahat masih lama.” Niken udah jalan dengan pedenya jalan menuju Auggie sambil narik lengannya Torrie. Torrie merasa seperti kambing yang ditarik untuk kurban.

“Hai Vic,…Nama lo Victoria Anneta, khan?” Auggie bertanya dengan polos.

Torrie hanya mengangguk dengan malas, ni cowok bener-bener kayak bunglon bisa berubah-ubah kulitnya. Dan satu lagi yang bikin kesel, nama panjangnya disebut lagi dan dia memanggilnya Vic, huh kayak anggota F4.

“Iya, Kak. Bener namanya Victoria Anneta! Kalo gue Niken, yang nunjukin ruang UKS waktu itu.” Niken ngajak Auggie salaman dan ternyata dengan ramahnya ini cowok bilang kalo dia masih inget dan mempersilahkan Niken dan Torrie duduk. Ternyata Niken mulai sekongkol ama Auggie mengenai namanya itu, padahal Niken tahu Torrie bakal kesel kalo nama panjangnya disebut. Bertambah dongkollah Torrie.

“Tolong, ya! Nama gue emang Victoria Anneta tapi elo cukup manggil gue Torrie.” Niken dan Auggie agak kaget Torrie ngomong gitu, karena sejak tadi dia diem.

“OK! Kalian juga nggak usah manggil gue Kak, khan kita cuman beda setaun doang. Lo pada mau mau makan apa? Gue traktir deh!” Auggie mulai memecahkan suasana dengan tawarannya.

“Makasih deh Kak, eh Auggie. Gue udah makan tadi istirahat pertama, kalo Torrie nggak boleh makan sembarangan di kantin soalnya dia itu sak…Adaow!” Niken mengaduh kesakitan karena kakinya diinjak Torrie.

“Kenapa, Nik?” Auggie bingung kok Niken tiba-tiba mengaduh.

“Kakinya tadi agak keseleo, mungkin tiba-tiba sakit. Iya khan, Nik?” mata Torrie melotot ke arah Niken.

“Tapi gue khan nggak…” Torrie melotot ke arah Niken. “Iya, kaki gue sakit. Tapi sekarang udah nggak papa kok!”

“Bener nggak papa?” Auggie dengan muka sok khawatir, menurut Torrie.

“Bener! Gue lanjutin deh, si Torrie itu waktu kecil sering sakit-sakitan makanya nyokapnya terlalu overprotektif jagain dia. Makanya juga dia nggak boleh makan sembarangan.” Niken terus bercerita walaupun Torrie yang di sampingnya melototin dia.

“Ya sayang banget dong! Gue nggak bisa nraktir lo pada.”

“Gie, lo dari Jogja khan?” Niken

“Yup!”

“Tapi kok, lo nggak ada logat jowone?” Niken yang emang orang Jawa, langsung praktekin logatnya itu.

“Hahaha… Ternyata lo bisa logat jawa?”

“Iya, Niken itu, mamanya dari Semarang dan papanya dari Solo. Bahasa sehari-harinya ya bahasa jawa.” Torrie mulai ikut percakapan, ia berusaha melupakan kekesalannya.

“Ooo…Gitu. Gue sih aslinya tinggal di Jakarta, nyokap tinggal di sini, tapi sejak kelas 3 SD gue sekolah di Jogja, tinggal ama om gue di sana. Tiap liburan pasti gue ke sini, bahkan tiap hari gue slalu ngobrol ama nyokap gue lewat telpon atau HP. Jadi gue masih fasih Bahasa Indonesia.”

Gila ni anak pasti tajir, bisa nelpon nyokapnya tiap hari! Tapi setajir-tajirnya orang, mana ada yang segitu seringnya nelpon nyokapnya. Jangan-jangan mothercomplex lagi…Pikir Torrie dalam hati.


Sorry ganggu! Bisa pinjem Niken bentar nggak?” Simon datang dengan sekejap, tanpa ada seorang pun yang menyadarinya..

“Boleh, dengan senang hati, bahkan kalo lama juga nggak papa!” Torrie sangat ingin membalas Niken yang tadi telah nyebut nama panjangnya.

“Ya, udah deh, gue tinggal berdua ya. Gie, jaga sohib gue ini. Entar lagi gue balik ke sini”

“Beres!”

Sial, gue baru inget itu berarti gue di sini berduaan ama si Uggie. Bete banget…

“Heh! Jangan bengong, gue tau lo nggak suka deket-deket sama gue khan, Vic?”
Mulai deh sifat lainnya keluar.

“Nama gue bukan Vic, tapi Torrie!”

“Ya elah…, sama aja, apalah artinya sebuah nama itu kata Shakespeare."

Torrie mulai kesel tapi diem aja.

“Ehm…gue minta bantuan donk, Vic?”

“Apaan?!”

“Gampang kok! Lo liat sekitar lo deh, terutama cewek-ceweknya.” Torrie ngeliat mata-mata iri cewek-cewek yang mengarah ke dirinya. “Harusnya elo bangga duduk sama gue di sini, mereka semua iri sama elo karena duduk sama Auggie.” Auggie membanggakan dirinya sendiri.

“Ge-er banget sih lo!”

“Terserah sih kalo nggak percaya. Tapi lo khan masih ada utang budi sama gue, bahkan sekarang gue udah buat Sheila dihukum sama kayak lo.”

Torrie memandang Auggie dengan mengerutkan keningnya. Ngapain dia bawa-bawa budi segala, dan Sheila??? Tapi saat mata mereka saling bertatapan seperti ada magnet yang membuat mereka tetep bertatapan untuk beberapa detik.

“Mau gue sebutin apa aja utang lo? Pertama gue udah nolongin lo pingsan, terus…”

“Udah-udah, cepet mau lo apa? Lagian kalo bukan gara-gara lo nabrak gue, nggak bakalan kejadian kemaren terjadi?”

“Heh, kalo mo direview, lo juga salah, nggak ngeliat orang segede gue, kalo gue masih mending nggak liat elo.” Auggie ngeliat badan Torrie yang semampai.
“Mana ada orang minta bantuan, ngejek-ngejek. Jangan pernah nganggep gue remeh ya mentang-mentang badan gue kecil!”

“Sorry! Gini… Gue sebenernya muak sama mereka, mereka deketin gue mulu, di mana-mana gue diikutin. Padahal gue khan butuh privasi!”

“Jadi, lo pengen gue pura-pura jadi cewek lo, iya khan?”

“Jangan motong dong, gue cuma pengen lo deket aja sama gue, nggak perlu jadian. Dengan begitu, tuh cewek-cewek mungkin nggak ngikutin gue lagi. Gimana, Vic?”

“TERSERAH!!!” Torrie terpaksa nerima, gimana-gimana si Uggie itu ada benernya juga, lagipula Torrie nggak perlu jadi ceweknya pula, gampanglah pikir Torrie. “untuk terakhir kalinya, panggil gue Torrie!”


* * *


Dia nyuruh lo untuk deket-deket sama dia?” Niken kaget waktu diceritakan oleh Torrie. “Tapi kalo dipikir-pikir masuk akal juga, dia itu cakep, malah paling cakep di sekolah ini, bahkan susah untuk dibandingin sama cowok cakep manapun yang ada.” Soal ini Torrie harus mengakuinya, cewek manapun yang ditatap matanya sama Uggie pasti jantungnya mau loncat, Torrie juga nggak bisa nyari cowok yang bisa nandingi kecakepan cowok ini, kecuali pangerannya, of course. Walaupun dia agak lupa sama mukanya, bahkan sebenarnya udah nggak inget lagi..

“Jadi, lo suka sama dia, ya udah gantiin gue aja.”

“Enak aja, gue emang jago nilai cowok, tapi lo tau sendiri khan, cowok secakep apapun yang datengin gue, selalu gue tolak.”

“Ooo…ditolak ya? Terus si Simon itu gimana? Ditolak juga?”Muka Niken jadi merah, Torrie semakin yakin hubungan mereka pasti lebih dari sekedar teman. Sepertinya ada percikan-percikan cinta di mata Niken.


Friday, November 06, 2009

Torrie & The Prince -4-

Bab 4

Torrie mulai berkeringat dingin. Dia lupa akan perbuatannya kemarin sangat memalukan. Dia takut teman-temannya pasti akan mencemoohnya lagi, bahkan kejadian kemarin bisa dijadikan bahan ejekan.

“Ayo, Rie… turun donk dari mobil. Papi udah telat! Manalagi mobil di belakang pada tan-tin-tan-tin! Apapun masalah kamu, harus dijalani dengan tenang, satu lagi tarik nafas dalam-dalam lalu hembuskan pelahan.”

Torrie megikuti saran papinya sebelum keluar dari mobil. Papinya sepertinya selalu bisa membaca pikiran Torrie. “Thanks ya, Pap!” Torrie melambaikan tagannya ke mobil papinya.

Begitu Torrie melangkah ke pintu masuk sekolah, ia merasa seluruh penjuru sekolah seperti menatapnya. Mungkin ini hanya khayalannya saja, tapi…nggak…ini nyata! Sunggguh sangat nggak nyaman setiap gerak langkahnya diawasi oleh setiap mata. Seolah-olah mereka ini benda mati yang mempunyai mata yang bisa bergerak saja, dan Torrie hanya satu-satunya manusia di sana.

Untung penyelamat dateng, Niken, yang langsung memecah kesunyian. “Hueiyou! Pagi, Tuan Putri.” Niken mengucapkan salam mereka. Orang-orang di sekitar mereka mulai melepaskan pandangan mereka dari Torrie dan melanjutkan aktifitas mereka.

“Hueiyou juga! Nik sini bentar, gue ngerasa ada yang janggal ama anak-anak ini.” Torrie berbisik dan mengajak Niken ke daerah yang ngggak terlalu banyak anak-anaknya. Tiba-tiba ada cewek yang nggak terlalu Torrie kenal tersenyum padanya, karena merasa nggak ada orang lain di sana kecuali dirinya dan Niken (Niken membelakangi cewek itu), so Torrie pun tersenyum kecil karena masih bingung.

“Eh, lo kok jadi senyum sendiri gitu sih?” Niken melihat di belakangnya sudah tidak ada orang, cewek itu sudah lewat.

“Tadi ada yang senyum ama gue, padahal…” belum selesai Torrie ngomong, ada cowok yang tersenyum dengannya, dan Niken pun melihatnya. “Nik lo liat sendiri khan, tadi orang-orang pada ngeliatin gue, sekarang senyumin gue, entar apalagi? Bisa nggak lo jelasin apa yang terjadi?”

“Ehm…sebenernya gue nggak tau pasti, denger-denger anak-anak udah pada tau permasalahan yang sebenernya. Kayaknya mereka juga jadi ngerti kenapa lo mau ngelakuin perbuatan kayak kemaren. Intinya, mereka mulai respek ama lo, mereka semua nggak akan nyebut-nyebut lagi anak emas.”

“Tunggu, lo tadi bilang respek? Gue nggak percaya? Nggak mungkin banget” Torrie seakan nggak percaya akan apa yang baru saja Niken katakan, tapi Niken mengangguk tanda ia tak berbohong.

“Haii, Rie! Kemaren lo hebat banget deh! Gue salut, si Sheila itu emang harus digituin. Gue nggak nyangka….” Tiba-tiba ada Tiar yang langsung mendatangi Torrie, setelah itu banyak cewek dan cowok yang mulai mendekati Torrie seperti itu. Mulai dari yang kasih salut, ampe yang nanya pelajaran pula.

Ternyata bener, mereka mulai respek ama gue, tapi gue masih nggak ngerti, apa yang bikin mereka berubah? Dan sampai kapan ini akan terus berlangsung?


* * *


Torrie mulai bosan didekati teman-temannya, lalu ia mencari Niken. Pasti Niken ada di perpustakaan. Ternyata bener! Niken bakal lupa segalanya kalo udah megang novel. Ada kebiasaan aneh Niken kalo lagi baca novel, bibirnya pasti ngikutin dialog yang ada di novel, terus mukanya juga sok ikut disesuaikan, seakan-akan dia adalah pemeran dalam tuh novel. Orang yang baru ngeliat Niken begitu, pasti mikir Niken gila atau lagi latihan teater. Oh iya, dia juga ngambil ekskul teater.

Pelan-pelan, Torrie mendekati Niken yang sedang duduk mojok baca novel dan…
“DOOR!!!”

“Sialan, lo! Bikin jantung gue mo copot aja. Eh, lo pasti udah bosen ya ama anak-anak itu? Makanya lo nyariin gue, khan?”

“Dasar geer! Jangan ngomongin mereka lagi, tapi jujur aja gue lebih suka kehidupan gue yang dulu.”

“Tuh khan! Niken bilang juga apa.” Niken tadinya mau menggoda Torrie lagi, tapi waktu ngeliat muka males Torrie, Niken mengganti topik.

“Eh, lo udah say thanks blom ama Auggie?”

“Gue? Say thanks ama si Uggie?”

“Woiii…namanya A-U-G-G-I-E, Auggie!’

“Ya...si itulah, nama kok ribet amat. Gue nggak akan say thanks kalo dia blom say sorry first to me. Yang gue bingung, selama gue ketemu dia, dia itu nggak pernah buka mulut. Bisu kali ya? Atau nggak, kata lo dia dari Jogja, mungkin nggak sih dia nggak ngerti bahasa kita?”

“Hahaha…Rie…lo jahat banget sih! Dari Jogja, bukan berarti dia nggak ngerti Bahasa Indonesia, bahkan setau gue mereka juga pake bahasa gaul juga. Auggie kan dari sekolah yang bermutu, makanya masuk IPA. Begitu masuk sini, cewek-cewek langsung ngegebetin dia, tapi dia menghindar terus. Pasiflah! Makanya anak-anak pada kaget juga waktu dia ikut elo berlutut. Sepupu lo, Lara khan juga dari Jogja tapi dia ngerti kok kita ngomong apa.”
“Iya juga ya.” Torrie mikir-mikir.


“Torrie! Lo dipanggil Bu Heti tuh di ruangnya.” Simon yang baru dipanggil Bu Heti karena skornya cukup tinggi, memanggil Torrie yang sedang ngobrol dengan Niken.

“Hah! Gue dipanggil lagi? Emangnya ada apa?” Tanya Torrie yang heran, tapi Simon hanya angkat bahu dan pergi.

“Duh, Nik. Jangan-jangan gue disuruh berlutut lagi. Kemaren kan nggak nyampe 2 jam gue berlutut. Kapok deh gue!” Torrie memukul-mukul jidatnya.

“Makanya, jangan punya pikiran gila lagi. Tau nggak, lo?” Niken mulai ‘bertau nggak lo’. “Perbuatan lo itu bisa bikin si Sheila tambah benci ama elo. Dikiranya elo carmuk, apalagi semua orang respek ama lo sekarang. Gih, buruan pergi, entar kalo kelamaan, Bu Heti tambah naik darah!”

Torrie langsung keluar dari perpustakaan menuju ruang kepsek dengan langkah gontai. Sesaat setelah Torrie keluar, ada cowok yang masuk ke perpustakaan dan menghampiri Niken yang melanjutkan membacanya.

“Hai, Nik.”

“Eh, elo, Mon!” Niken kaget melihat Simon datang lagi. “Torrienya udah pergi tuh!”

“Gue nggak nyari dia. Gue…ada perlu sama elo, Nik!” Simon mulai salting.

“Oh…ya udah ngomong aja. Ada apa?” Niken yang mulanya kaget berusaha menenangkan diri, karena tumben Simon yang bandel ngajak ngomong dia. Daftar pelanggaran yang udah dibuat Simon itu banyak banget, dia itu nggak naik dua kali. Tapi kalo mau lebih diteliti, preman yang badannya udah kebentuk karena fitnes, itu nggak bego kok. Niken sekelas ama dia dan Niken tahu Simon adalah anak pintar. Hanya saja mungkin karena alasan tertentu dia jadi pemberontak seperti itu. Mukanya juga lumayan, apalagi kalo salting kayak sekarang ini.

“Ng…ngng…Nik, mau nggak entar gue anterin pulang?” Simon makin salting dan nggak berani natap matanya Niken.

“Boleh juga.” Niken heran sama dirinya sendiri, biasanya walaupun ada ratusan ajakan untuk dianterin, dia selalu tolak. Kok sekarang, dia malah terima dan tersenyum lagi.

Simon yang kaget langsung mengangkat mukanya dan tersenyum berseri-seri. “Thanks, lo mau terima ajakan gue. Ehm…jangan lupa ya entar pulang sekolah” Simon masih tersenyum-senyum dan berjalan mundur, dan dia nggak tahu ada tumpukan buku di belakangnya dan “BRAK!!!”. Buru-buru Simon meletakkan kembali buku-buku itu, lalu melambaikan tangannya ke Niken, masih berjalan mundur, dan masih juga menabrak-nabrak orang. Niken yang melihatnya berusaha unutuk menahan tawanya. Tapi akhirnya dia tersenyum simpul, karena nggak nyangka Simon bisa salting juga. Jangan-jangan dia suka sama gue lagi? Tapi nggak papa, lucu juga. Kok gue terima ajakannya ya? Tau ah! Biar perasaan ngalir aja…

Dan Niken masih tersenyum tak henti-hentinya, dan baru kali ini ada yang bisa menghentikannya dari hobinya, baca novel.


* * *


Permisi, Bu.” Torrie langsung memasuki pintu yang terbuka itu. Torrie sempat tertegun karena ada si Uggie yang duduk di hadapan Bu Heti, dan TERSENYUM, smile to me. Mau apa dia?

“Ayo duduk, Rie!” Bu Heti sangat ramah

“Kemarin, Auggie sudah cerita semuanya, dan dia ngaku salah, makanya Ibu suruh nemenin kamu kemarin. Tadinya Auggie minta supaya kamu nggak dihukum, tapi karena kamu nggak jujur sama Ibu, jadi hukuman tetap berjalan. Dan kamu juga terlalu memaksakan diri dan pingsan. Untung ada Auggie yang cepet nolongin. Sekarang kamu coba jelaskan kenapa mesti bohong?”

Good! Kenapa dia berubah 180 derajat? Pake senyum segala. Dan Bu Heti terlalu menganggungkan dia bagai dewa penyelamat gue. Manalagi gue kejebak sama pertanyaannya.

“Baik. Ibu nggak akan maksa kamu untuk bicara. Tapi kamu nggak dipaksa siapapun khan untuk bohong?”

“Nggak, Bu. Nggak ada yang maksa saya” Torrie menjawab dengan cepat, sesebel-sebelnya dia sama Sheila, nggak bakalan Torrie fitnah Sheila.

“O ya, Ibu hampir lupa. Gie…kamu belum minta maaf khan sama Torrie kemarin?”

Auggie berdiri dan menawarkan tangannya untuk dijabat Torrie. Torrie hanya menoleh, dan salahnya dia melihat mata tuh cowok yang cukup bikin Torrie terpesona, sepertinya dia tulus. Torrie pun berdiri dan menjabat tangan Auggie.

“Sorry, ya…Gara-gara gue nggak minta maaf, jadinya gini deh.” Auggie tersenyum sangat manis.

“Sama, gue juga, waktu itu marah-marahin elo. Ehm…Thanks juga waktu gue pingsan kemaren, lo dah nolongin.” Torrie masih menatap Auggie penuh curiga.

“Never mind.”


Sewaktu kembali dari ruangan kepsek, Torrie dan Niken sama-sama jadi diem. Mereka melayang dengan pikiran masing-masing. Pulang sekolah baru Torrie cerita kejadian di ruang Bu Heti itu.

“Itu artinya, Auggie nggak seburuk yang lo kira, Rie”

“Tapi bisa aja, khan. Dia itu cuma pura-pura baik di depan Bu Heti doang.”

“Duh, Rie. Lo jangan suka prasangka buruk sama orang, nggak baik tuh!” mata Niken jelalatan nyari seseorang dan akhirnya orang yang ia cari-cari sudah melambaikan tangan dari tadi.

“Ehm…Rie. Gue pulang nggak bareng ama lo ya, hari ini.”

“Emangnya kenapa? Tumben?”

“Gue…dianterin sama…” Niken menunjuk ke arah Simon yang udah nggak sabar dengan motornya.

“Hah?!? Serius lo? Nggak salah?” Torrie menahan tawanya.

“Entar deh gue ceritain di telpon! Bye..Torrie” Niken berjalan menuju Simon yang juga berjalan untuk nyamperin mereka.

Torrie sempat bingung, kok Niken bisa deket sama Simon. Torrie ngebayangin kalo mereka jadian. Lucu juga! Torrie hanya bisa menggeleng untuk sobatnya ini. Sebenernya Torrie kurang setuju kalo Niken deket sama Simon, soalnya Simon itu anaknya urakan, kalo udah marah sereeemmm. Entar jangan-jangan Niken diapa-apain sama Simon. Tapi bisa juga si Simon ini berubah karena Niken. Torrie cuman pengen Niken seneng, hanya Niken yang care sama Torrie selama ini.

Wednesday, November 04, 2009

Torrie & the Prince -3-

Bab 3

Otak Torrie sudah berpikiran buruk tentang cowok ini. Torrie takut dia hanya mencari masalah dengan Torrie, padahal sekarang Torrie udah nggak punya power lagi untuk berantem lagi, apalagi sekarang Torrie mulai pusing dan berkeringat dingin.

“Mau apa lo ke sini?? Mau ngejek ya?” tanya Torrie yang mulai pucat.

Bukannya menjawab tu cowok malah ikut berlutut di sebelah kanan Torrie.

“Heh! Ngapain lo?!? Nggak usah sok solider deh, pake ikut-ikutan berlutut segala.”
Cowok itu hanya menatap Torrie dengan wajah dingin, Torrie paling nggak suka dengan orang yang bertipe seperti ini, diam saja kalau ditanya.

“Lo itu bisu ya? Apa tuli?... OK, what ever! Mendingan elo jauh-jauh dari gue.” Torrie sudah cukup kesal dengan kebisuan cowok itu. Torrie sempat berpikiran, jangan-jangan dia bener-bener bisu dan dia nyesel terus ikut berlutut. Tapi Torrie juga cukup pusing bahkan sangat pusing sekarang, matanya sudah berkunang-kunang. Mukanya sangat pucat. Dunia seakan berputar-putar di hadapannya dan tubuhnya terasa sangat ringan.

Bel pun berbunyi tanda pelajaran akan dimulai. Niken nggak tega ninggalin Torrie yang pucat, tapi apa boleh buat, ia harus masuk ke kelas. Tepat saat Niken membalikan badan menuju ke kelas, saat itu ia mendengar teriakan orang-orang “DIA PINGSAN!!!”. Begitu Niken menoleh, ternyata Torrie sudah tergeletak di pangkuan Auggie. Semua orang ikut terkejut, bahkan yang ada di dalam semuanya keluar untuk melihat apa yang terjadi.

Auggie langsung menggendong Torrie, Niken yang sudah ada di samping Auggie bingung harus berbuat apa karena panik.

“Di mana UKS-nya?” Auggie bertanya pada Niken.

“Ikut saya, Kak.” Niken langsung menunjukan letak UKS.

Begitu masuk UKS pintu langsung ditutup karena buanyak anak yang mau lihat Torrie, di ruang UKS hanya ada dua guru, Niken, dan Auggie. Torrie langsung dibaui minyak kayu putih agar sadar. Niken melihat Auggie bakal keluar dari ruangan itu, ia harus berterima kasih atas nama Torrie. “Makasih ya, Kak.”

Seperti biasa Auggie hanya mengangguk kecil, bedanya sekarang dia agak salting dan pucat. Niken baru sadar, muka Auggie berubah pucat semenjak Torrie ada di pangkuannya, jangan-jangan ketularan pucatnya Torrie. Ah, ada-ada aja. Masa di saat kayak gini gue masih sempet berpikiran konyol…

Nggak seberapa lama, Torrie pun akhirnya bangun. Tadinya Niken dipaksa salah seorang guru untuk kembali ke kelas tapi dianya aja yang tetep ngotot untuk tetap tinggal. Kedua guru itu meninggalkan dua sahabat itu.

“Jangan natap gue kayak gitu donk! Gue nyadar kok kalau gue itu salah dan emang bego.” Torrie menyesal.

“Jujur aja Rie… gue ngerasa akhir-akhir ini, elo itu udah berubah. Lo tuh, jadi aneh banget. Sering marah-marah nggak jelas, terus selalu ngomong pengen hidup normal dan masih banyak lagi. Gue… Ah, udahlah nggak usah dimongin lagi. Yang penting sekarang lo dah nggak papa kan?”

“Ya ampun, Nik. Lo jangan jadi nyokap kedua gue donk. Gue nggak papa lagi. Eh iya, ngomong-ngomong soal nyokap… Please ya jangan kasih tau nyokap soal ini..” Torrie memohon dengan amat sangat.

“Iya…iya. Tau nggak?” kebiasaan buruk Niken bertanya tanpa ada keterangannya.

“Tau!”

“Emangnya lo tau apa? Sok tau banget.”

“Lagian loenya juga nanya nggak jelas gitu. Emangnya ada apa lagi?” Torrie menatap Niken penuh curiga karena Niken tersenyum penuh misteri.

“Tadi ada adegan romantis…begitu lo pingsan orang pertama yang nolong lo itu si Auggie…” Niken langsung nyerocos tentang bagaimana Torrie pingsan sampai di bawa ke UKS, pokoknya ceritanya komplit banget, sampai-sampai mukanya Auggie yang pucat pun diceritain juga.

“Jadi yang namanya Auggie itu yang mana, Nik?” Torrie bertanya dengan polos.

“Aduh, lemot banget nih anak! Auggie itu kakak kelas kita yang nabrak lo itu, yang ikut berlutut…” belum selesai Niken ngomong Torrie memotongnya.

“Ooo…jadi cowok yang bisu itu, yang songong itu. Yang bikin badan gue sakit semua, yang datengin gue pas gue dihukum itu…”

“Cukup, Rie. Bener, ya dia itu. Masih untung ada dia, lo harusnya bilang makasih ama dia, karena udah nolong lo. Lo istirahat aja deh, gue udah ketingggalan pelajaran nih, gara-gara lo. Bye!” Niken melangkah keluar dari UKS.

Bener juga kata Niken. Entar aja deh gue bilangnya. Kepala gue kok masih pusing ya… Kapok deh gue berlutut di tengah lapangan, di siang bolong pula. Kaki pada kesemutan dan lutut gue sakit bahkan pada lecet-lecet. Ternyata hidup normal itu susah juga…


* * *

Dah Nikeennn…” Torrie membuka kaca mobilnya yang mulai melaju. Seperti biasanya, maminya nggak pernah absen untuk menjemputnya. Biasanya Niken ikut, tapi dia lagi ada keperluan jadi nggak bisa ikut.

“Rie… Kamu bener-bener nggak papa? Kamu kelihatan pucat!” Tanya maminya sambil menyetir. Torrie sudah bosan setiap ditanya seperti itu. Nggak di sekolah, di rumah, atau di mana pun pertanyaan itu selalu keluar.

“Mam, Torrie nggak papa. Cuman… pusing dikit”

“Tuh kan, mami bilang apa, jangan sekolah dulu. Gini kan jadinya…”

“Mamiii… Torrie bisa jaga diri. Torrie tau banget keadaan tubuh Torrie. Mami sekarang nggak usah khawatir lagi. Mam… besok aku sekolah naik bus aja ya?”

Mobil direm mendadak, sampai-sampai kepala Torrie hampir mengenai dashboard. Maminya itu kaget mendengar permintaan anak satu-satunya itu untung aja mereka ada di pinggiran dan untungnya lagi jalanan lagi sepi. “Nggak boleh. Lagipula untuk apa Rie?” Mami menoleh kearah Torrie.

“Naik taksi deh. Boleh ya…” pinta Torrie manja.

“Tetep enggak. Kamu harus berangkat bareng papi titik. Aneh-aneh aja kamu itu.”
“Mami jahat! Masa mami nggak pengen ngeliat anaknya mandiri?” Torrie merasa sangat kecewa. Suasana di mobil menjadi benar-benar hening hingga sampai di rumah pun demikian.


“Udah donk, Rie… Masa masih ngambek. Kayak anak kecil aja!” Mami berusaha untuk bercanda dengan Torrie, tapi Torrie hanya menatap maminya seperti ingin berkata ‘Please donk, Mi!’. Kalau lagi sayang dan pengen ngerayu maminya, Torrie akan memanggilnya ‘Mam’, tapi kalau lagi ngambek dan agak kesel, Torrie memanggilnya ‘Mi’, dan kalau kesel banget, Torrie akan memanggilnya secara lengkap ‘Mamiii’

“Jadi kamu serius?”

“Mami setuju Torrie naik bus besok?!?” mukaTorrie yang manyun berubah ceria lagi, mengira akan diberi kesempatan unutuk menjadi orang normal.

“Siapa yang setuju? Bagaimana pun juga naik bus itu banyak bahayanya, bahkan naik taksi sekalipun. Eh… Mami lagi ngomong kok kamu malah pergi, mau ke mana?”

“Torrie mau naik ke atas. Tidur!! Torrie cape! Cape ama sekolah, cape ama rumah. Nggak ada yang ngerti Torrie… Mau ini nggak boleh…Mau itu nggak boleh…” Torrie mengomel sambil manaiki anak tangga satu-persatu.

Maminya merasa serba salah, selama ini ia melarang Torrie ini itu demi kebaikan
Torrie. Ia tahu, sejak lama Torrie sangat ingin hidup normal seperti anak lainnya, tapi bila ia mengabulkan permintaan Torrie, jika terjadi sesuatu padanya, maminya tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri. Maafkan Mami, Rie…

Di kamar, Torrie langsung menelungkup di ranjang dan seperti biasa, ia menangis. Hidup ini terasa nggak adil. Tuhan yang selama ini menjadi sahabatnya, sepertinya membisu melihatnya seperti ini. Ya Tuhan kenapa Torrie nggak bisa hidup kayak orang biasa…


* * *

Tok, tok, tok, pintu kamar Torrie diketuk untuk yang kesekian kalinya… Papi sudah menunggu lama di depan pintu. Begitu sampai dari ruang, mami langsung cerita semuanya ke papi.

Di rumah ini mereka memang tinggal bertiga. Kalau mami dan Torrie berselisih pendapat, biasanya papi yang jadi penengah. Selain itu papi juga selalu menjadi teman curhat mami dan Torrie. Papi itu orang yang paling bijaksana dan pengertian.
Jadi papi sudah sangat tahu kebiasaan Torrie kalau lagi ngambek. “Rie, bangun! Dah malem nih… Masa mau tidur terus sampe pagi. Atau kamu lagi ngambek ya? Kamu kan bisa cerita ke Papi.” Papi masih berusaha membuat Torrie terbangun dari tidurnya.

Ternyata Torrie sedang di alam bawah sadar, dia bermimpi. Di mimpinya itu ia melihat dirinya pingsan dan cowok yang sok cool atau mungkin cold itu, dengan sigap menahan tubuhnya, cowok itu melihatnya penuh dengan kekhawatiran. Entah kenapa Torrie bisa merasakan jantungnya berdetak 100x lebih cepat dari yang biasanya, nafasnya juga sesak tapi bukan gejala dari penyakitnya yang biasa kambuh. Perasaan itu sangat berbeda dan belum pernah ia rasakan, Torrie merasa aman dan bebas. Perasaan inilah yang ia selalu ia nantikan. Dan tiba-tiba Torrie mendengar suara tok,tok,tok… Torrie akhirnya terbangun dan membukakan pintu.
“Ah, Papiii… ganggu Torrie tidur aja.” Torrie menggaruk rambutnya dan mengucek matanya yang juga masih bengkak karena menangis tadi.

“Eh, neng…ini udah jam berapa?” Papi yang sudah capek berdiri, menyandarkan tubuhnya di tembok.

Torrie berusaha melihat jam dindingnya sambil mengucek-ngucek mata kanannya dan memicingkan mata kirinya, “Hah!! Udah jam 9!!”

“Tuh kan! Untung aja papi bangunin, kalau ngggak, kamu pasti baru bangun besok malam tau! Sekarang kamu harus cerita, kamu sama mami kenapa lagi?” Papi langsung masuk dan duduk di ranjang. Torrie menutup pintunya dan duduk di kursinya.

“Papi pasti udah diceritain ama mami, kan?”

“Mami memang udah cerita. Papi bukannya mau ngebelain mami, hanya saja dia itu melakukan ini semua demi kamu, Rie. Dia itu sayang banget sama kamu.”

“Tapi, Pi…Torrie cuman pengen ngerasain hidup seperti orang biasa…”

“Papi ngerti banget, Rie. Sudah jutaan kali, kalimat itu kamu lontarkan. Mami pun ngerti, mungkin dia memang agak protektif ke kamu.”

“Mami tetep aja nggak pernah ngerti Torrie!”

“Jangan gitu donk, Rie. Kalau papi jadi mami, papi pasti juga ngelarang kamu naik taksi atau bus atau yang lainnya. Kamu baru sembuh, khan? Ya udah, sekarang kamu mandi pake air panas, terus makan bareng mami papi.”

“Mami ama papi belum makan?”

“Nah, ini dia bentuk kasih mamimu. Begitu papi nyampe di depan pager, mamimu langsung nyamperin papi. Papi pikir kok tumben papi disambut, kirain mami lagi pengen ama papi.” Papi memainkan matanya dengan nakal.

Torrie tertawa dan bertanya, “Pengen apa, Pap?”

“Ah, kamu kayak nggak tahu aja?” Papi mencolek perut Torrie, daerah sensitif Torrie.
“Eh, tahunya mami malah cerita tentang kamu. Papi dipaksa ngomong ama kamu, katanya cuman papi yang bisa kamu ajak ngobrol. Dan sebenernya mami kamu yang nyuruh kamu mandi air panas dan makan. Buruan ya, mami nungguin dari tadi.” Papi keluar dari kamar Torrie dan Torrie kembali menutupnya.

Torrie langsung masuk ke kamar mandinya, yang berada di kamarnya. Torrie langsung menyalakan shower yang warm. Kata orang berdiri di bawah shower seperti membuat masalah agak berkurang. Mungkin itu ada benarnya, karena sekarang Torrie merasa lebih rileks dan segar. Ia juga sangat senang , karena berdiri di bawah shower sama seperti berdiri di bawah hujan. Hal yang selalu ia ingin lakukan. But, of course! Mami nggak pernah ngijinin Torrie untuk main air hujan.

Tadi Torrie nggak banyak ngomong, dia merasa nggak ada gunanya bicara panjang lebar untuk menjelaskan keinginannya. Torrie sangat yakin mami papi pasti sayang dengannya…tapi tetep aja mereka pasti nggak akan pernah ngijinin Torrie untuk melakukan hal-hal yang ia ingin lakukan.

Tiba-tiba terlintas wajah cowok itu lagi.

O, iya, tuh cowok kok bisa-bisanya ada di mimpi gue ya. Padahal kan baru ketemu hari ini. Tapi kok gue kayaknya pernah ketemu ama dia ya…mukanya sih asing tapi matanya itu bener-bener ngingetin gue ama seseorang, tapi siapa? Eh…ngapain juga mikirin orang kayak dia. Kalau nggak salah namanya…U…Uggie…ya ya ya pokoknya sejenis itu, nama yang aneh. Iiiiihh…kok gue masih mikirin dia sih?!? Mendingan gue mikirin pangeran gue, lagi ngapain ya dia di Jogja.Yang dimaksud pangeran itu adalah tetangga depan rumahnya yang pindah sekolah ke Jogja. Torrie percaya itu adalah LAFS (Love at First Sigh), karena Torrie hanya melihat pangeran itu sekali waktu ia pindah ke rumahnya itu, bertepatan pangerannya pindah ke Jogja. Waktu itu Torrie berumur 5 tahun. Padahal mamanya pengeran masih tinggal di sana, tapi Torrie nggak pernah punya keberanian untuk bertanya segala sesuatu tentang pangerannya. Lagipula, Tante Beth, mamanya pangeran itu janda sekaligus wanita berkarier.

Tuesday, November 03, 2009

Torrie & the Prince -2-

Bab 2

Ka…Kamu yakin akan hukuman ini?” Ibu Heti bertanya dengan tergagap karena ia masih tidak percaya atas apa yang diucapkan Torrie.


“Lho, justru saya yang heran, bukannya peraturan harus ditegakkan untuk semua orang. Saya ini murid biasa sama seperti yang lain. Saya rasa, saya tidak perlu diberi keringanan.”


“Tapi…”

“Saya tau yang Ibu khawatirkan. Tenang saja Bu, saya sekarang dalam keadaan fit.”

“Ba…Baiklah kalau begitu nanti kamu harus berlutut di depan tiang bendera mulai dari jam 11 sampai jam 1. Sheila bagaimanapun juga kamu juga bersalah, nanti kami akan memikirkan hukumanmu besok. Dan kamu, Torrie, sebelum jam 11 teng, kamu harus ada di sini. Sekarang kalian kembali ke kelas kalian.” Ibu Heti masih merasa bersalah telah menjatuhi hukuman itu kepada Torrie.
“Permisi, Bu” Torrie dan Sheila berbarengan.


Ternyata banyak anak yang penasaran dengan keadaan di dalam, mereka berusaha untuk menguping. Begitu pintu dibuka oleh Sheila, anak-anak yang menguping pada jatuh dan alhasil mereka menjatuhkan tubuh Sheila.

“Aaaaaargh…. Kalian ini bener-bener nggak punya aturan apa? Seenaknya nguping dan sekarang badan gue yang bagus ditibani pula. Dasar Sial!!! Kalian itu bener-bener bego!” Sheila berusaha berdiri dan memeriksa tubuhnya. (Melihat caranya bicara, orang-orang yang mau menolongnya malah tidak jadi menolong, alias ilfil)

“Cukup Sheila! Kamu harus bicara yang sopan. Dan kalian anak-anak pergi ke kelas masing-masing, kalau sampai Ibu masih melihat ada anak yang di depan ruang Ibu, nanti harus menemani Ibu di ruang. AYO CEPAT!” Ibu Heti gusar akan kelakuan murid-muridnya, terutama pada Sheila yang sungguh-sungguh manis perkataannya.
Semua orang di sekitar ruang kepsek, bahkan sampai di pintu gerbang kaget mendengar teriakan Ibu Heti dan mereka terdiam beberapa detik. Begitu detik terakhir, anak-anak yang menguping tadi baru menyadari resiko yang harus ditanggung kalau mereka tetap di sana. Tak ada seorang pun yang mau menemani Ibu Heti di ruangnya. Oleh karena itu mereka langsung ngibrit lari menuju kelas masing-masing.

Dalam hati, Torrie tertawa karena melihat reaksi Sheila yang langsung pucat waktu dibentak Bu Heti. Salah sendiri nggak liat-liat tempat kalau mau mengumpat, apalagi di sana ada Bu Heti yang sangat mengutamakan kesopanan.

“Rie…Torrie…Lo nggak papa kan? Kok bengong? Eh iya tadi diapaian aja di dalem?” Niken bertanya karena penasaran.

“Hah…nggak kok, gue nggak kenapa-napa?”

Sheila yang tidak begitu jauh dari mereka ikut bicara, “Eh Niken asal elo tau ya, temen lo itu sok jadi pahlawan. Dia sok menanggung semuanya. Liat aja, entar jam 11 dia harus berlutut di depan tiang bendera.” Sheila tersenyum mengejek.

“A…a…apa Rie?? Gue nggak ngerti maksudnya Sheila, bisa lo jelasin ke gue sekarang?” Niken masih bingung.

“Gue mau cerita tapi jangan di sini ya?...Pleaseee” Torrie memohon dengan sangat.


Setelah mendapat tempat yang aman, akhirnya Torrrie menceritakan segala apa yang terjadi di ruang kepsek. Terutama idenya yang gila dan bodoh itu.
“GILA LO, RIE!!!...Apa itu nggak terlalu berat??” Niken setengah teriak tapi udah keburu ditutup mulutnya oleh Torrie.

“Ssssttt… Jangan keras-keras donk! Gue nggak mau sampe ada yang denger dan ngelaporin ini ke Bu Heti.” Torrie celingukan ke kanan dan kiri, takut ada yang mendengar. “Emang berat hukumannya, tapi kalo nggak gitu, bisa-bisa satu sekolah pada sering berantem lagi gara-gara ngomongin gue. Entar pada bilang gue di anak emasin lagi.”

“Bisa-bisanya ya, elo bercanda di saat kayak gini? Dan gue nggak ngerti maksud lo itu apa?!”

“Gue tau perbuatan gue itu bodoh dan bego banget.”

“Yup… elo itu emang bego banget…”

“Jangan disela donk! Tapi ini satu-satunya jalan supaya gue nggak diremehin sama orang lagi terutama Sheila.”

“Ya ampun Rie… Sejak kapan elo peduli ama pendapat orang, hah? Torrie yang gue kenal itu nggak perah mikirin hal-hal yang kayak gitu, dia itu tegar… Inget tegar!! Dia nggak pernah peduli orang mau ngatain dia apa kek, dia nggak peduli!”

“Tapi Nik… Gue udah bosen dipanggil anak emas, anak manja, dan…dan anak lemah. Gue mau buktiin ke mereka bahwa gue juga bisa seperti mereka. Kalau mereka bisa menjalani hukuman mereka begitu juga dengan gue. Dan ketegaran gue juga ada batasnya, Nik!” Torrie menunduk sedih.

“Terserah deh, gue dah nyerah! Gue nggak ngerti jalan pikiran elo Rie. Lakukan aja apa yang menurut elo itu bener. Tapi asal elo tau aja ya Rie… Satu hal mau gue pesen…Be yourself! Trimalah diri lo apa adanya... Huh! percuma ngomong ama orang keras kepala kayak elo! Sekarang gue harus mikir, apa yang harus gue bilang ke nyokap lo kalau sampe elo kenapa-napa…” Niken pergi meninggalkan Torrie sendiri.


Nik, lo nggak ngerti perasaan gue… Gue pengen hidup normal kayak orang biasa. Tanpa pengawasan. Gue pengen makan dengan bebas, hidup bebas dan bergerak dengan bebas, tanpa harus takut dengan kambuhnya penyakit gue ini. Tapi elo ada benernya juga, karena gue juga nggak tau apa yang telah gue lakukan…” Torrie berbicara sendiri dan tanpa sadar ia meneteskan air matanya.


* * *


Sekarang tepat jam 11, matahari betul-betul menyengat dari atas. Dan berlututlah Torrie di depan tiang bendera, banyak teman-temannya yang menontonnya. Ada yang merasa senang karena selama ini mereka tidak suka perlakuan istimewa sekolah kepadanya (termasuk orang yang seperti Sheila). Ada pula yang merasa kasihan dengannya.

Niken mengawasi sahabatnya itu dari jauh. Bagaimanapun juga ia khawatir kalau terjadi sesuatu dengan Torrie. Selain sebal dengan Torrie yang keras kepala, Torrie memang keras kepala tapi ini adalah saat di mana kepalanya yang paling keras, ia juga sebal sekaliii dengan Sheila karena dia yang pertama kali mengejek Torrie dan memancing amarah Torrie. Tapi… Bukannya emosi Torrie mulai naik karena ditabrak oleh Auggie, kakak kelas mereka itu. Berarti sebenarnya siapa yang salah? Semakin dipikirkan membuat Niken semakin pusing. Oh iya si Auggie itu ke mana ya? Kok sejak Torrie dan Sheila dibawa ke ruang kepsek, dia nggak nongol? Ah ngapain juga dipikirin.

Sudah sekitar 15 menit Torrie berlutut, rasanya sudah seabad. Selain panas di luar ia juga merasa panas di dalam. Bayangkan saja, Torrie berlutut ditengah lapangan sendiri dan orang-orang banyak menonton karena kebetulan istirahat. Tak hanya itu saja, mereka memandang Torrie, ada yang memandang rendah tapi ada juga yang memandang kasihan. Selain itu mereka juga saling berbisik, entah apa yang mereka bicarakan, tapi yang pasti subyeknya adalah Torrie. Torrie sempat menyesal menjalaninya, tapi ia berusaha menghibur dirinya sendiri. Istirahatnya kan sebentar lagi selesai, mereka nggak bakalan ngeliatin gue lagi. Eh iya jam 1 nanti, mereka smua pulang itu berarti bersamaan dengan berakhirnya hukuman gue…Ya Tuhan, smoga ini cepat berakhir…

Baru saja Torrie menghibur diri, dia melihat sesosok cowok di depannya. Sepertinya dia mengenalnya, ternyata dia adalah cowok yang menabrak Torrie.

Flash News... about Torrie & the Prince

Gw akhirnya sudah me-launch novel blog kedua dari novel pertama gw\
Berjudul

Torrie & The Prince

yang bisa diakses di blog gw

hayalkoe.blogspot.com

Seperti yang udah gw bilang td, ini novel pertama gw yang selesai pada bulan Januari 2004. Ini cinta pertama gw pada dunia tulis menulis yang dulunya gw sebelin (Sampai sekarang gw lebih suka dipanggil Imajiner ketimbang penulis)

Nyaris saja novel ini diterbitkan penerbit Terrant Books, namun gagal hanya karena alasan teknis
Novel ini mirip dengan novel "LUKISAN HUJAN" karya Sitta Karina
Yah mirip ga mirip itu tergantung pembaca
Yang jelas inspirasi ini sama sekali bukan dari novel tersebut
karena gw sendiri baru membaca Lukisan Hujan pada bulan Februari 2004
Singkatnya gw ga mau ada batasan lagi untuk akses para pecinta novel gw seperti "Choco Love" untuk menikmati karya gw hanya karena masalah teknis penerbit
Jadilah gw me-launch novel blog kedua namun yang resmi perdana ini di blog gw


Tolong komentar kalian setiap selesai membaca per-Babnya. Karena rencananya gw akan meluncurkan tiap bar tiap gw online dr laptop. Bwt gw komentar kalian adalah hawa segar buat gw baik itu masukan, kritikan , atau pujian. Harus dari hati ya, karena gw bikin karya gw ini dengan sepenuh hati gw. hehehe...

jd langsung masuk aja ya ke:

hayalkoe.blogspot.com

Torrie & the Prince -1-

TORRIE
&
THE PRINCE




Aku dan Nafasku


Nafasku…
Nafasku hidupku
Nafasku pengharapanku
Nafasku yang membuatku berjalan melewati dunia
Nafasku lebih berharga dari semilyar nafas di dunia
Di mana nafasku?
Nafasku sulit kucari, tidak seperti nafas lainnya…

Aku…
Aku adalah aku!
Tapi…aku ini siapa?
Aku hanyalah sebuah titik kecil di tengah alam semesta yang luas
Akulah si makhluk lemah
Akulah si pucat yang sedang mencari nafasnya
Aku yang berjuang melangkah di dunia yang kelabu…

Aku lelah menunggu nafasku
Aku lelah mencari nafasku
Kapankah ini akan berakhir?
Atau aku ikut saja menghilang lenyap sepertinya?
Tapi dunia tak berujung...
Sampai kapanpun, walau aku menyerah sekalipun
Aku akan tetap selalu di sini, di dunia ini
Mencari nafasku…

Tuhanku Sahabatku
Allahku Bapaku
Jadilah nafasku
Jadilah penopangku untuk hidup
Berikan warna-Mu pada dunia kelabuku
Dan jadikan aku biji mata-Mu yang berharga
‘Kan kuserahkan seluruh jiwa ragaku pada-Mu



Aku si makhluk lemah

Torrie





Bab 1

Rie...Tungguin gue donk! Gila ya baru juga sembuh langsung lari-lari aja!” Niken berhenti sambil memegang kedua lututnya, berusaha mengatur napasnya yang masih ngos-ngosan.“Woiii…ini kan udah mau bel. Gue nggak mau telat!” Torrie ikut berhenti.


“Hahaha…” tiba-tiba tawa Niken meledak, sangking gelinya ia sampai memegang perutnya. Torrie langsung mendekati Niken yang masih tertawa.

“Kenapa lo?” tanya Torrie keheranan. “Lagian sih elonya nggak masuk lama banget makanya nggak tau kalau masuk sekolah sekarang diundur jadi jam setengah delapan.” Niken masih menahan tawanya.

“Sialan lo! Kenapa nggak bilang dari kemaren-kemaren!” Torrie sambil berkacak pinggang.

“Duh cewek satu ini. Salah sendiri, kenapa nggak nanya-nanya?” Niken mengejek dengan menjulurkan lidah dan lari menuju ke kelas. “Huh dasar! Tunggu pembalasanku!” Torrie ikut berlari mengejar Niken sambil mengepalkan tinjunya.

Tiba-tiba Torrie merasa sulit bernafas dan memegang dadanya. “Tunggu Nik, dada gue sesek…”. Niken langsung membalikan badan dan berlari menuju Torrie, “Tuh kan Rie. Gue bilang apa? Lo jadi kena serangan kan sekarang.!”
“Kena tipu lo sekarang! Hahaha… Masa nggak bisa bedain orang sehat ama sakit!” Torrie berjalan tenang mendahului Niken yang masih panik. Bahkan untuk sekian detik Niken terdiam, ia mengira Torrie benar-benar kambuh.

“NGGAK LUCU TAU!!!”


Hari pertama sekolah setelah seminggu lamanya ia tidak sekolah, untuk Torrie adalah sangat berat karena ia harus mengejar ketinggalan-ketinggalannya. Untung ada Niken sobat setianya yang cukup banyak membantunya selama ini. Niken sudah tahu tentang keadaan Torrie, yang cukup menderita sejak ia masih kecil.

Torrie, si mungil yang tingginya 150 cm (ngggak kurang, nggak lebih), badannya kurus dan lemah, gampang sakit gara-gara penyakit itu. Tapi di balik itu ada sesosok jiwa yang kuat dan nggak gampang nyerah. Hal ini hanya sebagian kecil orang saja yang tahu.

Niken sudah mengenal Torrie sejak SD, mereka selalu di sekolah yang sama, dan kebetulan sekarangpun mereka sekelas. Mereka selalu bareng berdua, makanya sempet digosipin lesbian. Niken itu care banget sama Torrie, dia itu yang paling cerewet kalo Torrie kenapa-napa. Niken juga sebenernya cantik dan banyak yang mengejarnya hanya saja dianya agak cuek.


Torrie lo yakin udah nggak papa?” tanya Niken cemas karena Torrie mau pergi ke kantin. “Tenang aja, gue yang tanggung jawab kalau ada apa-apa! Lagian siapa yang mau jajan? Gue bawa bekal kok. Lagian gue cuma mau traktir lo aja kok. Mau nggak?”

“Mau! Mau banget! Eh Torrie…Tau nggak?” Niken berusaha mengimbangi langkah Torrie yang terlau cepat atau… Niken yang terlalu lamban???

“Enggak tau.” Torrie menjawab dengan malas.

“Jangan gitu donk. Iya deh Sorry kalo gue terlalu cerewet. Tapi tadi gue mau bilang ada kakak kelas 2 yang baru pindah dari Jogja. Cakeeeeep banget terus dia itu cool….”

“Ya udah tunggu apalagi embat aja tu co…” tiba-tiba ada suara dentuman jatuh ke lantai. Tak lain dan tak bukan adalah Torrie yang bertabrakan (lebih tepatnya tertiban) dengan seorang cowok yang belum dia kenal. Untuk sekian detik lamanya Torrie berfantasi. Rambutnya berombak alias ikal sedikit menyiratkan keliarannya, sangat cocok dengan matanya yang sepertinya punya magnet untuk mata-mata cewek, dan rahangnya juga terlihat sangat kuat apalagi diikuti bibirnya yang tipis terkatup rapat. Mmm…Not to bad. Lumayan juga tampangnya. Dia itu kayak…kayak siapa ya? Gue kok kayaknya pernah liat Tapi nggak ada artis atau seorangpun yang gue kenal mirip dia. But…

“Eh mata lo ke mana hah! Lari nggak liat-liat! Badan lo itu gede tau!......” dan serentetan kata-kata lainnya dilontarkan dari mulut Torrie yang sedang bersusah payah mendorong cowok itu dari badannya. Akhir-akhir ini Torrie terlalu sensitif entah karena hormon atau hal lain. Yang jelas ia telah melupakan fantasinya yang berlangsung selama beberapa detik itu.

“Udah donk Rie…Tahan emosi lo! Dia itu…” Niken berusaha meredakan emosi Torrie. “Gue ga peduli dia itu siapa kek. Dan yang bikin gue tambah kesel dia itu bisu ya? Masa dari tadi nggak ada sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Manalagi badan gue sakit semua abis ditiban.” Torrie dengan berapi-api. Cowok itu memang diam saja dari tadi bahkan wajahnya pun tidak sedikit pun berubah.

“Hellow! Ada apaan nih? Eh Kak Auggie diapain sama anak ingusan ini?” tiba-tiba Sheila, si tukang sirik, nimbrung aja di tengah situasi panas itu. Bikin yang HOT jadi tambah HOT aja.

“Elo kali yang masih ingusan! Ngatain orang seenaknya…” Torrie nggak mau kalah. Semua yang mendengarnya terkejut karena dari dulu Torrie tidak pernah menggubris Sheila.

“Eh, lo kali yang seenaknya marahin Kak Auggie. Padahal dia kakak kelas lo dan masih baru di sini. Dasar anak manja yang lemah! Anak emas!” situasi semakin memanas dan semakin banyak anak-anak yang menonton (Ingat hanya menonton! Tidak ada seorang pun yang berinisiatif untuk melerai. Termasuk Niken).

Perlu diketahui saja Sheila itu orang yang paling iri dengan Torrie. Ia merasa sekolah memperlakukan Torrie secara istimewa dan ia tidak terima itu. Dalam hati Torrie mengakui perlakuan istimewa itu, misalnya saja soal seringnya ia tidak masuk sekolah, sering tidak dipermasalahkan oleh para guru. Tapi bukan ia yang meminta, keadaannyalah yang membuat dia diperlakukan agak istimewa. Tapi Torrie selalu ingin membuktikan bahwa dirinya bukan anak emas, oleh karena itu ia selalu menjadi juara di kelasnya. Sheila justru menganggap ini adalah sebuah kecurangan juga. Sungguh-sungguh picik.

“Siapa yang lo sebut Anak Emas?” Torrie pura-pura tidak mendengar, dia mulai emosi. Torrie bagaikan gunung yang mau meletus, segala kekesalan dan kemuakannya dikumpulkan dan ingin segera ia tumpahkan.

“Heh! Berani juga nih anak. Nggak usah sok nggak denger deh! Mau lo apa?” Sheila mendekati Torrie.

“Harusnya gue yang nanya! Elo itu yang tiba-tiba dateng dan sok belain dia. Tapi peduli amat, toh gue juga nggak peduli. Memangnya lo itu siapanya... Pede banget bela-belain…” Tiba-tiba PLAK! Sheila menampar Torrie. Dengan pipi yang panas dan hati yang membara, Torrie pun membalasnya. Dan reaksi Torrie inilah yang membuat semua orang di sekitarnya kaget karena tidak menyangka Torrie dapat melakukannya karena mereka tahunya Torrie itu pendiam. Terutama Niken yang berada di sebelahnya, mulutnya sampai ternganga lebar.


Saat itulah para guru baru datang dan membawa mereka ke ruang kepsek.

“Bagus! Laporin aja gue. Karang cerita-cerita yang bisa buat mereka percaya kalo lo itu nggak salah.” Sheila berbisik pada Torrie pada saat mereka sedang duduk menunggu Ibu Heti, kepala sekolah mereka. Orang yang ditunggu-tunggu telah datang.

Sebelum memulai ceramahnya beliau berdehem dahulu.

“Jujur saja saya malu mempunyai murid seperti kalian, apalagi kalian perempuan. Masa nggak bisa menjaga sikap sedikit. Terutama kamu Torrie… Saya sungguh-sungguh tidak menyangka kamu dan Sheila bisa-bisanya bikin keributan. Saya sungguh kecewa!” Ibu Heti memandang kami bergantian.

“Tapi Bu…” belum selesai Torrie melanjutkan, ia telah melihat senyum sinis Sheila. Kalau ia mengatakan hal yang sebenarnya, pasti Sheila akan senang karena hal yang baru dikatakannya telah Torrie lakukan.

“Ya Rie… Kamu mau ngomong apa barusan?” Ibu Heti bingung karena tiba-tiba Torrie berhenti bicara. Ditanya seperti itu membuat Torrie semakin terdiam.

“Coba jelaskan apa yang menyebabkan kalian bertengkar tadi? Ayo bicara….Sheila??...Torrie??...Baik kalau tidak ada yang mau bicara. Sesuai ketentuan, kalian berdua akan Ibu hukum berlutut di depan tiang bendera sampai pulang sekolah. Bagaimana?” Ibu Heti memberikan ancaman.

“Bu…” Torrie mulai bicara, dan Sheila pun mulai agak khawatir. “Sebenarnya saya yang memulai pertengkaran. Tadi kami saling bersenggolan, tapi saya keburu emosi sehingga memicu pertengkaran ini.” Torrie menunduk karena merasa tidak pintar berbohong.

“Yang benar? Kamu tidak bohong?” Kepsek ini seakan tidak percaya akan pengakuan Torrie barusan.

Torrie yang masih menunduk, menggeleng pelan. Pengakuannya barusan juga membuat Sheila kaget setengah mati. Jangankan Sheila, Torrie sendiri pun kaget akan perbuatannya. Tiba-tiba saja terlintas ide bodoh itu karena selama ini ia selalu terbebas dari hukuman. Apa salahnya mencoba dihukum seperti anak normal lainnya, makanya ia berbohong seperti itu. Ia pun bosan dan muak diperlakukan sebagai Anak Emas yang… lemah.

“Baik kalau begitu kamu harus dihukum untuk membuat makalah.”

“Maaf Bu kalau saya lancang. Tapi tadi Ibu bilang hukumannya berlutut di depan tiang bendera. Apa Ibu lupa??” Torrie berusaha memancing Ibu Heti agar memberikan hukuman fisik kepadanya. Otak Torrie entah sudah ke mana…

Ini dia novel blog Perdana Imajiner!!!!!!!!

Yup akhirnya ada juga kesempatan launching novel blog (kedua deng, tp yang pertama di blog ini)...
Yangg pertama nggak selese2, nah yg ini udah jadi kok
Jadi lo ga usah khawatir ga akan ada endingnya kayak yng TMT (Trouble Means Trouble) yang ada di friendster...
Selamat Menghayati cerita yang sudah emmmm... mungkin 6-7 tahun sudah tidak diotak atik ini...

^ -^ v

Thursday, August 13, 2009

BOHONG!!!

Sebenernya bohong kalo kesibukan gw yang membuat gw menelantarkan anak2 gw (Novel gw)
Yang jelas adalah novel (orang lain), film, DVD, dan online yang bikin gw meninggalkan anak2 gw itu
Jangankan mereka blog inipun jadi terlantar
dan ini tulisan pertama gw di tahun ini
Semoga ini mejadi awal yang baik dan gw akan mulai meletakan anak2 anak gw di sini
Bodolah dengan idealisss.....



Nah... selamat menikmati dan merasakan....

Friday, December 12, 2008

g masih marah sama bangsa ini
g masih aja belom punya waktu buat g sendiri
dan g marah sama hal itu
g udah ninggalin semuanya untuk waktu yang cukup lama
1, 5 tahun lebih
novel g ga selese2
g masih marah sama bangsa ini
g masih aja belom punya waktu buat g sendiri
dan g marah sama hal itu
g udah ninggalin semuanya untuk waktu yang cukup lama
1, 5 tahun lebih
novel g ga selese2